
Sejak malam Mike menunjukkan bahwa dirinya sudah bertunangan, dokter Carole semakin menjadi untuk berusaha mendekati Mike apalagi hari ini adalah jadwal Mike dan semua urusan Royal Infirmary untuk pulang ke Edinburgh.
Namun entah bagaimana semua staf Royal seperti membuat Carole tidak bisa mendekati Mike. Paling judes tentu saja suster Yolanda yang sudah seperti kakak dan ibu buat Nabila. Tidak ada celah untuk calon pelakor prinsipnya.
Mike berpamitan dengan kakek James bersama dengan dokter Sam dan berjanji akan kembali disaat Nabila dan Rita datang ke Edinburgh.
Kini rombongan Edinburgh naik bis kecil pulang lewat darat karena jarak dari lokasi bencana ke Edinburgh dibutuhkan perjalanan sekitar lima jam.
Mike dan Sam sedang memasukkan barang-barang mereka ketika dokter Carole menghampiri keduanya. Beberapa staf Royal pun menatap tidak suka dengan dokter yang agresif itu.
"Mike! Kamu tidak berpamitan dengan ku?" tanya Carole sambil menarik lengan Mike.
Mike menoleh ke arah Carole.
"Hi Carole. Bye Carole!" sahutnya dengan nada dingin dan mata birunya meminta agar tangan Carole lepas dari lengannya.
Sam bahkan melihat mata biru Mike mirip es iceberg karena tampak dingin.
"Kok gitu sih Mike?" rengek Carole manja.
"Dengar dokter Carole, kamu nggak cocok gaya kayak anak remaja gitu! Ingat umur!" Mike mengibaskan tangannya lalu berjalan masuk ke dalam bis diikuti oleh Sam yang tersenyum simpul meninggalkan Carole yang dongkol.
Tak lama bis rombongan pun pergi meninggalkan lokasi bencana dan akan digantikan dengan rombongan dari rumah sakit lain.
"Itu cewek bener-bener deh! Nggak ada malu-malunya!" omel Sam.
"Biarkan saja, kan dia bekerja di Inggris, nggak di Skotlandia." Mike menjawab dengan santai sambil memejamkan matanya.
"Aku tak tahu apa yang terjadi kalau Nabila disini" kekeh Sam.
"Hhhmmm... pertama dia akan mengkonfrontasi, kalau masih bandel, diajak ngomong baik-baik jilid dua, masih nggak mempan... Dihajar paling" jawab Mike kalem.
"Oh my God, Mike! Sebenarnya yang anak Duncan McGregor siapa sih? Kamu atau Nabila?" gelak Sam.
"Ayahku sendiri mengakui bahwa kami anak yang tertukar" keluh Mike dengan muka sok sedih.
Sam tertawa terbahak-bahak.
"Kau tahu apa yang Dad katakan pada papa mertuaku? Dia bersedia menukar aku dan Mario asal Nabila dan Shanum menjadi putrinya." Mike memanyunkan bibirnya.
Suster Yolanda yang duduk di depan Mike dan Sam langsung memutar badannya.
"Yang benar dok? Si Voldemort minta menukar anaknya?" goda suster Yolanda.
"Kau jangan sekali-kali ngompori pak tua itu!" ancam Mike dengan tetap masih terpejam.
"Soalnya dok Mike kurang bar-bar sih!" sambung suster Yolanda lagi.
"Bar-bar ku tetap kusimpan sampai waktunya aku keluarkan" sahut Mike.
Sam dan suster Yolanda hanya tersenyum simpul.
***
Nabila baru saja menyelesaikan laporan usai melakukan operasi pengangkatan tumor di rahim seorang gadis yang membuatnya déja vu.
Kedua orang tua gadis itu langsung shock mendengar bahwa putrinya kesempatan putrinya memiliki anak 50:50. Nabila sampai harus menceritakan kondisinya agar mereka lebih tabah bahwa keadaan putrinya bukan suatu kiamat.
"Hasil prognosis, tumor sudah diambil hingga ke akar-akarnya. Tetap harus kontrol rutin dan buat bapak ibu, putri anda masih bisa hamil dan memiliki anak walaupun kesempatannya 50:50" jelas Nabila. "Setidaknya ini lebih baik kondisinya dibandingkan saya."
"Apa Bu dokter mengalami hal yang sama dengan putri saya?" tanya ibu si pasien.
"Saya malah lebih parah, rahim saya sudah diangkat" jawab Nabila sambil tersenyum miris.
"Astaghfirullah" kedua orang tua pasien terkesiap.
