JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
TUJUH



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


Acara Numbuk Lesung berlangsung dengan meriah, kehadiran dari Ibu Suri Maharani, ibu dari Raja JAWANAKARTA menjadikan semangat dan kegembiraan bagi masyarakat Desa Saeedah. Maklum saja desa yg berada paling ujung dan terjauh dari pusat Kota Lor, belum pernah kedatangan tamu agung dari kerajaan. Ini kali pertama ada keluarga kerajaan berkunjung ke desa dan yang berkunjung langsung seorang Ibu Suri Maharani. Acara berlanjut kian meriah, Ibu Suri Maharani terlihat anggun dan bersahaja duduk di singgasana yang terbuat dari emas. Beliau tidak henti-hentinya tersenyum kepada seluruh masyarakat Desa Saeedah.


Acara selanjutnya adalah sebuah drama yang dilakonkan oleh anak-anak Sekolah Dasar Desa Saeedah. Drama yang bertajuk ADARALOR adalah sebuah dongeng legenda di JAWANAKARTA. Dongeng tentang perjuangan seorang anak yang terlahir untuk melindungi tanah Lor dari segala ancaman, serta untuk menjaga keseimbangan hidup di JAWANAKRTA. Drama tersebut diawali dengan lahirnya Sang ADARALOR, lalu bagaimana Sang ADARALOR tumbuh, semua berjalan lancar anak-anak Sekolah Dasar Desa Saeedah begitu pandai memerankan setiap karakter dengan baik. Sampailah pada adegan ******* tentang bagaimana Sang ADARALOR berjuang menyelamatkan tanah Lor dari sang PENGHIANAT Negara.


Semua berjalan lancar sampai tiba-tiba terdengar suara pecahan gelas. Seketika perhatian dari seluruh masyarakat yang sedang menonton teralihkan, bahkan dramapun behenti dimaikan semuanya diam membeku. Di barisan depan masih duduk dengan anggunnya Ibu Suri Maharani sambil tersenyum.


"Sepertinya tanganku ini sedang tidak baik, sampai gelas yang ringan inipun jatuh dari tanganku. Tapi tenang saja, mungkin aku hanya kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh."


"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri, sebaiknya lebih baik kalau anda segera berisitirahat. Tenda kerjaan telah disiapkan diatas bukit dekat dengan sungai. Mari saya antar."


"Bagaimana mungkin aku pergi Panglima Drono acara ini belumlah selesai aku tidak ingin mengecewakan rakyatku semua."


"Hormat hamba yang mulia Ibu Suri, kami masyarakat Desa Saeedah sangat berterimakasih kepada yang mulia Ibu Suri atas kedatangan anda. Suatu kehormatan. Tapi bagi kami kesehatan yang mulia Ibu Suri jauh lebih penting. Sekiranya kami berharap kesedianan Ibu Suri untuk beristirahat."


"Baiklah kalau kalian tidak keberatan aku untuk berisitirahat. Mari kita bertemu besok lagi setelah kelelahanku ini berkurang, maklumlah aku sudah tua."


"Hormat saya yang mulia Ibu Suri, anda masih sangatlah muda dan cantik."


"Kalian bisa saja. Sudah silahkan lanjutkan acara ini."


"Hormat kepada yang mulia Ibu Suri Maharani."


Semua membungkukan badan untuk memberi hormat kepada sang Ibu Suri Maharani. Sang kepala desa Saeedah mengantar Ibu Suri Maharani ke dalam kereta kencana. Sepeninggalan sang Ibu Suri suasana kembali meriah. Dramapun dilanjutkan, semua masyarakat menikmati dengan kegembiraan lebih karena mereka merasa bahagian karena Sang Ibu Suri kerajaan JAWANAKARTA datang berkunjung ke desa mereka. Semua tampak bahagia dan antusias akan kunjungan dari Sang Ibu Suri. Tapi diantara kegembiraan masyarakat, tanpa mereka sadari beberapa diantara mereka sedang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Bapak, gimana Giyanta tadi main dramanya bagus?"


"……"


"Bapak, Bapak.. "


"Iya Nduk?"


