Just The Way You Are

Just The Way You Are
Mafia Memang Menakutkan



Mario McGregor terkejut melihat ayahnya datang bersama dengan seorang pria yang tampak sebaya. Shanum segera berlari memeluk pria yang memakai kacamata itu yang langsung mencium kepala gadis itu.


"Halo son" sapa Duncan sambil memeluk Mario yang bengong.


Kemudian ayahnya memeluk mama Niken "Halo, besan".


Mama Niken hanya tertawa kecil "Besan ketemu malah di Paris yaaa".


Duncan melihat Shanum yang masih memeluk Daddynya.


"Num, ayo salaman sama Oom Duncan" ucap papa Akira.


Shanum kemudian mencium tangan kanan Duncan yang dibalas dengan usapan di kepala Shanum.


"Akhirnya bertemu juga dengan adik bar-barnya Nabila" kekehnya.


"Eh nggak Oom. Aku masih kalah sama mbak Bila" bela Shanum.


Papa Adrian lalu menyalami Mario.


"Halo Mario, senang bertemu dengan kakak Mike". Mario pun menyambut tangan papa Adrian.


"Sama-sama Oom".


"Jam berapa kalian bertemu dengan dekan" tanya Duncan.


"Jadwal sih jam sepuluh." Shanum melirik jam Baby-G nya yang menunjukkan pukul 9.45.


"Kita tunggu saja disini" ucap papa Adrian.


"Aku masuk dulu ke ruang dekan untuk menyerahkan berkas" Mario menunjukkan document keeper yang dibawanya. "Sekalian aku bilang kalian sudah datang". Pria tampan itu kemudian berjalan menuju ruang dekan.


"Bryan gimana pa?" tanya mama Niken pada suaminya.


"Lho kok tanya papa? Noh tanya sama bossnya" kekeh papa Adrian yang kena keplak istrinya.


"Sekarang aku tahu menurun dari mana sikap bar-bar anak-anak perempuanmu" komentar Duncan sambil tersenyum.


Shanum tertawa mendengar komentar calon mertua kakaknya.


Tak lama, sekretaris dekan memanggil Shanum beserta kedua orangtuanya dan diikuti Duncan.


Dekan yang bernama Armandt Laurent itu mendongakkan kepalanya ketika melihat rombongan keluarga Pratomo datang. Di dalam ruang dekan itu juga ada Mario McGregor yang masih disana.


"Monsieur Pratomo, akhirnya saya bisa bertemu dengan anda" Armandt menyalami papa Adrian Pratomo. Siapa yang tidak mengenal Adrian Pratomo arsitek terkenal di dunia.


"Monsieur Laurent, si agréable de te voir" balas papa Adrian.


"bonjour armandt, souviens toi encore de moi ( halo, Armandt. Masih ingat denganku )?" suara bariton di belakang Papa Adrian terdengar lalu si pemilik suara pun muncul.


Armandt Laurent terkesiap. "Duncan McGregor"


***


Ruangan dekan kali ini tampak sunyi bahkan mungkin suara jarum jatuh pun bakalan terdengar.


Armndt tidak menduga bahwa mafia yang terkenal di Inggris dan Italia itu calon besan Adrian Pratomo. Bahkan putra sulungnya menjadi salah satu dosen seni di kampusnya.


Kini di hadapannya tampak Adrian Pratomo, Niken dan Duncan duduk bertiga menatap dirinya. Mario dan Shanum memilih duduk di sofa.


"So, Armandt. Bagaimana kasus putriku?" tanya Duncan tanpa basa basi.


"Come on D, Shanum itu putri kandungku, kamu hanya Nemu hari ini" komentar Adrian yang langsung kena pelototan istrinya.


Bisa-bisanya suamiku Gesrek disaat seperti ini!


"Sial ! Kenapa aku harus berurusan dengan mu Duncan!" umpat Armandt kesal.


"Salahmu tidak bisa adil dan jujur!" balas Duncan.


Duncan kemudian mengambil sebuah amplop dari saku dalam jasnya dan menyerahkan kepada Armandt.


"Lihat ini dan jelaskan siapa yang salah!"


Armandt membuka amplop yang diberikan. Tampak Camille masuk ke kamar Shanum dan mencopy desain Shanum langsung dari laptopnya yang terbuka karena gadis itu dipanggil oleh rekanan Camille. Di kesempatan lain tampak Camille mencuri flash disk Shanum yang disimpan dalam tas kecil pada saat gadis itu membuang sampah di kantin.


