
Edinburgh Skotlandia
Mike baru saja menyelesaikan operasi selama empat jam yang membuatnya kelelahan. Kini dia berjalan menuju ruangannya setelah memberitahukan keluarga pasien bahwa operasinya berjalan lancar. Ketika hendak mendekati ruangannya, dia mendengar ada seseorang berada di dalam. Mike mengerenyitkan alisnya curiga siapa yang masuk ke ruangannya tanpa ijin. Asistennya pasti sedang makan siang jadi tidak ada yang melarang orang luar masuk.
Mike membuka pintu ruangannya dan tampak Vivienne sedang berdebat dengan seorang pria tampan, berambut coklat tua acak-acakan, memakai cardigan coklat, celana khaki, sepatu doc martens Dan kacamata old fashion. Entah apa yang diributkan hingga tidak mendengar Mike masuk.
"Ehem!"
Kedua orang yang sedang ribut itu akhirnya menoleh ke arah suara.
"Bang Mike!" seru Vivienne sambil menghambur memeluk Mike.
"Hai wewet. Kamu ngapain kesini?" tanya Mike sambil mengusap kepala gadis berusia 13 tahun itu.
"Mom sedang lihat proyek, lalu aku minta tolong orang nerd ini mengantarku kesini." jawab Vivienne.
"Nerd?" seru pria itu.
"Iyalah, apa kamu ga liat style mu kayak apa?" ledek Vivienne. "Heran, kak Sean mau sama kamu".
"Haaaiissshhhh. Anak satu ini!" umpatnya. "Halo, aku Brandon" pria itu mengulurkan tangannya yang disambut Mike.
"Mike Cahill".
"Akhirnya bisa bertemu dengan kekasih Nabila secara langsung" senyum Brandon.
"Thanks. Apa Sean tahu kalian kemari?" tanya Mike kearah Vivienne.
"Entah, tapi aku sudah mengirimkan pesan tadi pagi bahwa kami akan mampir kemari" jawab Brandon.
"Lho kalian tidak bertemu?" tanya Mike heran.
"Sean semalam harus ke rumah sakit karena ada emergency dan hingga pagi tadi belum pulang pada saat aku berangkat kerja"
Mike menganggukkan kepalanya.
Vivienne Lee Neville
Brandon James
"Kalian berdua tadi meributkan apa?" tanya Mike sambil menuju meja pantry yang tersedia di ruangannya untuk membuat kopi. Sedikit kafein tampaknya menenangkan.
"Mbak Nabila" jawab Vivienne.
"Hah? Kalian mau kopi, teh atau lainnya ada disini" sahut Mike yang mendudukkan tubuhnya di kursi kekuasaannya.
Vivienne mendekati Mike dengan wajah jahil.
"Vodka...ada?" cengirnya
Pletak!
"Aduh!" pekiknya sambil mengusap dahinya yang kena sentil Mike.
"Kalau ngomong dipikir dulu wewet!" omel Mike sambil menyesap kopinya dan terdengar tawa Brandon yang sedang membuat teh.
"Iisshhhh bang Mike ga asyik! Aku laporin ke mbak Nabila" Vivienne memajukan bibirnya.
"Lapor sana kalau kamu mau kena keplak sama mbak mu itu"
"Ga jadi deh, mbak Nab itu bar-bar" cengir Vivienne.
"Dah tahu masih nekad nantang" kali ini Brandon yang menjawab.
Vivienne menjulurkan lidahnya ke arah Brandon lalu dia menuju pantry untuk membuat hot choco.
"So, Brandon, ada apa dengan gadisku?" tanya Mike kembali ke topik utama.
"Well, aku sudah ngobrol dengan Bryan"
"What? How... Don't tell..."
"Nabila yang mengenalkan kami" senyum Brandon. Wajah Mike melongo.
"Tenang Mike, tujuan kami sama, melindungi Nabila".
"Kalian itu ya semua melindungi mbak Nabila. Hellooo, mbakku satu itu wanita kuat, cerdas dan bar-bar. Ingat itu, bar-bar jadi sebenarnya dia nggak perlu kalian lindungi dia bagaikan vas Crystal mahal". sambung Vivienne yang sudah duduk di sebelah Brandon. "Mbok ya kalau mau lindungi, lindungi aku lah. Secara aku kan masih imut, cantik, bermata bagus, ketahuan anaknya siapa. Bisa dijadikan target aku ini"
"Siapa yang mau nyakitin kamu dek? Sebelum dia nyakitin kamu, sudah kena omel dari Utara barat timur selatan. Apa kamu nggak sadar kalau kamu sama bar-barnya dengan kakakmu?" balas Brandon.
"Eh siapa yang bar-bar? Nggak kok, aku ini anak manis, anak rumahan lhooo"
"Manis dari mana? Yang habis ngehajar temen sekelas mu sampai masuk rumah sakit siapa? Sampai dikeluarkan dari sekolah siapa? Tiga sekolah dek! Tiga sekolah dan itu sekolah elit semua di Inggris! Siapa bilang kamu nggak bar-bar?" omel Brandon.