"Bapak Giya tanya gimana giya main dramanya bagus?"


"Bagus banget nduk, kamu ternyata pinter main lakon (akting) ya."


"Iya dong, siapa dulu Giyanta."


"Dasar tukang pamer."


"Biarin Mas Garda tukang sirik."


"Sudah-sudah ayo makan lagi, sebentar lagi acara akan dilanjutkan dengan kegiatan menumbuk padi lagi, makan yang banyak biar kuat bantu-bantu lagi."


"Injeh (iya) mak."


"Kangmas ndak apa-apa?"


"Ndak (tidak) apa-apa Dek, Mas cuma sedang melamun."


"Sudah Le sekarang ndak (tidak) usah mikir yang aneh-aneh kita nikmati acara Numbuk Lesung ini, kita harus berbahagian ini acara besar untuk kita semua."


"Injeh (iya) Ibuk."


Tak terasa telah selesai acara Numbuk Lesung semua padi telah berubah menjadi beras. Semua masyarakat desa beranjak pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan bahagia. Tidak terlihat rasa lelah sedikitpun diwajah setiap masyarakat Desa Saeedah semua kegembiraan telah menghilangkan rasa lelah mereka. Seyum tak pernah hilang dari wajah mereka bahkan hingga berada dirumahpun mereka masih antusias dengan acara Numbuk Lesung hari ini. Semuanya karena hadirnya Sang Ibu Suri Maharani, ibu dari Raja JAWANAKARTA. Suatu kebanggaan dan kehormatan terhadap desa karena kehadiran dari salah satu keluarga Kerajaan. Semua bersemangat dengan apa yang akan diterjadi esok hari.


Diatas sebuah bukit tepi kali (sungai) Dono, berdirilah sebuah tenda kerajaan yang sangat mewah. Tenda yang terbuat dari sutra terbaik berwarna emas kecoklatan terlihat sangat indah dan yaman. Disekeliling tenda kerajaan itu berdiri tenda-tenda lainya. Disetiap tenda difungsikan dengan berbagai kebutuhan ada tenda bersantai, tenda ruang makan, tenda aula tamu, dan sebagainya. Tidak lupa pula barikade disekeliling tenda tersebut puluhan prajurit bersenjata lengkap berdiri tegak mengelilingi setiap sudut sekitar tenda. Terlihat bahwa sak pemilik tenda bukanlah orang biasa.


Terlihat seorang wanita tua yang anggun tengah duduk dan memandang alam sekitar dalam diam, terlihat ekspresi dingin didalam wajahnya. Matanya yang tajam memandang hamparan desa yang berada dihadapannya. Disampingnya berdiri seorang laki-laki gagah berseragam militer dengan banyak lencana lengkap dengan pedang yang tersampir dipinggangnya, siap menghalau segala macam ancaman yang bisa membayahakan wanita tua tersebut.


"Baik-baik saja, apa aku baik-baik saja?"


Senyuman sinis mengembang di bibirnya.


"Panglima, apakah kamu akan baik-baik saja setelah tahu rakyatmu menyambutmu dengan sesuatu yang tidak kamu sukai?"


"Itu hanyalah sebuah dongeng Yang Mulia Ibu Suri, dongeng pengantar tidur begitulah mereka menyebutnya."


"Dongeng? Ah... Kamu tau apa kelanjutan dari cerita dongeng tadi Panglima?"


"Setahu saya, Sang ADARALor bersama dengan 3 ADARA lainnya berhasil menyelamatkan JAWANAKARTA dari para penghianat dan mengembalikan keseimbangan di negara JAWANAKARTA."


"Kamu tahu juga ternyata dongeng itu wahai Panglima Dronota."


"Itu salah satu dongeng pengantar tidur yang sering ibu saya ceritakan Yang Mulia Ibu Suri."


"Benarkah? Ternyata walau hanya sebuah dongeng banyak juga yang masih memceritakannya."


"Dongeng para Sang ADARA atau para Pancang Penyangga salah satu dongeng yang berisikan banyak kebaikan dan nasehat Yang Mulai Ibu Suri, wajarlah apabila para orang tua senang menceritakan dongeng tersebut kepada anak mereka, karena bisa juga untuk mendidik anak-anak mereka."


