Just The Way You Are

Just The Way You Are
Ngajak Gelut



Hari ini adalah hari yang sibuk buat Nabila. Setelah melakukan visite pasien seperti biasa, dia menerima beberapa pasien rawat jalan yang telah melakukan operasi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Usai pemeriksaan, Nabila memutuskan makan siang di ruangannya bersama Rita dan Bryan.


Soal Bryan, Nabila akhirnya mengetahui Mike mengirim pengawal kepercayaan ayah dan Edward untuk keselamatan dirinya. Duncan yang membocorkan rahasia itu ke Nabila dan tentu saja membuat Mike salah tingkah ketika melihat tatapan horor Nabila ketika mereka melakukan video call.


"Kenapa sih kalian sukanya membuat keputusan sepihak tanpa menanyakan kesediaanku?" omel Nabila saat itu.


"Karena aku, Sean dan Dad khawatir akan dirimu sayang" jawab Mike semesra mungkin agar mood gadisnya membaik.


"Kau kira aku tidak bisa menjaga diri? Apa gunanya aku belajar bela diri kalau bukan untuk itu?" wajah jutek Nabila yang dirindukan Mike muncul.


"Kami percaya kau bisa menjaga diri tapi alangkah baiknya ditambah pengawal agar si lintah itu tidak mendekatimu!"


"Lintah?" tanya Nabila.


"Iya, si Bagas. Kau tahu perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan dan ayahnya sedang berusaha mencari investor. Kebetulan salah satu investornya adalah Oom mu dan Bagas berusaha mendekatimu agar saham-saham mu bisa jatuh di tangannya". papar Mike.


Nabila tercenung. Sebenarnya dia sendiri sudah merasakan hal yang tidak beres mengapa Bagas gencar sekali mengejarnya. Ternyata feeling nya benar.


"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


"Bryan adalah salah satu hacker yang berada di klan McGregor. Tidak perlu menjadi seorang CEO untuk bisa mengetahui tujuannya". jawab Mike. "Pria itu tidak mau hidup melarat Nab. Sebelum kau datang, rupanya dia sudah mencari wanita-wanita lajang yang kaya untuk dijadikan istri namun dia merasa wanita-wanita itu kurang kaya. Ketika kau datang dan dia mengetahui siapa dirimu, dia merasa kau sebagai angsa telur emas. Jangan lupa, dia tahu kau tidak akan bisa memberikan keturunan sehingga semua kekayaanmu bisa jatuh ke tangannya jika terjadi padamu dan aku tidak mau hal jelek terjadi padamu." papar Mike.


"Apakah kau seorang peramal Mike?" Nabila memincingkan matanya.


Mike tertawa. "Bukan sayang, hanya saja aku sudah banyak belajar kehidupan macam itu dari kecil. Apakah kau lupa ayahku seorang mafia? Bahkan kakekku dari pihak mom juga seorang mafia Italia. We've already seeing everything darling. Jadi langkah-langkah yang hendak diambil lintah itu, bisa kebaca olehku, Daddy dan papamu".


Semua pembicaraan dengan Mike membuat Nabila lebih waspada. Selama ini Nabila hanya mengacuhkan Bagas tanpa ambil pusing tujuan utama pria itu. Baginya mantan ya tetap mantan yang tidak perlu diambil lagi apalagi dia sudah melalukan kesalahan yang super fatal padanya. Dendam? Nabila sudah melupakan karena bila terus mengingatnya hanya membuat dirinya sakit hati dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya.


Masih banyak hal yang harus dia pikirkan dan kerjakan. Kejadian sepuluh tahun lalu sudah dia lupakan dan kini biang keroknya muncul kembali. Nabila harus lebih tegas dan berhati-hati dan ia bersyukur keluarga dan kekasihnya sangat melindungi dirinya.


"Nona Nabila" panggil Bryan.


Nabila tersentak dari lamunannya. "Eh, iya? Ada apa Bry?"


Bryan dan Rita tersenyum. "Kalau makan, jangan melamun nona, gak baik" ucap Rita. "Lagi melamunkan tuan Mike yaaaa"


Wajah Nabila memerah malu.


"Tak apa nona, tuan muda juga sama kok" timpal Bryan sambil nyengir.


