
Mike masuk ke ruangan prakteknya dengan perasaan hampa. Kepergian kekasihnya ke belahan negara lain membuatnya kehilangan mood booster. Dia rindu wajah jutek Nabila, Omelan receh dan perdebatan unfaedah mereka walaupun sudah agak berkurang meskipun via video call.
Ketika hendak membuka laptop nya, suara dering ponselnya membuat Mike bahagia namun wajahnya langsung berubah sebal ketika membaca nama penelponnya.
"Assalamualaikum Bryan".
"... "
"Keluarga Prawiraatmadja?"
" ... "
"Hahahaha... ternyata bisa terbaca maksudmu bang*at!" wajah Mike berubah menjadi seram.
" ... "
"Bry, kau berangkat ke Jakarta hari ini. Gadisku sudah ada pengawalnya bernama Rita Mariana, calon mertua ku yang mengirimkannya. Kau awasi saja gadisku."
" ... "
"Kau cari data semua kinerja dia, aku tak mau ada masalah dengan rumah sakit milik Oom Aryanto. Biayamu akan aku transfer sebentar lagi."
" ... "
"Aku akan bilang Edward bahwa salah satu anaknya aku pinjam dulu"
" ... "
"Thanks Bry. wa'alaikum salam"
Mike lalu menelpon Edward kepercayaan ayahnya yang mengijinkan Bryan berada di Jakarta untuk melindungi Nabila.
Tak berapa lama, pintu ruangan Mike diketuk seseorang.
"Masuk".
Tampak Sean melongokkan kepalanya dengan wajah nyengir. Semenjak Nabila kembali ke Jakarta, hubungan Mike dan Sean menjadi akrab.
"Yo Bro. What's up?" tanya Sean sambil duduk di kursi depan meja Mike.
"Ada lintah yang mau mengganggu Nabila". jawab Mike nyengir.
"Who?"
"Kau kenal Bagas Prawiraatmadja?"
Raut wajah Sean berubah masam. "Baj**ingan itu? Kenapa? Dia mengganggu Babeku?" Mike sudah terbiasa mendengar panggilan sayang Sean ke gadisnya.
"Dia satu gedung dengan Nabila"
"Wtf!" maki Sean.
"Kau mengenalnya?" selidik Mike.
"Tidak secara langsung cuma aku dan Brandon tahu ceritanya dari Nabila, karena itu dia tidak ada keinginan menikah akibat kekurangannya." jawab Sean.
"Dia mulai mendekati Nabila lagi".
Sean melotot. "Beraninya makhluk itu!"
Mike tersenyum sinis. "Aku yakin dia hanya ingin menjadi lintah Nabila karena perusahaan keluarganya sedang diambang kebangkrutan."
"Nabila bukan perempuan bodoh dan dia tahu siapa itu baji***".
"Kita tahu lah gadisku bukan wanita bodoh, hanya saja lebih baik kita berjaga-jaga melindungi Nabila dari lintah itu. Apalagi aku dan kamu tidak ada di dekatnya". jawab Mike.
"Kabarnya Oom Adrian memberikan pengawal kepada Nabila." sahut Sean.
"Iyaaa, namanya Rita Mariana. Aku sudah menyelidikinya dan memang pengawal itu bagus."
"Semoga saja Babeku aman Mike. Aku kepikiran kita tidak ada di Jakarta. Mana kontrakku masih setahun lagi." keluh Sean.
"Aku sudah mengirimkan pengawalku si Bryan ke Jakarta jadi sementara aman". sahut Mike.
"Bryan?"
"Hu um, dia masih keturunan Indonesia jadi bisa membaur dengan baik apalagi bahasa Indonesianya juga fasih. Cuma aku harus minta ijin ma Edward mengambil salah satu bawahannya."
Sean terkekeh. Dia sudah bertemu langsung dengan Edward Blair dan memang benar kata Nabila, Chris Pine jilid sekian.
"Apa kau akan memberitahukan Nabila bahwa kau juga mengirim pengawal untuk gadismu?"
Mike menggeleng. "Diam-diam sajalah daripada aku kena omel".
Sean tertawa. "Kau tahu sendiri kan Nabila kalau mengomel seperti apa. Saingan dia dengan Vivienne.".
"Tampaknya lebih parah Vivienne deh" bela Mike.
"Hahaha. Aku sudah merindukan gadis bermata biru itu walaupun cerewet." cengir Sean.
"Bagaimana kamu tidak rindu Sean, kalian satu server cerewetnya".
Sean melempar post it yang berada di meja ke arah Mike. "Sialan! Aku tidak secerewet itu!"
Mike tertawa.
***
Sudah seminggu ini Nabila merasa jengah atas ulah Bagas. Hasil pembicaraan dengan Oom Aryanto tidak ada kesepakatan untuk memindahkan ataupun memecat Bagas karena bagaimanapun kinerjanya juga baik.
"Kinerja baik, tapi akhlak minus Oom!" omel Nabila kesal.
Nabila terpekur. Otaknya berpikir keras untuk bisa membuat Bagas keluar dari rumah sakit itu.
