Labuhan Cinta

Labuhan Cinta
Memikirkan Kamu



Mereka berdua kembali ke acara pesta. Bergabung dengan adik-adiknya. Menikmati makan malam dengan begitu riang.


“Bi, jika kamu di London sendiri, apa itu tidak berbahaya,” ucap Cia di sela-sela makan mereka.


“Aku seorang pria, untuk apa takut bahaya?” Bian memutar bola matanya malas.


“Iya, paling tidak harus ada orang dewasa yang menemani kamu di London?”


El, Freya dan Dean sangat mengerti apa maksud dari ucapan Cia. Mereka bertiga hanya saling pandang. Menahan tawa saat mendengar pembicaraan tersebut.


“Maksudnya apa?” tanya Bian.


“Jadi begini, Bi. Karena kamu si sana sendiri dan tidak ada yang mengawasi. Aku menawarkan diri untuk menjagamu.” Cia dengan polosnya tertawa.


Mata Bian seketika membulat. Tak menyangka jika itulah niat dari Cia mengatakan hal itu.


“Kalau kamu yang ikut, aku yakin bukannya kamu yang menjaga aku, tetapi aku yang akan menjaga kamu!”


Cia menutup rapat mulutnya. Selama ini kalau dia dan Ghea pergi, selalu saja ada Bian, Dean atau Kak Al. Hal itu menjelaskan jika sebenarnya yang perlu dijaga adalah Cia sendiri.


“Tapi—“


“Kalau kamu akan ke London, aku tidak akan menjagamu. Jadi jangan berharap ke sana!” Bian memperingatkan Cia.


Cia mengabaikan begitu saja. Dia memikirkan bagaimana nanti dia bisa ke London. Dengan adanya Bian, dia masih punya alasan pada papanya.


Freya tersenyum melihat aksi adiknya. Saat tersenyum, tanpa sengaja tatapannya saling pandang dengan Al. Membuatnya melebarkan senyumnya.


El yang berada di samping Al, menyadari hal itu. Usahanya akan semakin berat kali ini, karena Al justru melayangkan peperangannya.


Mereka semua mengisi malam dengan bernyanyi. Al dan El memetik gitar mengiringi mereka semua bernyanyi. Menambah keseruan malam ini.


Hingga tengah malam, mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing. Freya tidur dengan Ghea dan Cia. El tidur dengan Bian, sedangkan Al tidur dengan Dean.


Semua menikmati waktu istirahat. Karena esok mereka akan menikmati air terjun di dekat vila.


Malam yang semakin larut, membuat semua orang semakin pulas. Udara dingin di puncak pun membuat mereka begitu nyaman saat tidur.


Tepat di jam tiga pagi, Freya mengerjap. Merasakan tenggorokannya kering. Dia mencoba membangunkan Cia, agar adiknya itu menemaninya untuk mengambil minum. Akan tetapi, tampak Cia sangat tertidur pulas.


Beralih pada Ghea, dia mencoba membangunkan Ghea, tetapi sama dengan Cia. Ghea juga tidak bangun sama sekali.


Akhirnya, mau tak mau Freya pergi sendiri untuk mengambil minum. Memberanikan diri untuk pergi ke dapur.


Lampu yang sebagian sudah dimatikan membuat suasana begitu sangat menyeramkan. Tak ada satu pun orang yang berada di luar.


Freya benar-benar takut. Ingin rasanya dia membatalkan niatnya untuk minum, tetapi dia begitu haus. Tak mau membuang waktu, akhirnya Freya buru-buru minum.


Saat tengah mengambil minum, dia mendengar langkah kaki. Hatinya semakin tak menentu karena ketakutan. Semakin lama, langkah kaki terasa dekat. Freya merasakan langkah itu berada tepat di belakangnya.


Freya yang takut bersiap-siap dengan air yang berada di gelasnya. Rencananya dia akan menyiram saat berbalik. Dengan memberanikan diri, Freya berbalik seraya menyiramkan air.


“Frey ...,” panggil El yang merasakan air di tubuhnya.


“El, maaf-maaf.” Freya berusaha mengusap wajah El.


“Apa kamu pikir aku hantu?”


“Iya, aku pikir kamu tadi hantu,” jawab Freya tersenyum polos.


“Lalu kalau hantu, apa dengan kamu menyiram air, dia akan pergi?"


“Tidak juga,” jawab Freya tertawa. Tangannya bergerak mengusap wajah El.


Merasakan wajahnya disentuh oleh Freya membuat El memejamkan mata. Dia merasakan lebih dalam tangan halus Freya.


