Just The Way You Are

Just The Way You Are
Jealous, bilang boss!



Mike dan Nabila sampai di parkiran rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan dan menjadi pusat perhatian para rekan kerja mereka. Dokter tampan itu berjalan dengan muka ditekuk, sedangkan sang dokter wanita menyapa rekan-rekannya dengan ramah seperti biasa.


Keduanya sampai di lift dan segera masuk ke dalam. Mike memencet tombol lantai kamar ayahnya. Dalam hati, Mike rasanya ingin memborbardir siapa itu Fred. Benar-benar menyebalkan ketika tahu ada pria lain yang sudah tinggal bersama Nabila. Brengsek!


POV Mike


...Sejak aku dengan tidak sengaja menyerempet sebuah mobil mungil warna putih dengan range Roverku, wajah si pemilik menghantuiku setiap saat. Nabila Putri Pratomo nama lengkapnya setelah kucari tahu siapa dia....


Wanita asal Indonesia, suku Jawa, sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Adrian Pratomo seorang arsitek terkenal di seluruh dunia dan ibunya bernama Niken Pratomo seorang desainer. Adiknya bernama Reza lulusan arsitek seperti ayahnya dan sekarang memegang perusahaan milik ayahnya area Australia, adik bungsunya bernama Shanum baru masuk kuliah desain interior di Paris jalur beasiswa.


Nabila termasuk keluarga kaya raya. Klan Pratomo dikenal sebagai keluarga terkaya di Indonesia dengan perusahaan konsultan arsitek dan properti yang dipegang oleh Pratomo bersaudara, Adrian, Adriana, Aryanto dan Adinda.


Yang membuatku kagum adalah Nabila kuliah kedokteran di sebuah universitas di Amerika Serikat lewat jalur beasiswa penuh dan disini pun tidak pernah membawa-bawa nama keluarganya. Siapa yang tidak kenal dengan PRC group. Bahkan banyak klien di Inggris Raya memakai jasa renovasi mereka.


Sekarang aku coba menarik perhatiannya pun tidak berhasil. Apa gadis ini terlewat cuek atau apa sih? Rasanya ingin aku bedah otak dan hatinya, apa yang disimpan disana selain istilah dan semua ilmu bedah kedokteran.


Sempat kulihat dalam apartemennya, kecil, nuansa pink dan biru khas wanita tapi nampak nyaman. Kapan-kapan aku harus bisa masuk ke dalam apartemennya dan mencari tahu siapa itu Fred. Apa sih yang menarik dari Fred? Mana kulitnya merah pulak katanya. Hah! Cowok punya penyakit kulit ajah kok disenengi ?!


Ketika kami berjalan berdua pun, mukanya datar saja dan hanya berubah ketika menyapa para rekan kerja saja. Dan sekarang di lift pun diam saja ini cewek. Maksudnya apa coba !!!Apa aku kurang tampan atau gimana sih?


Ting!


Suara lift menandakan mereka sudah sampai di lantai tempat Duncan dirawat. Keduanya kemudian keluar dari lift menuju kamar ayah Mike.


POV end


***


Mike menganggukkan kepalanya ke arah dua pengawal yang menjaga pintu kamar lalu salah seorang dari mereka membukakan pintu. Mike dan Nabila kemudian masuk. Tampak Duncan sedang berkutat dengan laptop didepannya. Nabila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar Voldemort ngeyel!


"Ehem!"


Duncan mengalihkan pandangannya dari laptop kemudian melepaskan kacamata bacanya.


"Dokter Nabila" sapanya ramah. "Kenapa baru datang?"


"Maapkan saya tuan McGregor..."


"Duncan tapi aku tahu kalau di asalmu tidak boleh memanggil langsung nama ke orang yang lebih tua


So, panggil saja sesuai dengan adatmu" potong Duncan.


Nabila berdehem. "Baik oom Duncan" Pria yang masih tampan di usia 50tahunan itu langsung tersenyum.


"Maapkan tapi saya tadi pulang dari rumah sakit langsung tidur oom. Jadi saya tidak menemani seperti janji saya" ucap Nabila.


Duncan menganggukkan kepalanya. "Aku tahu pekerjaan Dokter Nabila banyak jadi memang harus banyak istirahat tapi anak bandel di belakangmu itu yang uring-uringan karena kau tidak bisa dihubungi" Duncan mengarahkan dagunya ke arah Mike yang hanya melengos.


