Just The Way You Are

Just The Way You Are
Penganggu!



Pagi ini Nabila sampai di pelataran parkir rumah sakit bersama Rita. Keduanya berjalan beriringan seperti layaknya dua sahabat. Pagi ini Nabila menghubungi Oomnya Aryanto untuk mengajak bertemu dan Oomnya bersedia di jam makan siang.


Kedua wanita cantik itu masih asyik ngobrol menuju ruang praktek Nabila tanpa mengindahkan seorang pria yang berjalan menuju mereka.


"Pagi dokter Nabila" sapa Bagas sok ramah.


Nabila hanya mengangguk kepalanya "Pagi pak Bagas." balasnya dingin.


"Gimana kalau nanti siang kita lunch bareng Bil? Sekalian reuni?" ajak Bagas sambil menjajarkan langkahnya di samping Nabila.


"Maap pak Bagas, saya sudah ada janji" jawab Nabila masih dengan nada dinginnya. Rita hanya melirik Bagas dengan muka datar.


"Apakah janji makan siang itu dengan seorang pria?" usik Bagas lagi.


"Bukan urusan anda TUAN Bagas!" nada suara Nabila semakin tidak bersahabat.


"Batalkan lah Bil, makan siang denganku".


Ih pria ini gak tahu malu banget! Rita melirik Nabila.


"Maap, saya tidak ingin makan siang dengan anda!"


"Bagaimana kalau makan malam?" Bagas masih kekeuh dengan ajakannya.


"Maap, saya tidak mau makan siang ataupun makan malam dengan ANDA! Permisi!" Nabila dan Rita segera masuk ke ruang praktek Nabila.


"Sial! Awas kau Nabila!" maki Bagas sambil beranjak pergi meninggalkan ruang Nabila. Suster Nia yang hari ini bertugas bersama Nabila hanya mengelus dada melihat salah satu pimpinannya berkata kasar pagi-pagi.


Nabila menetralisir nafasnya yang memburu. Rasanya pagi ini dia ingin makan orang.


"Inhale exhale... Hitung sampai 100 nona" Rita membujuk nonanya agar bisa tenang.


"Hiiissshhhh, orang itu!!!" Nabila memukul bantal Sofanya. Tampaknya dia harus memasang Sasak di ruangannya supaya bantal Sofanya nggak jadi korban.


Tok! Tok!


"Maaf dokter Nabila, ini daftar pasien hari ini. Dokter mau visite jam brp?" suara suster Nia di depan pintu.


"Baik suster Nia. Saya mulai visite jam 9 ya" Nabila melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 8.10.


"Baik dokter. Permisi." Suster Nia menutup pintu.


Rita menatap nonanya yang sedang membasuh wajahnya. Semalam tuan Adrian sudah mewanti-wanti Rita untuk terus berada di sisi Nabila kecuali pada saat visite pasien atau pada saat pemeriksaan pasien. Adrian merasa kecolongan ketika tahu masa lalu putrinya yang membuatnya down berada di satu gedung bersamanya.


"Rit, kalau aku pasang samsak disini gimana yaaa?" Nabila menghitung-hitung ruangannya.


Rita tersenyum. "Janganlah nona, nanti pasien anda terintimidasi pada nggak berani periksa dengan anda."


Nabila tertawa. "Bisa kasus ya nanti Rit".


"Iya nona". Rita bersyukur nona mudanya sudah bisa tertawa lagi.


"Oke, aku siap-siap mau visite. Kamu disini saja, jaga-jaga kalau ada yang berani masuk ke ruanganku." Nabila kemudian menyiapkan sneli, stetoskop dan buku catatannya.


"Baik nona."


***


Bagas masih merasa kesal akibat penolakan Nabila. Iya dia bodoh dulu mempermalukan gadis itu tanpa tahu dia dari keluarga siapa. Ketika tahu siapa orang tua Nabila dan keluarganya, tentu saja Bagas merasa menyesal membuang tambang emas yang bisa menambah pundi-pundi uangnya. Keluarga Prawiraatmadja saat ini kondisi perusahaan keluarga sedang jatuh akibat pengeluaran tidak penting mereka. Hingga Bagas harus bekerja untuk menambah pendapatan nya sendiri karena ayahnya yang sekarang sedang berusaha membenahi perusahaannya membuat aturan tidak ada foya-foya di keluarga.


Karena terbiasa memiliki uang dan sekarang harus berhemat membuat Bagas memutar otak untuk mendapatkan wanita kaya yang bisa dia ambil kekayaannya. Dan kehadiran Nabila di hadapannya membuatnya bertekad mendekati gadis itu dan menikahinya.


