Just The Way You Are

Just The Way You Are
Pengawal Baru Nabila



Hari ini adalah hari terkahir Arya dirawat. Setelah menjalani pemeriksaan, akhirnya Nabila mengijinkan pria itu pulang dengan catatan dua Minggu lagi kembali ke rumah sakit untuk melepaskan jahitan.


"Dokter Nabila apa tidak membuka praktek di rumah?" tanya Arya di hadapan Nabila yang sedang menulis kan resep untuk pria itu.


"Tidak" jawabnya pendek.


"Kenapa? Kan lebih enak saya ke rumah dokter daripada di rumah sakit." Arya tetap menatap Nabila dengan tatapan menggoda.


"Rumah itu buat istirahat" sahutnya cuek.


"Boleh tahu rumah dokter Nabila?"


"Nggak saya bawa pak. Berat, biar Dilan saja tuh yang urus!" Nabila masih tetap menulis surat rawat jalan tanpa melihat pria di depannya.


Arya tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sarkasme Nabila.


"Boleh saya ajak dokter Nabila makan malam besok Sabtu?"


Ini orang maju tak gentar bangets yak - Rita.


"Tidak."


Arya memajukan badannya hampir ke tengah meja Nabila.


"Are you sure dok?" wajahnya yang tampan benar-benar intens menatap Nabila.


Nabila yang sudah menuliskan resep dan surat rawat jalan lalu melipatnya dan memasukkan ke dalam amplop.


"I'm very sure, pak Arya." Nabila menyerahkan amplop kepada Arya. "Selamat pagi pak Arya."


Nabila berdiri dan mempersilahkan Arya berdiri dan keluar dari ruangannya. Arya pun berdiri dan mendekati Nabila lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat.


"Anda yakin tidak mau makan malam dengan saya?" seringai Arya.


Rita yang hendak maju, ditahan oleh Nabila.


"Sangat yakin pak Arya. Sekarang lepaskan tangan saya atau..." wajah Nabila menjadi dingin.


"Atau apa dokter?" Arya masih menggoda Nabila.


Sedetik kemudian Nabila memiting tangan Arya di belakang punggungnya. Arya pun menjerit kesakitan apalagi jahitannya baru kering.


"Atau INI!" bisik Nabila dingin. "Jangan macam-macam dengan saya, tuan Arya. Saya bisa berbuat lebih dari sekedar memiting anda!"


"Jahitanku!" seru Arya.


"Tidak apa-apa. Kalau pun terbuka lagi saya bisa bilang anda yang berbuat tidak sopan dengan saya. Oh jangan lupa, ada CCTV disini," seringai Nabila sambil melepaskan Arya.


"Selamat pagi pak Arya" senyum Nabila dengan manis.


Arya masih mengusap-usap tangannya yang lumayan nyeri.


"Wow, dokter Nabila. Anda benar-benar wanita yang mengagumkan. Tidak salah kalau saya menyukai anda."


Nabila menatap Arya datar.


"Saya tidak akan menyerah begitu saja dan saya yakin anda pasti akan makan malam dengan saya secepatnya." Arya pun mengambil tas Pradanya dan amplop yang diberikan Nabila tadi.


"Selamat pagi dokter Nabila cantik." Arya keluar dari ruang praktek Nabila sembari tersenyum lebar.


Nabila dan Rita saling memandang dan sama-sama mengedikkan bahunya.


"Ketemu lagi orang sinting" umpat Nabila kesal. Segera dia mencuci tangannya dengan sabun disinfektan seolah menghilangkan bakteri dan virus yang menempel.


"Saya bingung nona Nabila. Apa dulu selama nona kuliah di Amerika, tidak ada pria yang mengejar-ngejar nona" tanya Rita.


"Hhmmm, banyak sih. Cuma Sean selalu berada di sebelahku jadi semua mengira dia kekasihku dan tipe ku yang culun-culun."


Rita sudah pernah melihat dokter Sean dan Brandon ketika Nabila melakukan panggilan video.