Nabila menoleh ke arah Mike yang sudah berjalan menuju sofa di dekat jendela.


"Iya hp saya habis baterei nya jadi saya charge offline. Oom, istirahat dulu, jangan terlalu memforsir kerjaan" Nabila menatap laptop yang masih terbuka dan menyala.


Duncan kemudian menutup laptopnya setelah menyimpan semua file-file penting lalu meletakkannya di meja sebelah tempat tidur.


"Oom, Bila periksa dulu ya bekas operasinya" Nabila kemudian mendekati Duncan untuk memeriksa hasil jahitannya.


Nabila hanya menaikkan sebelah alisnya. "Hhhmmm. Tetap aku mau memeriksa karena tanggungjawabku."


"Hhmmmm" sahut Mike cuek.


Duncan yang melihat interaksi dua orang di ruangannya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa ini berdua seperti anak kecil sih?


"Nabila, oom panggil nama saja yaaaa" Nabila mengangguk sambil tetap serius memeriksa semua luka bekas peluru dan prognosis nya bagus karena sudah mulai mengering. "Apa betul kamu putrinya Adrian Pratomo?"


"Betul oom. Kenapa kah? Oom kenal Daddy?"


Duncan mengangguk. "Salah satu restoran milik Oom direnovasi oleh papamu. Tapi kenapa di daftar pegawai rumah sakit ini hanya nama Nabila Putri yang tercantum?"


Nabila tersenyum sambil melirik ke arah Mike "Sama saja dengan seseorang yang tidak mau memakai nama McGregor dibelakangnya melainkan memakai nama Cahill".


Mike mengangkat kepalanya. "Hei, kok bawa-bawa aku? Lagian itu nama grandma ku!"


Nabila melengos.


"Kenapa kamu tidak mau memakai nama belakangku atau mommymu?" tanya Duncan. Sekian tahun tidak bertemu putranya dan dia baru tahu Mike tidak mau memakai nama belakangnya namun memakai nama belakang ibunya, Cynthia Cahill.


"Dad, seriously. Nama belakangmu dan nama belakang keluarga mom berkaitan dengan apa. You know who. Jadi aku memutuskan memakai nama belakang grandma agar orang-orang terutama pasien-pasienku tidak berpikir macam-macam." jawab Mike. Memang sedari kecil, Mike dan kakaknya Mario sudah tahu mereka keturunan siapa dan keduanya memutuskan tidak mau berkecimpung di dunia gelap.


Duncan hanya tersenyum. "Dad paham maksudmu"


"Oom Maap Nabila menyela. Bagaimana kasus penembakan ke Oom? Apa sudah selesai?"


"Tenang saja Bila, sudah dibereskan semua oleh Edward dan Oom sendiri sudah memutuskan mundur dari dunia hitam. Mungkin akan banyak friksi, masalah atau apapun itu karena Oom sudah lama berkecimpung di dunia itu. Tapi Oom tidak takut karena ada seseorang yang bilang pada Oom bahwa hidup itu berharga." Duncan mengedipkan sebelah matanya. Nabila tersenyum lebar mendengarnya.


Interaksi keduanya tidak luput dari pengawasan Mike. Bahkan ayahku sendiri pun mulai ganjen dengan Nabila?"


"Kalian berdua bicara soal apa?" nada suara Mike mulai terdengar tidak enak membuat Duncan dan Nabila menoleh.


"Rahasia" sahut Duncan cuek.


"Dad! Jangan macam-macam!"


"Kenapa? Dad punya rahasia dengan Nabila, kok kamu yang panik?"


"Dad!" nada Mike mulai naik satu oktaf.


"Nabila, setelah Oom boleh keluar dari sini, kita makan malam yaaaa. Oom mau tahu banyak dengan dirimu." Duncan mengacuhkan pelototan anaknya.


"Boleh Oom. Setelah aku cek tadi, Oom sudah boleh pulang besok." jawab Nabila.


"Oke. Besok usai praktek, kita makan malam ke restauran Jepang. Deal Bila?" Duncan mengulurkan tangannya.


"Deal Oom!" Nabila menjabat tangan Duncan.


"DAD!!!" bentak Mike.


"Kenapa? Kamu jealous? Bilang boss!"


***