Just The Way You Are

Just The Way You Are
Kita LDR-an nih?



Nabila berjalan memasuki ruangan prakteknya dengan wajah kusut. Kejadian semalam membuatnya mood berantakan. Bisa-bisanya Mike tahu itu ciuman pertamaku, bisa-bisanya dia menikmatinya! Dia itu bule Nab, sudah terbiasa hidup bebas jadi jangan polos-polos lah jadi perempuan!


"Aarrrggghhhhh!!! Mike brengsek!!!" maki Nabila sambil mengacak-acak rambutnya kesal.


Suara ketukan di pintu membuat Nabila terkejut. Setelah merapikan rambutnya sembarangan, dia membukakan pintu prakteknya. Tampak wajah ramah suster Yolanda di depan pintu.


"Dokter Nabila, sudah waktunya terima pasien"


Nabila mengangguk. "Baik sus. Tunggu 5 menit baru persilahkan pasien pertama."


"Baik dok" jawab suster Yolanda dengan patuh.


Oke Nabila, konsentrasi!


***


Mike memandang pemandangan dari jendela ruang prakteknya. Kejadian semalam membuatnya good mood hari ini. Betapa tidak? Dia, Michael Cahill, berhasil mengambil ciuman pertama dokter Nabila Putri Pratomo, gadis cantik yang menghantui dirinya tiga bulan terakhir ini.


Bibirnya yang terasa Cherry bercampur teh terasa sangat manis, memabukkan dan membuatnya ketagihan. Mike semakin hapal aroma tubuh Nabila yang terkadang harum jasmine, lavender terkadang kopi tergantung suasana hati. Jasmine saat Nabila bahagia, Lavender saat Manchester United seri atau kalah, kopi saat sedih.


Mike merasa dirinya seperti orang gila yang senyum-senyum sendiri, orang yang mendapat jackpot. Rasanya tak sabar ingin segera menghalalkan Nabila. Mike bertekad untuk bisa menjadi imam bagi Nabila karena hasil percakapan ayahnya dan ayah Nabila, tampak jelas Oom Adrian minta agar Mike mempelajari agama Nabila secara sungguh-sungguh.


Lamunan Mike terputus ketika suara ketukan mengejutkannya. Kepala rumah sakit, Mr. Campbells membuka pintu ruangannya.


"Selamat pagi dokter Cahill" sapanya ramah.


"Pagi Mr. Campbells. Mari silahkan duduk" Mike mempersilahkan pemimpinnya duduk di sebuah sofa yang memang tersedia disana.


Kedua pria itu lalu duduk di sofa berbeda hampir bersamaan.


"Mau minum apa tuan Campbells? Kopi? Teh?" tawar Mike.


"Tidak usah dokter Mike. Saya pagi ini kemari karena ada sesuatu yang harus kita bicarakan."


Mike menatap wajah gemuk Mr. Campbells dengan raut bertanya


"Sudah waktunya kita membuka lowongan dokter bedah yang baru, karena kita akan kekurangan dokter bedah handal. Anda sebagai kepala divisi bedah harusnya tahu apa yang terjadi di divisi anda tapi saya maklum karena kemarin terjadi peristiwa terhadap ayah anda jadi belum mengetahui." lanjut Mr. Campbells.


"Saya memang belum melihat email karena selain pasien saya juga banyak, kasus ayah saya juga masih dalam proses hukum" jawab Mike.


"Apakah anda tahu, kontrak dokter Nabila Putri akan selesai dua bulan ini? Dan nampaknya dokter Nabila sudah mendapatkan penawaran kerja di tiga rumah sakit besar di tiga negara"


Mike melongo. Nabila akan pindah?


"Saya ... belum tahu" jawab Mike lirih sambil merutuki kebodohannya dalam hati karena teledor tidak melihat email seminggu ini.


"Karena dokter Nabila termasuk dokter bedah yang kompeten, dan kami akan sangat kehilangan jadi mulai sekarang kita akan mulai membuka lowongan untuk dokter bedah baru agar bisa memenuhi kuota jumlah dokter bedah di rumah sakit ini" papar Mr. Campbells.


"Baik Sir. Saya akan lebih teliti lagi dalam bekerja administrasi. Maapkan atas kecerobohan saya tidak membuka dan membaca email seminggu ini." angguk Mike.


"Saya tunggu kabar baiknya dalam satu bulan ini karena dokter Nabila harus melakukan serah terima pasien kepada penggantinya nanti." ucap Mr. Campbells sambil berdiri yang diikuti Mike.


"Siap Sir." Mr. Campbells lalu menepuk bahu Mike dan keluar dari ruangan kerjanya.


