
Hari ini Nabila praktek seperti biasa karena tidak ada jadwal operasi. Jujur Nabila suka di ruang opera untuk menyembuhkan para pasiennya namun dia juga suka berinteraksi dengan pasiennya secara langsung. Apalagi dia harus ke Surabaya lagi selama dua Minggu kemarin karena dokter Rusdi
Suster Nia yang menjadi asistennya hari ini sudah menyiapkan daftar pasien yang hendak konsultasi. Nabila membatasi satu hari maksimal adalah 10 orang pasien karena dia tidak mau ada kesalahan akibat dirinya tidak bisa konsentrasi.
"Pagi dok. Ready to rumble?" goda dokter Nia.
"Hah?" Nabila bengong dengan kalimat yang dipakai suster Nia.
"Ready to rumble?"
"Hayuklah! Bring it on!" senyum Nabila.
Dan pagi itu dimulailah rutinitas Nabila dan suster Nia ditemani oleh Rita yang setia menunggu.
***
Arya mendapatkan nomor antrian sembilan dan sekarang dia sudah berada di ruang tunggu menunggu panggilan. Dilihatnya layar tv yang menunjukkan nomor antrian sudah muncul angka delapan jadi sebentar lagi dia akan dipanggil.
Arya bertekad untuk bisa mengkonfrontasi kenapa kemarin Rita pergi dengan susternya. Apalagi selama dua Minggu kemaren dia tidak bisa menemui gadis itu karena dia berada di Surabaya.
"Tuan Arya Wisama" suara suster Nia memanggil namanya.
Arya pun berdiri menuju ruang praktek Nabila yang bernuansa peach. Suster Nia memberikan senyum profesionalnya.
"Silahkan pak Arya."
"Terimakasih suster Nia."
Arya pun masuk.
"Selamat siang dokter Nabila" sapanya ramah.
"Selamat siang pak Arya" jawab Nabila.
"Akhirnya saya bertemu dengan anda lagi dokter." Ary memberikan senyuman manisnya.
"Bagaimana kondisi perut bapak? Sudah kering jahitannya?" tanya Nabila acuh dengan ucapan pria itu.
"Alhamdulillah sudah membaik." Hati Arya berdesir melihat wajah cantik yang dingin itu.
"Baik, saya periksa dulu. Silahkan ke bed pak." Nabila berdiri sekalian memasang sarung tangan medisnya.
Suster Nia yang membantu Arya untuk membuka kemejanya di tempat tidur pasien.
"Silahkan tiduran dulu pak Arya" ucap suster Nia.
Arya menurut. Nabila pun melihat hasil operasinya dan tersenyum tipis melihat semua tampak bagus. Arya yang menatap wajah gadis itu dengan intens, semakin terkesima melihat senyum mahal Nabila.
"Semuanya bagus pak Arya. Tidak ada keluhan pak?" tanya Nabila.
"Ada dok."
Nabila menaikkan alisnya yang bagus.
"Kenapa dokter membohongi saya sekitar dua Minggu lalu?"
"Maksudnya?"
"Saya melihat nona Rita membawa mobil Porsche dokter dan pergi bersama suster Nia. Kenapa anda tidak pulang bersama nona Rita?" tanya Arya yang sudah duduk di pinggir tempat tidur sembari mengancingkan kemejanya.
"Apa perlu pertanyaan anda saya balik pak? Kenapa anda menguntit saya?" tanya Nabila datar.
Arya terdiam.
Ponsel Nabila yang berada di meja bergetar dan membuat gadis itu menoleh ke arah mejanya. Wajahnya langsung sumringah melihat siapa yang menelepon.
"Suster Nia, tolong pak Arya dibantu ya. Saya mau terima telepon dulu." Nabila segera keluar ruangan.
"Sudah oke kan dok?" tanya suster Nia.
"Oke!" sahutnya seraya menghilang dari ruangan.
"Siapa yang menelpon itu sus?" tanya Arya setelah membenarkan pakaiannya.
"Kalau melihat wajah dokter Nabila begitu, berarti tunangannya dokter Mike."
"Suster Nia pernah lihat tunangannya? Pria bule berambut blonde itu kan? Wajahnya nggak ada baik-baiknya!" komentar Arya dengan nada tidak suka.
