Just The Way You Are

Just The Way You Are
Calon Mertua Urung



Mobil Honda city Gala akhirnya sampai di pintu gerbang mansion Pratomo. Sebuah mesin intercom terdapat di jalan masuk sebelum masuk ke gerbang besar.


Gala lalu memencetnya. Rasanya seperti déja vu jaman SMA.


"Kediaman Pratomo" suara pria yang sangat dikenal Nabila terdengar.


"Bisa minta tolong dibukakan pintu gerbangnya Pak Indra" pinta Nabila.


"Non Nabila? Kok mobilnya beda?"


"Udah pak, buka ajah kenape. Nggak ingat saya ya?" omel Gala sebal mengingat kejadian 12 tahun lalu.


"Sebentar. Kok saya ingat nada seperti ini?" Pak Indra terdiam sejenak "Den Mangga bukan?" kali ini terdengar suara pak Indra.


"Haaaiissshhhh!" sungut Gala. Nabila dan Rita tertawa melihat wajah Gala ditekuk.


Tak lama pintu gerbang mansion dibuka. Mobil yang dikendarai Gala masuk ke dalam mansion yang bernuansa Mediterania.



Gala tersenyum melihat rumah yang selalu dia datangi saban pulang sekolah baik untuk belajar bareng atau mengantarkan Nabila pulang.


"Kenapa senyum-senyum Ga?" tanya Nabila.


"Ketemu musuhku lagi" seringainya. Nabila hanya menepok jidatnya.


Manggala dan pak Indra kepala pelayan di mansion Pratomo bagaikan kucing dan anjing kalau bertemu. Selalu bertengkar hal-hal receh yang sering membuat mama Niken geleng-geleng kepala.


Usai memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk, ketiganya turun menuju pintu utama yang sudah dibukakan oleh Pak Indra.


"Selamat siang nona Nabila, nona Rita, den Mangga" sapanya ramah. Meskipun sudah berumur, namun pak Indra masih energik.


"Cih! Pak Indra dari dulu selalu begitu!" umpat Gala manyun.


Pak Indra tertawa. Dirinya tetap menganggap Gala masih anak SMA meskipun sekarang dirinya sudah memakai pakaian kebesarannya sebagai anggota penegak hukum.


"Apa kabar den Mangga? Wah sekarang udah jadi gagah dan ganteng. Dulu? Duh apa kabar" kekeh pak Indra.


"Pak Indra itu satu server ma Nabila deh kalau nistain aku" ucap Gala sambil merangkul pak Indra sayang.


Keempatnya berjalan menuju ruang tengah yang khas Mediterania sangat kental. Kedua orang tua Nabila sangat suka desain khas sana.



Gala teringat dulu membuat tugas di meja kopi bersama Nabila.


"Tuan dan nyonya dalam perjalanan nona kemari" lapor pak Indra kepada Nabila yang sudah duduk di sofa.


"Oke pak Indra. Tolong bawakan minuman dan camilan ya" pinta Nabila.


"Baik nona. Permisi." Pak Indra kemudian pergi menuju dapur.


Gala berjalan berkeliling rumah yang sangat dia hapal. Bagaimana tidak tiga tahun dia bersahabat dengan Nabila dan kedua orangtua Nabila juga mengenal Gala dan orangtuanya.


"Tidak banyak berubah ya Nabnab" komentar Gala.


"Hu um. Kamu ingat kita berantem hanya gara-gara PR matematika yang akhirnya mama melerai kita?"


Gala tertawa. "Dan ternyata aku yang benar".


"Yang penting hasilnya sama biarpun jalannya berbeda" protes Nabila.


"Kamu emang dari dulu sukanya ngeyel"


Rita tertawa mendengar keduanya ribut.


"Nona Nabila memang sukanya cari ribut".


"Dari dulu dia seperti ini" jawab Gala sambil menunjuk Nabila yang menjulurkan lidahnya.


Seorang pelayan masuk ke dalam ruang tengah membawakan tiga gelas es lemon tea Dan beberapa panganan.


"Terimakasih Niar" ucap Nabila.


"Sama-sama nona. Silahkan disantap" pamit Niar yang berjalan kembali ke arah belakang.


Rita yang melihat interaksi nonanya dengan para pelayannya semakin kagum dengannya. Terlahir dari keluarga kaya tajir melintir apalagi nama kedua orangtuanya terkenal di berbagai negara, bukan berarti Nabila bisa bersikap seenaknya dengan para pekerja di rumah. Rita bersyukur dia terpilih mengawal Nabila dan rela melakukan apa saja demi melindungi nonanya.


Gala menikmati es lemon tea yang selalu tersedia saban dia ke mansion. Pak Indra tahu dari Nabila kalau Gala sangat suka es lemon tea.


"Nabnab, papamu masih keliling dunia?" tanya Gala sambil mencomot sepotong brownies.


