
Mike akhirnya bisa menghubungi gadisnya yang sudah seminggu ini tidak ia lihat wajah dan mendengar suaranya.
"Assalamualaikum sayangku" sapa Mike bahagia melihat Nabila.
"Wa'alaikum salam. Gimana tempat bencana?"
"Alhamdulillah dah bisa teratasi cuma kemarin seminggu aku memang tidak bisa menghubungi dirimu. Eh kok kamu tahu aku di tempat bencana?" tanya Mike.
"Sean yang memberitahuku karena aku tidak bisa menghubungi mu jadi aku tanya Sean."
"Aku, Sam, suster Yolanda dan beberapa dokter dari divisi lain yang dikirim kemari."
"Eh kok sepi? Memang kamu nggak di barak?" Nabila pernah berada di posisi Mike ketika bertugas di Johannesburg.
"Aku nggak di barak, sayang tapi di rumah penduduk. Namanya kakek James. Rumahnya termasuk yang selamat dan dia tidak mau meninggalkan rumahnya karena istrinya pasti bingung kalau beda lingkungan."
"Apa istrinya mengalami sakit?"
"Taaakk, istrinya di dalam guci."
"Hah?"
"Istrinya di dalam guci sayangku."
"Istrinya memangnya Jeannie di i dream of Jeannie?" tanya Nabila bingung mengingat film lama tentang jin cantik bernama Jeannie dengan kapten Anthony 'Tony' Nelson.
"Haaaiissshhhh, gini nih punya kekasih hobinya nonton film" Mike menepok jidatnya.
"Eh? Oohh? Haaaahhhh??? Istrinya sudah meninggal terus dikremasi dimasukkan ke dalam guci?" seru Nabila.
"BINGO!"
"Astaga, sampai segitunya ya cintanya kakek James" puji Nabila.
"Kita harus menirunya Nab. Menua bersama" ucap Mike serius.
"Aamiin."
"Mike! Ayo makan malam dulu" panggil kakek James.
"Sebentar kek, aku masih menelpon gadisku" jawab Mike yang duduk di teras rumah.
Kakek James pun ikut menimbrung di layar ponsel Nabila.
"Oh jadi ini yang namanya Nabila? Ternyata kamu dokter juga? Dan cantik" puji Kakek James yang melihat Nabila berada di ruangannya dengan mengenakan sneli dan stetoskop.
"Halo kakek James. Salam kenal" Nabila melambaikan tangannya.
"Mike, sekali-kali bawalah kemari. Oke Nabila, senang bertemu denganmu, kakek mau cerita pada Nancy kalau sudah bertemu cucu perempuan" kekeh kakek James lalu masuk ke dalam rumah.
"Sayang, apa kamu yakin kakek James tidak berhalu?" bisik Nabila.
"Nggak Nab, masih dalam ukuran normal kok menurutku" Mike meyakinkan Nabila.
"Tapi kamu kan bukan psikiater."
"Kamu terlalu berlebihan ah" kekeh Mike.
"Ohya aku berencana mengambil cuti untuk bisa ke Edinburgh" Nabila mengubah topik pembicaraan.
Mike langsung sumringah. "Kapan?"
"Aku masih harus menyelesaikan beberapa jadwal yang sudah disusun oleh suster Nia sampai dua bulan ke depan. Kemungkinan liburan tahun baru aku bisa kesana."
Sekarang bulan Oktober dan tanggal pernikahan Mike dan Nabila sudah diatur bulan Februari tepat sebulan Mike menyelesaikan tugas di royal Infirmary.
"Baguslah kau liburan kemari, kita nanti jalan-jalan " senyum Mike.
"Deal sayangku!"
***
Mike sedang bersiap-siap untuk tidur ketika mendengar getaran pada ponselnya. Memang sengaja dia merubah menjadi mode getar jika sudah waktu jam tidur apalagi dia merasa ini puncak letihnya.
Dilihatnya nama dokter Carole King di layar.
Mau apalagi nih perempuan?
Mike mendiamkan panggilan itu namun tidak berhenti. Akhirnya dengan nada kesal dia menjawabnya dengan suara dibuat sedang tidur.
"Apa sih! Nggak tahu apa orang sedang tidur?" bentak Mike dengan suara serak seperti sedang tidur.
"Oh aku mencarimu di barak tempat para dokter tidur tapi kamu nggak ada" jawab Carole dengan nada khawatir.
"Aku tidur di bukit, pakai tenda sendiri! Sudah jangan ganggu aku!" ucap Mike asal sambil mematikan ponselnya menjadi offline.
Memang dia pikir siapa dia !
Mike langsung memeluk bantalnya dan tak lama terlelap.
