Just The Way You Are

Just The Way You Are
Menyelesaikan Dendam



Nabila menatap wanita paruh baya yang harusnya sadar dah mau bau tanah tapi mulutnya masih pedes kayak bubuk bon cabe level 100 dengan penuh kebencian.


Wanita mandul! Dua kata yang paling sering diucapkan oleh wanita yang menatap Nabila dengan marah.


"Apa maumu Nyonya Siti Prawiraatmadja yang terhormat?" Nabila menekankan sebutannya.


"Bebaskan anakku! Kamu memang perempuan tak berguna! Jal4ng yang merayu anakku namun kamu campakkan! Sekarang hanya karena anakku menabrak OB rendahan saja sampai tega kamu menuntut anakku hukuman penjara!" Raung wanita itu.


"Heh! Nyonya! Punya otak nggak kau? Anakmu yang bajingan! Mau membunuh! Niatnya Menghilangkan nyawa orang! Pantas anakmu kayak gitu, lha wong ibunya iblis begini!" maki Rita berapi-api. Dia tidak terima nyawa kekasihnya tidak dianggap.


"Siapa kamu! Mulutmu kayak nggak pernah sekolah!" balas nyonya Siti.


"Apa situ yakin mulutnya sekolah? Katanya orang kaya tapi pendidikan mulut, otak ma etika NOL!" balas Rita lagi.


"KAMU!" nyonya Siti hampir menampar Rita sebelum tangannya dicekal oleh Nabila.


"Tahu begini aku tidak akan menyelamatkan nyawamu! Apa kau tahu nyonya, siapa yang mengoperasi ususmu yang sudah rusak? AKU! Si wanita mandul!" Wajah Nabila tampak begitu menyeramkan.


"Bo..bohong!"


"Buat apa saya bohong! Apa perlu saya beberkan kondisi ususmu? Asal kau tahu, nyawamu itu di tanganku waktu kau harus operasi!" Nabila lalu memanggil suster Nia.


"Suster Nia, panggil dokter Tasya kemari!"


Sustee Nia segera memanggil dokter Tasya lewat intercom.


"Kamu ternyata selain jal4ng ternyata pembohong!" nyonya Siti masih menolak percaya.


"Buat apa saya bohong? Nggak ada gunanya buat saya. Apa Anda tahu, saya hampir mengambil semua usus anda agar anda tidak bisa hidup! Ingin tahu rasanya hidup tanpa usus!" seringai Nabila jahat.


Rita yang melihat wajah Nabila sekarang ini menjadi bergidik. Nabila yang ini bukanlah nona nya yang selalu gersrek.


Nona Nabila benar-benar menyeramkan.


Tak lama dokter Tasya datang dan melihat Nabila memegang tangan nyonya Siti dan bulu kuduknya meremang menatap Wajah Nabila yang menyeramkan.


"Nyonya Siti, ada apa ke ruangan dokter Nabila?" tanya dokter Tasya lembut.


"Jawab padaku! Siapa yang mengoperasi aku?" bentak nyonya Siti.


"Dokter Nabila Putri Pratomo" jawab dokter Tasya sambil menunjuk Nabila.


"Pratomo?" Nyonya Siti menatap Nabila syok.


Nabila pun melepaskan cekalannya dan bersidekap menatap wanita tua itu.


"Kenapa? Kaget nyonya?" sindir Nabila.


"Aku...aku mendapat berita...yang menuntut adalah keluarga Pratomo. Kamu..?" wajah Nyonya Siti semakin memucat hingga suster Nia memapahnya untuk duduk di kursi yang disediakan buat pasien.


"Saya adalah Nabila Putri Pratomo, putri sulung Adrian Pratomo, keponakan Aryanto Pratomo pemilik rumah sakit ini. Anda paham nyonya?" ucap Nabila sarkasme.


Hujatan, ucapan kebencian yang diterimanya selama tiga tahun waktu dia SMA seperti berkelebat di ingatan Nabila. Dan wanita ini mengata-ngatainya sehari sesudah dia melaksanakan operasi yang membuatnya harus kehilangan rahimnya.


"Yang menuntut bukanlah saya, melainkan papa saya dan calon mertua saya" Nabila menekankan kata 'Calon Mertua'.


Nyonya Siti menatap Nabila dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa nyonya? Tidak percaya ada pria yang menerima saya apa adanya tanpa ada maksud mengambil harta keluarga saya."


Nabila duduk di kursi kerjanya.


"Saya tahu perusahaan Prawiraatmadja sedang diujung tanduk akibat pemborosan pemiliknya tanpa mengindahkan kondisi pegawainya dan siapa yang bersedia menyuntikkan dana besar? Oom saya, Aryanto Pratomo, karena iba dengan suami Anda nyonya. Oom Aryanto punya hutang Budi pada suamimu, jadi dia tidak masalah membantu temannya. Tapi apa? Kalian tidak sadar-sadar, tetap sombong tetap manja!"


