
Mike dan Nabila mengecek keadaan Bryan yang mulai bisa tersenyum bisa melihat majikannya dan temannya Jack serta Rita.
Pasangan itu saling memeriksa keadaan Bryan hingga pria itu merasa tidak enak karena bossnya yang turun sendiri walaupun keduanya memang dokter.
"Tuan muda, nona Nabila, saya baik-baik saja kok" ucap Bryan.
"Sssttt diamlah! Kami sedang mengecek semuanya sebelum kamu bisa diberangkatkan ke Edinburgh" sahut Nabila.
"Saya dipulangkan? Lalu nona Nabila?" Bryan menjadi panik tidak bisa menjaga nonanya.
"Pelakunya sudah ditangkap jadi kamu nggak usah jaga aku lagi Bry" Nabila menatap pengawalnya.
"Lagian gimana kamu jaga gadisku kalau kondisimu seperti itu?" sahut Mike.
"Saya pulang kapan nona?" jujur Bryan keberatan pulang karena dia sudah nyaman disini dan juga ada Rita yang jadi teman ngobrolnya selama menjaga Nabila.
"Melihat kondisimu, tiga hari lagi kamu bisa pulang. Langsung aku bawa kamu ke Royal, biar disana diurus oleh Sean dan Howie." Mike sudah selesai memeriksa Bryan dan kini menatapnya.
"Saya minta maaf tuan muda, saya tidak waspada jadi seperti ini."
"Namanya musibah, Bry. Pula pelakunya tidak bakalan keluar dari penjara nanti dalam jangka waktu yang lama. Kalau pun bisa keluar, dia sudah kakek-kakek" kekeh Mike dengan seringai jahat.
Nabila hanya melengos. Tak lama Jack dan Rita datang membawakan coklat karena Bryan minta itu untuk menghilangkan rasa pahit mulutnya.
"Jack, kamu jagain Bryan ya. Saya dan Nabila mau ke mansion dulu, istirahat sebentar nanti kita kesini lagi." Mike kemudian menggamit tangan Nabila.
"Baik tuan muda." Jack pun duduk di sofa.
"Rita, kamu ikut kami!" titah Mike namun Rita hanya diam saja di pinggir tempat tidur Bryan.
Gadis itu memandang Bryan seperti enggan meninggalkan pria yang masih terbaring.
"Sayang, biarkan Rita disini. Lagipula, kita sudah ada sopir dan pengawal yang dikirim papa" bujuk Nabila yang langsung membuat wajah Rita sumringah.
"Haaaiissshhhh, amor tuh yaaa bikin orang gak konsen!" umpat Mike.
"Kayak tuan muda nggak aja" gumam Jack.
"Apa Jack?" lirik Mike judes.
"Nothing, Sir!" sahut Jack cepat.
"Ya udah, kita pulang dulu. Rita, Jack jangan lupa makan yang banyak. Istirahat juga. Kalau perlu minta ekstra bed" ucap Nabila sambil keluar bersama Mike.
"Ya nona!"
***
Jam menunjukkan pukul empat sore dan Jack terbangun dari tidur siangnya. Pria besar itu melihat ke arah Rita yang berada di pinggir kasur dengan tangannya menjadi bantalnya, sedangkan tangan Bryan yang bebas memegang kepala gadis itu. Keduanya tampak terlelap.
Pelan-pelan Jack menuju kamar mandi dan menyelesaikan urusan alamnya. Usai dari kamar mandi, dia merasa lapar kemudian dia keluar dari kamar Bryan menuju kantin.
Melihat banyak kantin yang mulai tutup, Jack memutuskan untuk keluar buat mencari warung di sekitar rumah sakit.
"Tuan Jack?"
Jack pun menoleh. Tampak gadis manis yang melayaninya sarapan tadi pagi berada dibelakangnya.
"Nona Dian ya?" Semoga tidak salah nama.
Gadis itu tersenyum.
Duh, senyumannya manis sekali.
"Tuan Jack ada apa kemari? Kami biasanya sudah mulai tutup jam empat sore" Dian melihat Jack celingak-celinguk.
"Eeerrr... Aku lapar" cengirnya.
Dian tertawa melihat bule berbadan besar itu bersikap kikuk.
Tawanya renyah sekali.
"Tak heran kalau tuan Jack mudah lapar, badannya besar sih" kekeh Dian. "Mari ikut saya."
Jack berjalan mengikuti gadis mungil itu. Bagaimana tidak macam David dan Goliath. Jack mengira-ngira tinggi Dian hanya 160cm sedangkan dirinya 188cm dengan berat 100kg.
"Duduk sini, aku siapkan makanan. Tadi masih ada nasi dan lauk yang mau aku bawa pulang tapi melihat tuan Jack kelaparan, buat tuan saja." Dian membuka Tupperware besarnya, lalu menata semua di piring lalu membuatkan segelas besar teh panas dan air putih. Setelah semuanya siap, Dian membawakan ke meja tempat Jack menunggu.
Jack menatap hidangan di hadapannya. Ada rasa tidak enak memakannya karena hendak dibawa pulang oleh Dian.
"Kenapa tidak dimakan tuan Jack? Apa karena sedikit ya?" Dian bingung melihat pria besar itu yang katanya lapar cuma memandang makanan di depannya.
