Just The Way You Are

Just The Way You Are
Don't Ever Leave Her



Seminggu usai insiden keributan di ruang kerja Nabila, banyak rekan kerjanya yang agak canggung dan segan bila berhadapan dengannya. Selama ini memang Nabila tidak pernah memakai nama belakang keluarganya, hanya beberapa orang di divisi bedah saja yang tahu namun lainnya tidak ada yang tahu karena Nabila sendiri cuek orangnya.


Melihat banyak pihak yang jadi berubah sikapnya membuat Nabila sebal. Seperti hari ini ketika ia hendak makan di kantin bersama Rita, suasana ramai menjadi hening ketika dia masuk. Para rekan kerja dan pegawai kantin pun terdiam dan tidak ada yang berani bersuara.


Astaga, apa nona Nabila segitu seremnya ya - batik Rita.


Nabila akhirnya jengah juga dengan situasi begini.


"Bapak ibu sekalian, kenapa kalian pada diam disaat saya masuk? Apa saya seorang yang menyeramkan seperti malaikat maut?" umpatnya kesal.


"Eh bukan begitu dokter Nabila" ucap salah satu rekan kerjanya.


"Kalau nggak gitu terus gini diem semua? Bapak ibu semuanya, biasa ajah lah kayak dulu. Saya masih Nabila yang dulu, soal siapa orang tua saya itu memang takdir saya sih dapat mereka" senyumnya dengan wajah tengil yang membuat orang-orang disitu sedikit tersenyum.


"Ah come on, santuy saja. Disini saya sama dengan anda semua, seorang dokter yang bertugas mengobati, merawat dan menyembuhkan pasien bukan embel-embel lainnya! Udah yuk nikmati makan siang kayak biasanya" lanjutnya lalu berjalan ke stan nasi uduk. Tak lama suara orang saling berbincang terdengar lagi.


"Nona, sekali lagi aku tanya. Apa bener nona nggak salah orangtua?" bisik Rita.


"Ayahku dad Duncan bukan papa Adrian gitu?" balas Nabila.


Rita mengangguk. "Soalnya aura nona berdamage banget sama ma aura tuan Duncan."


"Kayaknya gara-gara dulu aku operasi dad Duncan terus ada darahnya yang kena di aku jadinya seperti ini" jawab Nabila asal.


"Iya kah?" Mata Rita membola.


"Kamu kira ini film zombie yang kena gigit langsung jadi zombie tapi aku kena darah dad Duncan jadi mafia gitu?" Nabila mengerenyitkan matanya ke Rita yang hanya nyengir. "Kamu kebanyakan nonton film zombie!"


***


Pelayan yang bertugas di stand nasi uduk tersenyum pada Nabila.


"Nasi uduk kayak biasanya dok?" tanya ibu-ibu berusia 40an dengan badan agak gemuk.


"Iya Bu Yoyoh" jawab Nabila sambil tersenyum.


"Heran saya dok, kenapa sih pada takut sama dok Nabila padahal baik gini" oceh Bu Yoyoh.


"Tahu tuh Bu, apa muka saya menyeramkan ya?"


"Eh cantik begono kok ditakuti yaaa" kekeh Bu Yoyoh sambil menyerahkan sepiring nasi uduk lengkap. "Mbak Rita juga sama?"


"Sama Bu"


Usai membayar, Nabila dan Rita duduk di sebuah meja kosong lalu menikmati makan siangnya. Keduanya asyik ngobrol tentang kemajuan fisioterapi Bryan.


"Kalau aku bisa cuti, kita ke Edinburgh Rit ketemu ma Bryanmu" ucap Nabila.


"Asyik! Saya sudah lama pengen lihat tempat kumpul klan McGregor" Mata Rita berbinar-binar.


"Awas kalau matamu Meleng sama Edward" ancam Nabila sambil tertawa kecil.


"Nggak nona, saya sudah cinta ma Bryan" jawab Rita yakin.


"Syukurlah!"


***


Mike sudah seminggu ini tidak bisa menghubungi Nabila karena dikirim ke tempat bencana dan selama itu pula dia disibukkan mengurus para korban gempa bumi.


Dan kini pasca kondisi terkendali, barulah dia bisa istirahat sehari untuk merecharge energinya. Diambilnya ponselnya yang seminggu ini diam manis. Setelah nyala, banyak sekali notifikasi masuk dan satu notifikasi yang membuatnya emosi.


