Just The Way You Are

Just The Way You Are
Dua Ayah



Mike berjalan cepat ke ruangan ICU tempat Bryan dirawat dan dia melihat gadisnya sedang berdiskusi dengan seorang dokter disana. Rita dan Jack masih tetap memandang Bryan dari balik kaca.


"Darling" sapanya sambil memeluk pinggang Nabila.


"Halo, sayang" jawabnya tanpa menolehkan wajahnya dari iPad yang dipegang dokter itu. Mike cemberut karena gadisnya malah mengacuhkan dirinya.


"Jadi so far aman ya Dok kalau kita bawa ke Edinburgh karena keluarganya disana?" tanya Nabila ke dokter berumur itu.


"Aman dokter Nabila. Apalagi fisik tuan Bryan sangat prima jadi proses penyembuhan bisa lebih cepat ditunjang dengan fisioterapi rutin nantinya."


"Baik dok. Terimakasih."


"Hari ini tuan Bryan bisa kami pindahkan ke ruang rawat agar lebih nyaman."


"VVIP ya dok" kali ini Mike membuka suara.


"Siap dokter Cahill."


Usai berbincang sejenak, dokter paruh baya itu kemudian meninggalkan Mike dan Nabila. Melihat tuan mudanya datang, Jack dan Rita pun menghampiri Mike.


"Tuan muda, boss besar gimana? Udah cincang bang***at itu?" tanya Jack geram.


"Boss besarmu pulang ke masion papa mertua. Tadi aku tidak ijinkan Dad masuk, jadi aku yang masuk ke ruang interogasi" jawab Mike.


"Apa yang tuan Mike lakukan?" tanya Rita semangat. "Apa tuan menyayat tubuh kupret itu seperti melakukan operasi atau menghajarnya hingga babak belur?"


"Aduuuuhhh!" Rita mengusap keningnya yang terkena sentilan Nabila.


"Kamu tuh malah tendensi psycho!" omel Nabila.


"Wah, cocok ini masuk ke klan kita tuan muda" seru Jack. "Aduuuuhhh!" kali ini Jack yang mengaduh akibat pukulan Mike.


"Kamu nggak usah jadi kompor!" hardik Nabila.


"Anyway, intinya tadi adalah..." Mike menggaruk kepalanya "Aku mau ngomong apa tadi?"


"Bagas!"


"Kutu kupret!"


"Bang***at!"


Mike melongo. Ini kenapa bertiga jadi kompak begini ya dan kenapa Nabila masih memanggil namanya. Awas kamu ya Nab!".


"Intinya kami tetap menuntut kejahatannya menjadi hukuman yang sangat berat. Dan, tidak Rita, dia masih utuh tapi tidak dengan mentalnya."


Rita cemberut. "Harusnya tuan tadi menyiksanya karena dia sudah membuat Bryan ku seperti itu."


"Bryan ku?" ketiga orang disana kompak mengucapkan kata itu.


"Eh?" Rita hanya nyengir kikuk.


"Sejak kapan Rit?" tanya Nabila.


"Errr... Saya yang memiliki perasaan itu sejak kita ke Surabaya, entah Bryan." Rita menunduk malu.


"Awas nanti ketemu Edward Blair, berubah lagi" goda Nabila.


"Nggak nona... insyaallah" bisik Rita yang disambut gelak Mike dan Nabila sedangkan Jack hanya terdiam.


"Dokter Nabila" suara seorang suster membuat keempatnya menoleh. "Pasien tuan Bryan sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat."


"Oh baik sus." Nabila, Mike, Rita dan Jack menunggu di depan pintu ICU melihat Bryan masih dipersiapkan untuk dipindahkan.


***


Duncan sudah sampai di mansion Pratomo dan pak Indra sebagai kepala pelayan mengantarkan ke kamar tamu.


"Tuan Adrian sedang istirahat di kamar, tuan McGregor. Tadi beliau berpesan agar anda juga beristirahat dulu".


"Terimakasih pak Indra" jawab Duncan.


"Sama-sama tuan." Pak Indra kemudian menutup pintu kamar tamu.


Duncan mengedarkan pandangannya ke kamar yang tertata apik dengan desain Mediterania. Kamarnya sendiri tidak terlalu luas namun sangat nyaman dan apik dengan tempat tidur king size bernuansa biru putih, jendela yang membuat sinar matahari masuk dan udara segar. Ditambah ada pintu yang menghubungkan dengan kolam renang di belakang.



Duncan sangat menyukai layout yang dibuat Adrian. Tak heran dia menjadi arsitek terkenal karena memiliki wawasan luas akan dunia arsitektur.