"Ini kan harusnya ... kamu bawa pulang" ucap Jack pelan.
Dian tertawa lagi. "Masa saya tega ada orang kelaparan nggak saya kasih makan?"
Jack tersenyum. "Ya sudah, saya makan ya". Dian mengangguk.
Keduanya tidak ada yang berbicara selama Jack makan. Dian membuka ponselnya dan mengirim pesan pada ibunya kalau dia pulang terlambat.
Lima belas menit menit kemudian, Jack sudah selesai memakan semua hidangan yang disajikan oleh Dian.
"Tuan Jack doyan apa laper?" goda Dian sambil membereskan semua piring kotor.
"Eeerrr, lapar dan doyan juga. Masakannya sedap." Jack menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dian tertawa lagi sambil mencuci piring kotor dan gelas yang dipakai Jack tadi. Dia memang tidak mau meninggalkan perkakas kotor di counter makanannya.
"Kamu yang masak?" tanya Jack.
"Aku dan ibu" jawab Dian.
"Kamu pintar masak" puji Jack lagi.
"Terimakasih. Ohya kalau boleh tahu, tadi siapa yang bersama dengan tuan Jack? Tampaknya aku tahu pria yang besamamu. Apakah beliau tuan Adrian Pratomo?" tanya Dian.
"Iya, beliau tuan Adrian Pratomo dan gadis berbaju navy tadi adalah putrinya, nona Nabila, sedangkan yang berbaju abu-abu itu Rita, pengawal nona Nabila."
"Wah, aku tidak menyangka konglomerat seperti tuan Adrian mau makan di kantin. Kami tadi sampai kasak kusuk melihat sultan dengan santainya makan disini." kekeh Dian.
"Keluarga Pratomo memang begitu nona Dian. Mereka sultan tapi low profile. Bahkan putrinya nona Nabila lebih low profile."
"Apa ada dari keluarga Pratomo yang sakit?" tanya Dian lagi.
"Bukan, adikku yang sakit. Dia jadi korban tabrakan." Jack tidak mau berbicara detail tentang Bryan dan latar belakangnya.
"Astaghfirullah. Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia mengalami patah tulang dan sedikit gegar otak tapi sudah diperiksa nona Nabila. Tiga hari lagi kami pulang ke Inggris karena adikku lebih baik dirawat disana agar dekat dengan keluarga."
"Wah berarti nanti aku tidak bisa bertemu tuan Jack dong" gumam Dian.
Hah?
"Iya ya" kekeh Jack kikuk. "Jadi selama. tiga hari kedepan, aku mau makan nasi ramesmu ya".
Dian tersenyum menatap pria berambut blonde, lengkap dengan goatee beard, bermata biru dan berbadan besar itu.
Duh jantungku kok berdebar-debar. Dian memegang dadanya.
"Nona Dian kenapa?" tanya Jack khawatir melihat gadis manis berambut hitam panjang itu tampak gugup.
"Eh? Tidak apa-apa." Dian menggeleng pelan.
"Ohya, bolehkah aku minta nomor ponselmu?" tanya Jack.
"Eh? Buat apa?" tiba-tiba Dian merasa gemetar.
Kenapa pria ini meminta nomor ponselku?
"Biar aku tahu kantinmu sudah buka belum biar nanti adikku bisa ikut makan masakanmu. Tahu sendiri kan makanan rumah sakit seperti apa? Tadi saja aku pusing mendengar dia ribut mulutnya pahit" jawab Jack sambil tersenyum.
Jack, Jack... Modusmu receh bangets!
"Oh." Dian melongo. "Mana ponselmu tuan Jack?"
Jack menyerahkan ponselnya yang berwarna hitam yang sudah dibuka password nya. Dian kemudian mengetik nomornya di daftar kontak Jack. Dahi gadis itu sempat mengerenyit melihat wallpaper ponsel Jack yang standar hitam.
"Kenapa?" tanya Jack begitu melihat wajah Dian yang berubah.
"Hpmu simpel banget wallpaper nya" komentar Dian.
"Hahahaha, aku bukan pria centil yang lebay memakai wallpaper aneh-aneh".
"Sudah aku simpan nomorku." Dian menyerahkan kembali ponsel Jack ke pemilik nya.
"Nama yang kau masukkan siapa?" tanya Jack lagi.
"Dian Pratiwi."
Jack pun mencari nama itu dan tersenyum ketika menemukannya.
"Aku pulang dulu ya tuan Jack, ibuku sudah menunggu di rumah". Dian membawa sebuah tas besar yang berisikan Tupperware dan beberapa kotak lainnya.
"Aku bantu bawakan" tawar Jack.
"Tidak perlu tuan. Terimakasih sudah mau makan masakanku". Dian pun berjalan menuju pintu keluar.
"Hati-hati".
Dian menoleh dan tersenyum pada Jack lalu melangkah pergi.
Damn! Tampaknya aku kena serangan amor! Sial, gara-gara ngatain tuan muda Mike, aku kena karmanya!
Jack pun berbalik dan menuju kamar Bryan.
Abang Jack
Neng Dian Pratiwi
***
Yuhuuu
Like n support author yaaaa
Tararengkyu ❤️🙂❤️