Tuan muda, nyonya Siti Prawiraatmadja mendatangi nona Nabila dan mengata-ngatai nona sebagai jal4ng dan mandul. Namun nona Nabila bisa mengatasinya bahkan tuan Aryanto Pratomo menarik semua dana di perusahaan Prawiraatmadja. Sekarang semua di rumah sakit tahu nona Nabila siapa.


"Brengsek! Beraninya dia mempermalukan Nabilaku! Eh, tadi bilang apa? Nabila minta Oom Aryanto menarik dana dari perusahaan bajingan itu? Hahahaha, that's my girl!" gumamnya sendiri.


"Dokter Cahill?" suara feminin terdengar di belakang Mike.


"Ada apa dokter Carole?" tanya Mike sambil memasukkan ponselnya.


Mike menggeleng. "Tidak, terimakasih. Saya lebih baik tidur daripada minum. Permisi." Mike pun pergi meninggalkan dokter Carole, dia hendak menelpon gadisnya.


Sialan! Susah sekali mendapatkan dirimu Mike!


***


Mike memasuki sebuah rumah yang masih berdiri walau terkena gempa. Sudah dua malam dia tidur disana menemani seorang kakek yang memilih tetap berada di rumahnya karena ada abu istrinya disana dan tidak mau istrinya bingung kalau pindah.


Sempat mengira kakek ini mengalami alzheimer atau bipolar, namun tidak. Hasil pembicaraan Mike dengan kakek James ( namanya sama dengan nama tengah Mike ), beliau waras namun rasa cintanya pada istrinya yang membuatnya dianggap abnormal.


"Kamu sudah pulang Mike?" sapa kakek James.


"Sudah kek. Halo nenek" sapa Mike pada guci abu nenek Nancy. Kakek James tersenyum.


"Lihat Nancy, cucumu menyapamu" ucap kakek James. "Ayo, sudah aku siapkan makan siang. Baru saja aku dikirim bantuan makanan."


Rumah kakek James termasuk selamat walaupun atap garasi ambruk, tapi keseluruhan bangunan masih kokoh berdiri.


"Wah, sup kacang, roti dan daging. Eh ini daging ba** kah?" tanya Mike.


"Astaga, aku lupa kalau kamu seorang muslim." Kakek James menepuk jidatnya.


"Tak apa kek, aku makan roti dan sup kacangnya saja" Mike tersenyum manis.


"Bagaimana? Kamu sudah menghubungi tunanganmu?" tanya kakek James sambil makan. Mike memang sudah bercerita tentang Nabila kepada kakek James.


"Belum kek. Tadi aku baru mau menghubungi eh ada gangguan" decih Mike.


"Pasti dokter wanita" kekeh kakek James.


"Hu um" keluh Mike sebal. "Apa tidak lihat di jari manis ku sudah ada cincin tunangan?"


"Kamu itu tampan, pintar dan kulihat kamu itu juga dari keluarga kaya. Gadis mana yang tidak tertarik padamu."


"Gadisku. Hahahaha" Mike tertawa terbahak-bahak mengingat bagaimana Nabila dulu memarahinya.


"Dia gadis yang langka Mike. Rasanya aku ingin bertemu dengan gadismu, Son."


"Suatu hari akan aku ajak kemari. Kakek pasti menyukainya, dia gadis yang baik walaupun agak bar-bar. Bahkan ayahku sendiri mengakui gadisku lebih cocok menjadi anaknya daripada aku karena mereka berdua sama, bar-bar."


Kakek James tersenyum. "Jangan sampai kau kehilangannya Son, karena dia spesial."


"Betul kek, bahkan aku tidak mempermasalahkan kekurangan dirinya karena itu juga bukan karena keinginannya melainkan takdir."


"Keadaanmu sama dengan diriku hanya bedanya aku yang tidak bisa memberikan keturunan namun hingga terakhir, Nancy selalu mencintaiku. Aku yakin gadismu amat sangat bahagia mendapatkan cintamu Son karena bagi wanita tidak mampu memberikan keturunan itu memiliki tingkat stress tersendiri. Apalagi ketidakmampuan itu diakibatkan penyakit yang bisa membahayakan kesehatan dan nyawanya. Jangan pernah kau tinggalkan Nabila apapun yang terjadi sampai maut memisahkan kalian."


Mike mendengarkan ucapan kakek James.


Aku tidak akan pernah meninggalkanmu Nab!


***


Yuhuuu


Maaf baru Up


Author ada kondangan di Solo dan ini baru pulang.


Dua novel sebelumnya udah up karena udah selesai draft nya semalam cuma aku ketiduran lupa up.


😅😅😅


Maapkeun telat yaaaa.


Don't forget like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️