"Eh bukan pak. Tunangannya rambutnya coklat tua, cakep kok" sanggah suster Nia.
"Saya lihat dia bergandengan dengan bule rambut blonde" eyel Arya.
"Pak Arya kalau tidak percaya, lihat saja di meja dokter Nabila ada foto tunangannya."
Arya pun melihat meja Nabila yang terdapat foto seorang pria tampan berambut cokelat dan bermata biru mengenakan jas bewarna abu-abu.
Namun bukan Arya namanya kalau harus menyerah sebelum mencoba. Misi merebut tunangan. orang lain harus segera dijalankan.
"Pak Arya nggak usah macam-macam ya, karena keluarga tunangan dokter Nabila adalah mafia."
Apppaaaa???
***
Nabila menerima telepon dari Mike di sudut lorong lantai dengan perasaan lega bisa menjauh dari Arya. Beruntung Arya adalah pasien terakhirnya jadi setelah ini bebas.
"Pria itu datang lagi Nab?" tanya Mike.
"Hu um tapi aku sudah memberikan batasannya Mike."
"Besok liburan Natal pulang kan Nab?"
"Iya sayang, apalagi aku sudah mengajukan cuti sampai tahun baru. Makanya aku bekerja lembur agar jam kerjaku terpenuhi."
"Jangan capek-capek sayangku" pesan Mike.
"Mike, aku dokter jadi aku tahu batasannya" kekeh Nabila.
"Tahu lah tapi aku tetap mengingatkan. Aku tidak mau besok kamu kecapekan pas kita liburan."
"Memang kita mau kemana? Bukannya kita sama Tuan Voldemort di mansion?"
Mike tertawa terbahak-bahak. "Masih saja kau memanggil Dad seperti itu."
"Itu panggilan sayangku pada Dad Duncan."
"Aku senang Nab, kurang dari sepuluh hari kau sudah ada di London."
"Lho kita nggak ke Edinburgh?" Nabila bingung karena root klan McGregor di Skotlandia.
"Nggak, Dad minta kita ke mansion McGregor satu lagi di London. Seluruh anggota akan merayakan Natal disana walaupun aku dan kamu tidak."
"Bagi Dad, yang penting kita semua berkumpul."
"Ohya, aku punya kabar. Sepupumu Yuna, sekarang di London."
"Eh? Kok gadha yang cerita?" Nabila seperti ketinggalan berita.
"Baru dua hari kemarin kok soalnya dia diterima bekerja di sebuah galeri seni disana."
Sepupunya Yuna adalah anak bungsu Oom Aryanto, seorang pecinta seni dan bekerja menjadi kurator yang mulai naik daun.
"Dia cocok dengan Mario" komentar Nabila.
"Hohoho, aku tidak akan menjodohkan dengan Mario kakakku! Karena aku sedang misi taruhan Nab."
Mike pun menceritakan perihal taruhannya dengan Edward Blair. Bagaimana dia mencoba mempertahankan Lamborghini Aventador dan berusaha mendapat Porsche nya.
Nabila terbahak. "Kalian pria-pria itu yaaaa, benar-benar deh!"
"Nab, kamu harus lihat Porsche punya si Edward. Bikin ngiler! Dan aku yakin si Edward bakalan kalah sama aku. Tidak ada yang bisa melawan Mike Cahill" sesumbarnya.
"Aku berani melawanmu Mike" jawab Nabila kalem.
"Kalau aku berani melawanmu, aku yang rugi bisa kehilanganmu" rayu Mike sok gombal.
Nabila tertawa. "Oh, Mike sayang, you're make my day so bright."
"Always baby" jawabnya.
***
Arya melihat Nabila yang tampak bahagia menerima telepon menjadi cemburu. Mendengar gadis itu tertawa lepas membuatnya ingin bisa melihat secara langsung di hadapannya.
Kenapa kamu tidak bisa melihatku, Nabila? Bisakah hatimu berpaling dari tunanganmu?
***
Yuhuuu
Sorry baru Up
Thank you for reading.
Don't forget to like vote n gift yaaaa
Tararengkyu ❤️🙂❤️