"Padahal mereka tak tahu Sean bagaimana" kekeh Nabila. "Aku malah nyaman kuliah tanpa ada gangguan dari pria-pria macam Arya atau Bagas."


"Semoga tuan Mike tidak tahu ya nona. Bisa bahaya."


"Oh shi**! CCTV yang terpasang disini tersambung dengan ponsel Mike!"


"Oh No... Habislah kita nona!"


***


"Edward! Edward!" teriaknya dari ruang kerja ayahnya.


Pria berambut blonde dan bermata biru itu pun masuk dengan gaya santainya.


"Kenapa tuan muda teriak-teriak?" tanyanya seolah tak tahu apa yang membuat tuan mudanya seperti ini.


"Kirim Jack ke Jakarta! Dia harus disana sampai Nabila pergi ke Edinburgh!"


"Siap tuan muda."


"Bilang sama Jack, jaga Nabila bukan pacaran sama Dian!"


Edward tersenyum simpul.


Kenapa semua orang disini pada jatuh cinta dengan wanita Indonesia? Selain nona Nabila, aku tidak tahu bagaimana kepribadian Rita dan Dian walaupun data mereka aku punya semua.


"Jangan tersenyum nggak jelas gitu Ed! Aku doakan kamu dapat pasangan cewek Indonesia biar kamu selesai berpetualang!" ledek Mike sambil tersenyum smirk.


"Hahahaha it's impossible tuan muda. Satu-satunya orang Indonesia yang saya kenal adalah nona Nabila dan nyonya Adinda. Bahkan putrinya, Vivienne, adalah orang bule." Edward mengatakan apa adanya.


"Jangan terlalu percaya diri Ed. Namanya jodoh itu nggak lari kemana. Kita taruhan?" Mike sengaja ingin membuat Edward berhenti menjadi Casanova. Ayahnya sudah pusing mendengar drama perempuan-perempuan yang merengek bertemu Edward di perusahaan.


"Ayo kita taruhan. Kalau jodohku bukan cewek Indonesia, aku minta Lamborghini Aventador mu tuan." seringai licik Edward muncul di wajahnya. Sudah lama dia mengincar mobil cantik itu.


"Haaaiissshhhh langsung minta si Lambo. Oke, kalau aku menang, kamu harus memberikan Porsche 911 Gt3 mu!" senyum Mike.


"Deal!"


***


Jack melongo ketika Edward memerintahkan dirinya terbang ke Jakarta selama sebulan sampai liburan Natal. Karena pada saat itu, Nabila dan Rita akan pergi ke Edinburgh mengunjungi tuan Duncan McGregor.


"Serius Sir?" tanya Jack masih tidak percaya.


"Kalau tidak mau ya sudah, biar aku kirim John saja!" Edward menatap Jack dengan wajah dinginnya walaupun dalam hatinya ingin ngakak melihat Jack ingin melompat kegirangan.


"Saya mau Sir. Kapan saya berangkat?" Jack berusaha menutupi rasa bahagianya. Walaupun Dian bekerja di rumah sakit lain tapi setidaknya satu kota tidak beda kota dan negara.


"Besok! Ohya minta berkas dari Bryan. Rupanya si Rita sudah laporan banyak dengan kekasihnya itu. Aku harap kamu bisa menjaga nona muda dengan benar. Jangan pacaran melulu dengan Dian. Kalimat terakhir itu dari tuan muda!"


Jack memerah wajahnya. "Siap Sir."


***


"Apaaaa??? Kamu kirim Jack kesini?" teriak Nabila.


"Jangan keras-keras teriaknya Nab, kupingku masih dibutuhkan ini!" umpat Mike kaget.


"Hanya gara-gara orang sinting itu?"


Mike terkekeh. "Sebulan saja kok sayangku sampai kau pulang ke Edinburgh."


Nabila memijit pelipisnya.


"Baiklah. Bilang sama Jack, jangan pacaran melulu ma Dian!"


Mike tertawa terbahak-bahak. "Itu yang pertama aku bilang sama Jack, sayang."


"Bagus!"


***


Yuhuuu


Maaf baru Up


As usual


don't forget to vote like n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️