Mike terkejut mendengar sepupu kekasihnya bisa dikeluarkan dari tiga sekolah elit Inggris.
"Iya tapi nggak sampai bikin bonyok muka orang dan matahin kaki juga dek!" Brandon merasa gemas dengan gadis cantik di hadapannya yang memang tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga Pratomo tapi kalau soal sifat sama bar-barnya dengan para sepupu perempuannya.
"Ya ampun Viv" Mike terkesima mendengar perdebatan kedua orang di depannya.
Keluarga macam apa ini yang dimiliki oleh gadisnya?
"Lho kan aku hanya membela diri bang. Nggak salah kan?" tanya Vivienne dengan puppy eyes ke arah calon kakak sepupu iparnya.
Mike hanya mengusap wajahnya kasar.
"Ya nggak gitu juga, bambaaannggg!" akhirnya Mike ikutan memarahi Vivienne.
"Eh bang Mike tahu istilah gitu juga" kekeh Vivienne cuek.
"Tahulah, pertama kali aku bertemu kakakmu juga dia berkata begitu" senyum Mike mengingat awal perjumpaan dengan Nabila.
"Oke kembali ke Nabila. Apakah kau sudah tahu kalau anak itu habis maki-maki si lintah?" tanya Brandon ke Mike.
"Sudah. Bryan laporan padaku dan katanya gadisku sama horornya denganku kalau marah" Mike tertawa kecil.
"Kalian memang jodoh!" timpal Vivienne. "Asal tahu saja bang, kakak-kakak Perempuanku semua wanita kuat. Aku menjadi begini juga karena mereka, ditambah kakak-kakakku yang tiga orang itu lelaki semua. Kebayang kan aku jadi gadis yang imut begini" senyum Vivienne yang hanya dibalas muka malas kedua pria tampan itu.
"Imut dari big Ben!" sahut Brandon jengah.
"Lho di rumah aku paling cantik lhooo. Mama yang bilang." narsis Vivienne.
"Iya dah bagi Tante Adinda, kamu memang paling cantik. Memang mo siapa lagi anaknya yang perempuan? Kecuali kalau Tante Adinda punya anak perempuan lain, ga mungkin cuma kamu yang paling cantik!" bales Brandon sarkasme.
"Iiihhh, mbok ya adiknya yang cantik paripurna ini dipuji yang enak gitu lhoooo!" cebik Vivienne.
"Malas!"
"Kak Brandon!" rengek Vivienne.
"Sudah, sudah! Kalian ini kayak gadha kerjaan lain aja" lerai Mike.
"Nggak ada!" sahut mereka berbarengan.
Mike memegang pelipisnya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Wajah pria bermata biru itu langsung sumringah melihat siapa yang menelepon.
"Assalamualaikum sayang" sapanya.
"Mbak Nabilaaaaa!" jerit Vivienne yang membuat dua pria di ruangan itu terkejut.
"Aduh!" kali ini Brandon yang menyentil dahinya.
"Suaramu itu jelek! Dikondisikan kenapa?" umpat Brandon kesal.
Dan keduanya memulai perdebatan absurd yang tak berujung tanpa menyadari Mike sudah keluar ruangan menghindari kebisingan di ruangannya.
"Ada Vivienne kah sayang?" tanya Nabila.
"Hu um dan Brandon" jawab Mike lesu.
"Oh No!" seru Nabila sambil tertawa.
"Kamu nggak kasihan padaku Nab? Pusing kepalaku dari tadi mendengar pertengkaran mereka!"
"Hahahaha, sejak Vivienne kecil, dia memang tidak pernah bisa akur dengan Brandon. Beda dengan Sean, sering membahas hal-hal receh" kekeh Nabila.
"Rasanya aku ingin terbang ke Jakarta Nab, menghalalkan dirimu." sahut Mike sendu sambil menyenderkan tubuhnya di kursi ruang tunggu depan ruangannya.
"Aamiin sayang. Semangat ya, masih kurang beberapa bulan lagi".
"Hah, andaikan ada mesin waktu"
"Kau kira Doraemon?"
"Kau itu kalau nggak nyinggung tokoh fantasi sehari nggak afdol ya Nab" senyum Mike. Gadisnya memang unik. Nabila tertawa.
"Mike!" suara bariton terdengar di sebelah Mike.
"Alhamdulillah! Sean, masuklah. Ada perang Malvinas di dalam, aku gagal menjadi PBB" Mike bersyukur Sean datang ke ruangannya.
"Hah? Siapa di dalam?" tanya Sean bingung.
"Brandon dan Vivienne".
"Oh No!" Sean bergegas masuk ke ruangan Mike.
"Pawangnya sudah datang sayang, jadi aku bisa tenang" ucap Mike kepada Nabila.
"Hahahaha. Sabar ya sayang"
***