"Saya malah sejak SMA sudah tidak memiliki rahim karena kondisinya memang harus diambil karena kalau tidak, membahayakan nyawa saya dan kedua orang tua saya memilih nyawa saya."
"Apa ada pria yang mau menerima putri saya dok, dengan kondisinya seperti itu" ayah si pasien menatap sendu putrinya.
"Insyaallah diberikan jodoh yang terbaik Bu, Pak. Saya sendiri yang skeptis akan pernikahan karena kondisi saya juga tidak menyangka mendapatkan calon suami yang mau menerima saya dengan kondisi apapun, bahkan calon mertua saya lebih sayang dibandingkan ke anaknya sendiri." Nabila mengusap tangan ibu si pasien.
Kedua orangtua si pasien mengangguk.
"Apakah calon suami dokter dan ayah mertua tidak meributkan ketika tahu kondisi dokter?" tanya si ayah.
"Alhamdulillah calon mertua saya sudah tahu sebelum tunangan saya memberitahu tapi beliau tidak mempermasalahkan karena melihat putranya mampu menerima saya."
"Anda beruntung dokter" sahut si ibu.
"Alhamdulillah. Mungkin karena calon suami saya bukan orang Indonesia yang cenderung julid bahkan ke hal-hal receh jadi lebih terbuka pola pikirnya" kekeh Nabila.
"Iya dok, orang sini itu ya ampun mulut dan jempolnya jahat" timbrung si ayah.
"Yang penting dijaga Bu, Pak perasaan putrinya. Terkadang kita harus kasih koco benggala yang artinya jangan menyakitkan orang kalau dirinya sendiri tidak mau disakiti. ltu juga dapat berarti perlunya pandangan jauh ke depan. Ini yang sekarang minus di kalangan masyarakat karena lebih mementingkan konten."
"Bener dok, dikit-dikit diviralkan. Ya ampun" gerutu si ibu.
Nabila masih memberi masukan pantangan makanan dan pengobatan lebih lanjut.
Kini di ruangannya, Nabila bersyukur kedua orangtuanya sangat mendukung dan menyayanginya sedemikian rupa, bahkan menerima Mike dan keluarganya.
Suara video call masuk di MacBook nya tampak nama Sean di sana. Nabila langsung menerimanya.
"Nabilaku sayaaannggg... Aku rindu padamu!" seru Sean dengan muka bantal. Nabila melirik jam yang menunjukkan pukul 11.15 siang berarti Edinburgh sekitar jam 4.15 pagi.
"Shift malam kah Sean ku sayang?" sapa Nabila sambil tersenyum.
"Aku kesepiaaaann" keluhnya dengan wajah manyun.
"Pada belum pulang?" Sean tahu yang dimaksud adalah Mike dan lainnya.
"Sudah tapi pada dikasih libur dan Mike tidak mau diganggu karena dia mau tidur seharian." Sean menyandarkan kepalanya di meja.
"Oohh poor Sean. I wish I am there right now" kekeh Nabila geli melihat sahabatnya seperti kurang asupan imun.
"Kembalilah kesini Nab. Setelah menikah dengan pria bermata es itu, kembalilah kesini karena aku butuh bantuanmu memisahkan Brandon dan Vivienne. Aku sudah cukup pusing dan Tante Adinda tidak membantu sama sekali" Sean menghela nafas panjang berulang secara dramatis.
Nabila tertawa terbahak-bahak melihat sahabatnya yang tampak lelah menghadapi kedua orang yang selalu bertengkar setiap bertemu. Brandon adalah sahabat Nabila dan asisten Tante Adinda sedangkan Vivienne adalah putri Adinda.
"I need you Nab. Pulanglah" rengek Sean.
Suara ketukan di pintu mengalihkan pandangan Nabila dari layar MacBook nya. Tampak suster Nia masuk setelah mengetuk tiga kali.
"Ada apa suster Nia?"
"Dokter, pasien tuan Arya tidak mau di visite oleh dokter lain, maunya dok Nabila."
Nabila mengerenyitkan dahinya.
"Siapa itu Arya, Nab?" tanya Sean langsung semangat kepo. "Awas aku laporkan ke Mike!"
"Salah seorang pasienku yang rewel!" jawab Nabila ke Sean. "Aku pergi dulu Sean, lap mukamu masih ada bekas brownies di sudut bibirmu".
"Bye Baby!"
Nabila menutup MacBook nya lalu mengambil stetoskop dan buku catatannya dan keluar ruangannya bersama suster Nia.
"Ayo, kita ke ruangan tuan pemarah itu!"
***
Yuhuuu
Up pagi yaaaa
Don't forget to like vote n gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️