
Mike dan Nabila tiba di mansion Pratomo dan langsung masuk ke kamar masing-masing. Nabila masuk ke kamarnya dulu yang masih belum berubah dengan pernak-pernik Sanrio di dalamnya, sedangkan Mike berada di kamar tamu sebelahan dengan sang ayah.
Keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah letih menghadapi semua peristiwa yang terjadi dua hari ini.
Papa Adrian dan Duncan pun tidak mengganggu keduanya, bahkan Duncan sendiri juga memutuskan untuk kembali istirahat di kamar.
***
Pukul setengah lima sore, Nabila terbangun. Sempat mengalami disorientasi tempat, Nabila memutuskan membersihkan diri dan sholat asar.
Setelahnya, Nabila keluar kamar dan menuju dapur. Perutnya sudah bernyanyi dan dia baru ingat terakhir dia makan adalah tadi pagi di rumah sakit. Bahkan makan siang pun dia lewatkan.
"Sore nona Nabila" sapa pak Indra.
"Sore pak" sapa Nabila "Aku lapar. Apa ada mie instan atau apalah buat ganjal perut?" ucapnya sambil membuka lemari pantry dan kulkas.
"Saya buatkan sandwich dulu ya nona".
"Boleh deh!" Nabila lalu mengambil cangkir dan membuat hot choco lalu dia duduk di meja dapur.
Tak lama Mike pun masuk dapur dengan kondisi sudah mandi, segar dan harum.
"Aku lapar!" serunya.
"Sini duduk manis!" ajak Nabila untuk duduk di stool meja dapur. Mike pun menurut.
Tak lama, pak Indra menyajikan enam potong sandwich berisi potongan ayam suwir lengkap dengan tomat, keju dan saus guacamole.
Mike dan Nabila langsung menyantap sandwich yang dibuat oleh pak Indra bagaikan orang kelaparan.
"Nona Nabila, tuan Mike pelan-pelan makanannya" kekeh pak Indra.
"Kami kelaparan pak" gumam Mike sambil mengunyah sandwich nya.
"Astaga, kalian berdua kenapa?" tanya papa Adrian yang masuk ke dapur.
"Mereka kelaparan tuan" jawab pak Indra.
"Jam makan malamnya dimajukan saja pak Indra. Kasihan dua anak ini kelaparan" kekeh papa Adrian.
"Baik tuan".
Papa Adrian duduk di depan meja dapur menghadap Nabila dan Mike.
"So?"
Tahu siapa yang dimaksud, Nabila hanya memberikan kode OK dengan jarinya karena mulutnya penuh dengan roti.
"When?" tanya papa Adrian lagi.
"Tiga hari lagi Pa" jawab Mike.
"Okelah. Papa disini dulu sebelum menyusul mamamu yang pusing hadepi Shanum."
"Kenapa lagi tuh bocah?" tanya Nabila.
"Yang dia hajar adalah salah satu anak politikus di Perancis tapi papa juga nggak bisa salahin Shanum 100% karena kamu tahu sendiri adikmu punya kode tertentu soal desainnya jadi oknum itu nggak bisa mengelak hanya saja kebar-baran adikmu overload jadi papanya tuh oknum nggak terima" keluh papa Adrian.
"Boleh tahu siapa nama politikus itu Ad?" tanya Duncan yang baru datang ke dapur.
"Louis Baptiste, putrinya bernama Camille Baptiste."
Duncan kemudian menelpon Edward Blair.
"Edward, aku minta tolong padamu. Cari info politikus bernama Louis Baptiste dan anaknya yng bernama Camille Baptiste."
" ... "
"Camille memplagiat desain milik Shanum adik Nabila." Duncan menjeda sejenak. "Shanum kuliah dimana?"
"École nationale supérieure des Arts Décoratifs (ENSAD)" jawab Nabila.
"Kau dengar itu Ed? Oke, aku tunggu. Thanks." Duncan kemudian menutup telponnya.
"Now, we wait" cengir pria berusia 50 tahun itu.
Mike hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu lakuin apa D?" tanya papa Adrian seraya menyesap teh herbalnya.
"Dad mencari dark side dari orang itu, pa" sahut Mike jengah.
"Hei, aku tahu Shanum tidak mungkin memplagiat karya orang. Dia cerdas!" bela Duncan.
"Dari mana Dad tahu?" tanya Nabila.
