JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
49



Sirine tanda pasukan patwal sedang menetralkan jalan meraung di sepanjang jalan. Dibelakang motor dan mobil patwal berbaris rapi belasan mobil memenuhi jalan utama Kota Lor. Mobil yang didominasi oleh mobil-mobil mahal yang berasal dari negara-negara biru tersebut memperlihatkan bahwa bukan sembarang orang yang berada dalam rombongan tersebut. Bendera kerajaan berkibar di depan mobil memberi tanda bahwa orang yang berada di dalam mobil adalah sang pemimpin kerajaan. Rombongan mobil tersebut membelah jalanan kota Lor dengan gagahnya, semua pengguna jalan segera menyingkir dan menepi agar dapat memberi jalan kepada rombongan kerajaan. Kebanyakan dari mereka lebih memilih menepi dari pada terkena masalah dengan pemimpin JAWANAKARTA. Seluruh rakyat JAWANAKARTA tahu bahwa keluarga kerajaan bukanlah sembarang orang yang dapat mereka hadapi. Ditambah lagi banyak sekali berita bagaimana orang-orang yang pernah mencoba melawan pihak Kerajaan, dimana tidak ada satupun yang dapat hidup dengan baik di JAWANAKARTA. Semakin membuat rakyat JAWANAKARTA tidak ingin berurusan dengan pihak kerajaan JAWANAKARTA.


"Dek Bastur."


"Injeh (iya) Kangmas sendiko dawuh."


"Menurutmu apa proyek ini benar-benar baik untuk rakyat kita?"


"Maksud Kangmas pripun (bagaimana) njih (ya)? Nyusun sewu saya ndak (tidak) begitu mengerti maksud Kangmas."


"Kamu tahu maksudku Dek. Bila proyek ini benar di jalankan akan ada rakyat yang kehilangan tanah leluhurnya."


"Kangmas, mohon maaf. Tapi bukankah proyek ini telah di setujui oleh Kangmas?"


"Bukan aku Dek, melainkan Kanjeng Ibu. Beliau yang mengatur semuanya, jujur saja aku baru tahu 3 hari yang lalu."


"Nyuwun sewu Kangmas sepertinya saya ndak (tidak) punya hak untuk menjawab pertanyaan sampean (anda)."


"Katakanlah Dek tidak apa didalam mobil ini hanya ada aku, kamu dan untuk pak Suto kamu tenang saja aku bisa pastikan bahwa pak Suto tidak akan buka mulut pada siapapun. Ya kan pak Suto?"


"Sendiko dawuh Kanjeng Pangeran."


"Jadi bagaimana pendapatmu Dek Bastur?"


"Sejujurnya saya kurang setuju Kangmas, semua proyek ini terlalu beresiko. Selain kita harus memindahkan satu Dusun ke tempat yang jauh, proyek ini juga beresiko untuk daerah pesisir utara Kangmas. Apa yang akan di bangun oleh Dusun Elit itu beresiko dapat merusak alam dan lagi... Kangmas tahu bahwa kanal utara bukanlah masalah yang dapat dengan mudah dihadapi manusia. Sampean (anda) tahu wejangan dari leluhur kita dulu Kangmas. Bahwa tidak semua hal yang ada di dunia ini dapat di kuasai oleh manusia, alam memiliki rahasia sendiri agar manusia tidak dapat menguasai seluruh dunia kita. Karena sejatinya alam lah yang mendidik manusia untuk dapat banyak hal, sehingga membuat manusia menjadi Mpan Papan (tahu tempat). Karena saat manusia tidak tahu tempat mereka dengan mudahnya alam akan menghancurkannya."


"Kamu benar Dek Bastur, kanal utara adalah salah satu peringatan alam untuk manusia. Tapi Dek sejujurnya aku juga tidak tahu bagaimana cara menghentikan proyek ini. Semua telah diatur oleh Kanjeng Ibu, dan aku merasa sangat bodoh saat ini karena tidak dapat melakukan apapun."


"Anda tidak boleh berkata begitu Kangmas. Kangmas Suryabagus, sampean (anda) adalah calon Raja JAWANAKARTA jadi sampean (anda) telah diberkati oleh seluruh alam JAWANAKARTA untuk dapat memimpin negara ini. Satu hal yang bisa saya katakan kepada sampean (anda) Mas, walau sampean Raja di negara ini, sampean (anda) tetap masih punya Yang Maringi Urip sama sampean (anda) Mas jadi biar semua berjalan bagaimana mestinya."