"Benar dalam dongeng para Pancang Penyangga penuh dengan syarat kebaikan, nasehat dan petuah, serta pegangan hidup agar kita tidak salah jalan. Tapi dalam setiap dongeng pasti akan ada yang baik dan yang jahat, yang baik dan yang buruk bukan?"


"Benar, Yang Mulia Ibu Suri."


"Yang baik akan menjadi putih dan yang jahat akan menjadi hitam bukan?"


"Benar Yang Mulia Ibu Suri, cerita dongeng merupakan perbandingan dalam kehidupan yang nantinya akan menjadi contoh dimana yang baik akan menjadi pegangan dalam hidup kita dan yang buruk bisa menjadi hal yang perlu kita hindari dari hidup kita."


"Benarkah, apakah setiap yang hitam akan selalu jahat dan buruk? Pernahkah ada cerita kelanjutan dari sang hitam, bagaimana sang hitam apakah sang hitam kalah dan mati atau sang hitam masih berdiri dengan tegak menunggu untuk memulai kembali."


"Maaf Yang Mulia Ibu Suri, saya tidak begitu mengerti maksud anda."


"Sudahlah Panglima, kita tidak perlu membahasnya. Aku sudah tidak apa-apa sekarang. Mungkin tadi seditik letih karena perjalanan yang membuatku menjadi sedikit sensitif."


"Apakah Yang Mulia Ibu Suri ingin mandi dan berendam, saya akan memberitahukan kepada kepala Dayang untuk menyiapkan semuanya."


"Itu ide yang cemerlah, baiklah aku akan berendam."


"Baik Yang Mulia Ibu Suri saya akan memberitahu kepala Dayang. Permisi."


Fokus Yang Mulia Ibu Suri Maharani kembali tertuju pada desa Saeedah. Masih dengan tatapan dinginnya.


"Benar, percayalah pada dongeng mereka. Aku berharap kalian tidak hanya tahu tentang sang Putih saja, karena dalam dongeng itu juga ada sang Hitam. Sang Hitam yang ingin mendapatkan kembali miliknya, itu juga yang perlu diingat wahai rakyatku. Wahaha wahaha... "


Suara tawa terdengar membahana berlatar langit senja yang indah. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah keindahan alam semesta yang sangat luar biasa. Desa Saeedah memanglah luar biasa. Keindahan alam, kesuburan tanah, kearifan masyarakat, dan adat istiadat yang masih terjaga dengan baik menambah daya tarik desa tersebut.


"Sungguh indah desa ini, beruntunglah wahai rakyatku kalian memiliki permata yang indah ini. Kalau tidak entah apa yang akan aku lakukan atas kelancangan kalian hari ini. Kita lihat bagaimana akhir dari kelancangan kalian terhadap Yang Mulia Ibu Suri ini. Aku akan tetap berharap akhir yang baik untuk kalian rakyatku."


"Yang Mulia Ibu Suri, saya mbok Yem."


"Kemarilah."


"Hormat saya Yang Mulia Ibu Suri, semuanya sudah siap anda sudah dapat mandi dan berendam."


"Baiklah."


Sang Ibu Suri berbalik arah masuk kedalam tenda sambil tak lupa melihat kembali kearah desa Saeedah sekilas. Senyum indah terukir dibibirnya, senyum yang menyiratkan akan banyak hal dan terkesan menyeramkan. Dan hanya sang Dayang yang tahu arti dari senyuman itu, sang Dayang hanya dapat menunduk saat sang Yang Mulia Ibu Suri berjalan melewatinya. Setelah sang Yang Mulia Ibu Suri masuk ketenda, sang Dayang ikut memandang desa yang indah itu dengan tatapan prihatin.


"Aku berdoa kepada Sang Penguasa Alam Semesta, hamba mohon lindungilah mereka yang tidak bersalah dari segala macam bencana."


Benar hanya Sang Penguasa Alam Semesta yang tahu apa yang akan terjadi dan hanya Dialah yang dapat membantu mereka.