***
Hari ini benar-benar hari sibuk Nabila. Belum selesai urusan pembedahan di ruang operasi, suster Nia sudah heboh karena ada korban luka tusuk akibat penodongan.
Entah hari ini ada kutukan apa semua dokter bedah sibuk semua di lima kamar operasi yang dimiliki rumah sakit milik Aryanto Pratomo.
Untung pada saat suster Nia datang, Nabila sudah dalam proses menjahit bekas operasi.
"Terima kasih semuanya dan sekarang kita mengurus pasien yang terkena luka tusuk." Nabila lalu keluar dari ruang operasinya dan menuju IGD.
Dilihatnya pria itu masih mengerang menahan sakit karena penanganan darurat sambil menunggu ruang operasi kosong. Dan kini pasien itu harus segera dioperasi karena darah yang keluar lumayan banyak.
"OR 2 dok sudah steril."
"Bawa kesana, siapkan kantung darah O tiga buah! Aku persiapan dulu nggak sampai sepuluh menit." Nabila pun masuk ruang operasi.
***
Setelah dua jam mengoperasi pria itu, Nabila keluar dari ruang operasi. Tampak Rita menunggu dengan setia sembari membawakan es coklat.
"Hah! Capeknya akuuuu" keluhnya sambil duduk manis di lantai dan menikmati es coklat favoritnya saban selesai operasi.
"Semua dokter bedah juga pada ngeluh nona. Katanya hari ini yang bikin jadwal operasi pada minta disambit saking padatnya" kekeh Rita.
"Bahagia Bu?" sindir Nabila sebal.
"Ah nggak, cuma sedikit berempati nona" senyum Rita.
"Empatimu basa basi" umpat Nabila sambil tersenyum smirk.
"Ah nona kok tahu?"
"Bangkeeee!" Rita tertawa terbahak-bahak.
Nabila pun ikut tertawa setidaknya ada yang menghibur dengan caranya sendiri.
***
Pria itu perlahan membuka matanya dan setelah mengerjap-kerjapkan sejenak, dia baru ingat kalau berada di rumah sakit.
Sial! Akibat tidak waspada, jadi kena tusuk sama bajingan itu!
"Tuan!"
Pria itu menoleh ke sumber suara. Sekretarisnya ternyata sudah duduk di sebelah kanannya.
"Maaf tuan, saya tadi lengah membuat tuan terluka" Sekretarisnya menunduk.
"Bodoh!" umpatnya pelan.
"Maaf tuan".
Suara ketukan di pintu membuat keduanya terdiam. Seorang suster melongokkan kepalanya sambil tersenyum.
"Maaf tuan, dokter Nabila hendak memeriksa anda" ucap suster itu.
Pria yang sedang terbaring hanya mengangguk.
"Selamat malam, Tuan Wisama. Saya dokter Nabila yang mengoperasi anda tadi siang. Apa ada keluhan di perut anda pasca operasi?" tanya Nabila ramah sambil tersenyum.
Dokter ini cantik sekali.
"Eh... belum dokter" jawab pria itu. "Panggil saya Arya saja, dok. Wisama nama keluarga saya."
"Baik pak Arya. Anda tidak keberatan kan saya panggil begitu?"
Arya menggeleng yang membuat sekretarisnya terperangah.
Kenapa tuan menjadi lebay begini?
"Maaf saya lihat dulu perut bapak" Nabila lalu mengenakan sarung tangan medisnya.
Liat yang lainnya juga boleh kok dok!
Nabila kemudian membuka baju pasien Arya dan memeriksa hasil operasinya tadi. Tidak ada infeksi pasca operasi membuat Nabila bersyukur hasilnya baik.
"Pak Arya, anda harus berada disini selama seminggu dulu ya agar saya bisa memantau kondisi bapak" Nabila melepaskan sarung tangannya.
"Tidak masalah dok" senyum Arya.
"Baik, saya tinggal dulu. Selamat malam" pamit Nabila.
"Eh dok" Nabila pun berbalik, begitu juga dengan suster Nia.
"Ada apa pak Arya?"
"Besok apakah dokter Nabila kemari juga?" tanya Arya dengan muka datar.
"Saya selalu visite setiap hari pak" senyum Nabila.
"Baik dok. Terimakasih" senyum Arya. Nabila menggangguk lalu keluar bersama suster Nia.
Setelah yakin keduanya pergi, Arya melirik ke sekretarisnya.
"Cari info siapa dokter itu. Selengkapnya!" perintahnya.
"Siap tuan!"
***
Yuhuuu
Maaf baru up.
Hari ini sibuk bangets di dunia nyata.
Thank you for your support
Don't forget like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️