
Nabila dan Rita asyik bercanda di dalam mobil yang menuju mansion Pratomo. Tiba-tiba suara ponsel Nabila berbunyi dan tampak nama Mike Reseh di layar. Rita terkikik membaca nama kontak kekasih nonanya.
"Aku lupa belum ganti Rit. Ga usah ketawa!" cetus Nabila sambil manyun. "assalamu'alaikum sayang".
Rita tetap konsentrasi mengemudi namun insting bodyguardnya tidak dapat dipungkiri ketika ia melihat sebuah mobil hitam yang berada di satu mobil di belakang Honda Brio merah. Rita tetap tenang dan fokus melihat kiri kanan jika dia menemukan tempat bisa mengalihkan perhatian penguntitnya.
Gadis itu kemudian menelpon seseorang.
"Bry, bisa kau ke kantor polisi daerah Menteng? Gunakan ojol, aku tunggu disana." Rita memberikan perintah ke Bryan.
Nabila yang sedang menerima telepon pun terkejut mendengarnya. Tatapan penuh pertanyaan tampak jelas dan Rita hanya memberi kode bahwa mereka dikuntit. Nabila menoleh ke belakang mobil dan melihat sebuah mobil hitam yang sangat dikenalnya lalu menatap Rita.
Tanpa suara Nabila mengatakan satu kata "Bagas".
Rita pun mengerti lalu dia memberi kode agar nonanya cool dengan menaik turunkan tangannya. Nabila kemudian melanjutkan percakapannya dengan Mike dengan bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Sepuluh menit berputar di daerah Menteng, mobil Nabila memasuki halaman Polsek. Kedua wanita yang di dalam mobil menunggu apakah mobil itu ikut masuk atau hanya melewati depan Polsek. Ternyata mobil itu terus melaju melewati mereka.
Nabila dan Rita pun turun dari mobil. Seorang anggota kepolisian menghampiri keduanya.
"Selamat pagi ... Lho Nabila?"
Nabila menatap pria yang berseragam coklat itu degan wajah bingung. "Siapa ya?"
Petugas kepolisian itu tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang putih rapih. "Lupa ya Nabnab?"
Mata Nabila membola. Hanya ada satu orang yang memanggilnya Nabnab.
"Manggala? Si buah mangga?" seru Nabila.
"Sialan! Enak saja manggil gue gitu!" gerutu pria tampan itu.
"Kok elu jadi ganteng gini Ga?" kekeh Nabila.
"Emang elu ajah yang boleh cantik secara gue kagak boleh ganteng? Jahat lu Nabnab! Dari dulu kagak berubah sukanya nistain temanmu yang baik hati dan tidak sombong ini!" umpat Gala yang disambut tawa renyah Nabila.
"Apa kabar Ga?" ucap Nabila usai tertawa.
"Alhamdulillah baik. Kamu ngapain kesini? Udah nikah? Papa mama gimana kabarnya? Berapa tahun kita ga ketemu ya Nabnab?" tanya Gala beruntun.
Diantara teman Nabila, Gala adalah salah satu orang yang tahu kondisi gadis itu. Gala tanpa sengaja mendengar percakapan dokter dengan orangtua Nabila ketika hendak datang menjenguk.
Hatinya sedih ketika mendengar kondisi gadis yang selalu jadi lawan debatnya harus mengalami keadaan seperti itu. Dan dia adalah orang yang membela Nabila ketika mantan pacarnya sendiri yang menyebarkan kabar kalau Nabila tidak bakal bisa punya anak. Nabila yang sakit hati kemudian pindah ke Amerika Serikat usai kelulusan SMA nya dan Gala kehilangan jejak teman sebangkunya.
Kini bagaikan mendapatkan jackpot, teman sebangkunya jaman SMA tiba-tiba muncul.
"Satu-satu Mangga! Aku sekarang dokter di sebuah rumah sakit swasta daerah sini. Mom and Dad Alhamdulillah sehat semua, ini mau sampai ke Jakarta dari Malaysia." jawab Nabila. "Kalau ditanya udah nikah, belum tapi calon sudah ada."
Gala pura-pura menahan dada kirinya. "Duh dokter, patah hati aku".
"Hah?" Nabila melihat gaya dramatis Gala tertawa geli. "Kok bisa patah hati Ga?"
"Aku tuh dari dulu suka sama kamu cuma kamunya lebih suka nistain aku. Sekarang kamu bilang sudah punya calon, makin ternistakan lah aku" keluh Gala.
Nabila tertawa terbahak-bahak, sedangkan Rita hanya geleng-geleng melihat nonanya cuek banget.
Nona Nabila tuh bener-bener suka bikin orang patah hati tanpa sadar.
"Siapa calonmu Nabnab, siapa tahu aku bisa bersaing sehat" Gala benar-benar penasaran pria yang bisa menaklukkan Nabila.
"Dia dokter juga cuma sekarang masih bertugas di Skotlandia." Nabila mendekat ke Gala lalu berbisik "Dan dia anak mafia" yang membuat mata Gala mendelik tidak percaya.
"Astaga Nabnab! Memang sudah takdirmu cewek bar-bar sepertimu mendapatkan mertua kriminal" kekeh Gala. "Apakah calonmu mencintaimu?"
