
Jack bahagia bisa kembali ke Jakarta walaupun hanya sementara namun dia tetap senang bisa bertemu dengan Dian lagi. Semenjak kepulangan Jack ke Inggris, komunikasi mereka hanya via video call dan WhatsApp.
Pria berambut blonde dengan wajah dingin itu keluar dari pintu kedatangan dan terkejut melihat Dian sudah ada disana dengan senyum manisnya. Seketika wajah dingin itu berubah menjadi sumringah melihat gadisnya datang menjemput.
"Kok jemput?" tanya Jack bingung mau berkata apa.
"Dok Nabila yang memberitahu jadwal kedatangan tuan Jack dan mengirimkan sopir beserta mobilnya buat jemput" jawab Dian sambil tersenyum.
Aku berhutang padamu nona Nabila.
"Ayo langsung ke rumah sakit tempat nona Nabila bekerja." Jack pun menggamit tangan Dian yang langsung tersentak kaget.
"Ada apa Dian?" Jack menoleh ke arah Dian yang masih mematung dan menunduk. Pria tinggi besar itu pun melihat tangan kanannya yang reflek memegang tangan mungil Dian sedangkan tangan kirinya menyeret koper besarnya.
"Ah maaf, aku refleks." Jack pun melepaskan pegangan tangannya.
"Eh nggak papa kok. Aku cuma kaget saja." Dian tersenyum kikuk.
"Baiklah kalau itu maumu." Jack pun menggandeng Dian menuju mobil.
***
Nabila baru saja masuk ke ruangannya ketika suara bariton yang sangat dihapalnya berada di belakangnya.
"Halo nona Nabila" sapa Jack ramah dengan Dian di belakangnya.
"Halo Jack, maaf aku menceraikan dirimu dari John" kekeh Nabila usil.
Jack tertawa. John mengawal Duncan sendirian selama Bryan belum pulih.
"Gimana perjalanannya?" Nabila mempersilahkan keduanya masuk ke dalam ruangannya. Siang ini memang tidak ada jadwal pasien karena Nabila harus menangani dua operasi siang dan sore nanti.
"Fine. Terimakasih sudah mengirim Dian menjemput saya nona." Jack dan Dian sama-sama mengangguk.
"It's okay karena aku tahu rasanya LDR" senyum Nabila.
"Mbak Rita kemana dok?" tanya Dian.
"Rita sedang ke kantin, tadi katanya laper."
Ketiganya pun ngobrol banyak hal termasuk tentang Dian yang sudah selesai skripsi dan akan wisuda besok April. Jack yang menceritakan bagaimana tuan besar dan tuan mudanya sering berdebat hal-hal tidak jelas hingga kabar Mario akan berkumpul di liburan Natal tahun ini.
Asyik ngobrol, Nabila tidak sadar bahwa sudah masuk jadwal operasi kalau suster Nia tidak memberitahukan dan bersamaan dengan datangnya Rita dari kantin.
"Lama amat Bu? Amat ajah nggak lama kalau pergi" sindir Nabila sambil tersenyum.
"Ada pengganggu nona." Rita menatap Nabila serius. "Jack, kamu hapalkan orang ini dan ini." Rita mengirimkan foto-foto pria ke ponsel pria itu.
"Ini yang bernama Arya Wisama?" tanya Jack sembari menunjukkan ponselnya ke Nabila.
"Iya." Nabila berdiri untuk bersiap-siap melakukan operasi. "Kalian bertiga ngobrolah dulu disini, nanti aku kembali, kita membahas apa yang perlu kita bahas."
***
POV Rita
Rita merasa perutnya lapar padahal tadi mau berangkat, seperti biasa dia dan Nabila sudah sarapan namun entah kenapa sekarang lapar lagi.
Apa sudah masuk musim penghujan jadinya laper melulu seharian?
Rita pun mengirimkan pesan kepada Nabila bahwa dia mau ke kantin. Sesampainya di kantin, Rita menyapa dan membalas sapaan para staff rumah sakit termasuk dokter dan suster yang mengenal gadis itu sebagai asisten pribadi dokter Nabila. Walau wajah Rita sering tampak dingin namun aslinya dia ramah dengan siapa saja namun pekerjaannya yang membuatnya harus seperti itu.