“Apa air putihnya perih sehingga membuatmu memejamkan mata.”


“Hah ....” El membuka matanya. Salah tingkah mendengar pertanyaan Freya. “Iya, tadi ada yang masuk ke dalam mataku,” elak El.


“Maaf ya.” Freya sekali lagi melontarkan permintaan maaf.


“Sudahlah, jangan minta maaf terus,” ucapnya, “kenapa kamu keluar sendiri? Apa kamu tidak takut?” Tadi sebenarnya El belum tidur. Bersamaan dengan Freya yang keluar kamar, dia juga keluar. Dari kejauhan tadi dia melihat Freya dan mengekor di belakangnya.


“Untung aku keluar, jika tidak kamu pasti akan sendirian,” ucap El seraya menakuti Freya dengan gerakan tangannya.


“Kamu!” seru Freya kesal seraya mendaratkan pukulan pada El.


El tertawa. Merasa sangat senang menggoda Freya. Melihat El yang tertawa membuat Freya mencebikkan bibirnya, kesal.


“Maaf-maaf.” El mencubit pipi Freya. Merasa sangat gemas saat gadis cantik itu kesal.


“Sekarang minumlah, aku akan menunggumu.” El berjalan membuka lemari dan mengambil panci dan mengisinya dengan air. Kemudian meletakkannya di atas kompor untuk memasaknya.


“Kamu mau buat apa?” tanya Freya.


“Buat teh.”


“Aku mau.” Freya tersenyum. Di saat cuaca dingin puncak memang sangat nikmat menikmati teh hangat.


“Baiklah.” El menyiapkan teh untuk dia dan Freya. Menunggu air mendidih, kemudian menuangkannya ke dalam cangkir teh.


Mendapati dua cangkir teh, akhirnya El membawa ke ruang tengah. Menikmati bersama dengan Freya.


“Kamu tidak bisa tidur tadi?” tanya Freya sesaat setelah menyesap tehnya.


“Iya.”


“Apa yang kamu pikirkan hingga membuat kamu tidak bisa tidur?” Freya kenal dengan El. Dia tipe orang yang sangat teratur. Apalagi masalah tidur. Dia akan tidur di jam seharusnya.


“Memikirkan kamu,” jawab El.


“Kamu bisa saja.” Freya tertawa saat melihat El menyebutnya sebagai alasan.


“Apa menurutmu aku bercanda?”


Freya terkesiap. Sorot mata biru El memang tampak serius saat berbicara. Namun, perasaannya mengelak jika dialah alasan El tidak bisa tidur. “Memang apa yang salah dengan aku, hingga kamu memikirkan aku?”


“A—“


“Kalian di sini?” tanya Al yang menghampiri.


El dan Freya menoleh. Freya tersenyum saat melihat Al yang datang, sedangkan El justru langsung muram. Jelas-jelas tadi adalah kesempatannya untuk mengatakan pada Freya, tetapi Al justru datang secara tiba-tiba.


“Kami sedang menikmati teh, Kak,” jawab Freya.


“Oh ... sepertinya sangat seru malam-malam minum teh hangat.” Al duduk tetap di samping El. Bergabung dengan El dan Freya di malam yang dingin ini.


“Sayangnya, tidak ada teh lagi,” sindir El. Dari cara Al menghampiri, El merasakan aura pertempuran yang dilayangkan Al sudah dimulai.


“Aku bisa minum punyamu bukan?” Al meraih cangkir teh milik El dan menyesapnya. Menikmati teh yang sebenarnya tidak terlalu dia sukai itu.


“Frey, sudah malam. Habiskan tehmu dan istirahatlah. Besok kita akan ke air terjun.” El menatap Freya dan meminta Freya untuk segera pergi dari ruang tengah. Tak mau dia terlalu berlama-lama dengan Al.


Freya menghabiskan minumnya dan kembali ke kamarnya. Meninggalkan El dan Al berdua.


“Sepertinya kamu takut aku terlalu dekat,” sindir Al seraya tersenyum tipis.


El memutar bola matanya malas. “Kenapa aku harus takut?”


Al tersenyum penuh arti.


“Aku mengantuk, aku akan tidur.” El berdiri dan meninggalkan Al.


Al tanpa berkata apa-apa pun langsung ikut berdiri dan menuju kamarnya. Melanjutkan kembali tidurnya.


.


.


.


.


Dukungan ya. Kirim bunga aja cukup kok. Kalau punya lebih juga boleh. Ambil aja gratis di pusat misi.