
Nabila duduk bersandar di tembok luar kamar operasi seraya memejamkan matanya. Dirinya merasa letih luar biasa baik fisik maupun mental. Disaat dia melakukan pembedahan di tubuh Siti Prawiraatmadja, rasanya ingin melakukan malapraktik membuat nyawa wanita tua itu melayang namun otak logisnya masih berjalan dengan baik. Wajah kedua orangtuanya, adik-adiknya dan Mike selalu terbayang. Belum lagi reputasinya yang dibangun susah payah.
"Be patient Nab, dia sudah mendapatkan karmanya" suara Mike seperti bergema dalam otaknya.
Mike lah yang membuatnya waras, Mike lah yang selalu mendukung dirinya dalam kondisi apapun selain keluarga besarnya. Mike seperti archangel. Karena Mike juga, Nabila kembali menjadi dokter yang mumpuni dalam mengoperasi pasien walau si pasien adalah orang yang dulu menghinanya tanpa perasaan.
"Dok Nab" suara suster Nia membuat dirinya membuka matanya.
"Ya sus?" tanyanya pelan.
"Dokter nggak papa?"
"Saya hanya lelah sus." Nabila tersenyum tipis.
"Sebaiknya dokter pulang saja. Biar nanti dokter Tasya yang menjelaskan ke keluarga pasien".
Nabila mengangguk lalu dirinya berdiri menuju keluar ruang operasi lewat pintu samping, bukan pintu utama. Suasana rumah sakit tampak sepi dan lengang. Nabila melihat jam dinding yang menunjukkan pukul dua malam.
Berarti aku tadi ada dua jam di ruang operasi.
Nabila kemudian menuju ruangannya. Tampak Rita tertidur di meja kerjanya dengan posisi kepalanya diletakkan di atas tangannya. Suara dengkuran halus terdengar. Nabila menutup pintu dan menguncinya lalu dia menuju kamar mandi untuk mandi serta berganti baju. Rita sudah meletakkan duffle bag yang berisi baju bersih di kamar mandi.
Usai mandi dan merasa segar, Nabila membereskan semua bawaannya lalu membangunkan Rita.
"Rit, Rita" panggilnya sambil menggoyang-goyangkan badan gadis itu.
Seketika Rita terbangun namun tampak masih belum menyatu nyawanya.
"No .. nona?" bisiknya serak khas orang bangun tidur.
"Yuk pulang" ajak Nabila.
"Nona nggak ngantuk nyetir nanti?" tanya Rita.
"Nggak lah, kan sudah mandi." sahut Nabila sambil membuka kunci pintu dan berjalan keluar diikuti oleh Rita. Tidak lupa dia mengunci ruangannya lagi.
Kedua gadis itu kemudian turun ke lantai dasar via lift, menyapa beberapa suster dan dokter jaga yang berpapasan lalu menuju ruang parkir.
Tanpa disadari Nabila dan Rita, sepasang mata tajam melihat keduanya masuk mobil.
Rupanya kamu yang melakukan operasi mama.
***
Nabila merasa terganggu ketika suara ponselnya berdering terus.
Damn! Aku baru bisa tidur ini! Siapa yang menggangguku tidur, akan kubuat dia menyesal!
"What!" bentaknya sambil merem.
"Whoah! Sayangku, galaknya" suara lembut Mike membuat Nabila membuka matanya dengan sempurna.
"Mike?"
"Assalamualaikum sayangku. Masih tidur?"
"Wa'alaikum salam. Semalam aku melakukan operasi dan baru bisa tidur jam tiga pagi" jawabnya sambil membenarkan posisi tidurnya yang semula tengkurap.
"Oh aku mengirimkan foto untukmu" kata Mike.
"Hah? Foto apa?" tanya Nabila penasaran.
"Buka sajalah".
Nabila membuka aplikasi WhatsApp karena Mike sekarang melakukan panggilan dengan telpon reguler.
Dan tanpa sadar dia memekik.
"MICHAEL CAHILL! Darimana kau mendapatkan foto ini???" bentaknya.
Mike tertawa terbahak-bahak.
Nabila cemberut. Foto yang menurutnya tidak patut disebar luaskan.
"Kamu sangat imut sayang" ucap Mike di sela-sela tertawanya.
Nabila pada saat masuk kuliah
"Ya ampun culunnya akuuuu" cebik Nabila.
"Tapi kamu memang imut" puji Mike.
"Sekarang amit yaaa?"
Mike tertawa lagi. "Tidak sayang, sekarang kamu dazzling"
"Astaga, siapa yang memberikan foto ku ke kamu?" Nabila masih takjub melihat wajahnya yang imut.
"Mamamu yang memberikan. Katanya buat wallpaper ku" kekeh Mike.
"Haaaiissshhhh mama!" geram Nabila.
"Hahahaha. Sayangku, bangun, mandi dan sarapan biar segar" bujuk Mike.
