
"Apa ini jalannya pak Juan?"
"Benar Panglima Jayadri."
"Baik sebaiknya kita segera bergegas, sepetinya rombongan Yang Mulia Kanjeng Ratu telah tiba."
"Berapa lama kita akan sampai di sana?"
"Sekitar 15 menit berjalan Sultan Lor."
"Baiklah bila kita bergegas kita bisa lebih cepat sampai sana."
"Lodan apa semua sudah bersiap?"
"Sendiko Dawuh Panglima. Semua sudah bersiap ditempat masing-masing."
"Sebenarnya apa yang anda rencanakan Panglima?"
"Ini untuk skenario terburuk saja Sultan Lor."
"Skenario terburuk?"
"Ya nanti kalian juga tahu, yang penting kita harus segera sampai terlebih dahulu ke rumah pak Kastiar."
Mereka segera bergegas menyusuri jalan setapak tepi sungai, dengan Kasep yang berada di depan memimpin bersama Lodan. Saat mereka hampir sampai ke jalan masuk Dusun terlihat kembali 2 orang prajurit kerajaan yang sedang menjaga jalan tersebut.
"Semua berhenti."
"Ada apa Lodan?"
"Nyuwun sewu Panglima ada yang menjaga di depan sana."
"Mereka berbaret?"
"Benar Panglima Baret Hitam."
"Ini cukup buruk, bila yang berjaga tidak berbaret aku bisa menampakan diri karena tidak banyak prajurit kerajaan yang sering bertemu denganku tapi bila berbaret apalagi Baret Hitam bisa dipastikan mereka akan mengenaliku."
"Lalu bagaimana Panglima?"
"Apa tidak ada jalan lainnya pak Juan?"
"Ada tapi harus memutar Sultan Lor, kita bisa menelusuri seluruh tepian sungai kecil."
"Sebenarnya ada yang langsung mengarah ke rumah pak Kastiar, cuman terlalu berbahaya jalurnya rawan longsor bila di injak dan kita bisa langsung terjun ke sungai."
"Apa kita lumpuhkan saja mereka Panglima?"
"Itu bukan hal yang bagus Lodan, bila kerajaan tahu kita benar-benar dalam masalah dan lagi mereka Prajurit Baret Hitam ingat kemampuan mereka bukan kaleng-kaleng."
"Tunggu saya ada ide, tapi untuk itu kita harus sedikit berbasah-basah Panglima."
"Apa itu pak Kasep?"
"Kita lewat parit Dusun saja Panglima?"
"Kamu ada-ada saja Kasep masak Panglima Jayadri dan Sultan Lor harus menyusuri parit gorong-gorong Dusun kita."
"Hanya itu jalan yang tidak akan dijaga oleh para prajurit kerajaan Kang Juan. Kalau kita terobos itu lebih bahaya lihat mereka prajurit baret hitam, mereka bukan orang-orang biasa benarkan Panglima?"
"Benar pak Kasep. Panglima, walau saya yakin bisa melumpuhkan kedua prajurit itu. Tapi itu busa membuat semua dalam bahaya, termasuk anak-anak."
"Tidak masalah saya lewat mana saja pak Juan, selama kita aman dan dapat segera sampai bukan begitu Panglima?"
"Benar itu pak Juan, tenang saja saya sudah terbiasa melakukan ini ingat pelatihan saya jauh lebih berat dan kotor ketimbang menyusuri gorong-gorong seperti ini. Jadi mari kita lewati parit yang dimaksud oleh pak Kasep."
"Parit ini cukup besar Panglima kita bisa berjalan bersisian berdua ditambah parit ini berada di belakang rumah warga jadi akan aman kita melewatinya."
"Kita akan keluar di rumah saya Kang Juan, ingat kalau belakang rumah parit nya sudah saya bukakan."
"Baiklah kamu yang tahu jalannya kamu yang memimpin Kasep."
"Baik Kang, mari Panglima, Sultan Lor dan semua ikuti saya."
Mereka segera turun menuju aliran parit Dusun Undayan. Tidak seperti parit di Dusun-dusun besar parit di Dusun Undayan terletak di belakang rumah warga yang letaknya di pinggir Dusun. Keterbatasan lahan alasan kenapa parit itu harus di buat di tepian Dusun. Itu juga salah satu cara warga Dusun Undayan meminimalisir banjir kiriman dari Dusun Elit. Parit dibuat lebih dalam dan berposisi di tempat paling rendah Dusun, sehingga dapat segera mengurangi debit air banjir kiriman dari Dusun Elit. Parit ini adalah gagasan dari Kaliaji dan dilaksanakan oleh warga Dusun. Dan hasilnya sangat membantu dalam mengatasi banjir, itulah mengapa Kaliaji beserta keluarga Kastiar sangat dihormati dan disayangi warga Dusun Undayan.