"Nab, hentikan otak kriminalmu. Oom akan mengawasi Bagas dan jujur Oom tidak tahu sejarah kalian karena waktu itu papamu tidak menceritakan nama anak brengsek yang membuatmu dibully."
"Kok oom tahu aku lagi berpikir kriminal?" tanya Nabila nyengir.
"Tahulah, calon mertuamu kan seorang mafia. Sedikit banyak terkontaminasi lah otakmu" kekeh Oom Aryanto.
Nabila tersenyum. Dia sangat bersyukur keluarganya semua mau menerima Mike dan ayahnya.
Dan kini, Nabila menatap kiriman bunga mawar putih yang tersusun dengan cantiknya di meja kerjanya. Tanpa harus melihat kartu namanya, dia sudah tahu siapa pengirimnya.
Rita kemudian mengambil kartu yang terselip diantara bunga itu.
Mawar putih ini menunjukkan murninya dirimu.
love
Bagas
Rita hampir muntah membacanya. "Gombal bangets sih nih kutu kupret!" makinya
Nabila melirik pengawalnya geli.
"Kok jadi kamu yang emosi Rit?"
"Baca saja nona, kalau nggak pengen muntah!"
"Ogah! Kasih saja bunga itu di meja asistenku. Biar tahu bahwa mau usaha seperti apa kagak ngaruh!"
Rita mengangguk lalu membawa rangkaian bunga mawar putih itu keluar ruangan lalu meletakkannya di meja suster Nia yang hari ini bertugas.
"Lho mbak Rita, kok bunganya ditaruh disini?"
"Biar mejamu terlihat cantik suster Nia" cengir Rita.
Suster Nia tersenyum. Siapa yang menolak rangkaian bunga mawar putih yang indah ini berada di meja tugasnya.
"Dokter Nabila kok aneh ya nggak mau bunganya" tanya Suster Nia.
"Dokter Nabila nggak suka mawar putih" jawab Rita cuek lalu masuk ke ruangan Nabila.
Suster Nia hanya mengedikkan bahunya.
***
Bryan sudah tiga hari ini menjadi OB di lantai tempat Nabila bekerja. Hasil campur tangan tuan mudanya dan calon mertuanya, Bryan akhirnya bisa masuk ke rumah sakit itu dan dikhususkan bagian sana.
Tadi pagi dialah yang menaruh bunga mawar putih karena suruhan Bagas dan baru kali ini dia melihat sendiri seperti apa orang yang membuat tuan mudanya emosi. Sebelumnya Bryan sudah melihat lewat foto namun berbeda pada saat melihat dalam ujud live. Kesan pertama Bryan melihat Bagas, orang yang sombong. Sangat berbeda jauh dengan tuan mudanya walaupun dingin, tidak ada kesan sombong dengan para anak buah ayahnya. Kelasnya berbeda.
Setelah membersihkan beberapa ruangan dokter di lantai sana, Bryan terkejut melihat karangan bunga mawar putih berada di meja suster Nia. Dalam hati dia tertawa melihat ulah nona mudanya yang tanpa langsung menunjukkan dia menolak Bagas.
Tak lama Bryan melihat Bagas datang ke lantai ruangan Nabila dan wajahnya menahan amarah ketika melihat bunga yang dikirimkan kepada Nabila malah berada di meja Suster Nia. Pandangannya beralih ke Bryan yang sedang memegang pel.
"Heh! Kamu! OB sialan! Kan sudah saya bilang taruh di meja dokter Nabila! Bukan di meja depan!" bentak Bagas emosi.
Bryan menatap Bagas dengan berlagak ketakutan.
"Tadi sudah saya letakkan di..di meja dokter Nabila, tuan". jawab Bryan gemetar.
"Tapi kenapa sekarang ada disana?!" bentak Bagas lagi.
Suster Nia yang melihat OB baru itu dimarahi oleh Bagas, segera menghampiri keduanya.
"Maaf pak Bagas tapi OB ini tidak bersalah" bela suster Nia.
"Kau tidak usah ikut membela OB ini!" hardik Bagas.
"Tapi dokter Nabila sendiri yang memang meminta untuk ditaruh di meja saya karena dokter Nabila tidak suka mawar putih" papar suster Nia.
Bagas menatap suster Nia yang agak gemetar melihatnya.
"Dokter Nabila tidak suka mawar putih?" tanya Bagas. Suster Nia menggeleng.
"Haaaahhhh! Brengsek!" Bagas lalu membalikkan tubuhnya.
Suster Nia lalu menatap Bryan yang terdiam. OB baru ini tampan juga.
Beruntung ketika Bagas membuat ulah, belum ada pasien yang datang ke ruangan Nabila.
"Mas nggak papa?" tanya Suster Nia.
"Nggak papa suster. Permisi." Bryan pergi meninggalkan suster Nia menuju ruang OB.
Sayang, tampan begitu jadi OB.
***
Abang Bryan Smith
Bonus pic
Vivienne Lee Neville adik sepupu Nabila yang super cerewet.