
Bagas menatap pria bermata biru di hadapannya. Mata yang sedingin es, sedingin wajah dan auranya. Butir-butir keringat mulai muncul di dahi Bagas. Tidak ada pembicaraan selama hampir lima belas menit, hanya si mata biru itu yang terus menatap Bagas tanpa ekspresi.
"Mr Cahill..." suara pengacara Bagas terdengar pelan namun Mike Cahill mengangkat tangan kirinya agar si pengacara itu diam. Akhirnya pengacara itu pun menutup mulutnya karena dirinya juga merasa jiper dengan aura Mike.
Mike memang bukan mafia tapi dia sudah terbiasa hidup di keluarga mafia dan dia keturunan mafia, jadi tidaklah heran dia memiliki aura menyeramkan.
"Jadi kamu menabrak Bryan karena dia tidak mau memberikan info tentang siapa tunangannya?" akhirnya suara Mike keluar juga dengan nada dingin.
Bagas terdiam.
"Disini tunangannya dokter Nabila Putri Pratomo. Di hadapanmu! Dah sekarang kamu mau apa!" bentak Mike yang cukup membuat orang-orang yang di dalamnya bergidik.
"Apa kamu mau membunuh saya juga agar bisa mendapatkan Nabila sesuai dengan rencana mu? Silahkan kalau bisa !" Mike menatap bengis kearah Bagas "Kalau kamu ingin mengantarkan nyawamu ke klan McGregor!" desisnya.
Bagas semakin memucat. Dalam hatinya dia merutuk kegoblogkannya tidak mencari tahu apa hubungannya Bryan dengan keluarga McGregor. Dia mengira Bryan hanyalah OB yang disuruh menjadi pengawal oleh Aryanto, paman Nabila.
"Kamu terbiasa hidup dengan mewah, semuanya dituruti. Jadi, pada saat mainan yang kamu incar dimiliki orang lain, kamu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan. Kamu itu hanya anak manja yang nggak mau hidup susah! Aku sudah tahu niatmu. Kamu tahu Nabila tidak bisa memiliki keturunan jadi kau dekati dia tapi ada hal yang kamu lupa. Nabila sudah membencimu sejak SMA! Dan kamu juga lupa, siapa yang mengoperasi ibumu? Nabila. Bisa saja gadisku berubah menjadi malaikat maut membuat ibumu mati dengan natural tapi tidak dia lakukan. Kenapa? Karena dia masih memegang sumpah dokter!"
Mike menyandarkan tubuhnya ke kursi sembari bersidekap.
"Aku tahu semua tentang Nabila, SEMUANYA! Dan aku bukan pecundang seperti mu! Aku mencintai Nabila karena dirinya, sebagai subyek, sebagai wanita yang mampu melengkapi hidupku. Kekurangan yang dimilikinya bukan masalah untukku karena aku pun tidak sempurna. Soal kekayaan?" Mike tertawa sinis. "Aku tidak mengincar harta milik Nabila dan keluarganya karena aku sendiri sudah kaya raya!"
Bagas semakin memucat.
"Dan asal kamu tahu, mulai detik ini kami semua resmi menuntut mu karena melakukan penganiayaan berat yang hampir membuat seseorang kehilangan nyawa. Beruntung kamu tidak melakukannya di Inggris karena kamu bakalan tinggal nama!"
Mike berdiri dan menuju pintu keluar ruang interogasi namun dia kemudian berbalik.
"Ohya, kami tidak perduli ibumu bersujud meminta kami melepaskan tuntutan karena aku lebih peduli nyawa anak buahku daripada nyawamu yang dimataku tidak ada harganya."
Mike kemudian membuka kenop pintu dan keluar dari ruangan itu.
Bagas dan pengacaranya pun tidak bisa berkata apa-apa karena kasus ini berat dan menyangkut keluarga berpengaruh.
Keluarga Prawiraatmadja tidak ada apa-apanya dibanding keluarga Pratomo yang digabung dengan keluarga McGregor.
"Mas Bagas, kali ini saya tidak bisa membantu membebaskan Anda. Kesalahan anda fatal! Mungkin kalau keluarga Pratomo saja, saya bisa minta belas kasihan pak Adrian tapi anda juga mengusik klan McGregor yang sangat berpengaruh di dunia hitam."
Pengacaranya menghela nafas panjang.
"Anda masih dikasih umur saja oleh mereka, itu sudah bagus."
***
Mike keluar dari ruangan interogasi dengan wajah kesal. Kalau tidak mengingat gadisnya, bisa saja dia memberikan hukuman membuat lintah itu cacat seumur hidup namun dia lebih takut jika Nabila menghajarnya atau bahkan meninggalkannya.
