Just The Way You Are

Just The Way You Are
Ready To Go



Nabila bekerja seperti dikejar Chibi anjing pom peliharaan Vivienne yang sering dibilang bola football berbulu oleh Sean. Kalau Nabila main ke rumah Vivienne yang di Manchester, Chibi selalu mengikutinya karena Nabila memang suka memanjakannya.



Chibi The Pomeranian anjing milik Vivienne.


Gadis itu ingin semua target kerjanya tercapai sebelum dia berangkat liburan ke Inggris. Jack akhirnya menembak Dian dan diterima, bahkan semalam ibu Dian meminta bertemu dengan Nabila untuk memperkuat restu kepada putrinya dan pria berwajah dingin itu.


Tentu saja Nabila menyetujuinya untuk bertemu ibunya Dian dan tentu saja Jack tidak lepas dari kejahilannya.


"Aku merasa sudah tua, Jack" keluh Nabila.


"Kenapa nona?" tanya Jack yang menyetir mobil Toyota Camry milik papa Adrian menuju rumah keluarga Dian.


"Ini kayak nganterin anak mau lamaran" kekeh Nabila. Rita yang duduk di belakang pun ikut tertawa terbahak-bahak. Jack hanya mengusap tengkuknya dengan kikuk.


Sesampainya di rumah sederhana keluarga Dian, mereka disambut dengan baik dan akhirnya ibunya Dian menyetujui hubungan Jack dan putrinya dengan syarat jangan lama-lama berpacaran. Jack dengan gentleman menyanggupi keinginan calon mertuanya yang akan menikahi Dian setelah dia wisuda. Nantinya setelah menikah, Dian akan ikut Jack ke Skotlandia.


Dan kini Nabila berkutat dengan para pasiennya yang semakin hari semakin banyak.


***


"Nona, kita akan berapa lama di London?" tanya Rita sambil menikmati soto Betawi nya. Keduanya sekarang berada di sebuah restoran masakan Nusantara dekat rumah sakit. Jack kali ini tidak ikut karena menemani Dian yang masih mengurus administrasi untuk wisuda.


"Sekitar dua Minggu, Rit. Kenapa? Kamu ada acara keluarga?" Nabila masih menikmati capuccino nya.


"Ada, berduaan dengan Bryan" cengir Rita yang langsung kena toyoran Nabila. "Kan ga cuma nona saja yang boleh bahagia, saya juga dong!"


"Lagakmu Rit" kekeh Nabila.


"Kan saya sama ma nona, sama-sama punya pasangan tapi berasa jones" gelak Rita.


Kedua wanita itu pun tertawa bersama.


"Boleh saya duduk disini?" Nabila dan Rita menghentikan tawanya begitu tahu siapa yang datang.


Arya Wisama datang dengan mengenakan jas warna hitam, kemeja putih, dasi hitam dan tampak begitu resmi.



"Selamat siang pak Arya" sapa Nabila.


"May I?" tanya Arya lagi.


Nabila menggeleng sedangkan Rita mengangguk. Arya tersenyum geli melihat dua wanita cantik di depannya namun dia tetap memutuskan duduk di meja yang sama.


"Saya sedang menunggu rekan bisnis saya disini" Arya memanggil pelayan dan memesan hot cappucino.


Nggak nanya- batin Rita.


So, apa aku harus bilang wow gitu- batin Nabila.


"Kalian kok tumben maksi disini?"


"Apa tidak boleh?" sahut Rita dingin dan wajahnya datar.


Arya mengacuhkan sarkasme Rita.


"Tadi saya dengar kalian hendak liburan ke London? Kota yang indah. Bukannya dokter Nabila pernah bertugas disana eh di Edinburgh ya"


"Not your business, pak" sahut Rita lagi.


Arya tersenyum mendengar ucapan Rita.


Aku harus sabar menghadapi pengawal yang mirip anjing bulldog ini.


"Pak Arya" suara seorang wanita membuat ketiganya menoleh. Tampak wanita itu memakai dress ketat bewarna putih yang menonjolkan aset di dadanya dan ukuran dress-nya yang pendek diatas lutut menonjolkan kakinya yang jenjang. Rambut coklat panjangnya ditata ikal besar.



"Iya? Nona Tisya?" tanya Arya.


"Benar saya Tisya. Mari pak Arya, saya sudah memesankan meja untuk kita berdiskusi." Wanita yang bernama Tisya menatap remeh ke arah Nabila yang saat ini hanya mengenakan make-up tipis, blouse putih yang dipadu blazer hijau toska sedangkan Rita masih setia dengan kamisol putih yang dipadukan blazer biru navy.



