Just The Way You Are

Just The Way You Are
Kita Jalani Saja Dulu



Nabila menatap horor ke arah Mike sedangkan yang ditatap malah santai memotong-motong steak nya, begitu juga Duncan yang santai menyesap air putihnya. Tiba-tiba Nabila merasa kenyang walaupun di depannya steak yang menggiurkan seperti menggodanya untuk segera dimakan.


"Sinikan piringmu!" perintah Mike. Nabila memberikan piring steaknya lalu Mike menukarnya dengan piringnya. "Makanlah, sudah kupotong-potong dagingnya sesuai ukuran sekali suap".


Nabila tersentuh dengan perbuatan Mike karena berbeda jauh jika mereka bertemu di rumah sakit yang selalu berdebat. Ketiganya kemudian makan dengan tanpa suara.


***


Usai makan malam yang nikmat, ketiganya kemudian duduk di ruang keluarga. Mike dan Nabila berada di sofa panjang namun duduk berjauhan, Duncan berada di sofa tunggal. Dua buah teko antik berisikan kopi dan teh berada di meja tengah lengkap dengan cangkir, gula, krimer dan susu. Terdapat pula beberapa kue menemani.


Mike dan Duncan menyesap kopi hitamnya sedangkan Nabila menikmati teh yang diberi susu.


"Jadi Nabila" Duncan menjeda ucapannya "Oom setuju jika kau menikah dengan Mike".


Nabila menatap kesal ke arah Mike. Apa-apaan ini cowok bule?


"Maap oom, tetapi saya tidak mencintai Mike"


"Tapi Mike mencintaimu" jawab Duncan.


Haddeehhh Mike! Rasanya Nabila ingin menabok kepala Mike. Sebagai perempuan di usianya sudah cukup matang untuk menikah ditambah kondisi dirinya yang kurang dan menurutnya paling fatal, dipertemukan oleh seorang pria yang bersedia menerimanya apa adanya adalah suatu berkah. Tetapi hatinya tidak bisa bohong, apa yang akan terjadi kedepannya apabila Mike berpaling dan ingin memiliki anak walaupun bisa dengan surrogate mom ataupun adopsi, Nabila tetap tidak yakin hatinya mampu menerimanya. Nabila sendiri tipikal kalau sudah sekali jatuh cinta, dia akan totalitas.


"Maap, apakah Oom tahu kondisi Nabila?" bisik Nabila hati-hati.


"Sebelum Mike tahu, Oom sudah tahu terlebih dulu. Bagi Oom itu bukan masalah dan Mike sendiri juga sudah mengatakan pada Oom menerimamu apa adanya. Soal cucu, siapa yang tidak ingin punya tapi Oom bisa mengerti kondisimu karena itu bukan kesalahan siapapun tapi memang garis hidupmu" Duncan menatap Nabila dalam. "Oom sudah menelpon daddymu dan Daddymu menyerahkan semua keputusan padamu."


"Hah?" Nabila merasa shock mendengarnya. Apakah Daddy tahu siapa Duncan McGregor?


"Tenang, Adrian sudah tahu siapa Oom jadi tidak ada masalah" Duncan tertawa lepas. "Jadi Nabila, bagaimana keputusan mu?"


Nabila menatap Duncan dan Mike bergantian. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Nabila akhirnya memberikan keputusan.


"Oom, Mike, terimakasih sudah mau menerima Nabila apa adanya walaupun kondisi Nabila seperti ini. Jujur Nabila belum bisa mencintai Mike tapi rasa suka itu ada dan Nabila takut ke depannya hubungan kami bagaimana. Nabila tidak mau berandai-andai tapi kita harus realistis. Mungkin sekarang Mike belum mau punya anak tapi dua atau tiga tahun lagi? Kita tidak ada yang tahu." papar Nabila.


"Nab, bukankah di pepatah Jawa ada itu soal perasaan?" tanya Mike.


"Witing tresno jalaran Soko kulino?"


"Sepertinya itu karena aku tidak tahu cara bacanya" jawab Mike. Sebelumnya Mike berusaha mencari tahu tentang budaya Jawa karena Nabila orang Jawa. Walaupun belum bisa memahami banyak tapi Mike sudah menghapal beberapa.


"Cinta tumbuh karena terbiasa artinya Mike"


"Iya itu maksudnya".


"Mike, apakah kau ingin punya anak?" tanya Nabila sambil menatap dalam mata Mike.


Mike membalas tatapan Nabila. "Jujur aku ingin punya anak tapi aku lebih memilihmu. Anak ada pun nantinya akan meninggalkan kita membangun keluarga sendiri, sedangkan pasangan akan menemani kita sampai tua. Aku lebih suka bersamamu, menikmati hidup bersama, menua bersama, berdebat setiap hari. Aku sendiri bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta tapi sejak kau memarahiku dengan bahasa planetmu, aku sudah jatuh cinta padamu"


Nabila mencari kebohongan di netra biru Mike namun tidak ada kebohongan disana, yang ada tatapan memuja yang membuatnya blingsatan.