Teringat wajah judes gadisnya, wajah kaku dan kesalnya menghilang. Segera dia mengambil ponselnya dan menelpon Nabila sembari berjalan menuju ruang Manggala tempat ayahnya menunggu.
"Wa'alaikum salam sayang" sapanya setelah mendengar suara gadisnya.
***
Duncan McGregor menunggu di ruang kerja Manggala sambil sibuk memerintahkan Tristan menyiapkan semua kebutuhan Bryan di Edinburgh.
Tadi selama Mike berada di ruang interogasi, Duncan berbicara banyak dengan calon menantunya.
"Jadi sekarang Bryan sudah sadar Nab?" tanyanya setelah Nabila memberikan pesan kalau Bryan sudah sadar.
"Sudah Dad. Ini masih kami pantau dulu keadaan Bryan tiga hari ini. Bila membaik, nanti bisa dibawa ke Edinburgh. Aku tadi sudah mengabari Sean dan dokter Howie yang memang spesialis tulang untuk membantu kesembuhan Bryan".
"Baguslah. Kamu sudah memberikan kabar ke Surabaya? Mengingat kamu langsung terbang kemari." Duncan termasuk orang yang terkenal sangat disiplin soal pekerjaan.
"Bagus sayang. Dad akan segera ke rumah sakit usai Mike ketemu Bang***at itu."
"Masih beruntung orang itu ketemu Mike. Entah apa yang terjadi kalau Dad yang masuk" kekeh Nabila.
Duncan tertawa sambil melirik pintu ruangan Manggala terbuka dan si pemilik ruang masuk ke dalam. Gala sudah berganti pakaian menjadi pakaian dinas tadi sesudah mengurus dua bule yang auranya ingin makan orang.
"Nab, Dad tutup dulu ya. Tolong jaga Bryan. Ohya Adrian masih di rumah sakit?"
"Papa sudah pulang. Tadi papa pesan, Dad pulang ke mansion saja istirahat disana."
"Oke Nab. Bye."
Duncan menutup telponnya lalu memandang Gala yang duduk di kursi kerjanya sambil membaca berkas.
Kemudian dia menelpon Tristan yang selain bertindak sebagai salah satu tim pengacaranya, juga segelintir orang-orang kepercayaannya.
Manggala diam sambil mendengarkan percakapan Duncan dengan lawan bicaranya.
Ya ampun Nabnab, bisa-bisanya dapat mertua mafia begini. Tadi saja kalau tidak dihalangi Mike, udah habis itu si Bagas. Eh tapi Mike pun sama saja.
Gala memang mendapat laporan dari anak buahnya yang menjaga ruang interogasi mengatakan bahwa Mike Cahill sangat menyeramkan di dalam sana.
"Duh, Bang. Temanmu itu syerem bang. Ruangan di dalam rasanya kayak di kutub Utara, dingin. Dan Mike Cahill, mungkin kalau dia Superman, dari matanya dah keluar laser, dah gosong tuh si tersangka."
Manggala tergelak.
Iyalah anaknya mafia, gimana ga syerem bambaaannggg!!!
Kini Duncan selesai mengurus semuanya dengan Tristan. Tinggal menunggu Mike, lalu keduanya pulang ke mansion Pratomo.
"So, kamu itu teman sebangku menantuku?" tanya Duncan tenang namun Gala merasa ada hawa dingin disana.
"Yes sir, saya teman Nabnab eh... Nabila waktu SMA" jawab Gala.
"Nabnab?"
Gala nyengir. "Itu panggilan saya ke Nabila."
Duncan hanya mengangguk. "Apa kamu suka sama Nabila?"
"Maksudnya?"
"Apakah kamu ada rasa cinta dengan Nabila?" Duncan menatap Gala tajam.
Whoah! Benar-benar serem nih orang!
"Saya memang menyukai, menyayangi Nabila tapi Nabila hanya menganggap saya sebagai sahabat bahkan oom dan Tante Pratomo pun tahu kami seperti apa. Tenang, Mr McGregor, Nabila hanya melihat Mike seorang dan saya bahagia melihatnya." Gala menatap Duncan tenang.
"Good. Karena aku tidak akan segan-segan melenyapkan siapa saja yang hendak merusak kebahagiaan putraku dan Nabila." Duncan tersenyum smirk yang membuat Gala merinding karena pria tua itu tampak jauh lebih menyeramkan.
"Tak akan, Sir. Bagi saya kebahagiaan Nabila itu yang penting."
Kemudian suasana ruangan itu hening, kedua pria itu dipenuhi pikiran masing-masing.
Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh kearah suara. Tampak Mike masuk ke dalam dengan wajah dingin. Lalu memandang ayahnya.
"For God sake, Dad. Lintah itu pantas dicincang!"
***