
Nabila berjalan menuju kamar tempat Duncan McGregor dirawat. Sebelumnya, dia sudah mempersiapkan surat rawat jalan untuk pria itu karena sesuai pemeriksaan terakhir kondisinya sudah membaik jadi tidak ada masalah jika dirawat di rumah, dengan catatan harus kontrol lagi Minggu depan walaupun sebenarnya Mike sendiri bisa memeriksa ayahnya namun Nabila tetap bertanggung jawab atas operasinya.
Bodyguard yang berjaga membukakan pintu kamar ketika Jack dan Nabila datang dan mempersilahkan mereka masuk sesuai pesan boss besarnya.
Tampak Duncan sudah mengenakan pakaian kerjanya yang Nabila tahu harga suitnya sendiri cukup wow sedangkan Mike duduk di sofa mengenakan kemejanya yang lengannya digulung ke siku tanpa snelinya yang disampirkan di sampingnya.
"Tampaknya Oom sudah tidak sabar keluar dari rumah sakit" senyum Nabila ke Duncan.
"Jujur Oom benci bau rumah sakit tapi herannya si Mike malah jadi dokter bedah" jawab Duncan sambil memasukkan dompet dan ponselnya di saku dalam jas.
"Nab, surat rawat jalannya sudah kau siapkan?" tanya Mike.
"Sampun ndoro" balas Nabila ketus.
"Hah? Bahasa mana itu?" tanya Mike.
"Bahasa Jawa yang artinya sudah tuan"
Mike hanya nyengir. "Jangan gunakan bahasa planet disini".
"Eh itu bukan bahasa planet kalau bahasa namec baru itu bahasa planet" tukas Nabila.
Mike memutarkan mata birunya dengan malas. Lagi-lagi Nabila menggunakan tokoh film dalam ucapannya. Kemarin Spongebob, lalu Voldemort dan sekarang dragon ball.
Nabila mengacuhkan Mike lalu mendekati Duncan memberikan surat rawat jalan dan beberapa petunjuk untuk mengobati bekas operasinya.
"Kalau ada kesulitan, aku rasa Mike bisa membantu Oom". Duncan mengangguk.
"Boss besar, kendaraan sudah siap" suara John di depan pintu.
Duncan kemudian menuju ke pintu. "Nabila, Oom tunggu di mansion McGregor nanti malam. Mike akan menjemputmu."
Nabila menoleh kearah Mike dengan wajah penuh pertanyaan, sedangkan yang dipandang hanya mengedikkan bahunya.
"Baik Oom" jawab Nabila. Kebetulan shiftnya memang pagi dan hari ini tidak terlalu sibuk.
Kemudian semuanya beriringan menuju lift termasuk duo J dan tiga bodyguard. Kedatangan mereka di lobby rumah sakit membuat banyak mata memandangi rombongan itu. Usai ngobrol sebentar, Duncan pergi dengan Range Rover nya diikuti oleh dua mobil lain di belakangnya.
Nabila memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam lobby dan Mike mengikutinya. Keduanya menuju lift untuk membawa ke ruangan masing-masing.
Di dalam lift, Mike melirik Nabila yang tetap menatap lurus ke depan tanpa ada niatan berbicara dengan Mike. Suara lift terbuka membuat Nabila berjalan mendahului Mike namun sebelum meninggalkan menuju ruangannya, tangan Mike menggenggam lengannya.
"Aku jemput kau jam tujuh" bisiknya di sisi telinga Nabila.
Nabila menatap Mike dan hanya mengangguk kemudian Mike melepaskan genggamannya. Gadis itu segera berjalan ke ruangannya.
***
Jam 18.30 Mike sudah berada di depan pintu apartemen Nabila. Malam ini dia mengenakan kemeja abu-abu, jaket kulit, celana pantolan hitam dan sepatu hitam.
Nabila membuka pintu apartemennya sambil memicingkan matanya. Mike terkesima melihat penampilannya yang mengenakan gaun hijau tua sebatas lutut dengan lengan sesiku, anting-anting Jamrud dan sandal bulu berbentuk kerokerropi. Wajahnya sudah memakai make-up flawless sedangkan rambut coklatnya tergerai.
"Masuk dulu Mike" Nabila mempersilahkan Mike masuk ke dalam apartemennya di kemudian menuju kamar tidurnya. Mike melihat nuansa apartemen Nabila yang sangat girly.
