
Hari ini Gala kembali ke Jakarta. Pagi sebelum ke bandara, pria itu menyempatkan mampir ke apartemen Nabila untuk berpamitan. Rita yang membuka pintu apartemen terkejut melihat polisi tampan itu pagi-pagi sudah datang.
"Pagi mbak Rita" sapa Gala.
"Pagi pak Gala. Mari silahkan masuk." Rita mempersilahkan Gala masuk.
Ketika berada di dalam, sudah ada Mike yang masih mengenakan kaos rumah dan celana training di meja makan sedangkan Nabila sudah rapi dengan gaun tanpa lengan bewarna navy tapi masih berkutat di depan kompor.
"Pagi Nabnab. Pagi Mafia" sapanya.
"Pagi Mangga" sahut Mike cuek sambil menyesap kopinya.
Gala duduk di hadapan Mike. Netra coklatnya menatap netra biru Mike dengan pandangan menusuk.
"Lu tidur sini?" tanyanya dengan nada menginterogasi.
"Yoi. Emang kenapa? Wajar lah aku tidur sama tunanganku?" sahut Mike santai sambil mencomot perkedel kentang.
"Brengsek lu! Dasar bule! Berani-beraninya kamu rusak Nabnab!" umpat Gala emosi.
"Ya mau gimana? Di negara gw bebas kok, apalagi Nabila juga nggak keberatan. Hubungan suka sama suka kan ga bisa dikenai pasal hukuman apapun!"
"Aduh!" Nabila mengeplak bahu Mike.
"Gak usah ngadi-ngadi deh! Dia tidur di sofa kok Ga. Kamar gue dah gue kunci semalam!" sahut Nabila ke arah Gala.
Gala menatap Nabila lalu kembali ke Mike dengan tatapan meledek yang dibalas tatapan judes oleh pria bermata biru itu.
"Dah, ayo sarapan." Nabila sengaja memasak sup daging pagi ini agak banyak karena tahu Gala pasti akan mampir.
***
Gala sudah berangkat ke Bandara diantarkan oleh Mike dan Nabila menggunakan mobil yang dikirim oleh sang papa setelah tahu Mike berada di Surabaya. Memang selama seminggu di Surabaya, Nabila menolak mobil dari kantor cabang PRC group karena dia lebih nyaman dengan ojek online.
Karena tahu calon menantunya berada satu kota dengan putrinya, papa Adrian lalu mengirimkan salah satu mobil dari kantornya untuk dipakai oleh putrinya.
Dan sepanjang perjalanan ke bandara Juanda dengan diantar sopir, dua pria tampan itu malah asyik berdebat hal-hal yang terkadang tidak masuk akal. Nabila hanya tersenyum mendengarkan keduanya saling sindir dan ledek. Tentu saja sikap Nabila membuat dua pria itu terdiam.
"Kenapa darling?" tanya Mike.
"Nabnab, are you okay?" Gala ikutan bingung.
Nabila tertawa terbahak-bahak.
"Kalian itu seperti suami istri yang lagi berantem" ucapnya di sela-sela tawanya.
Kedua pria itu melotot horor.
"Woi, gue masih normal Nabnab!" protes Gala.
"Nab, biarpun aku kerja bareng Sean, bukan berarti aku ikutan belok kayak dia!" Mike merasa tersinggung.
"Sebentar. Siapa Sean?" tanya Gala yang langsung kepo mendengar nama pria lain.
"Sahabatku dari jaman kuliah kedokteran" jawab Nabila. "Tenang, dia gak doyan gue. Soalnya dia udah ma Brandon."
Gala tercengang. "Astaghfirullah! Terong makan terong?"
"Tapi mereka yang selalu ada bersamaku selama di Amrik. Just like you waktu di SMA."
"Ya ampun Nabnab. Apakah ada kejutan lain?" Gala mengusap wajahnya.
"Sementara ini, belum" jawab Nabila kalem.
"Ya ampun, sahabatku memang antik!"
***
Nabila baru saja datang bersama Mike ketika dokter Rusdi datang meminta bantuannya untuk operasi sulit. Segera Nabila menyanggupi dan ketika dokter Rusdi melihat Mike datang bersama, dia meminta bantuannya.
"Tapi maaf ya dok, kalau pro Bono gimana? Karena pasien ini kurang mampu dan istri saya yang meminta tolong saya membayar semua perawatannya tapi kalau ditambah biaya dokter Cahill..." dokter Rusdi memang sudah mengetahui hubungan Nabila dengan Mike dan berhasil mencari tahu siapa dirinya.
"It's okay, dok. Saya ga masalah kalau pro Bono ( tanpa bayaran ). Saya cari ilmunya disini dan meningkatkan kemampuan saya di bidang bedah." Mike menepuk dokter paruh baya itu.
"Suatu kehormatan bagi saya dan rumah sakit ini ada dokter hebat disini."
"Sama sama dok. Mari kita liat hasil USG dan kondisi pasien sekarang." Mike dan dokter Rusdi berjalan bersama ke ruang operasi dimana Nabila sudah menunggu.
***
Mike dan Nabila baru saja sampai di apartemen jam enam sore. Operasi tadi berjalan cukup rumit hingga membutuhkan waktu empat jam. Dokter Rusdi sangat terbantu sekali atas kehadiran dua dokter bedah yang capable. Nabila tadi merasa terharu ketika bertemu istri si pasien yang langsung memeluk Mike pada saat diberitahu tidak usah mengeluarkan biaya sepeserpun. Semuanya ditanggung oleh Mike. Apalagi si pasien hanyalah buruh serabutan dan istrinya buruh cuci.
