
Nabila, Rita dan Bryan sampai di sebuah mall terbesar di Jakarta Pusat. Mereka benar-benar menikmati hari dengan berbelanja. Nabila membelikan Rita banyak baju karena dia merasa sepat mata melihat baju Rita yang itu-itu saja warnanya. Terlalu monochrome.
"Nona, ini banyak sekali!" bisik Rita tidak enak.
"Aku bosan lihat kamu pakai baju warna film jadul, hitam, putih, abu-abu. Kayak nggak ada warna lain saja. Kita hidup di jaman tv Android, bukan Charlie Chaplin," omel Nabila.
Rita mengangguk. Hatinya senang nonanya sangat royal tapi melihat total yang harus dibayar membuat Rita melemas. Gajinya enam bulan baru cukup membeli baju segini banyak.
"Udah, nggak usah mikir berapa gajimu buat beli baju-baju ini" kekeh Nabila seperti tahu apa yang dipikirkan pengawalnya.
"Baik nona" jawab Rita patuh.
Usai berbelanja dengan membawa banyak paper bag, Nabila dan Rita berjalan menuju stand sepatu. Bryan dengan setia mengekor di belakangnya, tangannya pun membawa paper bag. Tadi nonanya juga sibuk membelikan baju untuknya.
"Dah, kalian mau sepatu yang mana. Tinggal pilih" titah Nabila. Kedua pengawalnya hanya melongo.
"Ini sudah banyak nona, kalau sepatu saya juga masih ada kok" tolak Bryan halus.
"Saya juga nona, lagian bersama nona kan nggak banyak jalan. Datang ke rumah sakit, duduk manis terus pulang jadi sol sepatu aman lah" sahut Rita.
"Yakin nih nggak?" Mata Nabila menyipit. Keduanya kompak mengangguk.
"Ya sudah, kita makan siang dulu baru kita belanja isi kulkas". Ketiganya keluar dari stand sepatu menuju lantai empat tempat banyak restoran disana.
Nabila memilih restoran Jepang untuk makan siang mereka. Setelah memilih menu, ketiganya makan sambil ngobrol berbagai macam topik. Bryan banyak bercerita bagaimana dia direkrut oleh Edward Blair. Rita langsung semangat ketika mendengar wajah Edward mirip dengan Chris Pine idolanya.
"Beneran tuan Bryan? Tuan Edward mirip babang Chris Pine?" tanya Rita dengan wajah berbinar.
"Kami sih awalnya tidak terlalu memperhatikan tuan Edward tapi karena nona Nabila bilang kalau dia mirip Chris Pine fotocopy jilid sekian, kami baru memperhatikan" kekeh Bryan.
"Ada fotonya nggak?" tanya Rita lagi.
Bryan mengambil ponselnya dan membuka galeri. Tampak seorang pria tampan, berambut pirang, bermata biru dengan bibir tebal sek** mengenakan suit warna hitam, kemeja putih, dan dasi hitam.
"Ini tuan Edward Blair. Foto ini diambil ketika menemani tuan besar McGregor bertemu dengan koleganya. Jack yang mengambil foto ini" jelas Bryan ke Rita yang sudah terkesima sampai-sampai mulutnya menganga.
"Rit, itu mulut dikondisikan dong" goda Nabila.
Rita merebut ponsel Bryan lalu menunjukkan ke arah Nabila. Untuk hari ini Nabila melihat sisi Rita yang sama dengan gadis-gadis lainnya. Tidak ada wajah tegang dan waspada seperti hari-hari sebelumnya.
"Nona, beneran ini mirip Chris Pine!" serunya tertahan tidak ingin menjadi pusat perhatian orang banyak.
"Bener kan? Aku pertama kali melihat Edward langsung komentar itu namun Mike langsung melengos" Bryan dan Rita tertawa.
"Iyalah tuan muda sebal nona. Tuan Edward itu playboy lho" ucap Bryan. "Makanya tuan muda takut nona tertarik dengan tuan Edward."
"Hahahaha, aku tidak tertarik dengan Edward, tenang saja". jawab Nabila.
"Fix nona, setelah nona menikah dengan tuan Mike, aku pindah ke Inggris!" Rita mengatakan kalimat itu dengan mantap.
"Mau ngapain ke Inggris?" tanya Nabila.
"Mengejar Chris Pine Kawe!"