"Iyaaa iyaaaaa. Lho kamu sudah di rumah?" Nabila melihat jam Goropikadon nya yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
"Aku di rumah Dad dan ini weekend ya Nab".
Nabila menepok jidatnya lupa kalau hari ini hari Sabtu. Sudah waktunya belanja mingguan.
"Bawa Bryan sekalian, biar ada yang membantu membawakan nanti". titah Mike.
"Astaga Mike, memang aku mau belanja seberapa banyak?" kekeh Nabila.
"Siapa tahu mau borong satu toko" jawab Mike cuek.
"Isshhhh, walaupun uangku banyak bukan berarti foya-foya juga sayang. Beli itu seperlunya bukan seinginnya. Kalau keinginan terus dituruti yaaaa ga bakalan puas".
"Tapi aku hanya punya satu keinginan yang harus dituruti" jawab Mike kalem.
"Apa itu?"
"Menghalalkan dirimu"
"Aamiin."
Keduanya terdiam.
"Masih lamaaaa" keluh Mike dramatis.
Nabila terkikik. "Sabar sayangku, orang sabar disayang Tuhan".
"Bukannya orang sabar itu pantatnya lebar?" tanya Mike.
"Kau dapat istilah itu dari siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan adikmu yang selalu mengatakan dirinya cantik paripurna" Nabila tertawa keras. Vivienne itu memang level narsisnya akut.
"Kamu baru bertemu Vivienne sudah mengeluh, belum nanti bertemu adik dan sepupu perempuanku lainnya."
"Memang ada berapa sayang?"
"Selain aku dan Viv, masih ada Shanum adikku, Alexa yang di Jepang dan Yuna yang sekarang di Singapore."
"Apa kalian semua sama sifatnya? Cerewet dan bar-bar?" perasaan Mike mulai tidak enak.
"Iyaaa" gelak Nabila.
"Mati aku!" suara Mike melemah.
***
Usai percakapan absurd dengan Mike dan berbincang sebentar dengan Duncan, calon ayah mertuanya, Nabila memutuskan untuk belanja mingguan lalu sorenya akan menginap di mansion Pratomo. Kedua orangtuanya akan kembali dari urusan bisnis di Malaysia sore ini.
Nabila sudah menghubungi Bryan yang hari ini memang libur dari pekerjaannya sebagai OB gadungan. Bryan tetap menjadi OB agar lebih leluasa menjaga Nabila seperti permintaan Mike.
Kini ketiganya menuju mall terbesar di Jakarta untuk refreshing dan berbelanja. Sebelumnya sopir keluarga Pratomo datang membawakan mobil Toyota Camry milik papanya menggantikan FIAT panda Nabila yang terasa sempit jika Bryan ikutan di dalamnya. Badan pria itu memang tinggi.
Bryan menyetir mobil sedan itu dengan kecepatan sedang karena weekend jalanan di Jakarta agak lengang. Di dalam mobil Bryan dan Rita baru mengetahui bahwa pasien yang semalam dioperasi oleh nona mudanya adalah ibu dari Bagas.
"Nona tidak ingin membuatnya mati?" tanya Rita emosi.
Bryan melirik gadis manis di sebelahnya.
Ini anak malah nyuruh nonanya jadi pembunuh!
"Aku bukan pembunuh Rit walau sempat terlintas membuatnya meninggal karena penyakitnya" kekeh Nabila santai.
"Nona jangan ikutan seperti tuan Duncan yaaa" pinta Bryan.
"Nyaris aku terkontaminasi oleh Voldemort itu" ucap Nabila yang disambut tawa Bryan.
"Voldemort?" Rita menatap keduanya bingung.
Nabila menceritakan siapa Voldemort yang dimaksud dan Rita pun tertawa.
Kalau tertawa manis juga nih anak.
Bryan melirik Rita yang tanpa disangka terpergok oleh Nabila yang menaik-turunkan alisnya menggoda Bryan yang membuatnya salah tingkah.
"Nona Nabila jahat ih, masa calon mertua dipanggil Voldemort?" kekeh Rita.
"Mana aku tahu kalau nantinya jadi bakal camerku" sungut Nabila.
"Tapi tuan besar malah bangga dipanggil Voldemort nona" sahut Bryan sambil terkikik.
"Astagaaaaa! Apa semua pegawai Oom Duncan tahu akan hal itu?"
"Bahkan tuan besar sendiri yang menceritakan pada kami" Nabila melongo.
"Duh, ketua klan McGregor itu memang yaaa!" ucapnya sambil menekan area T wajahnya.
"Tenang nona, bagi tuan besar itu panggilan kesayangan khusus dari menantu yang sangat disayanginya."
"Tuan Bryan, apakah ada lowongan di klan McGregor?" tanya Rita tiba-tiba.
"Mau ngapain?"
"Pengen tahu jadi anak buah mafia. Kayaknya seru" ucap Rita sambil menerawang.
"Astaghfirullah!"
Rita Mariana, pengawal dokter Nabila
***