Pria berumur itu memandang luar rumah mansion Pratomo yang berbeda dengan mansionnya. Tanpa sadar dia membuka pintu yang menuju kolam renang. Disana tampak seorang pelayan pria sedang memotong rumput.


"Sir?" sapanya ketika melihat pria bule itu.


"Sure Sir. You can find new swimsuit at that cabin ( anda bisa menemukan pakaian renang baru di bilik itu )." pelayan itu menunjukkan sebuah bilik dekat tempat shower untuk membersihkan diri.


"Do you think there are any size of mine? ( apa kira-kira ada yang ukuran saya )".


"Don't worry sir, banyak kok sizenya. Tuan Adrian selalu menyimpan banyak." Duncan mengangguk lalu menuju kabin yang ditunjukkan. Setelah dibuka, semua perlengkapan berenang ada disana dan masih dalam keadaan baru.


Duncan memilih memakai celana renang model bicycle pant, membawa handuk besar dan sunblock. Setelah melakukan pemanasan sekitar setengah jam, Duncan memulai ritual berenangnya.


Hampir sepuluh putaran dia lakukan lalu pria itu beristirahat di pinggir kolam. Beberapa pelayan perempuan sempat mengintip bule yang tampak hot Daddy itu, ditambah bentuk tubuhnya masih dijaga dengan perut rata walaupun tidak terlalu berkontak dan bekas-bekas luka semakin menambah maskulin.


"Segar berenangnya?" tanya papa Adrian sambil membawa secangkir kopi.


Duncan menoleh ke arah calon besannya.


"Lumayan membuat badan segar" ucapnya sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar.


"Ayo duduk di sini" ajak papa Adrian.


Duncan pun mengambil kimono handuk untuk menutupi tubuhnya dan menuju sofa yang berada di pojok kolam.



"Dinikmati jajanan khas Indonesia" papa Adrian memberikan piring besar berisikan banyak camilan.



"Teh or kopi?" tawar Papa Adrian.


"Teh saja. Aku nanti mau istirahat setelah ini."


"Kau sudah sarapan tadi, D?" tanya papa Adrian. Duncan biasa dipanggil 'D' oleh teman-teman terdekatnya termasuk papa Adrian.


"Tadi dibawakan oleh si Mangga" jawabnya sambil menggigit Semar mendem. "Hmmm enak!"


"Istriku biasa harus ada jajanan pasar kalau aku pulang."


"Niken masih acara fashion show di Paris?" tanya Duncan sambil mengambil arem-arem.


"Sekalian nungguin Shanum yang kuliah di sana. Kemarin dia bikin ulah di kampus jadi mamanya harus menghadap dekan" kekeh Adrian.


"Apalagi ulahnya?"


"Menghajar teman yang plagiat desainnya" Papa Adrian menjawab seolah bukan hal besar.


"Anak-anakmu memang bar-bar" kekeh Duncan.


"Semua anak perempuan di keluarga Pratomo memang bar-bar".


"Itulah yang disuka anakku" kedua pria itu tertawa mengingat anak-anak mereka menjadi pasangan bahkan sudah bertunangan. Siapa yang mengira anak ( mantan ) mafia bertunangan dengan putri arsitek terkenal.


"Apa kamu bisa menerima Nabila yang tidak bisa memberikan keturunan untuk Mike?" tanya Adrian hati-hati. Meskipun Duncan dan Mike tampak menerima Nabila, tapi tetap saja sebagai ayah dia tidak mau putrinya terluka.


"Aku sudah tahu sehari sesudah dioperasi oleh anakmu karena aku melihat putraku begitu menyayanginya. Aku tidak pernah melihat Mike seperti itu pada seorang wanita." Duncan menyesap teh panasnya. "Dia tipe pria yang sulit jatuh cinta tapi sekalinya menemukan wanita yang membuatnya uring-uringan, dia akan menjaganya seumur hidup."


"Terimakasih telah memberikan putramu pada putriku." Adrian mengulurkan tangan yang disambut oleh Duncan.


"Mike pernah berkata padaku bahwa dia tidak mempermasalahkan Nabila tidak bisa memberikan keturunan karena yang dia cintai hanya Nabila dan dia ingin menua bersama putrimu." Duncan menatap lurus pada Adrian.


"Syukurlah".


"Lagipula, kalau anakku tidak serius dengan putrimu, mana mau dia menjadi mualaf." Duncan tertawa.


"Alhamdulillah" senyum Adrian yang semakin mantap menyerahkan putrinya pada Mike yang dia yakin akan selalu mencintainya.



Dad Duncan McGregor


***


Yuhuuu akhirnya up juga.


Ohya jangan lupa dukung cerita author yang lain


- You're The Only One ( Shanum, adiknya Nabila )


- menikahi Suami Sahabatku


Tararengkyu ❤️🙂❤️