"Adinda yang menunjukkan desain karya Shanum yang hendak dipakai untuk kantor di Edinburgh". Duncan kemudian membuka galeri ponselnya lalu menunjukkan desain kantor yang kesannya kontemporer dengan sedikit sentuhan Mediterania.
"Bagus" puji Mike.
"Ada kode tertentu dan itu hanya Shanum yang tahu" Duncan tersenyum smirk "aku pun tahu kodenya".
"Whoah, Dad! Kodenya seperti apa?" tanya Mike semangat.
"Haaaiissshhhh, Dad nggak asyik!" umpat Mike.
"Maaf tuan-tuan dan nona, malam ini kita mau makan malam apa?" sela pak Indra.
"Kamu mau apa D?" tanya papa Adrian.
"Aku ingin sup iga" sahut Duncan.
"Consider it's done!" jawab papa Adrian.
***
Rita pulang ke mansion setelah diberi Omelan oleh Nabila dan tadi dijemput oleh sopir papa Adrian. Walaupun berat, namun gadis itu pulang juga meninggalkan Bryan bersama Jack di rumah sakit.
Mike menelpon Jack kalau dirinya menunda ke rumah sakit malam ini karena merasa badannya letih luar biasa. Jack menyanggupi untuk tetap bersama Bryan.
"Jack, apakah tuan Edward kemari?" tanya Bryan setelah Rita pulang.
"Nggak Bry. Dilarang oleh boss besar" jawab Jack. "Kau tahu kan kalau sampai tuan Edward kemari, lintah itu sudah hilang tanpa jejak."
"Hah, aku tak mau pulang ke Skotlandia" wajah Bryan tampak murung.
"Karena Rita?" selidik Jack.
Bryan tersenyum gugup dan wajahnya memerah. Jack tertawa melihat adik angkatnya malu-malu kucing gitu.
"Dia juga menangisi dirimu semalaman". Bryan menoleh ke arah Jack yang duduk di sofa sambil bermain ponselnya.
"Benarkah?" Jack mengangguk.
"Bahkan tadi meminta tuan muda untuk mencincang si lintah. Bahaya tuh anak kalau dituruti otak psychonya" kekeh Jack.
"Kau tahu Jack, Rita malah minta masuk ke klan kita. Katanya dia ingin menjadi mafia seperti kita."
Jack terkejut. "Whoah! Kelamaan bersama nona Nabila, ketularan bar-barnya".
Kedua pria itu tertawa namun sejurus kemudian Bryan meringis karena dadanya agak nyeri kalau dipakai tertawa. Tulang rusuknya memang ada yang retak disana.
"Jangan tertawa dulu, Bry. Kamu masih belum fit."
"Iya nih. Aku tidur dulu ya Jack. Pengaruh obat ini membuat aku ngantuk terus." Bryan kemudian memejamkan matanya.
"Tidurlah". Jack pun berbaring di sofa besar.
Kemudian dia membuka aplikasi pesan. Dicarinya nama Dian Pratiwi.
📩 Jack : selamat malam. apa nona Dian sudah tidur?
Jack melirik jam Tissot coturier hitamnya.
Pukul sembilan malam. Tampaknya dia sudah tidur karena besok pagi sudah bekerja di kantin.
Ting!
Jack melihat notifikasi di ponsel hitamnya.
📩 Dian Pratiwi : selamat malam tuan Jack. Ini saya baru mau tidur.
📩 Jack : Baiklah. Sampai besok pagi. Aku akan pesan nasi ramesnya.
📩 Dian Pratiwi : absolutely. Besok saya siapkan dua piring untuk tuan dan adik tuan.
📩 Jack : good night.
Dian tidak membalas pesan Jack namun pria itu senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.
Besok saya siapkan dua piring untuk tuan dan adik tuan.
Haaaahhhh, jadi tidak sabar menunggu hari esok!
Jack pun memejamkan mata. Badannya pun terasa lelah.
***
Mansion Pratomo.
Duncan McGregor membaca file yang dikirimkan oleh Edward Blair. Seringai licik menghias wajahnya.
Jangan pernah bisa lepas dari klan McGregor dan keluarganya.
Besok dia akan memberikan semuanya kepada Adrian.
***
Yuhuuu.
Morning.
Don't forget to like vote n gift yaaa.
Tararengkyu ❤️🙂❤️