Dokter Rusdi sangat berterimakasih pada Mike karena istri pasien itu biasa diminta tolong oleh istrinya untuk bantu-bantu di rumah.
"Saya punya uang banyak dok Rusdi, jadi gadha masalah jika hanya membayar biaya si pasien" ucap Mike yang terkadang kumat sombongnya.
"Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit lho dok" Dokter Rusdi meyakinkan lagi perkataan dokter bule tampan di depannya.
"No problemo. Ohya sekalian saya titipkan dana untuk tabungan si istri pasien karena dia pasti butuh biaya untuk di rumah sakit. Tolong buatkan tabungan untuk ibu itu nanti saya transfer."
Nabila masih tidak percaya Mike bisa semudah itu berbuat pada orang yang tidak dikenalnya. Sepanjang perjalanan tadi Nabila mencecar Mike.
"Kalau dihitung secara finansial, itu cuma menghabiskan biaya satu mobil Lamborghini Aventador, sedangkan aku dan Dad sama-sama punya satu mobil itu walaupun kami lebih suka pakai Range Rover. Kalau aku butuh duit, Lambo nya tinggal aku jual. Gampang kan?" cengir Mike yang malah membuat Nabila jengah.
Kini di apartemen, Nabila semakin bingung ketika Mike memintanya dandan cantik dan resmi.
Apakah kita akan makan malam di luar?
Nabila memutuskan memakai gaun hitam brokat transparan, rambutnya hanya ditata sanggul belakang dengan aksen poni, wajahnya hanya memakai make-up flawless. Sepatu tali berhak tebal setinggi 7 centi bewarna silver menjadi pilihannya. Dalam hatinya dia bersyukur membawa gaun dan sepatu resmi dan ternyata berguna.
Ketika keluar kamar, Mike sudah tampak rapi dengan rambut disisir rapi, kemeja bewarna coklat, dasi kotak-kotak kecil disandingkan jas hitam berbahan wol. Melihat dandanan Nabila, Mike langsung terpesona.
"Kamu cantik sekali, sayang" bisiknya sambil meraih pinggang ramping Nabila.
"Terimakasih." Sebuah kecupan mendarat di pipi Nabila yang mulus.
"Aku nggak mau mencium bibirmu walaupun ingin, karena pasti aku akan mengurungmu di kamar semalaman." bisiknya sens**ual.
"Aduh!" Mike mengusap bahunya yang kena pukul Nabila. "Kamu itu bar-barnya dikurangi dong Nab!"
"Siapa suruh mesum!" cebik Nabila. Mike hanya nyengir dengan wajah menggoda.
Keduanya berpamitan dengan Rita yang memang sengaja tidak ikut. Bagaimana pun nonanya aman kalau bersama tunangannya.
Tiba di parkiran, sopir kantor ayahnya sudah siap dengan membukakan pintu buat keduanya yang segera masuk ke dalam mobil mewah hitam itu.
Di dalam mobil, Nabila bertanya pada Mike.
"Sebenarnya kita mau kemana Mike?"
"Rahasia" senyum Mike penuh misteri.
"Kita akan makan malam romantis?" selidik Nabila.
Mike hanya tersenyum memandang Nabila tanpa berniat menjawab pertanyaan gadisnya.
Merasa sia-sia bertanya pada pria di sebelahnya, akhirnya Nabila membuang tatapannya ke jendela mobil untuk melihat pemandangan disana.
Setengah jam kemudian, sampailah mereka di sebuah hotel mewah. Mike mengajak Nabila turun yang membuat gadis itu semakin bertanya-tanya. Setelah menemui resepsionis, Mike menghela Nabila seraya ditemani oleh salah seorang pegawai hotel.
Sesampainya roof top, Nabila terperangah melihat hiasan yang sangat indah.
Dan semakin dirinya bingung ketika Mike membawanya ke sebuah kursi yang sudah disiapkan.
Nabila yang masih terkagum-kagum dengan hiasan tempat itu, terkejut ketika Mike berlutut dengan satu kaki lalu mengambil sebuah kotak kecil beludru berwarna merah.
"Mike? What are you doing?" bisik Nabila sambil berdebar-debar.
Mike tersenyum lalu membuka kotak beludru merah itu.
"Nabila Putri Pratomo... Will you marry me?"
Nabila ternganga melihat Mike begitu serius padanya.
"Mike... Aku..." mata Nabila mulai berembun.
"Darling, I need your answer..." bisik Mike. Benar-benar bakalan malu kalau Nabila sampai menolak.
Nabila tersenyum lalu memberikan tangan kirinya. "Yes. I will marry you Michael James Cahill McGregor."
Senyum Mike melebar lalu memasukkan cincin bermata berlian tunggal besar dan berlian kecil-kecil di pinggirnya ke jari manis tangan kiri Nabila. Pas!
"Terimakasih sayangku" Mike berdiri lalu mencium kening Nabila dan memeluknya yang dibalas gadis itu erat dengan tubuh bergetar menangis.
"Jangan nangis Nab. Apa perlu aku beritahu harga cincinnya biar kamu berhenti menangis tapi pingsan?" goda Mike yang sukses mendapatkan pelototan Nabila.
"Sombongnya calon suamiku!" omel Nabila sambil menatap galak pada Mike.
Mike tertawa bahagia melihat gadisnya kembali menjadi judes mode on namun selanjutnya dia mendaratkan bibirnya ke bibir Nabila yang reflek merangkul leher Mike agak berjinjit.
"Ciumannya udah dong. Belum halal itu!" sebuah suara mengejutkan keduanya.
"Papa?"
"Dad?"
***
Sorry baru update.
Kemarin urus pameran dulu.
Happy reading n jangan lupa support daku yaaa.
Tararengkyu ❤️❤️❤️