Sebuah sofa berada di ruang tengah yang menjadi satu dengan ruang makan. Banyak pernak pernik Sanrio bertebaran dimana-mana. Di sebelah kanan terdapat sebuah kamar dan Mike melihat sebuah kaki berwarna merah di tempat tidur dari pintu yang tidak tertutup.
Wait! KAKI MERAH! Apa itu Fred?
Mike berjalan menuju kamar Nabila dengan mengendap-endap, untungnya tadi sepatunya sudah dilepas jadi hanya mengenakan kaos kaki saja. Pelan-pelan Mike membuka pintu dan terkejutlah dia melihat boneka Fred the devil maskot Manchester United berada di tengah-tengah kasur.
Jadi INI SI FRED? Sainganku adalah boneka? Entah Mike harus mengucap syukur atau ngakak, dia sendiri tak tahu.
Nabila menoleh ke arah Mike yang sedang menatap Fred di depan pintunya. Ingatannya kembali saat Mike terang-terangan mencela dirinya yang tinggal bareng Fred. Sambil tersenyum Nabila mendekati Mike.
"Dokter Mike Cahill perkenalkan ini Fred, Fred ini dokter Mike" ucapnya Nabila sambil ketawa mengacuhkan tatapan horor Mike ke arahnya. "Udah yuk berangkat" sambil menarik lengan kekar Mike.
"Jadi, sainganku sebuah boneka? BONEKA!!! Nabilaaaaa !!!"
"Dalem" jawab Nabila kalem.
"Haaaiissshhhh!!! Awas kau!!!"
Nabila masih saja tertawa.
Ya ampun, aku terpesona melihat wajahnya yang tertawa lepas.
CUUPPP!
Nabila tertegun. Mike mencium pipi kanannya sedangkan si pelaku langsung menatap ke arah jalan sambil tersenyum.
"MICHAEL CAHILL!!!"
***
Mobil Mike memasuki ke sebuah rumah yang berbentuk kastil khas Eropa. Rumah bercat krem dan beratap biru itu menarik perhatian Nabila. Tampak para penjaga di sekitar halaman rumah yang cukup luas sehingga bisa menampung duapuluh mobil. Mike memarkirkan Range Rover nya di halaman samping rumah lalu turun membukakan pintu penumpang dan membantu Nabila turun.
Keduanya berjalan bersama menuju rumah dan tampak Jack menghampiri keduanya.
"Selamat malam boss muda dan Nona Nabila" sapanya.
"Malam Jack. Dimana John?" tanya Nabila ramah.
"John sedang berjaga di halaman belakang nona. Mari saya antar ke ruang tengah" Jack berjalan mendahului keduanya.
Ketika di dalam rumah, Nabila terkagum-kagum dengan penataan yang sangat mewah walaupun rumah orang tuanya sudah termasuk mewah tapi ini beyond rumahnya yang di Jakarta.
Begitu masuk sudah disambut lantai marmer mengkilap dan tangga di sebelah kiri, meja Konsul di sebelah kanan dan beberapa kaca
Dindingnya bewarna broken white, tangga besinya dan beberapa furniture bewarna hitam putih. Semerbak bau bunga Lily dan Jasmine menyeruak di ruangan itu.
Jack kemudian membuka pintu samping kanan yang menuju ke arah ruang keluarga lengkap dengan sofa, perapian dan rak berisi berbagai macam aksesoris. Sebuah lukisan besar pun terdapat di tengah-tengah dinding.
Nabila mengerenyitkan alisnya yang bagus ketika mereka melewati ruang tengah menuju ruang makan.
Setibanya disana, lagi-lagi Nabila terpukau dengan mewahnya ruangan yang bernuansa hijau dengan dinding masih berwarna broken white.
Fix! Rumah Jakarta kalah.
Tampak disana Duncan McGregor sudah duduk di sudut meja menunjukkan bahwa dia adalah kepala keluarga.
"Ayo duduk, aku sudah lapar ini" ajak Duncan sambil menunjukkan kursi sebelah kiri untuk Mike dan kanan untuk Nabila. Mike memundurkan kursi untuk Nabila hingga gadis itu duduk dengan nyaman, lalu dia menuju kursinya yang berbeda di sebelah kiri ayahnya.
"Selamat datang calon menantu di rumah calon mertua" senyum Duncan ke Nabila yang ternganga.
CALON MENANTU??!!!
CALON MERTUA??!!!
APA-APAAN INI???!!!
***