Beralih ke balai Dusun Undayan, Yang Mulia Kanjeng Ratu telah sampai di sana. Sedikit heran karena balai Dusun terlihat sepi dan tidak ada seorangpun yang menyambut beliau.
"Kenapa sepi sekali di sini pak Hasta? Kemana warga Dusun ini?"
"Sepertinya kita datang terlalu pagi Yang Mulia Kanjeng Ratu, kebanyakan warga Dusun bawah masih bekerja sepertinya."
"Apa kamu tidak bilang bahwa aku akan datang ke sini pak Hasta?"
"…."
"Jawab pak Hasta!"
"Ngaturaken sembah nyuwun (mohon) ngapunten (maaf) Yang Mulia Kanjeng Ratu, ini saya lakukan agar mereka tidak memanggil Sultan Lor."
"Sultan Lor?"
"Benar Yang Mulia Kanjeng Ratu, selama ini Sultan Lor lah yang membuat proyek ini tersendat. Beliau selalu membela dan berpihak pada Dusun bawah ini, sekali lagi saya haturkan nyuwun (mohon) ngapunten (maaf)."
"Seberapa banyak Damarbati ikut campur dalam proyek ini pak Hasta?"
"Sedari awal kami mengajukan proyek ini Yang Mulia Kanjeng Ratu."
"Itu alasan kalian memperlihatkan proyek ini kepadaku?"
"Benar Yang Mulia Kanjeng Ratu, hanya anda yang dapat mengerti dan membantu kami. Sultan Lor selalu menghalangi kami, maka kami menemui anda Yang Mulia Kanjeng Ratu. Anda adalah pemilik asli dari JAWANAKARTA, seluruh JAWANAKARTA adalah milik anda. Anda Ratu JAWANAKARTA."
"Kau benar sekali pak Hasta, aku adalah Ratu JAWANAKARTA. Kenapa kamu tidak menemui ku sedari awal, bisa saja proyek ini telah rampung."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Kanjeng Ratu, saya menyesal tidak menemui anda sedari awal. Jadi saya sebagai perwakilan dari Dusun Elit sangat berterimakasih karena anda mau membantu kami Yang Mulia Kanjeng Ratu."
"Tidak masalah, banyak juga adik-adikku yang tinggal di Dusun Elit. Jadi senang rasanya bisa membantu kalian semua. Lalu sekarang bagaimana kita memanggil seluruh warga Dusun Undayan agar kemari pak Hasta. Aku tidak mau berjalan kaki menyusuri jalan sempit dan becek seperti itu untuk menemui warga Dusun ini."
"Sediko dawuh Yang Mulia Kanjeng Ratu, itu ndak (tidak) akan terjadi saya telah menyiapkan semuanya. Anda tenang saja dan silahkan duduk di kursi yang telah saya siapkan, tentunya anda juga Yang Mulia Kanjeng Pangeran dan Raden Bastur. Silahkan."
"Kalau begitu urus lah semuanya pak Hasta, dan pastikan semua warga Dusun Undayan datang ke balai Dusun ini."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Kanjeng Ratu, anda tenang saja dan silahkan beristirahat dulu."
Setelah memastikan bahwa Yang Mulia Kanjeng Ratu, Kanjeng Pangeran dan Raden Bastur telah duduk dengan nyaman dengan hidangan camilan lengkap dan tentunya mewah pak Hasta bergegas menemui semua bawahannya.
"Kalian semua bawa seluruh warga Dusun Undayan ke Balai Dusun sekarang, bila ada yang menolak paksa dan ancam mereka. Seluruh warga Dusun Undayan harus ada di balai Dusun dalam waktu 30 menit ingat jangan lebih dari itu."
"Siap pak Hasta."
"Kamu Japri bawa semua anak buah mu, ikuti rencana awal kita jangan sampai keliru ingat kita sedang bersama Yang Mulia Kanjeng Ratu. Kita ndak (tidak) boleh salah dalam melangkah atau semua proyek ini gagal total."
"Bagaimana bila Sultan Lor hadir di sini pak Hasta?"
"Itulah kenapa aku memintamu untuk membawa semua anak buah mu. Lakukan apapun juga agar Sultan Lor tidak datang ke Dusun Undayan, bila perlu jaga setiap pintu masuk dan halangi beliau untuk masuk Dusun bawah. Mengerti!"
"Tenang saja Hasta, aku yakin Sultan Lor belum tahu semua ini. Dan saat beliau tahu semua sudah terlambat."
"Kita tidak boleh meremehkan segala hal yang bisa terjadi Pak Gama sebaiknya semua tetap waspada dan lakukan sesuai rencana kita."
"Baik pak Hasta."
Bersambung...