"Kamu benar Dek Bastur, aku sebaiknya pasrahkan ke Sang Pencipta Alam biar beliau yang mengatur semua nantinya. Ya Sang Pencipta Alam Semesta saya hanya meminta tolong jangan ada yang terluka dan tersakiti dengan segala yang akan terjadi. Amin."


"Amin Kangmas Suryabagus. Aku percaya semua yang akan terjadi sekarang ataupun nanti telah di atur oleh Sang Pencipta Alam Semesta."


"Ya aku pun setuju Dek Bastur, semoga segala yang terbaik akan terjadi."


Di gerbang masuk Dusun Undayan telah berkumpul banyak sekali prajurit kerajaan mereka berbaris rapi dengan beberapa orang tengah mengatur barisan tersebut.


"Ada apa dengan Dusun kita Pri? Ini bukannya seragam prajurit Kerajaan ya?"


"Iya Dung, mereka prajurit kerajaan. Lantas kenapa mereka berbaris di depan pintu masuk Dusun kita."


"Bila dilihat semuanya baret hitam bukankah mereka pengawal Kanjeng Raja dan Kanjeng Ratu?"


"Kamu benar Ji, mereka pengawal Kanjeng Ratu sama Kanjeng Pangeran. Lalu kenapa mereka ada di sini?"


Dalam kebingungan mereka melangkah menuju pintu gerbang Dusun Undayan.


"Hei anak sekolah. Ya kalian bertiga kesini! Apa kalian warga Dusun Undayan?"


"Benar Pak kami anak-anak Dusun Undayan kami baru saja pulang sekolah."


"Kalian sekolah dimana?"


"Wah lumayan jauh dari sini ya."


"Bapak tahu SMP Darmapadi?"


"Tahulah itu sekolah saya dulu."


"Pak Prajurit dulu sekolah di SMP Darmapadi?"


"Wah sekolah kita ternyata keren ya, lulusannya ada yang jadi Kadet Prajurit Baret Hitam Kerajaan."


"Bisalah semua bisa jadi Le, asal mau berusaha. Walau sekolah pinggiran selama kamu bisa dan mampu terus berusaha jadi apapun bisa Le. Ya sudah kalian mau masuk Dusun kan, ayo masuk sekarang nanti kalau rombongan Kerajaan datang kalian akan susah masuknya. Jadi segera masuk saja kalian."


"Rombongan Kerajaan Pak? Kalau ada Prajurit Baret Hitam apa berarti Kanjeng Ratu datang ke sini?"


"Benar Kanjeng Ratu dan Kanjeng Pangeran sedang dalam perjalanan kemari. Jadi lekas kalian semua masuk Dusun dulu."


"Baik Pak Kadet terimakasih. Ayo masuk teman-teman."


"Ndak (tidak) nunggu rombongan Kanjeng Ratu di sini aja Ji?"


"Aku ndak (tidak) mau Dung, aku mau pulang sekarang. Kalau kalian mau lihat rombongan silahkan aku pulang dulu."


"Lho Ji ndak (tidak) usah buru-buru juga yang penting kita masuk gerbang Dusun dulu aja."


"Maaf Pri, aku harus segera pulang. Jadi aku duluan saja oke."


"Lho Ji. KALIAJI."


"Kenapa Aji Pri? Kayak buru-buru gitu."


"Ndak (tidak) tahu Dung, mungkin sakit perut. Kamu mau langsung pulang apa nunggu sini dulu terus lihat iring-iringan rombongan Kerajaan?"


"Kamu gimana Pri?"


"Aku mau lihat sih Dung, tapi nanti pasti penjagaannya ketat banget secara yang datang Kanjeng Ratu sama Kanjeng Pangeran."


"Terus enaknya gimana Pri."


"Aku tahu ayo ke markas kita saja dari sana kita bisa lihat dengan baik nanti."


"Oke siap Pri, sebelum ke markas mampir warung Mbok Jum dulu ya. Buat nambah amunisi dulu biar tar ndak (tidak) bunyi-bunyi ini perut."


"Oke Dung, aku juga lapar tapi males balek rumah."


"Oke ayo pergi Pri."


"Sip Dung."


Meninggalkan Dudung dan Jupri yang ingin melihat rombongan Kerajaan. Kaliaji segera menuju rumah dengan segera, dia masih memikirkan perkataan dari Ibu Gurunya tadi. Apa yang dimaksud Dayang Welasih yang juga gurunya tadi ada hubungannya dengan rombongan Kerajaan. Banyak hal yang di pikirkan Kaliaji sekarang, di terus bejalan dengan cepat menuju rumahnya.


Bersambung...