Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Tentang London



Waktu berjalan dengan cepat. Sebulan sudah pembangunan perumahan milik El berjalan. Bryan memang mengerahkan banyak pekerja untuk pembangunan milik anaknya itu. Memastikan jika dalam enam bulan mereka akan selesai pembangunan.


Dalam sebulan ini, El juga disibukkan dengan banyaknya persiapan lain. El sudah berencana untuk membangun perumahan lagi di tempat yang berbeda. Tak mau berpuas dengan satu keberhasilan.


“Aku akan melihat berkas yang kamu ajukan,” ucap Bryan pada anaknya.


“Terima kasih, Dad.”


“Lihatlah anakmu yang begitu gigih. Belum selesai satu, dia sudah bersiap untuk yang satu lagi.” Felix yang kebetulan ada di ruangan Bryan melihat El yang begitu semangatnya membangun usahanya itu.


“Itu sifat yang aku turunkan,” sombong Bryan.


Felix memutar bola mata malas. Namun, sejenak dia berpikir, jika Bryan memang sangat berusaha membangun usahanya itu. Walaupun usaha itu milik papanya, dia bisa mengembangkan dengan baik.


“Akui saja!” perintah Bryan.


“Iya,” jawab Felix malas.


El yang melihat dua pria paruh banyak berdebat merasa sangat lucu. Selalu saja seperti kucing dan tikus, selalu saja tak akur. Tapi, sebenarnya mereka adalah team yang hebat.


Tepat saat mereka sedang asyik berbincang, sekretaris Bryan menghubungi dan memberitahu jika Al datang. Hari ini memang Bryan ada janji dengan Al. Sebulan yang lalu, Al mengatakan jika akan membangun hotel. Dan kali ini, mereka melanjutkan kerja samanya. Bryan pun meminta sekretaris mengantarkan Al ke ruangannya.


“Pagi, Pak Bryan,” sapa Al sesaat masuk ke dalam ruangan Bryan.


“Pagi, Al, ayo masuk.” Bryan berdiri dan menghampiri Al. Mempersilakan untuk duduk.


“Ternyata ada El dan Pak Felix juga.” Al tersenyum.


Felix dan El yang duduk di kursi depan Bryan ikut berdiri.


“Apa kabar Al? Apa anakku membuat masalah?” tanyanya sambil melirik Freya yang berdiri di samping Al.


“Dia aman, tidak merepotkan.”


Freya yang tersenyum puas. Bangga saat Al mengatakan jika dia aman dengan Al.


“Semoga dia cepat pintar, agar tidak terlalu lama belajarnya dan mulai bekerja.” Felix sedikit memberikan sindiran pada anaknya.


Freya terdiam, mendengar ucapan papanya. Sebenarnya sebulan yang lalu, dia sudah meminta kakeknya untuk segera bekerja di perusahaan kakeknya. Akan tetapi, kakeknya justru memintanya untuk terus melanjutkan belajar dengan Al selama tiga bulan. Sang kakek beralasan agar Freya bisa lebih memahami bisnis. Jadi mau tak mau, Freya melanjutkan lagi. Lagi pula, dia masih bisa mengunakan waktu untuk mendekatkan diri pada Al.


“Aku akan mengajarinya agar bisa segera dia memulai bekerja.”


Felix mengangguk. Sebenarnya dia tahu maksud terselubung papanya. Namun, anaknya terlihat menikmati. Jadi dia tak bisa melarang


“Sudah-sudah, jangan bahas masalah kalian di sini,” ucap Bryan mengakhiri obrolan Al dan Felix. “Kita lanjutkan pembahasan kemarin,” ucapnya menatap Felix dan Al.


“Kalau begitu aku permisi dulu,” ucap El.


“Baiklah. Kami akan meeting sampai jam makan siang, jadi ikutlah kami untuk makan siang,” ucap Bryan.


“Iya, aku akan ke sini nanti menjelang makan siang.” El tersenyum melihat semuanya dan keluar dari ruangan Bryan. Melanjutkan kembali pekerjaannya.


...****************...


