Just The Way You Are

Just The Way You Are
Jangan Remehkan Klan McGregor



Pagi ini meja makan keluarga Pratomo berisi empat orang yang berbeda usia menikmati sarapan pagi ini berupa English breakfast.



Sarapan yang berupa tumis paprika dan tomat mini, sosis sapi, telor ceplok dan mashed potatoes adalah permintaan Mike.


"Aku lagi jadi orang Inggris dulu sekarang, bosan nasi" alasan recehnya.


Nabila hanya memutar matanya malas.


Kini mereka semua menikmati sarapan yang menurut Nabila termasuk camilan, bukan sarapan.


"Pak Indra, nanti tolong buatkan nasi goreng ya. Nggak kenyang aku makan kayak gini!" pinta Nabila yang mendapat pelototan Mike.


"Dua porsi!" sahut papa Adrian.


"Dasar orang Indonesia. Belum mantap kalau belum ketemu nasi!" omel Duncan.


Papa Adrian Dan Nabila hanya nyengir sedangkan Mike menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Jack terbangun ketika seorang perawat pria masuk untuk membersihkan Bryan. Pria bule itu menatap Bryan yang sudah agak segar yang asyik ngobrol dengan si perawat.


Segera dia mengambil baju dari dalam tasnya dan masuk ke kamar mandi. Rasanya mandi air hangat cukup mampu melancarkan peredaran darah dan mengurangi tubuhnya yang kaku akibat tidur di sofa.


Setengah jam kemudian Jack sudah berganti baju bersih dan merasa segar. Kali ini dia memakai kaos hitam, jaket kulit hitam dan celana jeans hitam.



Auranya membuat orang segan mendekatinya kecuali klan McGregor dan keluarga Pratomo. Bryan melihat pria yang dianggap sebagai kakak tampak sudah rapi.


"Mau kemana J?" tanya Bryan.


"Beli sarapan. Kamu mau Bry?" tawar Jack.


"Enak?"


"Nasi ramesnya enak. Bentar aku lihat hp ku dulu, dah buka belum dia." Jack mengambil ponselnya yang berada di meja.


" She ( Dia )?" ( keduanya menggunakan bahasa Inggris dan Jack menyebut 'she' yang berarti perempuan ).


"Eh?" Jack tampak kikuk.


Bryan tertawa pelan takut rusuknya sakit lagi.


"Whoah, aku ketinggalan gosip apa ini?" ledek Bryan.


"Hehehehe. Nggak usah heran kalau tuan muda tertarik wanita Indonesia, mereka cantik-cantik" elak Jack.


"Ehem! Ceritakan pada adikmu yang menganggur ini" goda Bryan.


"Diamlah!" umpat Jack kesal. Bryan makin terkikik.


Jack membuka ponselnya dan menemukan pesan dari gadis manis itu.


📩 Dian Pratiwi : selamat pagi tuan Jack. Saya mau mengantar dua nasi rames untuk anda dan adik anda. Boleh tahu kamar nomor berapa?


Jack tersenyum.


📩 Jack : kamar VVIP A nomor 3


📩 Dian Pratiwi : Baik tuan Jack. Saya kesana.


Jack sangat bahagia, gadis itu mau datang. Lalu dia melirik ke Bryan.


"Kalau kamu mau lihat orangnya, dia akan kesini mengantarkan nasi rames buat kita."


Bryan tersenyum lebar. "Aseeekkk!"


"Sialan kau!" omel Jack cemberut.


***


Di mansion Pratomo, keempatnya sudah berada di ruang tengah menunggu hasil penyelidikan Edward tentang Louis Baptiste dan putrinya Camille.


"Semalam Edward memberikan semua file tentang Louis dan Camille. So, Louis selama menjabat sebagai salah satu anggota dewan parlemen, dia menerima banyak suap termasuk para desainer pemula yang ingin menampilkan karyanya di fashion week dan Camille adalah salah satu perantara. Dia kan punya banyak teman yang kuliah di jurusan fashion. Diiming-imingi bisa tampil, mereka membayar biaya show namun semua hanya fake."


"Sudah sepantasnya dihajar Shanum" komentar Nabila.


"Para korban tidak bisa menarik dana mereka kembali karena Camille memiliki jaringan penipuan jadi mereka seperti dilempar sana sini. Polisi pun tidak dapat menemukan bukti keterlibatan mereka."


"Bagaimana Edward bisa..." papa Adrian kemudian terdiam. "Aku lupa dia siapa"


Duncan nyengir devil ke arah calon besannya.


"Aku kirimkan semua berkas ke emailmu. Bisa kau gunakan untuk menolong putrimu dan ke kantor polisi."


"Kepala polisi Paris adalah teman Niken. Nanti aku dan Niken mendatangi Pierre disana."


"Pa, Dad, aku dan Mike hendak ke rumah sakit nengok Bryan" potong Nabila.