"Tapi... agama kita berbeda" bisik Nabila.


"Astaga Dad! Anak sendiri ini!" ujar Mike dramatis. Nabila tersenyum.


"Soal agama, aku akan mempelajari agammu Nab, karena aku tahu kamu ingin rumah tangga dengan suami yang mampu menjadi imammu. Berikanlah aku waktu untuk mempelajari semuanya" wajah Mike menunjukkan keseriusannya. Wanita mana yang tidak terharu mendengarnya.


"Aku memang bukan manusia yang terlalu memikirkan soal Tuhan, agama atau keimanan tetapi melihat kau selalu melakukan sholat setiap hari, terkadang aku tidak sengaja melihat kau membaca kitabmu, membuat aku bertekad jika aku ingin mendapatkanmu, aku harus memperbaiki diriku dengan mempelajari agamamu tapi sekali lagi berikan aku waktu untuk mempelajari dan menerapkannya". ucap Mike menatap Nabila sambil menggenggam kedua tangan gadis itu. Mata coklat Nabila tak lama berair. Hatinya terharu melihat kesungguhan bule yang biasanya slengean bisa berbicara serius.


Duncan berdehem. "So? Sekarang kalian resmi pacaran. Mike, sebagai laki-laki yang dipegang adalah ucapannya. Kamu sudah berjanji dengan Nabila, buktikan ucapanmu."


"Absolutely Dad." jawab Mike tegas. "So, are we dating Nab? Menjadi sepasang kekasih?" cengir pria bermata biru itu ke arah Nabila.


"What can I do? Kalian semua sudah dua langkah dari Nabila jadi kita jalani saja." senyum Nabila.


"Yes! Akhirnya perjuanganku mengusili dirimu agar kamu tidak berpaling dariku berhasil!"


"Hah? Maksudnya?" Nabila menatap Mike bingung.


"Apakah kau tidak merasa setiap hari aku ajak debat bahkan shift mu sering aku ubah pada saat weekend?" Nabila memincingkan matanya dengan tatapan judes.


"Kau sengaja !!!" bentak Nabila lupa dia berada dimana. Mike tertawa terbahak-bahak.


"Memangnya kau berbuat apa Mike?" tanya Duncan bingung melihat putranya tertawa sedangkan calon menantunya seperti hendak menghajar pria di sampingnya.


"Aku tahu Nabila punya tiket terusan home Manchester United dari Oomnya dan jika weekend dia suka kabur ke Old Trafford. Sudah beberapa kali aku tukar jadwalnya termasuk pertandingan kemarin yang Dad kena tembak. Aduh!" Mike mengaduh ketika Nabila memukul lengannya.


"Brengsek! Bule nyebelin! Aku batal jadi kekasihmu !!!" Nabila bergegas berdiri. "Permisi Oom. Selamat malam." Hatinya benar-benar jengkel.


"Wait! Nab!" Mike segera mengejar Nabila.


Duncan tertawa melihat kejahilan putranya.


Nabila hendak sampai ke pintu utama terhenti ketika lengannya ditarik Mike. Tubuhnya berbalik ke arah Mike dan menabrak dada bidang pria tampan itu dan tanpa basa basi lengan kekar langsung memeluknya. Nabila berusaha berontak melepaskan diri namun pelukan itu semakin kencang.


"Lepaskan aku!" bentak Nabila sambil berusaha melepaskan diri.


"Mau kemana sayang? Kamu aku jemput berarti aku antar pulang" senyum Mike yang menurut Nabila level menyebalkannya 1000%.


"Bule menyebalkan! Aku nggak mau sama kamu! Kamu brengsek! Kurang ajar! Masih mending Fee...Hhhmmmpph" ocehan Nabila terhenti ketika sebuah bibir menutupi bibirnya.


Ciuman pertamanya diambil oleh pria menyebalkan yang membuat dia mengalami perasaan seperti roller coaster. Lidah Mike berusaha menerobos ke dalam mulutnya dan Nabila reflek membuka bibirnya dan Mike semakin merajalela mengeksplorasi mulutnya, ******* dan semakin dalam ciumannya. Keduanya baru berhenti setelah Nabila mencubit lengannya. Nafas keduanya memburu dan mata keduanya pun tampak sayu.


"Nab" suara Mike terdengar parau "Apa ini ciuman pertamamu?"


Nabila hanya menatap nanar.


"Ya ampun, betapa beruntungnya aku" Mike memeluk Nabila erat sedangkan Nabila hanya berdiri kaku tanpa tahu harus berbuat apa. Dirinya masih terpana dengan apa yang terjadi.


***