"Apaan sih kalian!" gerutu Nabila kikuk.


Ketiganya tertawa namun seketika dikejutkan ribut-ribut di depan pintu ruangan praktek Nabila yang sejurus kemudian terbuka dengan kasar. Tampak Bagas dengan muka kesal masuk ke dalam.


"Oh, jadi ini biangnya yang membuat kamu tidak pernah mau makan siang denganku? Si OB ini? Kelas kamu rendahan sekali Nab!" hina Bagas ke arah Bryan. Memang pada saat ini Bryan masih mengenakan seragam OB nya.


"Apa maksudmu Pak!" bentak Nabila. Kali ini dia tidak akan menahan diri lagi.


"Kau lebih memilih makan siang dengan pembantumu dan OB ini dibandingkan denganku?"


"Apa kelebihan OB ini daripada aku?"


"Setidaknya dia tidak ada niat jahat padaku! Tidak seperti orang yang berniat mendekatiku demi nama dan kekayaan keluargaku!"


Wajah Bagas memucat.


"Ya Bagas, aku tahu semua tentang kondisi keuangan keluargamu! Keluarga sombong yang dulu juga menghinaku karena aku tidak mampu memiliki anak. Apa kau tidak ingat ketika mamamu menengok diriku pasca operasi? Dia sama saja denganmu! Beruntung pada saat itu kedua orangtuaku tidak ada di tempat. Kau dan mamamu sama saja, menghina diriku! Aku tidak habis pikir, sebagai sesama perempuan, empati mamamu NOL! Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kalian tahu pada saat itu aku anaknya siapa!" Nabila menarik nafas.


"Jadi dengarkan aku Bagas Prawiraatmadja, jangan pernah mendekati aku atau pun berhalu bisa menikahi diriku karena bagiku kamu dan keluargamu sudah tidak ada artinya dalam hidupku. Dan pula, aku sudah memiliki tunangan yang sama KAYANYA dengan keluargaku! Kamu sekarang hanya pria yang TIDAK KAYA bahkan kamu pria miskin perasaan!"


Bagas yang mendengar ucapan Nabila tidak bisa menahan emosinya dan hendak menampar gadis itu namun sebuah tangan kekar menahannya.


"Kalau anda berani menyentuh seujung rambut nona Nabila, anda akan tahu akibatnya!" desis Bryan dengan wajah seram dan bernada dingin.


Bagas meringis karena cengkraman Bryan sangat kencang dan rasanya nyaris mematahkan pergelangan tangannya.


"Bry, sudah, lepaskan dia". ucap Nabila dengan nada sama dinginnya.


Bryan pun melepaskan Bagas yang kemudian membalikkan tubuhnya. Namun sedetik kemudian dia berbalik menatap Nabila.


"Ini belum berakhir Nab! Akan aku hancurkan kau!"


"Silahkan! Silahkan kamu ngajak gelut aku! Aku tidak takut! Tapi ingat, kamu salah memilih lawan! Aku bukan Nabila yang dulu yang kau ingat!" Nabila menatap Bagas dengan tatapan tajam dan aura dingin menyeruak di ruangan itu. Bahkan Rita dan Bryan sendiri merasa bergidik.


Tuan Muda harusnya melihat bagaimana nona muda sama denganmu jika sudah marah.


Bagas menunjuk Nabila dengan tatapan mengancam kemudian pergi keluar.


Nabila kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi. Tubuhnya merasa lemas. Marah-marah pun butuh energi kaleee Nab.


Rita mengambilkan segelas air putih kemudian diserahkan kepada Nabila yang langsung menghabiskannya.


"Nona baik-baik saja?" tanya Bryan.


"Fine Bry. Memang dia harus dibentak supaya tidak seenaknya!" jawab Nabila masih emosi.


Rita mengelus-elus punggung nona mudanya.


"Hah, nampaknya aku harus ke Dojo deh tapi... ah aku ada operasi nanti jam empat sore." wajah Nabila langsung manyun.


"Semangat nona. Konsentrasi untuk operasi nanti. Saya dan Bryan akan selalu menunggu nona." Rita memberikan gaya hwaiting ala drama Korea.


"Hwaiting!" seru kedua perempuan itu sambil tertawa.


"Haiissshh, kalian itu" gerutu Bryan jengah.


***