"Jangan salahkan Shanum bila dia menghajar Camille karena dia berhak mendapatkan walaupun menurutku masih kurang" ucap Duncan dingin.


"Putriku bukanlah seorang plagiat macam biatch itu! Aku mengenali desain putriku, dia memiliki kode yang hanya kami yang tahu. Kalau anda mau teliti, bisa anda lihat perbedaannya!" Mama Niken sudah tidak tahan atas perilaku dekan itu.


"Apa karena kamu ditekan oleh Louis Baptiste? Karena Camille anaknya? Bapak sama anak sama-sama bajingan!" umpat Duncan.


"Aku bajingan karena aku menjaga martabat klan ku tapi aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu!"


Mario dan Shanum yang mendengar perdebatan hanya terdiam.


Memang Dad bajingan! Mafia mana yang nggak bajingan tapi jangan coba-coba mengganggu keluarganya karena kamu akan habis.


"Apa kamu tahu kejahatan yang dibuat si bajingan Baptiste? Dia menipu banyak calon desainer pemula untuk memamerkan karyanya tapi karya mereka diambil oleh rumah mode milik istri dan anaknya si Camille. Bahkan uang pendaftaran mereka pun diambilnya." Duncan menatap lurus ke Armandt. "Bajingan mana?"


Armandt terdiam.


"Kalau ada yang mengganggu klan ku, yang kuhabisi oknumnya tapi aku tidak mengganggu keluarganya karena keluarganya tidak bersalah."


Adrian dan Niken hanya menghela nafas. Besanku memang cocok dengan Nabila, sama-sama bar-bar.


"Kau berurusan dengan keluarga yang salah. Begitu juga dengan si Baptiste. Tunggu saja kejatuhannya sebentar lagi."


"Apakah aku akan kau habisi juga Duncan?" tanya Armandt.


Duncan memandang Adrian, lalu tertawa terbahak-bahak. Niken langsung memijit pelipisnya, pusing menghadapi dua pria sombong yang duduk diantaranya.


"Tidak, Monsieur Laurent. Saya hanya meminta cabut skorsing putri saya dan memberikan ucapan minta maaf atas kelalaian anda yang tidak bisa membuktikan praktek plagiarisme yang merajalela di kampus anda." Adrian Pratomo memandang tajam Armandt. "Kami tidak sesadis itu!"


"Saya minta anda memberitahukan semua pihak bahwa desain itu milik putri saya bukan biatch itu!" Niken kali ini yang berbicara.


"Kapan jadwal kamu memanggil si Baptiste dan Camille?" tanya Duncan.


"Siang ini. Rencananya siang ini putusan desain itu milik siapa." Armandt menjawab lirih.


"Dan kamu akan bilang itu desain Camille?" tanya Duncan dingin namun ada aura menyeramkan disana.


Armandt mengangguk.


"Idiot! Stupide! Kok bisa orang kayak kamu jadi dekan?" Duncan menyipitkan matanya. "Apakah kamu menyuap banyak orang untuk voting dirimu?"


Armandt menatap Duncan horor.


"Kalau sampai aku bisa membuktikan akan hal itu, habis kau! Mungkin omonganmu akan kubuktikan!" ejek Duncan sarkasme.


"Sial sekali aku kenapa keluarga Pratomo bisa berteman denganmu!" umpat Armandt.


"Itu namanya takdir" jawab Papa Adrian tenang.


"Jangan menyepelekan suatu hal kecil, Monsieur. Karena anda tidak tahu akan berhadapan dengan siapa dan bisa saja orang itu melebihi anda" ucap mama Niken.


Suara ponsel mengejutkan mereka semua. Papa Adrian mengambil ponselnya dari dalam saku jas.


"Pierre menelpon" tunjuknya pada mama Niken dan Duncan.


"halo pierre, où es-tu ( halo Pierre, kamu dimana )?" sapa papa Adrian.


" ... "


"je suis au bureau du doyen ( aku di kantor dekan )."


" ... "


"je t'attends ici ( aku tunggu disini ). Au revoir". Papa Adrian menutup panggilannya.


"Pierre siapa?" tanya Armandt dengan perasaan tidak enak.


"Pierre Lavigne, kepala polisi Paris."


Armandt merasa tubuhnya lemas.


***


Yuhuuu.


Hari ini ganti cover yaaaa


Soal nama Perancis yang aku pakai, hanya nama karangan ku.


Semoga nggak sama ma aslinya 😅😅😅.


Like vote n gift yaaaa


Tararengkyu ❤️🙂❤️