Kini mengetahui Nabila adalah salah satu penerus keluarga Pratomo dan rumah sakit ini juga merupakan milik sang Oom dan Tantenya, membuat Bagas mencoret semua kandidat yang sudah dia incar selama setahun belakangan ini dia bekerja. Walaupun mereka semua nampak tidak keberatan berbagi dengan Bagas, namun pria itu ingin yang lebih. Satu keuntungan Bagas yang dilihatnya dari Nabila, gadis itu tidak bisa memiliki anak jadi bila terjadi sesuatu pada Nabila, semua harta kekayaannya pasti akan jatuh ke suaminya. Bagas sudah membuat rencana itu setelah ia bertemu Nabila kemarin. Dan langkahnya kali ini adalah membuat Nabila bertekuk lutut dan mau menikah dengannya. Siapa pria yang mau menerima Nabila yang cacat fisik karena tidak bisa memberikan keturunan? Bagas tertawa sinis.


Hanya aku yang tahu kelemahanmu dan akan aku gunakan sebagai senjata mendekati keluarganya.


***


Nabila tiba-tiba merasa bergidik. Siapa ini yang ngomongin jelek soal aku?


"Dokter Nabila tidak apa-apa?" tanya Suster Nia yang melihat Nabila seperti kaget.


"Nggak apa-apa kok suster Nia, cuma aku kok merasa merinding ya?" Nabila masih mengusap tengkuknya.


Suster Nia tertawa. "Ya mungkin saja dokter Nabila merinding, soalnya ini menuju area kamar mayat"


"Haaaahhhh? Kok kita bisa kesini sih?" Nabila celingak-celinguk lalu menepuk jidatnya ketika membaca papan arah.


Suste Nia terkikik. "Lha dokter yang jalan, saya mah ngikutin ajah"


"Haaaiissshhhh mbok ya saya dikasih tahu kalau salah jalan Thow Sus!" omel Nabila dengan logat Jawa nya.


Keduanya kemudian berbalik meninggalkan kamar mayat.


"Dok, boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa Sus?"


"Dokter kan sudah lama di luar negeri, kok masih bisa logat Jawa ya? Saya yang wong jowo ajah udah mulai hilang semenjak kerja di Jakarta"


"Gimana mau hilang Sus, mamaku itu kalau telpon aku pakai logat Jawa dan aku tuh punya kelebihan bisa mengkopi logat seseorang. Misal kayak waktu aku di Johannesburg, bahasa Inggris ku ikut logat sana. Di Edinburgh, logatku ikutan Brit. Sedangkan disini, bisa saja aku ikut logat Betawi, Sunda maupun Jawa." papar Nabila.


"Seru ya dok pindah-pindah? Saya ingin lho bisa kemana-mana sambil memberikan pelayanan kesehatan. Cari pengalaman gitu."


"Harus siap mental Sus karena budaya mereka berbeda. Nggak usah gitu, kita disini saja sudah beda. Etos kerja di rumah sakit ini dengan rumah sakit daerah berbeda karena orang yang kita hadapi memiliki budaya dan adat berbeda. Kalau suster Nia mau mencoba, saya sarankan mantapkan hati disini dulu. Jakarta itu kota multibudaya dengan banyak suku yang datang kemari mengadu nasib. Pelajari dulu bagaimana sifat dan budaya mereka disini, baru suster Nia bisa mengembangkan sayap keluar negeri." papar Nabila panjang lebar.


"Dokter Nabila kok bisa adaptasi cepat?"


"Karena aku dari lulus SMA sudah tinggal di Amerika Serikat dan disana jauh lebih keras daripada sini. Bukan hanya budaya tapi perbedaan bangsa dan bahasa. Kita disini setidaknya masih bisa menggunakan bahasa Indonesia. Disana, banyak yang tidak fasih bahasa Inggris. Jauh lebih disini. Yang penting kekuatan mental menghadapi semuanya."


Suster Nia manggut-manggut mendengarkan penjelasan Nabila.


Ketika keduanya hendak kembali ke ruangan Nabila, tampak Bagas sudah berada di depan lift yang memang hanya berjarak beberapa langkah dari ruangan Nabila.


Seperti kemarin Nabila pun mengacuhkan Bagas dan segera masuk ke ruangannya.


"Nabila!" panggil Bagas. Nabila tak bergeming.


"Nabila Putri!" suara Bagas yang keras di lorong rumah sakit itu membuat beberapa orang menoleh ingin tahu.


"Pak Bagas, saya minta untuk tidak membuat keributan disini. Dokter Nabila hendak memeriksa pasien-pasiennya. Anda bisa lihat mereka sudah pada menunggu!" Suster Nia menahan Bagas yang hendak masuk ke ruang periksa.


Bagas pun melihat banyak pasien yang menatapnya dengan berbagai macam emosi. Akhirnya dia memutuskan pergi dari sana.


Suster Nia menghembuskan nafas panjang.


Dasar pengganggu!


***