
Setelah menyelesaikan semua administrasi baik dari rumah sakit lama di Edinburgh dan rumah sakit baru di Jakarta, Nabila bisa bernafas lega. Serangkaian tes, wawancara di sebuah rumah sakit swasta kota Jakarta sudah diselesaikan dengan baik. Dan jadwal Nabila bekerja pun masih Minggu depan jadi sekarang dia berencana membereskan apartemennya.
Baru saja hendak membongkar kotak kardus yang sudah datang, suara ponselnya berbunyi dan tampak di layar nama Mike. Nabila segera menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum" sapanya.
"Wa'alaikum salam darling" balas Mike yang memang sekarang semakin giat mempelajari agama Nabila.
"Belum tidur?" tanya Nabila secara di Jakarta jam 6 pagi berarti di Edinburgh sekitar jam 12 malam.
"Kamu ga liat aku dimana?" Nabila lalu melihat background Mike.
"Lho shift malam ternyata" kekeh Nabila. "Sama siapa?".
"Tuuuhhhh!" Mike lalu memindahkan layar ponselnya ke arah wajah dokter Sean yang tertidur di meja ruang istirahat.
"Lho Sean kok malah tidur?"
"Tadi habis operasi mendadak ada korban kecelakaan. Sudah tahu salju tebal begini masih ajah nyetir pakai acara mabok pula." omel Mike.
"Kamu nggak bantuin Sean tadi?"
"Aku tadi ada jadwal operasi pasienku jadi tadi Sean dibantu ma dokter Howie. Kamu acara apa hari ini sayang?"
"Tuh bongkar-bongkar kardus dari Edinburgh. Sekalian menata apartemenku yang sudah lama nggak aku tinggali."
"Tapi masih bersih kan sayang apartemennya?"
"Alhamdulillah masih karena mom selalu menyuruh orang membersihkan seminggu tiga kali".
Keduanya membicarakan hasil wawancara dan tes Nabila di rumah sakitnya yang baru sampai akhirnya ada pasien datang yang harus ditangani.
"Aku pergi dulu ya sayang. Baik baik disana. Love you!"
"Love you too".
***
Pukul sepuluh pagi, sebagian barang Nabila sudah tertata rapi dan sekarang dia memutuskan untuk mandi. Ketika dirinya hendak masuk ke kamar mandi, Nabila mendengar seseorang hendak membuka pintu apartemennya.
Nabila menunggu siapa yang hendak masuk ke dalam dengan handuk di tangan. Macam-macam, aku hajar! Namun niatannya berubah ketika ia melihat sang mama dan papa membuka pintunya.
"Mom! Dad!" serunya seraya menyambut keduanya dan memberi ciuman tangan. Kedua orang berumur hampir 50 tahun itu terkejut melihat putrinya masih dalam kondisi berantakan dan kelihatan belum mandi.
"Ya Allah anak gadis jam segini belum mandi!" omel mama Niken sambil berjalan menuju ruang makan dan menaruh beberapa paper bag yang sudah pasti berisi makanan.
"Bila kan beberes dulu mom. Kemarin-kemarin nggak sempat karena urusan di rumah sakit. Ini baru mau mandi" ujarnya sambil melihatkan handuk yang tersampir di bahunya.
"Dah sana mandi nduk, nanti makan bareng" ucap papa Adrian sambil mengusap kepala putrinya.
"Lho pada belum sarapan?"
"Brunch sayang" sahut mama Niken cuek. Nabila nyengir lalu ngeloyor ke kamar mandi.
***
"Kan nanti bik Kasih sama Rita datang buat nemanin kamu disini jadi kalau nggak habis santai ajah" kata mama Niken seolah mendengar ucapan batin Nabila.
"Jadi asisten di apartemen Bila ada dua?" tanya Nabila.
"Iya. Biar ga kesepian kalau kamu shift malam". Kali ini papa Adrian yang menjawab.
Nabila memincingkan matanya. Kayaknya ada udang di balik bakwan.
"Rita pengawal kamu kalau shift malam" lanjut papa Adrian.
Nah, bener kan!
"Ya ampun Dad, masa aku harus dikawal? Aku bukan artis lho!" gerutu Nabila sebal.
"Sudah lah terima aja, Nab. Biar papa dan mama ayem karena tahu sendiri kita sering pergi" jawab papa Adrian.
Nabila hanya menghela nafas panjang. Iyain ajah lah daripada ribet urusannya nanti.
Nabila bukannya tidak tahu sejak kuliah selalu ada pengawal bayangan selain duo Sean dan Brandon yang memang selalu bersamanya. Bahkan ketika dia berada di Johannesburg, pengawalnya pun ada lima yang dikirimkan oleh ayahnya.
"Bagaimana hubungan mu dengan Mike?" tanya mama Niken mengalihkan pembicaraan.
"Baik mom. Sekarang sudah bisa sholat walaupun masih dibantu oleh guru disana".
"Yang penting Mike serius dan bisa jadi imam buatmu nduk".
"Mom, Dad, apa nggak papa dengan background keluarga Mike? Oom Duncan itu mantan mafia lho".
"Kan udah mantan jadi nggak ada masalah. Papa senang akhirnya dia insyaf juga jadi kriminal. Hahahaha". Nabila juga baru tahu kalau ayahnya berteman baik dengan Duncan McGregor setelah ia kembali ke Jakarta. Makanya dirinya tak heran kalau kedua orangtuanya langsung merestui hubungannya dengan Mike.
"Kapan kamu mulai masuk kerja?" tanya mama Niken.
"Senin depan mom. Makanya Bila sempatkan membereskan apartemen Bila supaya bisa fokus kerjanya."
"Mau sampai kapan itu pernak pernik Sanrio berada di setiap sudut Nab?" tanya papanya jengah. Putrinya satu ini sejak kecil memang mania Sanrio dan celakanya, adiknya Adriana seolah memanjakan putrinya yang selalu memberikan pernak-pernik produk dari negeri Sakura itu. Dan sekarang ketambahan dua sepupunya, anak dari Adriana pun tinggal di Tokyo, membuat koleksi putrinya bertambah banyak.
"Sampai aku bosan" jawabnya cuek.
"Mike apa nggak keberatan liat calon istrinya kayak anak kecil begini?" selidik papanya.
"Kalau memang cinta Bila apa adanya, harus mau menerima Bila bersama semua koleksi Sanrio dan Fred lah!"
Niken mendelik. "Fred? Kamu masih membawa Fred kemana-mana?"
"Iyalah, bahkan Mike jealous dengan Fred". Nabila kemudian menceritakan bagaimana cemburunya pria bermata biru itu ke boneka merahnya. Kedua orang tuanya tertawa geli mendengarnya.
Kedua orangtuanya lalu berbicara tentang banyak hal yang dilewatkan Nabila dan Nabila bercerita tentang pengalamannya selama bekerja menjadi dokter dan kedatangan Sean untuk menggantikan dirinya.
Tak berapa lama kedua perempuan yang akan menemani Nabila pun datang. Usai brunch, Nabila ikut ke mansion Pratomo untuk menginap disana sedangkan apartemennya dia titipkan kepada bik Kasih dan Rita.
***