Arya pun berdiri untuk pergi bersama Tisya.


"Dokter Nabila, tidak usah membayar. Bill on me" ucap Arya.


"No thanks pak Arya. My meal my bill."


Arya hanya menatap Nabila dan Rita lalu meninggalkan keduanya mengikuti Tisya.


***


"Ya ampun biatch nyaaaa" omel Rita. "Kayak kita doyan-doyannya sama pak Arya. Sana bawa pulang, kekepin, karungi, kalau perlu dimumiin sekalian biar ga kemana-mana!"


Nabila tertawa mendengar Omelan Rita yang mirip ibu-ibu kompleks yang gemes nonton sinetron.


"Sudah yuk, kita sudah selesai makan kan?" Nabila pun berdiri begitu juga Rita. Di meja kasir, Nabila mengeluarkan kartu debit namun sebuah tangan menahannya.


"Biar saya yang membayarnya" suara Arya membuat Nabila menoleh.


"Tidak usah pak Arya. Terimakasih." Nabila tetap menyerahkan kartu debitnya.


Arya hanya menatap Nabila.


"Segera kembali ke meja pak, nona Tisya menunggu bapak dan sepertinya tidak sabar mengarungi anda" kekeh Nabila yang melihat wajah tidak suka Tisya yang ditujukan padanya.


Arya mengalihkan pandangannya ke arah Tisya yang masih menatap Nabila.


"Permisi pak Arya" pamit Nabila dan Rita.


"Berapa lama kamu akan pergi, dok?" tanya Arya.


"Up to me" senyum Nabila sembari keluar dari pintu restauran.


Arya hanya menghela nafas panjang dan dengan langkah berat menuju meja dimana Tisya menunggu.


***


Akhirnya hari yang ditunggu Nabila dan Rita tiba. Kini ketiganya sudah bersiap menuju bandara dan menurut Jack, Dian sudah siap. Menggunakan Toyota Alphard milik mama Niken yang disopiri oleh salah satu sopir papa Adrian, ketiga orang itu berangkat menuju rumah Dian yang satu arah ke bandara.


Sesampainya di rumah Dian, gadis itu sudah siap. Setelah berpamitan dengan ibu Dian, mereka melanjutkan perjalanan.


Mobil hitam mewah itu berhenti di depan pintu keberangkatan khusus jalur VIP. Dian membantu Nabila dan Rita yang menurunkan tas di kursi tengah sedangkan Jack dan pak sopir menurunkan koper-koper besar mereka.


Keempatnya berjalan memasuki ruang VIP dan kali ini Dian mendapatkan pass khusus. Jack dan Dian duduk berdua sembari bercengkrama membuat jiwa usil Nabila muncul.


"Puas-puasin dah kalian berdua soalnya nanti Jack akan kembali jones di London karena giliran kita yang bertemu pasangan masing-masing" sindir Nabila.


"Iya deh nona Nabila" jawab Jack pasrah.


Ketika keempatnya asyik bercanda, terdengar suara ribut-ribut di depan pintu, yang membuat Jack dan Nabila keluar.


Tampak seorang pria tampan sedang berdebat dengan para petugas keamanan.


"Mangga?" Pria itu yang ternyata Manggala, langsung sumringah melihat Nabila.


"Nabnab, tolong bilang pada mereka bahwa aku boleh masuk!" Gala yang tampil santai memohon pada sahabatnya. "Aku sudah menunjukkan kartu anggota kepolisian tapi tetap saja nggak boleh masuk padahal Oom Duncan yang memintaku datang ke London!" Gala memberikan ponselnya kepada Nabila yang menunjukkan percakapan calon mertuanya dan dirinya.


"Biarkan pak Manggala masuk pak. Dia itu anggota kepolisian dan memang diminta ikut oleh Mr McGregor" pinta Nabila pada kedua pengawal yang memang dikirim oleh Duncan untuk berjaga di pintu masuk.


Gala tersenyum penuh kemenangan.


"Dasar bule ga paham!" omel Gala dengan bahasa Indonesia.


"Kamu ngapain ngintilin aku Ga?"


"Ada urusan sama Oom Duncan. Pekerjaan penting!" ucap Gala cuek.


"Oh."


Jack menerima telepon dari pilot yang akan menerbangkan pesawat pribadi milik keluarga McGregor dan rombongan pun berangkat ke London meninggalkan Dian yang pulang diantar oleh sopir Nabila.


***


Yuhuuu


maaf baru Up


FYI, foto anjing Pomeranian itu milik author sendiri lho cuma sayang sudah rip.


eniwaiii...


Don't forget to like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️