Nabila kemudian pamit pada papanya dengan mencium punggung tangan dan pipinya, hal yang sama pun ia lakukan pada calon ayah mertuanya.


Mike sendiri hanya menepuk punggung ayahnya. dan mencium tangan papa Adrian seperti Nabila.


"Hei, kok kamu nggak cium tangan Dad?" protes Duncan.


"Haruskah?" balas Mike jahil.


"Bocah nakal !" umpat Duncan sambil terkekeh.


"Bye Pa! Bye Dad! Assalamualaikum!"


"Wa'alaikum salam!"


***


Nabila, Mike dan Rita sudah sampai di depan kamar Bryan ketika mendengar percakapan yang ramai di dalam. Rita mengernyit mendengar suara perempuan disana. Rasa cemburunya muncul dan tanpa menunggu kedua majikannya, Rita langsung membuka pintu kamar agak keras.


Tampak Bryan yang bersandar di tempat tidur yang sudah disetting menjadi setengah duduk sedang asyik makan. Jack sendiri berada di sofa bersama seorang gadis manis yang duduk di sebelahnya.


"Well, Jack! Itu siapa?" wajah Nabila langsung kepo jahil. "Eh bukannya kamu yang jualan di kantin?"


"Eh iya, maafkan saya yang malah disini nona Nabila" Dian merasa nggak enak dan hendak beranjak pergi.


"Tunggu, tunggu. Mau kemana nona?" cegah Nabila. Mike sendiri sudah hapal kelakuan tunangannya hanya melihat dari sebelah tempat tidur Bryan.


"Jack! Jelaskan! Sekarang!" perintah Nabila sok galak. Mike hanya cekikikan melihat pengawal Daddynya pucat pasi melihat nona mudanya.


Bryan dan Rita menikmati drama yang dibuat Nabila.


"Errr itu nona, tadi Dian mengantarkan nasi rames kemari terus kami ngobrol bertiga" jawab Jack kikuk.


"Hhhmmm" Nabila bersidekap sambil memintai Dian yang menunduk malu.


"Benar cuma antar nasi rames?" selidik Nabila menatap Dian.


"Benar kok nona Nabila. Ini saya lagi makan malah" sahut Bryan mencegah Nabila berbuat usil lagi.


"Yang ngajak kamu ngomong siapa Bry? Aku tanya Dian kok!" ucap Nabila dengan nada dingin dan pandangan menusuk. Bryan pun menunduk.


Nona Nabila ternyata menyeramkan. Sama dengan boss besar dan tuan Mike. Sebenarnya nona Nabila itu wanita Jawa atau bukan sih? Kok makin kesini makin syerem auranya mirip mafia.- batin Bryan.


Mike dan Rita tak tahan untuk tidak tertawa.


"Sayang, sudahlah. Kasian anak orang kamu interogasi begitu" bujuk Mike sambil merengkuh pinggang Nabila.


"Jack! Kamu kalau serius sama anak orang jangan sekali-kali kamu PHP!" titah Nabila ke arah pria bule berambut pirang.


"Hah?" Jack melongo.


"Temani Dian pulang ke kantin, Jack" perintah Mike. "Jangan sampai lecet!"


Jack sumringah ternyata tuan dan nona mudanya hanya ngeprank.


"Dian, kamu memang baru dua hari bertemu dengan Jack tapi percayalah padaku, dia pria baik. Kalau memang kamu ada perasaan padanya sedikit saja, jangan permainkan hubungan kalian. Mungkin nanti setelah Jack kembali ke Inggris, disitulah perasaan kalian diuji. Jika Jack memang jodohmu, tidak akan kemana walaupun aral rintangan di depan." Nabila menatap Dian yang masih menunduk malu.


"Angkat wajahmu." Dian kemudian mengangkat wajahnya yang sedikit memerah.


"Sebagai wanita Indonesia, tidak mudah untuk berhubungan dengan pria asing. Aku pun begitu, tapi untungnya dapat pria bebal ini" liriknya ke arah Mike yang melengos malas.


"Dian, kamu masih muda dan Jack bukan pria sempurna, latar belakangnya pun kamu belum tahu kan?" Dian menggeleng.


"Seperti aku bilang tadi, Jack pria baik, dan jika dia sudah menyukai seorang wanita, dia akan melindunginya sepenuh hati. Saranku, sebelum Jack pulang ke Inggris lusa, kalian berbicara dari hati ke hati. Mantapkan perasaan kalian. Itu juga berlaku pada kalian berdua, Rita dan Bryan!" Mata indah Nabila menatap tajam kepada dua orang yang berada di belakang Mike.


Sebenarnya yang keturunan asli McGregor siapa sih?


***



Nabila Pratomo



Babang Mike yang bingung kenapa tunangannya lebih McGregor daripada dirinya


***


Yuhuuu


Akhirnya up juga yaaaa


Semoga nanti malam bisa up lagi.


Ditunggu like vote n supportnya


Tararengkyu ❤️🙂❤️