Just The Way You Are

Just The Way You Are
Salah Cari Musuh



Jam pergelangan tangan kiri Nabila menunjukkan pukul delapan pagi. Rupanya dia tadi sempat tertidur dengan bersender bahu sang ayah dan sekarang perutnya pun minta untuk diisi.


Dilihatnya sang ayah juga sedang tertidur dan posisi keduanya masih berada di kursi panjang tempat tunggu ruang ICU. Nabila mengerjap-kerjapkan matanya mencari Rita dan tampak pengawalnya tertidur di lantai bersandar bahu Jack.


Subuh tadi Jack meminta Rita untuk duduk di kursi namun gadis itu menolak tapi entah apa terjadi malah keduanya tidur seperti itu.


"Kamu dah bangun Bil?" tanya papa Adrian dengan suara serak.


"Barusan Pa. Papa mau sarapan sama minum teh?"


"Boleh Bil. Duh, badan papa rasanya remuk semua" papa Adrian lalu melemaskan tubuhnya.


"Sayang ini bukan rumah sakit tempat Nabila kerja jadi aku nggak bisa minta papa tidur di ruangan Bila."


"Nggak papa Bil, nanti papa minta dijemput sopir buat pulang ke mansion. Sementara papa di Jakarta dulu saja sampai urusan Bryan selesai." Papa Adrian kemudian mengambil ponselnya dari dalam jaketnya dan menghubungi sopir yang berada di mansion.


"Kita makan dulu pa, cari sarapan di kantin. Aku bangunkan Jack dan Rita." Nabila bangun dari kursinya lalu menepuk pelan bahu Jack.


"Jack! Bangun! Kita sarapan yuk" panggilnya pelan.


Jack membuka matanya pelan.


"No..nona?" Jack sedikit terkejut.


"Yuk sarapan. Aku bangunkan Rita sebentar."


Rita yang mendengar suara-suara di sekitarnya dan gerakan Jack, membuka matanya. Wajahnya memerah ketika tahu bersandar dengan seorang pria asing.


"Maap tuan Jack" cicitnya sembari membenarkan posisi duduknya.


"Panggil saja Jack, nona" jawab Jack.


Awal Rita sedikit takut melihat Jack yang mirip pegulat, berwajah seram namun hatinya tersentuh melihat pria besar itu menangisi Bryan.


Don't judge a book from it's cover.


"Yuk sarapan dulu. Aku dah lapar, papa juga harus minum teh panas biar segar". Nabila kemudian berjalan menuju papa Adrian yang sudah siap untuk ke kantin.


Jack bangkit dari duduknya lalu menyerahkan tangan kanannya untuk menolong Rita bangun.


"Mari nona. Bryan pasti akan marah kalau kita sakit" ucap Jack. Tangan besarnya disambut oleh tangan mungil Rita yang bangun dari duduknya.


"Mari kita sarapan lalu kembali kesini lagi."


Jack dan Rita berjalan beriringan yang bagi sebagian orang yang melihatnya seperti pegulat yang mengawal anak SMA karena Rita tampak mungil di sebelah pria bule itu.


***


Papa Adrian menikmati soto Betawi nya dengan teh panas manis. Nabila dan Rita memilih menu nasi rames sedangkan Jack memilih nasi goreng karena promo dari tuan mudanya.


Namun melihat Rita makan nasi ramesnya dengan lahap, membuatnya lapar lagi padahal nasi gorengnya sudah licin tandas.


"Enak kah nona Rita?" tanyanya kepo.


"Enak tuan Jack" sahut Rita sambil mengunyah.


"Kamu pesan lagi saja Jack. Kayaknya nasi goreng kurang buat badanmu" kekeh papa Adrian.


"Saya belum makan dari semalam" ucap Jack sambil mengusap tengkuknya malu-malu lalu menuju stan nasi rames. "Saya pesan sama seperti yang nona saya pesan" pintanya pada pelayan dengan bahasa Indonesia kaku.


"Of course sir" jawab pelayan perempuan itu ramah.


"Hah? Ternyata bisa bahasa Inggris ya?" Jack kemudian berganti bahasa.


"Tentu saja saya bisa, tuan. Saya kuliah di sastra Inggris. Saya bekerja disini membantu ibu saya selama liburan semester" jawab pelayan itu.


"Nama saya Jack, kamu?"


"Dian" jawab gadis itu sembari menyiapkan menu yabg dipesan Jack. "Ini tuan. Saya beri daging empal yang besar karena tuan badannya besar".


Jack tertawa. "Thanks Dian".


"Sama-sama".


Jack kembali ke tempat duduknya yang langsung mendapat tatapan tajam dari tiga orang yang berada di meja yang sama membuat pria besar itu mengerenyitkan alisnya.


"What?"


Ketiga orang itu hanya mengalihkan perhatiannya ke makanan masing-masing sambil tersenyum simpul. Jack lalu mulai memakan nasi ramesnya dengan santainya.


***


Tentu saja membuat ayah dan anak itu geram. Bahkan Gala yang mempunyai sedikit jabatan pun tidak mampu menembus protokol.


"Damn! Kalau nggak di Indonesia, itu orang tinggal nama!" maki Duncan. Pria berusia 50an yang masih gagah itu mengeluarkan aura membunuhnya.