"Sangat!" jawab Nabila sumringah. Melihat wajah Nabila yang berseri seri membuat Gala lega.
Tampaknya pria itu mampu membuat Nabila bahagia tapi aku masih harus mencari tahu.
Sebuah mobil agya memasuki halaman Polsek. Turunlah seorang pria tampan berwajah Asia yang sangat dikenal Nabila dan Rita.
"Nona Nabila" Bryan berjalan kearah ketiga orang yang sedang berdiri depan mobil Nabila yang terparkir.
"Calonmu?" tanya Gala.
Nabila menggeleng. "Bukan, dia bodyguard ku. Oh ya kenalkan, ini Rita dan Bryan. Keduanya pengawalku. Sampai lupa aku kenalkan Gegara asyik ngobrol."
Gala menjabat tangan Rita dan Bryan.
"Mobilku tadi agak bermasalah jadi Rita memutuskan menunggu Bryan disini supaya bisa bawa ke bengkel." Nabila tidak menceritakan kejadian penguntitan yang terjadi pada dirinya.
"Lalu kalian mau kemana?"
"Aku ma Rita mau ke mansion."
Gala menatap Bryan. "Aku yang akan antar Nabila dan Rita, Bry".
Bryan menatap Nabila.
"Tenang Bry, pak Gala ini teman sebangku SMA ku dan lihat pakaiannya. Aman".
Gala nyengir ke arah Bryan. "Tenang Bry, nona mu aman kok. Lagian ada mbak Rita jadi tenang saja."
Bryan akhirnya menyetujui dan meminta kunci mobil dari Rita. "Saya pergi dulu nona."
"Hati-hati Bry" bukan Nabila yang menjawab melainkan Rita. Bryan hanya membalasnya dengan senyuman tipis lalu masuk mobil, menstaternya dan pergi keluar halaman Polsek.
Tak berapa lama, mobil hitam yang menguntit Nabila tampak mengikuti mobil Nabila yang disupiri Bryan. Nabila dan Rita saling menatap dengan tatapan tidak percaya bahwa mobil itu menunggu mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Gala curiga.
"Nggak papa". Keduanya menjawab kompak. Gala mengerenyitkan dahinya. Instingnya sebagai polisi tahu bahwa ada yang tidak benar namun dia menunggu sampai Nabila mau menceritakan.
"Kamu ada tugas disini Ga?" tanya Nabila mengalihkan perhatian Gala.
"Tadi sih habis dari pusat terus aku masih ada kerjaan belum selesai jadi aku selesaikan dulu. Pas mau pulang, eh ada bidadari ku yang hilang datang."
Nabila memukul bahu Gala. "Kalau ngomong dijaga dodol!"
"Aduh Nabnab! Gile lu mukul gue kayak mukul samsak! Pedes tauk!" omel Gala sambil mengusap bahunya. "Bar-barnya dikurangi kenape?"
Nabila dan Rita cekikikan mendengar Omelan polisi tampan itu.
"Pak Gala lemah ya Nona. Baru kena keplak gitu udah mengeluh" komentar Rita yang kena pelototan Gala.
"Payah ya Rit" sahut Nabila masih ngikik.
"Dih, kamu tuh emang durjana Nabnab! Yuk aku antar kalian." Gala berjalan menuju mobilnya yang diikuti Nabila dan Rita.
"Wah mobilnya pak polisi keren ya" komen Nabila setelah masuk ke dalam mobil Honda city.
"Nggak usah nyindir. Aku bukan anak sultan kayak kamu Nabnab. Ini saja hasil aku nabung."
"Iyain ajah lah biar cepet sampai."
Nabila bukannya tahu keluarga Manggala seperti apa. Gala berasal dari keluarga pengusaha retail namun Gala sudah bermain saham sejak SMA jadi sedikit banyak Nabila tahu pria ini sudah punya tabungan. Apalagi setelah sepuluh tahun tidak bertemu, Nabila tahu tabungan Gala pasti banyak.
"Masih main saham Ga?" tanya Nabila ketika mereka sudah di jalan raya.
"Masih lah."
"Celengan banyak dong Ga" Gala tertawa keras.
"Nggak se Sultan kamu Nabnab. Kamu tahu, semua rekan-rekan ku tidak ada yang tahu aku main saham dan berapa tabunganku. Karena aku ingin dilihat sebagai Manggala Saputra yang seorang anggota kepolisian bukan Gala yang punya uang banyak dari main saham. Ini mobil harianku Nabnab, yang aku punya dari jaman mau lulus Akpol empat tahun lalu. Mereka tahunya ini hadiah kelulusanku dari orang tua ku." papar Gala. "Nggak mewah-mewah banget kan?"
"Tapi koleksimu pasti ada lah. Apa nggak inget dulu kamu kalau ke rumah, pasti yang dibahas ma Reza adalah mobil." selidik Nabila.
Gala mengusap lehernya dengan tangan kanannya.
"You know me so well" cengirnya.
babang Manggala Saputra
***
Yuk dicek karya author yang lain.
- You're The Only One ( Shanum, adiknya Nabila )
- Menikahi Suami Sahabatku
Follow Ig author di @hana_reeves_nt