Nabila membuka lacinya dan mengambil sebuah dokumen keeper tebal dan disorongkan ke arah nyonya Siti.


"Ini data pemborosan yang anda dan keluarga anda lakukan! Semua lengkap sejak sepuluh tahun lalu anda menghina saya dan saya bertekad mencari aib anda beserta bukti-buktinya. Asal Anda tahu, anak kesayangan anda hendak berencana menikahi saya, lalu membunuh saya dan mengambil harta saya karena saya tidak bisa memberikan keturunan. Sekarang saya tanya balik ke nyonya, siapa yang jauh lebih jal**Ng dan bajingan?"


Nyonya Siti bergetar membuka dokumen keeper yang berisikan copy semua nota pembelian perhiasan, tas, baju, liburan keluar negeri dan banyak lainnya. Tidak hanya miliknya tapi juga milik keluarga besarnya yang memang senang berfoya-foya.


"Jangan...jangan Nabila. Jangan nak" mohon nyonya Siti.


Nabila menaikkan sebelah alisnya. "Nak?" lalu dia tertawa terbahak-bahak yang bagi orang-orang disitu menjadi bergidik.


"Apa kamu pantas disebut sebagai ibu?" sudah tidak ada sopan santun yang dia pegang. "Oh mungkin bukan ibu, pantas menjadi seorang wanita? Heran aku, seorang wanita tapi bisa-bisanya menghina wanita lain yang tidak bisa memiliki keturunan dengan entengnya!"


Nabila mendekatkan wajahnya kepada nyonya Siti yang sedikit mundur. Raut wajah nyonya Siti tampak ketakutan.


"Anakmu akan mendekam lama di penjara dan selama itu dia juga tidak bisa punya anak. Karma is a bi**tch bukan?" seringai Nabila.


Ponsel nyonya Siti berbunyi dan wajahnya pucat melihat siapa yang menelepon.


"Ha..halo Pa" wajah nyonya itu semakin lemas ketika mendengar suara di seberangnya yang terdengar keras hingga Nabila pun bisa mendengarnya.


"Dasar wanita bodoh! Bisa-bisanya kamu mengganggu ponakan Aryanto! Sekarang kita bangkrut! Kamu pulang sekarang!" bentak suaminya lalu menutup telponnya.


Nyonya Siti tampak lemas dan memasukkan ponselnya di tasnya.


"Ini baru peringatan kecil nyonya. Semua kejadian ini berpulang bagaimana hasil perbuatan dan perkataan mu selama ini. Masih untung keluarga calon suamiku tidak menghilangkan nyawa anakmu tanpa jejak. Karena pria yang hendak dibunuh oleh anakmu adalah anak angkat calon mertuaku dan calon mertuaku seorang mafia di Inggris. Jadi, anda tahu kan betapa peliknya masalah putra kesayangmu yang egois, childish Dan tidak mau hidup susah! Ohya, buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bagaimana anakmu terbentuk, ya itu adalah hasil didikan ibu karena ibu adalah guru pertama anak! Sudah, pulanglah nyonya. Pertanggungjawabkan semuanya kesalahan mu. Bertobatlah!"


Nyonya Siti berdiri dan berjalan menuju keluar ruangan Nabila yang ternyata diluar sudah ada banyak rekan kerja bahkan kepala rumah sakit pun ada.


"Suster Nia, tolong antara nyonya Siti ke mobilnya. Kasihan dia, kesulitan berjalan kalau perlu pakai kursi roda" perintah Nabila.


Dokter Tasya yang sedari tadi terpaku akhirnya tersadar.


"Biar aku yang antar Nab. Kamu tenangkan hatimu dulu." Dokter Tasya pun menyusul suster Nia.


Kepala Rumah Sakit masuk ke ruangan Nabila.


"Anda tidak apa-apa dokter Nabila?" tanyanya perhatian.


"Tidak apa-apa pak. Memang sudah waktunya saya menyelesaikan dendam dan amarah saya agar terbebas dari penyakit Hati. Alhamdulillah saya lega sekarang" jawab Nabila.


"Be strong, okay. Oom anda sudah menceritakan semuanya." Kepala rumah sakit itu menepuk bahu Nabila.


"Thanks pak" senyum Nabila.


Kini setelah dibubarkan, kerumunan di depan ruang praktek Nabila pun kembali ke pekerjaan masing-masing.


Tinggallah Nabila dan Rita yang berada di ruangan sambil menikmati air mineral dingin.


"Nona" bisik Rita.


"Kenapa Rit?" tanya Nabila sambil melamun.


"Tampaknya nona memang cocok menjadi menantu tuan Duncan McGregor."


Nabila menoleh. "Hah?"


Rita terkekeh. "Nona serem kalau marah. Aura mafianya keluar."


"Haaaahhhh???"


***


Yuhuuu


Doubel Up hari ini yaaaa


Thanks for your support


Don't forget like vote n gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️