
Sean masuk ke dalam ruangan Mike dan tampak Brandon masih saja ribut dengan Vivienne. Entah kenapa keduanya tidak pernah bisa akur sejak pertama kali bertemu tiga tahun lalu. Sean tahu, Brandon hanya bisa bergaul dengan para perempuan keluarga Pratomo dengan nyaman tapi tidak dengan wanita lain.
"Kalian mau sampai kapan berantemnya? Kasian yang punya ruangan sampai ngungsi tuh!" ucapnya kepada dua orang dihadapannya.
"Bang Sean!" Vivienne langsung menghambur ke Sean memeluk sayang.
"Halo Blue" sapa Sean sambil mencium pucuk kepala gadis cantik itu sayang. Sean dan Brandon sangat menyayangi semua perempuan keluarga Pratomo seperti adik perempuan mereka sendiri.
"Udah selesai kerjaannya bang?" tanya Vivienne tanpa melepaskan pelukannya.
"Udah. Kalian tuh kalau mau berantem lihat tempat dong! Mike sampai minggat di depan tuh!"
"Hah?" Viv celingukan cari calon kakak sepupu iparnya. "Astaghfirullah! Kak Brandon sih!" Gadis itu melepaskan pelukannya lalu keluar mencari Mike.
"Lho kok aku Wet!" maki Brandon kesal.
Sean menghampiri Brandon. "Sudah, sudah. Yuk keluar kita makan siang di kantin." ajaknya sambil merangkul pria nerd itu.
"Okay."
***
Mike sedang berjalan menuju kantin ketika sebuah tangan mungil merangkul tangan kanannya. Dilihatnya si cerewet itu dengan cueknya memegang tangannya.
"Bang Mike terusir yaaaa?" goda Viv dengan muka menggemaskan.
"Menurutmu!" dengus Mike kesal.
"Itu belum seberapa bang". jawab Viv sambil tertawa.
"Haaaiissshhhh! Sudah kita makan dulu. Abang lapar ini".
"Cuuussss lah. Ternyata berdebat itu membuat cacingku demo."
"Dah tahu juga, masih saja dilakoni". Mike memilih tempat duduk yang dekat jendela dan Vivienne duduk di hadapannya.
"Seru tahu bang. Kak Brandon tuh gampang banget kalau diajak gelut." kekeh gadis cantik berambut coklat itu.
"Eh dek. Kamu dikeluarkan dari tiga sekolah elit di Inggris terus sekarang gimana sekolahmu?" tanya Mike setelah mereka mengambil pesanan makanan.
"Yaaaa home schooling lah! Papa marah besar sama aku katanya mau dikirim ke Jepang aja akunya. Malah bahagia aku kalau memang harus sekolah disana. Kan bisa bareng sama duo Reeves." sahut Viv cuek.
"Kamu tuh masih SMP ajah dah belagu sih"
"Eh sorry ya abangku yang cakep. Adikmu yang cantik paripurna ini sekarang sudah high school bukan junior high school." Mike melongo.
"Serius kamu?" tanya Mike sambil menatap tajam ke arah Vivienne.
"Serius lah bang. Eh sesama mata biru nggak usah saling melotot gitu dong! Serem tauk! Aku kan skip kelas waktu SD." sahut Viv sambil mengunyah brokoli kukusnya.
"Ya ampun."
"B ajah kali bang, selama otakku mampu, why not loncat kelas".
"Vivienne" suara merdu seorang wanita mengalihkan keduanya. Tampak seorang wanita cantik berusia pertengahan 40an berjalan kearah Mike dan Viv bersama Sean dan Brandon di belakangnya.
"Mama" senyum Viv merekah.
"Baru makan siang?" tanya mama Adinda yang dijawab dengan anggukan kedua orang yang sama-sama memiliki mata biru.
"Tadi ini anak sibuk berantem sama Brandon, Tan" jawab Mike.
Adinda tersenyum paham kebiasaan putrinya yang selalu cari gara-gara dengan kakak kesayangannya.
"Kalian itu bisa nggak sih akur sehari?" tanya Adinda.
"Nggak!" sahut keempat orang yang bersama Adinda.
"Astaghfirullah!" Adinda mengelus dadanya kaget.
