
Waktu berlalu dan Nabila masih belum bisa mendapatkan penggantinya yang sesuai dengan permintaan Mike. Sampai-sampai Nabila merasa Mike sengaja agar dia tidak segera pindah. Dasar bule satu ituuuu! Dan sekarang dia hanya punya waktu tersisa 3 Minggu di Edinburgh. Sebagian besar barang-barangnya sudah dikirimkan ke aparatmennya di Jakarta. Ya, akhirnya Nabila memilih kembali ke Jakarta karena selain kedua orang tuanya rindu, dia sendiri juga kangen negaranya karena hampir sepuluh tahun terakhir dia habiskan di luar negeri.
Nabila mengecek email lamaran yang masuk ke inboxnya. Matanya kemudian tertuju pada satu email yang membuatnya tersenyum bahagia. Tanpa membuang waktu, Nabila segera membalas email itu.
***
Tiga hari usai Nabila membalas email, sebuah panggilan telpon masuk ke ponselnya.
"Nabila sayangku!" seru suara di seberang.
"Halo, babe" sapa Nabila riang. "Kau ada dimana?"
"Depan rumah sakitmu. Jemput aku dong babe"
"Oke". Nabila bergegas menuju pintu masuk rumah sakit.
Sesampainya di depan pintu, tampak seorang cowok tinggi, culun, memakai kacamata, mengenakan setelan jas kotak-kotak biru hijau, kemeja biru dengan dasi biru.
Nabila tersenyum lebar melihat pria itu dan langsung berseru "SEAN COOPER!"
Pria itu langsung berbalik melihat Nabila lalu memeluknya heboh.
"Nabila sayangkuuuu!" serunya.
"Akhirnya datang juga! Welcome to Edinburgh. Ayo masuk" Nabila langsung menggandeng pria bernama Sean masuk ke dalam. Tanpa disadari oleh mereka berdua, sebuah mata biru menatap keduanya dengan tatapan cemburu.
***
Nabila dan Sean masuk ke dalam ruangan kerja Nabila. Mata hijau pria jangkung itu langsung memindai ruangan bernuansa pink dan biru muda.
"Benar-benar seleramu babe. So, aku harus menggantikan dirimu?" tanya Sean sambil duduk di sofa Nabila.
"Yes, babe. Kan kau tahu sendiri aku tidak pernah lama di satu kota dan ketua divisi bedah disini memang riwil" Nabila menyerahkan sebotol juice jeruk.
"Aku penasaran seperti apa bossmu itu. Apakah pria itu yang kata Oom Adrian jadi pacarmu?" goda Sean sambil minum juice jeruk nya.
"Haaaiissshhhh papa tuh yaaaa. Ember bangets sih!" omel Nabila.
"Hei, kau kan tahu Brandon kerja dengan papamu dan papamu ceritalah. Brandon cerita ke aku"
"Tetap ajah Sean, nyebelin" sungut Nabila.
"Hahahaha. Bukan salahku kalau Brandon..."
Suara ketukan menghentikan Sean. Tampak wajah tampan bermata biru masuk ke dalam ruangan Nabila.
"Nabila, darling. Apa ada yang perlu dijelaskan?" selidik Mike setelah masuk dan menutup pintu.
Nabila hanya nyengir. "Dokter Mike Cahill, perkenalkan ini calon dokter bedah penggantiku, dokter Sean Cooper"
Kedua pria itu lalu saling berjabat tangan.
"Mike"
"Sean"
"So, Anda yang akan menggantikan dokter Nabila?"
Sean menoleh ke Nabila sambil tersenyum. "Iya dokter Cahill. Tenang saja, saya sama kompetennya dengan Nabila karena kami dulu satu angkatan. Bedanya, saya tetap bekerja di US sedangkan gadis cantik ini lebih memilih melanglang buana" tangan Sean memegang tangan Nabila hangat.
Beraninya dia pegang-pegang tangan gadisku!
Nabila yang melihat wajah Mike memerah menahan emosi langsung menepuk-nepuk bahunya.
"Mike, aku dan Sean sahabat sejak awal kuliah. Jadi kami biasa seperti ini"
"Tapi nggak pegang tangan juga atau malah berpelukan seperti tadi!" bentak Mike.
"Woah, don't worry bro. Aku nggak ada perasaan roman sama Nabila. Kami biasa seperti itu tapi murni karena persahabatan." sela Sean.