Mike segera membuka MacBook nya dan mulai membaca email satu persatu. Dan benar, disana pimpinannya telah mengirim email yang selama ini tidak pernah dibuka di ponselnya yang mengarahkan untuk mencari pengganti Nabila. Bahkan kontrak kerja Nabila dilampirkan ke dirinya walaupun itu sebenarnya confidential.


Mike mengusap wajah nya dengan kasar. Aku harus menemui Nabila sekarang! Segera ia memakai sneli stetoskop dan MacBook nya lalu keluar menuju ruangan Nabila.


***


Nabila melirik jam pop Swatch klasiknya yang menunjukkan pukul 12.10. Waktunya sholat dhuhur dan makan siang. Gadis berusia 26 tahun itu lalu melepaskan snelinya, dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu lalu melaksanakan sholatnya.


Mike yang sudah sampai ke ruang praktek Nabila tanpa mengetuk langsung masuk ke dalam. Suster Yolanda yang biasa ada di depan tidak terlihat jadi Mike bebas masuk. Betapa terkejutnya Mike ketika Nabila sedang melaksanakan shalat dan yang membuatnya terpesona adalah wajah cantik gadisnya yang tampak menyejukkan hati.


Pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di kursi tempat biasa para pasien Nabila berkonsultasi. Mata birunya tetap menatap gadis cantik itu. Tak berapa lama, Nabila selesai melaksanakan ibadahnya dan membuka mukenanya.


"Astaghfirullah! Mike!" serunya kaget seraya melipat mukena dan sajadahnya.


"Halo sayang" sapa Mike kalem. Nabila menyimpan peralatan ibadahnya di sebuah lemari kecil dekat tempat tidur untuk periksa pasien.


"Ada apa kau kemari?"


Mike tidak menjawab namun membuka MacBook nya kehadapan Nabila yang serius membacanya.


"Kenapa kau tak bilang kalau kontrakmu habis disini? Kenapa kau tidak memperpanjangnya sayang?" tanya Mike dengan nada selembut mungkin walau dalam hatinya kesal to the max.


"Bukan. Mr Campbells." Nabila menghela nafas panjang. "Benarkah itu? Kau akan berhenti dari sini?" lanjut Mike.


"Iya Mike" Bahu Mike langsung turun.


"How could you!" serunya.


Nabila mengelus dadanya kaget. Bule satu ini!


"Kamu itu kekasihku! Harusnya kamu cerita semuanya padaku agar aku ada persiapan! Tega kau Nab!"


"I'm sorry Mike tapi kau kan tahu aku tidak suka stay terlalu lama di satu kota. Aku suka traveling sembari menyumbangkan ilmuku buat medis."


"Tapi tidak bisakah kau tinggal disini bersamaku?" pinta Mike dengan wajah memelas.


"Mike, darling" hati Mike berdesir senang karena pertama kalinya Nabila memanggilnya seperti itu "Aku paling nanti hanya setahun disana."


"Jadi kita LDR an ini?" Nabila mengangguk. "Kau sudah memutuskan kota mana?"


"Masih bingung antara Tokyo atau Jakarta" jawab Nabila.


"Jakarta saja" Nabila menatap Mike bingung.


"Kenapa?"


"Kan aku bisa memantau dirimu via ayah mertua" cengir Mike.


"Mike"


"Hhmmmm"


"Kamu nggak papa kita LDR?" tanya Nabila.


Mike tersenyum lebar "Berarti kau sudah mengakui kita sepasang kekasih?"


Nabila memutar matanya malas. "Haaaiissshhhh, aku salah bicara"


Mike lalu berdiri menuju Nabila yang duduk di hadapannya lalu berjongkok.


"Tunggu aku di Jakarta ya. Aku akan menyusulmu. Tappiiii sekarang, kau punya tugas penting!"


"Apaan?"


"Bantu aku mencarikan dokter bedah yang kwalitasnya hampir seperti dirimu sebagai penggantimu." jawab Mike.


"Mau cewek atau cowok?"


"Cewek. Cantik. *****y. Aduuuuhhh!!" Mike mengusap lengannya yang dipukul Nabila.


"Baru semenit yang lalu ngomel-ngomel soal aku pergi tapi sudah minta cari cewek lain". Nabila cemberut.


Mike tertawa "Kamu gemesin kalau lagi marah Nab. Ya jelas aku minta dokter cowok soalnya aku tidak mau gadisku yang hendak pergi bekerja di negaranya kepikiran akan calon suaminya yang tampan ini"


"Dasar narsis!"


CUP


"Tapi kamu suka kan sayang?" goda Mike setelah mengecup bibir Nabila sekilas.


"Sudahlah jangan menggodaku. Aku mau makan, lapar ini!" Nabila berdiri melewati Mike.


"Ikut!"


***



Dokter Nabila yang mau pindah



Babang Mike Cahill yang mau LDR an