***
"Alhamdulillah Sean, semua dokter disini kompeten semua dan seminggu ini tidak ada insiden yang fatal." ucap Mike seraya membereskan tumpukan berkas.
"Iya Mike. Kalau boleh jujur, aku suka bekerja disini, orang-orangnya seru dan semua kompeten. Bahkan tidak ada rasa senioritas disini, semua saling membantu jika ada kesulitan."
"Good, jadi Setelah kontrakmu habis, akan kau perpanjang?" tanya Mike.
"Belum tahu. Tergantung Brandon. Kalau proyek Tante Adinda berjalan, kemungkinan aku akan memperpanjang kontrak karena Brandon pasti tinggal disini lama."
Mike melirik jam tangan tag Heuer nya. Sudah pukul lima sore.
"Yuk pulang Mike." Sean juga melirik jam tangan sector nya.
"Tunggu aku sholat asar dulu, lupa tadi. Nggak lama hanya sepuluh menit." sahut Mike.
"Kau benar-benar serius jadi mualaf Mike?" tanya Sean.
Mike mengangguk mantap.
"Good!" Sean menepuk bahu Mike bangga.
***
Nabila memarkirkan mobil FIAT panda nya diparkiran rumah sakit bersama Rita. Ia mendapatkan panggilan darurat dari salah seorang pasien.
Dengan setengah berlari, Nabila dan Rita bergegas masuk ke rumah sakit dan langsung menuju ruang operasi.
"Maaf dokter Nabila tapi hanya dokter yang bisa mengoperasinya pasien ini". ucap dokter bagian penyakit dalam.
"Sebenarnya apa yang terjadi dokter Tasya?" tanya Nabila sambil membersihkan tangannya dengan sabun khusus sebelum melakukan operasi setelah dia mengganti ke baju scrubs. Rambut coklatnya sudah ditutup dengan caps khusus.
"Pasien saya ini memang bandel. Sudah saya bilang jangan makan sembarangan karena dia punya riwayat rheumatoid arthritis-peradangan sendi dan bisa mengakibatkan leaky gut syndrome - robek dinding usus. Akibat super ngeyel akhirnya begini. Tadi saya USG sudah parah dan harus dilakukan obstruksi usus. Suster Nia, tolong diperlihatkan hasil Rontgen dan USG ke dokter Nabila". pinta dokter Tasya.
Suster Nia dengan cekatan memberikan hasil Rontgen dan USG untuk dipelajari Nabila.
"Kasih waktu saya sepuluh menit untuk mempelajari kondisi pasien". Nabila lalu membacanya dengan serius sambil tangannya bergerak-gerak melakukan gerakan operasi.
Sepuluh menit kemudian suster Nia memanggil Nabila untuk bersiap ke arena, istilahnya tentang kamar operasi.
"Siapa nama pasien ini suster Nia?" tanya Nabila.
"Lho dokter tadi nggak baca nama pasien?"
"Nggak, aku lebih konsen proses operasinya." cengirnya sebelum wajahnya ditutup masker.
"Namanya Nyonya Siti Prawiraatmadja."
Nabila membeku. That bi**tch!
"Si..siti.. Prawiraatmadja? Apa hubungannya dengan pak Bagas?" tanya Nabila seolah-olah tidak tahu.
"Ini ibunya pak Bagas dok". jawab suster Nia.
How ironic of life. Dulu kau menghina-hinaku dan sekarang aku harus menyelamatkan nyawamu. Apakah ini karma atau cara Tuhan kepadaku untuk membalas semua perbuatannya yang tidak punya hati? Haruskah aku selamatkan atau biarakan?
Sekelebat kisah masa lalu Nabila yang dihina oleh Siti Prawiraatmadja kembali muncul di ingatannya. Hatinya dilema. Sebagai seorang dokter, dia terikat sumpah menyelamatkan nyawa tanpa melihat siapapun yang membutuhkan bantuannya, namun sebagai manusia biasa, dendam itu masih ada.
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan dan keilmuan saya sebagai dokter.
- Sumpah Dokter -
Nabila menghembuskan nafas panjang.
Here we go!
Nabila memasuki arena operasi.
"Selamat malam semua. Mari kita selamatkan pasien ini."
***