"Don't lie to me dokter Sean!"
"Mike sayang, dengar. Sean sudah menikah" ucap Nabila lembut yang membuat Sean menunjukkan tangan kanannya dimana ada cincin nikah di jari manisnya.
Sean menatap Nabila dan gadis itu mengangguk lalu Sean menunjukkan wallpaper ponselnya yang menampakkan fotonya dengan seorang pria.
"Aku sudah menikah dengan Brandon dan ya, I'm g*y" jawab Sean kalem.
Mike melongo.
***
Nabila dan Sean masih berkutat dengan berkas pasien dibantu oleh suster Yolanda. Usai pertemuan dengan Mike lalu mengurus kontrak kerja dengan pihak HRD dan Mr Campbells, kini Sean berada di ruangan Nabila.
Suster Yolanda yang akhirnya siapa Sean pun menerima dengan senang hati.
"Jujur dokter Sean, saya agak khawatir siapa yang akan menggantikan dokter Nabila. Tapi kalau sudah begini, saya aman deh!" cetus suster Yolanda.
"Aman gimana sus?" tanya Sean tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas.
"Tidak usah mengusir pasien genit" kekeh suster Yolanda yang dibalas dengan kekehan dua dokter di depannya.
"Anda tidak apa-apa kan sus dengan orientasi sek***sual saya?" tanya Sean.
"Saya hanya melihat bagaimana kemampuan dan kompetennya seseorang. Soal bagaimana orientasi sek***ual mereka, itu hak pribadi. Selama bisa bersikap profesional, it's no problemo for me."
"Sean, bukannya Brandon di LA?" tanya Nabila.
"Nanti Brandon dipindah kesini kerja dengan Tante Adinda." jawabnya.
"Oh pindah ke area Inggris Raya ya." Sean mengangguk.
"Lagian Brandon sudah bosan di LA, katanya butuh suasana baru dan kemarin papamu menawarkan pindah kesini sekalian aku juga pindah. Aku juga bosen di US." kata Sean.
"Kabarnya Tante Adinda memang mau expand ke Skotlandia dan Wales"
"That's why Oom Adrian menawarkan kami berdua".
Sean Cooper berasal dari keluarga berantakan dan Nabila adalah satu-satunya teman yang mau menerima dirinya apa adanya. Bahkan ayahnya Adrian pun membantu biaya kuliah Sean karena tahu cerdasnya pria itu walaupun agak sedih dengan orientasi nya namun berusaha memaklumi karena lingkungan di US yang memang bebas. Hingga Sean berpacaran dengan Brandon salah satu asisten Tantenya Nabila, keluarga Pratomo tetap menerima mereka dengan tangan terbuka karena yang mereka lihat adalah pribadi Sean dan Brandon. Apalagi Brandon juga yang menuntun Sean agar bisa terus maju dan menjadi dokter bedah yang handal.
Hingga keduanya memutuskan menikah pun, keluarga Pratomo tidak mempermasalahkan selama mereka profesional dalam pekerjaannya. Sean dan Brandon pun menganggap Adrian dan Niken sebagai orangtuanya sendiri, apalagi orangtua Sean sendiri sudah meninggal akibat overdosis narkoba, sementara Brandon yatim piatu.
Nabila menganggap keduanya adalah sahabat terbaik karena mereka pula yang melindungi Nabila selama kuliah, support Nabila saat mengetahui kondisinya yang tidak bisa memiliki anak.
Tak heran ketika Sean dan Brandon mengetahui ada seorang pria yang mau menerima Nabila apapun kondisinya, mereka sangat bahagia. Bahkan Sean bersedia menggantikan Nabila demi sahabatnya yang selalu ada dalam suka dan duka.
Kini dua sahabat itu bersama kembali selama tiga Minggu sebelum Nabila pindah ke Jakarta.
***
Hello Dokter Sean Cooper
Senyum dokter Nabila ketika bertemu sahabatnya kembali
Jealousnya Dokter Mike ketika melihat Nabila berpelukan dengan dokter Sean
***
Note
Author tidak pro LGBTQ namun waktu kuliah dulu, ada adik kelas author yang memang orientasi sek**ual nya berbeda ( he's g*y ).
Jadi kita tidak bisa menutup mata bahwa mereka ada di sekitar kita.
So, cukup disini saja background soal dokter Sean karena selanjutnya tidak akan author angkat lagi soal keadaan doi.
Salam.