"Masih lah. Klien papa dimana-mana dan semuanya maunya papa yang handle. Sampai kadang papa ngeluh pengen dikloning aja dirinya".


Nabila tertawa. "Siapa ya yang nonton E.T nangis?"


Gala mendelik. "Siapa yang nangis?"


"Lho emang aku nyebut nama?" ledek Nabila.


Gala mengacak-acak rambut Nabila gemas karena dikerjain. "Sialan lu Nabnab!"


"Siapa yang sialan?" sebuah suara bariton menghentikan ulah Gala yang mengacaukan rambut Nabila.


"Papa!"


"Oom!"


***


Kini kedua orang yang dipergoki sedang ribut, disidang di meja makan oleh dua orang paruh baya yang masih tampak energik.


Mama Niken tampak cantik dengan gaun simple berwarna hijau lumut dihiasi dengan kalung mutiara satu set dengan anting-antingnya. Papa Adrian sudah melepaskan jasnya dan kini hanya memakai kemeja berwarna abu-abu dan vest warna hitam dan celana hitam, bahkan dasinya pun sudah dilepaskan.


"Jadi kamu Manggala? Yang sering dipanggil Mangga oleh pak Indra?" tanya papa Adrian.


"Iya Oom. Apa kabar? Maaf tadi saya mengacak-acak rambut Nabnab... eh Nabila" jawab Gala dengan muka malu.


"Hebat kamu sudah jadi polisi. Padahal dulu Tante mengira kamu akan melanjutkan usaha papamu Ga" puji mama Niken.


"Kan ada mas Mavendra Tante, dia jauh lebih berbakat di dunia bisnis dibaning saya." jawab Gala merendah. Gala hanya dua bersaudara, kakaknya Mavendra sekarang yang memegang usaha papanya.


"Iya nggak bakat bisnis tapi jago main saham" sindir Nabila.


Papa Adrian memandang Gala. "Sudah sampai level berapa kamu Ga?"


"Tadinya Day trader Oom namun sekarang saya turun ke swing trader yang tidak daily apalagi sekarang saya mulai sibuk di kepolisian. Nggak mungkin tiap saat ngecek".


"Yang penting aware Ga. Jangan lupa disimpan buat celengan kamu nikah nanti." goda mama Niken.


"Nah itu Tante. Saya merasa oom dan Tante itu mertua urung saya karena Nabila sudah punya kekasih" keluh Gala.


"Mertua urung?" Papa Adrian tidak paham maksud sahabat putrinya.


"Mertua gak jadi"


"Astaga" Papa Adrian menepok jidatnya sedangkan mama Niken tertawa mendengar istilah yang diberikan Gala.


***


Keempat orang di meja makan telah menyelesaikan makan siang mereka. Kini mereka kembali ngobrol lagi.


Papa Adrian malah asyik membahas saham dengan Gala yang membuat Mama Niken dan Nabila mendengarkan dengan bosan.


"Guys, mbok ya sudah nggak usah bahas yang berat-berat. Dinikmati obrolan yang ringan-ringan lah" protes mama Niken.


Papa Adrian dan Gala hanya nyengir. Lupa bahwa ada dua wanita yang tidak begitu paham.


"Kapan Nabila dilamar Tan?" tanya Gala.


"Lho kok jadi aku topiknya?" Nabila mendelik ke arah Gala.


"Kamu kan topik paling enak dibahas" jawab Gala kalem. Papa Adrian dan mama Niken hanya tersenyum.


"Mike baru bisa ke Jakarta tiga bulan lagi selesai kontrak kerjanya di Edinburgh." ucap mama Niken.


"Saya ikut senang Tan, kalau Nabila mendapatkan pendamping yang sayang dan tulus mencintainya" Gala menatap lekat sahabatnya.


"Apa kamu sesuatu Ga?" selidik papa Adrian.


"Saya tahu semuanya tentang keadaan Nabila. Bahkan sejak Nabila masuk rumah sakit sepuluh tahun lalu." jawab Gala tenang.


Papa Adrian dan mama Niken terkejut Gala mengetahui keadaan Nabila namun tidak dengan Nabila. Dia tahu bagaimana Gala menjaganya selama di sekolah akibat bullying berdasarkan info yang disebarkan oleh Bagas dimana notabene adalah kekasihnya waktu itu.


"Tadi saya bertanya pada Nabila apakah sudah punya kekasih atau menikah, Nabila menjawab sudah punya tunangan dan Nabila tampak bahagia ketika membicarakan pria bernama Mike. Saya ikut bahagia mendengarnya, walaupun saya urung mendapatkan mertua Oom Adrian dan Tante Niken."


Nabila memukul bahu Gala.


"Aduh! Tapi bener kan Nabnab, kedua orang tuamu itu mertua urungku?"


Kedua orangtua yang melihat interaksi dua orang sahabat itu hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


***