Bagi Duncan, semua anak buahnya bagaikan anak-anaknya sendiri. Setelah mengundurkan diri dari dunia hitam, Duncan mulai menjalankan bisnis legal yang memang sudah dimilikinya pada saat menjadi mafia sebagai kedok.


Sekarang dia lebih mencurahkan perhatian pada usahanya yang selama ini dipegang oleh Tristan, salah satu kepercayaannya selain Edward. Tadi dia menerima telepon dari Edward yang emosinya memuncak mendengar Bryan yang seperti adiknya sendiri dicelakai seperti itu.


Edward sendiri yang merekrut Bryan ketika anak itu berusia 17 tahun dan tinggal di jalanan. Edward yang mendidik Bryan menjadi seperti sekarang, didukung dengan kecerdasan yang dimiliki. Tak heran kalau ada orang yang ingin membunuh Bagas langsung, Edward orangnya.


"Mr. McGregor" seorang perwira polisi mendatangi Duncan didampingi dengan banyak ajudan berseragam coklat di belakangnya.


"Pak Irjen Djoko". Kedua pria itu saling berjabat tangan.


"Saya baru saja mendapatkan informasi kejadian yang menimpa anak buah tuan".


"Iya benar dan anak saya, Bryan, sekarang sedang terbaring di ICU. Dan saya tidak dapat menemui pelaku karena terhalang pengacara."


Duncan sendiri pernah membantu Irjen Djoko untuk menangkap pembunuh anaknya ketika putrinya dulu kuliah di Inggris. Berkat koneksi dan channel dunia hitamnya, Duncan bisa menangkap pelakunya. Tak heran hubungan kedua pria beda dunia itu menjadi dekat.


"Baik Mr. McGregor. Akan saya coba bantu kalian semua" Irjen Djoko menatap Duncan dan Mike disanan.


Tadi pagi salah satu anak buahnya melaporkan bahwa terjadi percobaan pembunuhan yang melibatkan keluarga terpandang yaitu McGregor dan Pratomo. Tentu saja Irjen Djoko merasa terusik apalagi semua pihak berwajib seluruh dunia tahu siapa klan McGregor walaupun sekarang sudah pensiun.


Manggala yang memberikan laporan siapa korban dan hubungannya dengan dua keluarga ternama itu saja sudah membuat Irjen Djoko terkejut, ditambah pelakunya adalah putra keluarga Prawiraatmadja.


Gila! Bagas sudah nekad !


Irjen Djoko sendiri masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga Prawiraatmadja. Istrinya masih saudara sepupu dengan Siti Prawiraatmadja.


"Mr. McGregor, saya akan bertemu dengan pelaku. Saya akan minta pada pengacaranya agar anda bisa bertemu dengannya di bawah pengawasan kami."


"Baik pak Irjen Djoko. Saya tunggu disini." Duncan dan Mike kembali menunggu.


Manggala datang membawakan paperbag yang berisi makanan dan minuman untuk Mike dan Duncan.


"Tuan Duncan, Mike. Kita makan dulu. Saya tidak mau kena amuk Nabila kalau anda berdua sampai sakit."


Duncan menatap polisi muda itu. "Segitu bar-barnya kah menantuku?"


"You have no idea sir!" cengir Gala.


***


Irjen Djoko masuk ke ruang interogasi. Tampak disana Bagas yang biasanya tampak Dandy dan stylish, kini bagaikan kertas kusut dan lecek. Wajahnya memar akibat kena pukul massa ketika hendak kabur ketika ketahuan menabrak Bryan.


Melihat pamannya datang, Bagas agak tenang karena pasti bisa bebas karena Irjen Djoko akan berusaha mengeluarkannya dari sini. Syukur syukur tidak sampai dipenjara.


Irjen Djoko lalu duduk di hadapan Bagas yang masih didampingi pengacara. Dua anak buah Irjen Djoko berjaga di depan pintu.


.


"Bagas.. Bagas... Apa yang sudah kamu lakukan?" Irjen Djoko menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau pria itu mau menjawab pertanyaanku, pasti dia akan baik-baik saja!" hardik Bagas.


Irjen Djoko menghela nafas panjang, lanjutnya "Apakah kamu tahu dia siapa?"


"Hanya OB miskin saja! Bukan orang penting!" dengusnya.


"Dia bukan sekedar OB, Gas. Namanya Bryan Smith, warga negara Inggris dan dia anak angkat mafia Inggris bernama Duncan McGregor. Kamu tahu siapa Duncan McGregor? Dialah yang menemukan pembunuh Tania, putriku. Yang kamu tabrak itu adalah pengawal Nabila Putri Pratomo, putri Adrian Pratomo, calon besan Duncan McGregor. Jadi kamu tahu kan masalah mu tidak sepele?"


Bagas ternganga.


"Dan asal kamu tahu, nyawamu lebih aman disini daripada di luar sana karena semua anak buah Duncan McGregor tidak akan segan-segan membunuhmu tanpa berkedip."


Keringat dingin mulai mengalir di dahi Bagas yang memucat.


Apa yang sudah aku lakukan?


***



Babang Mike kalau serius



Nona Nabila yang kepo ma Abang Jack