Just The Way You Are

Just The Way You Are
Mangga v Mafia



Pasca operasi Nyonya Siti Prawiraatmadja, Bagas selalu berusaha mencari Nabila. Usahanya menguntit gadis itu pada hari Sabtu lalu tidak mendapatkan hasil karena yang membawa mobil Camry hitam sudah berganti Bryan, si OB sialan itu.


Dan kini selama seminggu, Nabila tidak pernah muncul di rumah sakit karena ikut seminar di Surabaya. Bagas sendiri tidak ada alasan untuk menyusul Nabila di Surabaya.


Seharusnya Nabila masuk kerja hari ini tapi hingga siang tidak ada tanda-tanda gadis itu datang. Bagas semakin uring-uringan ketika mendapatkan informasi bahwa dokter Nabila baru akan kembali ke Jakarta dua Minggu lagi. Beberapa rekan dokter di Surabaya memintanya menjadi dokter tamu di rumah sakit dokter Sutomo.


Brengsek!!!


***


Surabaya.


Nabila baru saja mengikuti proses operasi tumor yang rumit di RS Dokter Sutomo di Surabaya. Salah seorang senior disana, memintanya menjadi salah satu dokter tamu apalagi pengalamannya menjadi anggota doctors without Borders, membuat banyak mahasiswa kedokteran penasaran bagaimana rasanya menjadi dokter di berbagai negara.


Proses operasinya tadi cukup melelahkan yang membuat Nabila auto lapar amat sangat. Ditemani Rita yang selalu setia, keduanya mencari warung lontong balap di daerah dekat rumah sakit. Setelah menemukan warungnya, Nabila dan Rita pun memesan dua porsi lontong balap.



Rita yang belum pernah merasakan makanan khas Jawa Timur ini langsung suka.


"Petisnya mantap nona" ucapnya tidak jelas karena masih sibuk mengunyah.


"Kalau makan jangan sambil ngomong Rit" kekeh Nabila.


"Beneran, saya suka non".


Keduanya segera menyelesaikan acara makan mereka dan segera kembali ke rumah sakit. Nabila dan Rita sengaja menggunakan ojek online karena keduanya tidak hapal jalan kota Surabaya.


Sejam kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit dan disambut asisten Nabila.


"Dok Nab! Haduh dokter saya cari kemana-mana!" suster Umi datang tergopoh-gopoh.


"Aduh sus Umi, kan aku tadi dah bilang mau maksi. Laper ini tadi habis bantuin operasi sama dokter Rusdi".


"Tapi hpnya dilihat tah. Susah bangets dihubungi!" omel suster yang bertubuh agak gemuk itu dengan logat Surabaya kental.


Nabila nyengir. "Aku gek nikmati lontong balap sus jadi hp ta cuekin" Ketiga wanita itu berjalan menuju ruang praktek sementara Nabila. "Memange Ono opo goleki ( cariin ) aku?"


"Ada yang cari dokter. Wuih guantenge rek! Bule sisan!"


Nabila menatap Rita kaget. Bule?


"Dimana dia sekarang si bule?" tanya Nabila yang sudah berada di depan ruang prakteknya kepada suster Umi.


"Disini!" suara bariton yang sangat Nabila hapal membuat Nabila menoleh. Tampak Mike tersenyum lebar berdiri di depan pintu ruang praktek Nabila.


"Mi.. Mike?" Nabila menatap tak percaya. Kekasihnya berada di kota yang sama tempat dia praktek sementara.


"Hello darling" Mike lalu datang memeluk Nabila dan memberi ciuman di keningnya. Nabila membalas pelukan Mike dengan wajah tidak percaya.


"Lho jebule mas bule ini pacare dok Nabila tah? Tiwas meh tak pek!" kekeh suster Umi.


"Iya sus Umi. Ini tuan Mike Cahill, tunangan nona Nabila" jelas Rita.


"Terimakasih ya sus sudah membantu gadisku" kata Mike sambil merangkul Nabila.


"Wis Wis, ayo masuk ruangan malah dadi pemandangan Ning kene" suster Umi mendorong keduanya masuk ruang praktek. Rita tertawa melihat dua bossnya didorong suster besar itu.


Begitu kedua pasangan itu masuk ruang praktek, langsung ditutup oleh suster Umi.


"Mbak Rita, Ojo diganggu yooo". Rita semakin tertawa keras.


***


Kini dalam ruang praktek, Nabila menatap Mike dengan tatapan penuh tanya, sedangkan yang ditanya hanya tersenyum lebar.


"Ngapain kesini?" tanya Nabila.


"Ketemu dirimu lah" jawab Mike kalem.


Nabila memutar matanya malas. "Seriously, Mike. Ada apa?"


Mike mendekati Nabila lalu mencium pipinya. "Melamar dirimu" bisiknya. Mata Nabila membulat.


"Tapi aku masih ada urusan di Surabaya" bisik Nabila.


"Masalah?" bibir Mike bergeser dari pipi kiri Nabila menuju bibir Nabila dan **********.


Nabila membalas ciuman Mike yang memabukkan. Tangannya melingkari leher pria itu dan semakin merapatkan tubuhnya. Kedua pasang sejoli itu saling memagut, mengelus, saling mencurahkan kerinduan sekian bulan tidak bertemu.