Bryan dan Nabila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka baru tahu bahwa gadis yang biasanya kaku ternyata bisa seabsurd ini.
"Rit, kamu memang mau sama dia, tapi dia belum tentu suka sama kamu." Bryan tahu bagaimana Casanova nya Edward Blair.
"Kan belum dicoba" eyel Rita.
"Siap nona".
***
Seorang pria mengirimkan rekaman pembicaraan ketiga orang itu kepada seseorang. Melihat ketiga orang itu selesai santap siang dan berdiri meninggalkan restoran Jepang, pria itu memutuskan pergi dari mall itu. Dia tidak ingin ketahuan oleh dua pengawal gadis itu.
Di tempat lain, seorang pria tampan mendengarkan rekaman pembicaraan ketiga orang itu yang menggunakan bahasa Inggris.
Rahang pria itu mengeras mendengar nama pria yang dekat dengan wanita yang diincarnya.
Mike McGregor. Duncan McGregor.
Tidak sulit baginya untuk mencari tahu siapa Duncan McGregor. Berita di internet banyak memuat cerita tentang pengusaha yang juga mantan mafia.
Bahkan kasus penembakan Duncan masih muncul di banyak berita online. Namun berita tentang Mike McGregor malah tidak ada.
Apakah Mike menggunakan nama belakang yang berbeda?
Pria itu berpikir keras. Bagaimana gadis itu bisa berhubungan dengan mantan mafia yang ditakuti di Inggris Raya? Dia mengecek rumah sakit tempat Nabila bekerja sebelumnya. Dari website rumah sakit ada dua orang nama Michael yang bekerja sebagai dokter disana. Michael Cahill seorang dokter bedah dan Michael Turner seorang dokter kandungan.
Pria itu membuka profil Michael Cahill dan dia yakin pria ini lah yang dipanggil 'tuan muda' oleh pria yang bersama Nabila. Entah mengapa dia merasa bahwa pria ini yang dimaksud.
Sainganku berat tapi aku harus bisa merebutnya.
***
Nabila berjalan mendorong troli bersama Rita. Bryan sendiri kembali ke parkiran sambil membawa semua paper bag belanjaan mereka untuk dimasukkan ke dalam mobil.
"Daging sapi, ayam, udang, ikan, cek. Sabun cuci baju, tangan, pewangi, minyak goreng" mulut Rita komat kamit sambil mengecek pesan daftar belanjaan dari bik Kasih.
"Camilan" sambung Nabila.
"Ah iya, camilan yang banyak nona" cengir Rita.
Kedua wanita itu menuju rak tempat camilan dan asyik memasukkan beraneka ragam makanan ringan itu.
"Cewek itu dimana-mana sama ya" komentar Bryan melihat dua wanita itu membuat penuh troli dengan camilan.
"Cita-cita perempuan makan banyak tapi tetap langsing" ucap Rita.
"Bagaimana mau langsing kalau makannya model begini?" Bryan mengerenyitkan alisnya.
"Kita kan bakalan sering ke Dojo. Ya kan nona?" Rita mencari pembelaan nona nya.
"Tenang ajah Bry, kita akan sering ke Dojo. Kau mau ikut?" tawar Nabila.
"Boleh nona" ucap Bryan antusias. Sudah lama dia tidak melatih otot-ototnya.
***
Seorang pria menunggu di mobil depan sebuah apartemen menanti seseorang datang. Tak berapa lama sebuah mobil Camry hitam memasuki parkiran apartemen dan tampak tiga orang turun dari mobil dan mengambil banyak barang di bagasi mobil mewah itu.
Seorang pria tampak membawa kardus berisi belanjaan sedangkan dua wanita yang bersamanya membawa banyak paper bag. Ketiganya menyapa ramah kepada security yang membukakan pintu lobby apartemen.
Pria di dalam mobil itu sabar menunggu hingga setengah jam kemudian, keluar dua orang wanita tanpa pria yang bersamanya tadi. Wanita yang lebih pendek membuka pintu kemudi mobil Camry dan duduk di kursi pengemudi sedangkan wanita yang lebih tinggi berjalan menuju pintu penumpang depan kemudian masuk ke dalamnya. Tak berapa lama mobil hitam itu keluar dari halaman apartemen menuju jalan raya utama. Pria dalam mobil segera menjalankan mobilnya mengikuti mobil hitam di depannya.
***