Jemari El bergerak di atas keyboard mengerjakan beberapa laporan presentasi. Kebetulan lusa dia akan ikut pameran perumahan yang akan di adakan di salah satu gedung di Jakarta. Waktu yang tepat untuk menawarkan perumahan yang rencananya akan dia bangun. Cara itu memang lebih efektif, menawarkan lebih dulu sebelum dibangun.


Ponsel El berbunyi tepat saat El sedang sibuk. Dia sudah menebak jika pasti daddy-nya yang menghubungi untuk mengajak makan siang. Namun, tebakannya salah. Karena ternyata Shera yang menghubunginya.


El memicingkan matanya, merasa aneh karena gadis cantik itu menghubunginya. Setelah sebulan yang lalu bertemu dengan Shera, sewaktu dengan daddy-nya dan sewaktu dengan Freya, dia memang belum bertemu lagi.


“Halo, She,”


“Halo, Justine. Apa aku mengganggumu?”


“Tidak.”


“Aku ingin menanyakan tentang London, apa kamu ada waktu?”


“London?”


“Iya, Justin. Kebetulan aku ingin ke sana, jadi aku ingin tanya padamu tentang London. Kata Pak Bryan kamu lama tinggal di sana.”


El tidak tahu apa saja yang diceritakan daddy-nya pada Shera. “Baiklah.”


“Ak—“ Baru saja El ingin menjawab, suara ketukan pintu terdengar. Membuatnya menghentikan ucapannya. Melihat ke arah pintu, dia melihat Freya yang masuk ke ruangannya.


“Ayo, kita makan,” ajaknya.


El mengangguk dan kembali pada ponselnya.


“Baiklah, nanti aku akan datang ke restoran star.”


“Baiklah, sampai berjumpa nanti.”


El mematikan sambungan telepon dan beralih pada Freya. “Aku matikan dulu laptopku.”


“Iya.” Freya mendekat menunggu El yang sedang mematikan laptopnya. “Janjian dengan siapa kamu?” tanyanya yang ingin tahu.


“Dengan Shera.” El menjawab tanpa menatap Freya. Tangannya masih bergerak mematikan laptopnya.


Mendengar nama Shera, Freya sedikit terusik. Terakhir kali dia meminta nomor pada El, dia belum menghubungi gadis itu. Apalagi setelah El menceritakan jika dia memang tidak pernah bertemu dengan Shera lagi setelah pertemuan tidak sengaja di restoran kala itu, membuat Freya semakin tidak punya alasan untuk menghubungi.


“Untuk apa dia menghubungimu?” tanyanya semakin penasaran.


“Dia ingin tanya-tanya tentang London.”


“Untuk apa tanya London.”


“Dia bilang ingin ke London dan karena aku sudah lama di sana, dia ingin tahu banyak tempat di sana.”


“Dia pikir kamu tour guide?”


“Bukankah selama ini memang begitu?” El tersenyum. Dia memang selama ini selalu menjadi pemandu saat Freya pergi saat di London.


“Tapi—“


“Sudah, ayo cepat. Daddy dan Papa pasti menunggu.”


Freya pasrah, tak bisa menjawab ucapan El.


“Siapa yang menyuruhmu memanggilku?” tanya El seraya merangkul bahu Freya.


“Aku sendiri, karena kamu lama sekali.”


“Kenapa tidak menghubungi aku?”


“Bukankah teleponmu sibuk?” tanyanya menyindir.


El tersenyum. Melihat Freya marah begitu mengasikan. “Dasar!” ucapnya seraya mencubit pipi Freya.


...****************...


Di restoran, El, Al, Freya, Bryan dan Felix menikmati makan siang. Mereka saling berbincang membahas pembangunan hotel milik Al.


“Jadi hotel akan di bangun di Bali?” tanya El.


“Iya, potensi pariwisata di sana sangat bagus. Jadi aku pikir akan membuatnya di sana,” jawab El.


El mengangguk. “Bukankah hotel milik Shera juga di Bali, Dad?” tanyanya.


“Iya, kebetulan yang sangat bagus. Jadi Adion akan langsung menangani dua hotel di wilayah yang sama,” jawab Bryan.


“Semoga semua berjalan dengan baik,” ucap Felix. Dia berharap kerja sama antara Adion dan Maxton akan berjalan dengan baik.


Mereka semua mengamini. Berharap yang terbaik.


.


.


.


.


.