"Mbak Rita!" panggil seorang suster.
"Eh suster Yuyun" Rita pun menuju meja tempat suster Yuyun duduk.
"Maem yuk, aku juga baru dapat tempat duduk nih!" ucapnya.
"Mau pesan apa? Sekalian deh!" Rita hendak menuju deretan counter makanan.
"Nasi uduk lengkap!"
"Siyap!"
Setelah makanan yang mereka pesan datang, keduanya pun makan sambil ngobrol macam-macam. Usai makan, Rita dan suster Yuyun pun berjalan bersama menuju ruangan divisi bedah karena suster Yuyun adalah asisten dokter Tasya.
Rita pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara. Dilihatnya Arya Wisama berdiri disana bersama asistennya Haris.
"Siapa itu mbak Rita?" bisik suster Yuyun.
"Orang muka tembok" bisik Rita lalu dia menatap Arya.
"Ada apa tuan Arya?" tanya Rita dengan wajah datar.
"Apakah dokter Nabila menerima pasien hari ini?"
"Tidak tuan. Hari ini dokter Nabila ada jadwal melakukan tiga tindakan operasi."
"Kira-kira sampai jam berapa?"
"Saya kurang tahu." Sejujurnya Rita sendiri sering mengalami, perkiraan selesai dua jam ternyata lebih.
"Bisakah saya bertemu dengan dokter Nabila sekarang?" Arya menatap penuh harap.
"Maaf tuan Arya yang jelas hari ini dokter Nabila tidak bisa menerima pasien." Rita tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Hei nona. Apa nona tahu siapa beliau ini?" Haris, sekretaris Arya sedikit membentak Rita.
"Tahu, pria yang tetap menggoda nona saya walau tahu nona saya sudah bertunangan dan akan segera menikah." Rita membalas dengan kalem.
"Kamu!" Haris ditahan oleh Arya sebelum terjadi keributan.
"Saya akan menunggu dokter Nabila sampai selesai operasi." Arya berusaha meredakan suasana.
"Terserah anda! Permisi." Rita menggamit suster Yuyun meninggalkan Arya dan Haris di lobby rumah sakit. Tanpa sepengetahuan kedua pria itu, Rita berhasil mengambil foto keduanya dari kamera tersembunyi di kancing Rita yang memang sengaja dipasang jika terjadi hal-hal seperti ini.
POV Rita End.
"Sekarang orang itu masih disana?" tanya Jack.
"Entahlah. Aku mah bomat!" ucap Rita cuek.
"Bomat?" Jack menatap Dian bingung.
"Bodo Amat atau don't care" jawab Dian. Selama ini Jack mulai mempelajari bahasa Indonesia dengan Dian walaupun terkadang masih di mix dengan bahasa Inggris.
"Aku jadi pengen lihat." Jack menyeringai jahil.
"Aku juga" senyum Dian. Walaupun belum resmi berhubungan dengan Jack, namun Nabila dan Rita selalu baik dan terkadang mampir ke rumah sakit tempat Dian membantu ibunya berjualan nasi rames. Ketiga gadis itu menjadi teman baik gara-gara berhubungan dengan pria-pria dari klan McGregor.
"Sana deh lihat sekalian kalau kalian mau makan lewati lobby rumah sakit. Kalian kan belum makan siang" kekeh Rita.
"Kita lihat yuk Di" ajak Jack yang disambut anggukan antusias Dian.
Keduanya pun keluar dari ruangan Nabila menuju kantin setelah Rita memberikan denah anti kesasar versinya.
Jack dan Dian pun melihat Arya dan Haris masih ada disana duduk di ruang tunggu sembari sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Astaga tuh berdua niat banget" bisik Dian.
"Kita lihat saja sekuat apa mereka menunggu nona Nabila." Jack menyeringai licik.
Dian hanya menghela nafas panjang.
Susah kalau keluar otak kriminalnya.
***
Yuhuuu
Maap baru Up.
Weekend ada acara di dunia nyata dulu.
As usual
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️