Tiba-tiba


BRAAAAKKK!!!


Mike dan Nabila melepaskan pelukannya namun terlambat. Seorang pria tampan masuk dengan wajah garang.


"Mangga?"


***


"Ga, lu ngapain kesini?" tanya Nabila judes.


"Gue lagi ada dinas di Surabaya trus kata Tante Niken lu lagi disini. Maksud hati mo ngajak lu maksi malah gue dikasih lihat pemandangan yang menodai mataku" umpat Gala.


"Siapa suruh main masuk nggak sopan gitu!" hardik Mike.


"Salahkan sustermu dan Rita yang tidak mengijinkan aku masuk!" bantah Gala.


"Kalau memang nggak boleh masuk ya nggak usah masuk!" balas Mike.


Nabila hanya memegang pelipisnya. Kedua pria tampan di depannya cukup membuatnya pusing.


"Mike Cahill, Manggala Saputra. Gala ini Mike tunanganku." Akhirnya Nabila membuka suara.


"Sudah tahu!" jawab keduanya kompak.


Nabila hanya melengos.


"Akhirnya ketemu juga kau, Mafia" ledek Gala.


"Ternyata ini yang namanya mangga? Jenis apa?" sindir Mike.


"Kalian berdua bisa diam nggak sih!" bentak Nabila.


"Nggak!" lagi-lagi keduanya kompak.


Nabila menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Nabila sedang bersiap untuk pergi makan malam bersama Mike dan Gala. Sore tadi kedua pria itu sama-sama ingin mengajak makan malam bersama Nabila karena Gala lusa sudah kembali ke Jakarta. Agar tidak terjadi perang Diponegoro jilid sekian, Nabila mau diajak asalkan mereka berdua akur.


Kedua pria itu akhirnya melakukan gencatan senjata demi kenyamanan wanita yang sama-sama mereka sayangi.


Kini Nabila sudah berada di restauran The Consulate bersama dengan Mike dan Gala. Nabila sengaja datang dengan ojek online agar tidak ada keributan lagi antara kekasihnya dan sahabatnya.


Setelah memesan berbagai hidangan, Nabila membuka percakapan.


"Boys, sudahlah. Kalian bukan anak SMA lagi yang berantem nggak jelas gini".


"Nabnab, aku hanya ingin tahu apakah si mafia ini memang pantas untukmu" ucap Gala.


"Woi mangga, yang mafia itu ayahku bukan aku!" sanggah Mike.


"Boys!" hardik Nabila.


Kedua pria tampan itu langsung diam.


"Gala, lu kan pengen tahu siapa tunanganku? Ya ini tunanganku. Dokter Michael Cahill McGregor. Mike, ini adalah Manggala Saputra, teman sebangku aku waktu SMA dari kelas 1 sampai lulus. Gala yang melindungi aku ketika aku mengalami masa-masa buruk akibat si lintah."


"Lintah?" tanya Gala.


"Bagas Prawiraatmadja." Mike memberi tekanan pada suaranya.


"Hah? Sebentar Nabnab, memang kau bertemu si bang**sat itu lagi?"


"Satu gedung rumah sakit malah! Si lintah itu adalah manajer pemasaran rumah sakit tempat Nabila bekerja" jawab Mike.


"Whoah! Nggak bener ini!" Emosi Gala makin tersulut. "Kok bisa?"


"HRD nya tidak tahu kalau si lintah pernah punya sejarah dengan Nabila dan Bila sendiri juga tidak tahu, dia disana." papar Mike. "Ceritakan apa yang terjadi beberapa Minggu lalu, Nab."


Nabila lalu menceritakan kegilaan Bagas hingga menguntit dirinya yang membuat dia bertemu dengan Gala. Semua dia ceritakan tanpa ada yang terlewat.


"Bahkan ibunya sendiri yang menghina kamu itu malah kau selamatkan nyawanya? Hidup itu benar-benar ya!" Gala merasa gemas mendengar bahwa Nabila yang mengoperasi wanita jahat itu.


"Maka dari itu, aku dan Oom Adrian memutuskan memberikan pengawalan pada Nabila" sahut Mike.


"Apa kamu tahu kondisi Nabila, bro?" Gala menatap Mike tajam.


"Tahu! Dan aku tidak mempermasalahkan! Aku hanya melihat Nabila sebagai wanita idamanku. Kekurangan dia bukanlah suatu masalah bagiku. Kau boleh menghajarku kalau aku berbuat kurang ajar pada Nabila tapi aku berharap itu tidak akan terjadi." Mike menatap serius kepada Gala.


"Oke bro, aku pegang kata-katamu! Berjanjilah padaku jangan sekali-kali menyakiti sahabatku! Jika kau menyakiti seujung rambutnya, aku yang akan membawanya pergi!" Gala mengulurkan tangannya dan disambut Mike. Keduanya saling berjabat tangan.


Nabila hanya melongo melihat keduanya cepat sekali akur.


"Kalian sudah baikan?" tanya gadis itu bingung.


"Belum!" jawab mereka kompak.


***