
"Selamat datang di kantor Kesultanan Lor pak Kastiar. Selamat datang juga untuk Kaliaji, Kalasih dan juga Ibu Kastiar, saya mohon maaf karena telah menganggu malam santai keluarga Bapak Kastiar."
"Tidak apa-apa Sultan Lor, kami juga merasa terhormat karena telah diundang oleh anda Sultan Lor."
"Mari silahkan duduk, dan Trisno siapkan minuman dan makanan di sini."
"Sendiko dawuh Sultan Lor."
"Bagaimana kabar kalian Kaliaji dan Kalasih?"
"Baik Sultan."
"Baik Sultan, wah kantor Sultan Lor besar dan bagus sekali."
"Terimakasih, Kalasih. Kamu suka dengan kantor Sultan?"
"Iya Sultan, kayak rumah putri-putri dari negara utara."
"Kamu suka nonton film dari negara-negara utara Asih?"
"Suka Sultan bagus-bagus filmnya."
"Bagaimana dengan film dari negara kita Asih?"
"E... Ada yang bagus juga Sultan, tapi..."
"Banyak yang kurang bagus bukan, ya kami sudah sebisa mungkin membatasi penyiaran negara kita. Tapi tetap saja entah bagaimana banyak acara yang kurang layak tonton masih banyak di siarkan hanya karena meraih rating tinggi. Tidak dapat di pungkiri kalau kualitas film dan acara di negara kita memang kurang baik."
"Apa kita bisa protes tentang acara yang tidak baik Sultan?"
"Tentu Aji, kamu bisa mengajukan keluhan kepada komisi yang bertugas menangani segala aktifitas penyiaran."
"Tapi kenapa sekarang makin banyak acara yang tidak bagus di putar di televisi Sultan? Bagaimana komisi itu bekerja, apa semua yang di siarkan benar-benar layak di tonton menurut mereka?"
"Itu dia Kaliaji, yang sampai sekarang aku pun pribadi tidak mengerti bagaimana mereka menilai kelayakan suatu acara. Ada banyak pro dan kontra tentang layaknya sebuah acara di tayangkan. Di negara kita ini tidak memiliki peraturan tertulis tentang mana yang layak dan tidak layak, hanya ada penilaian dari satu sudut pandang Aji. Itulah kenapa makin ke sini acara negara kita, memang bukan tontonan yang bisa di bilang baik. Maka makin banyak anak muda yang lebih menyukai film atau acara dari negara-negara utara. Apa kamu juga suka film atau acara hiburan dari negara-negara utara juga Kaliaji."
"Tidak juga Sultan, mas Aji itu jarang nonton tv dia lebih suka main diluar sama teman-temannya."
"Emang kamu ndak (tidak) dek Asih, kamu juga suka main di luar daripada nonton tv di rumah. Kalau Mamak ndak (tidak) teriak manggil kamu kamu belum mau pulang."
"Tapi ndak (tidak) sering kaya mas Aji."
"Sudah anak-anak jangan bertengkar di depan Sultan Lor."
"Tidak apa-apa Bapak Kastiar. Anak-anak anda sangat luar biasa."
"Terimakasih Sultan Lor."
"Kalasih dan Kaliaji apa kalian mau melihat taman di belakang kantor Kesultanan Lor, di sana juga ada kolam ikan dan air mancur."
"Asih boleh lihat itu Sultan?"
"Boleh, Mbak Sari yang akan menemani kalian melihat taman itu, percayalah Kalasih pemandangan taman itu sangat indah saat malam."
"Wah, Asih boleh lihat tamannya Mamak?"
"Boleh saja kalau Mamak, ijin Bapak juga."
"Boleh Pak?"
"Boleh, asal kamu nurut sama Mas mu. Ndak (tidak) boleh nakal dan ngeyel, mengerti!"
"Injeh (iya) Pak, siap. Ayo Mas Aji kita lihat taman sama air mancur."
"Aji jaga adikmu ya, Bapak sama Mamak akan di sini bersama Sultan Lor."
"Sari kamu ajak mereka ke taman belakang, kalau mereka ingin melihat burung merak kamu bisa membawa mereka menuju kandang burung merak juga."
"Sendiko Dawuh Sultan. Ayo anak-anak ikut mbak Sari."
Asih dan Aji mengikuti Sari menuju taman kantor Kesultanan Lor. Asih sangat antusias untuk melihat taman dan kolam air mancur, ditambah Sultan mengatakan bahwa mereka bisa melihat burung merak. Burung yang sudah langkan di kota Lor, karena habitatnya telah berubah menjadi perumahan mewah dan jalan-jalan yang bagus. Sepeninggalan Asih dan Aji, Sultan Lor mulai berbicara kembali.
"Bapak Kastiar, saya mohon maaf karena membuat anda dan keluarga datang ke kantor Kesultanan Lor malam-malam seperti ini."
"Tidak apa-apa Sultan Lor, saya yakin ada masalah yang cukup serius sehingga anda memanggil kami. Dan bila kami bisa membantu anda, kami akan membantu sebisa kami Sultan Lor."
"Terimakasih Bapak Kastiar, langsung saja saya akan bertanya kepada anda Pak. Saya tahu bahwa Asih anak yang istimewa bukan begitu Pak Kastiar?"
"Bagaimana anda tahu?"
"Anda pernah mendengar para Tiang Pancang penyangga JAWANAKARTA Pak?"
"Ya, itu dulu sering diceritakan di keluarga kami. Sejak dulu secara turun temurun leluhur kami selalu menceritakannya kepada generasi berikutnya Sultan. Saya masih ingat semua, cerita Ibu dan Ayah saya tentang para Andara. 4 tiang pancang dari 4 kota di JAWANAKARTA, setiap kota memiliki kisah masing-masing, dengan Lor sebagai pembuka dan Kidul sebagai penutup."
"Benar sekali, saya tahu anda dan keluarga masih memegang teguh segala ajaran dari leluhur kita. Maka langsung saja, apa anda tahu bahwa Asih adalah Sang Andarani Lor?"
"Maksud Sultan? Asih putri kami?"
"Benar Pak Kastiar, seperti yang saya tanyakan tadi Asih anak yang istimewa bukan."
"Tapi bagaimana bisa anda seyakin itu bahwa Asih putri kami adalah Sang Andarani Lor?"
"Pak Kastiar apa anda pernah mendengar cerita tentang Sang Darani Lor?"
"Sang Darani Lor?"
"Benar, Sang Darani Lor. Kesatria penjaga dan pelindung Sang Andarani Lor."
"Saya tidak tahu tentang Sang Darani Lor, Sultan Lor."
"Memang banyak yang tidak tahu tentang Sang Darani, karena mereka lebih di kenal dengan nama lain. Nama yang kita kenal sebagai orang-orang hebat dan luar biasa dari negara JAWANAKARTA."
"Lalu apa hubungannya dengan putri saya Sultan Lor?"
"Ada Ibu Kastiar, karena saya menduga Sang Darani Lor adalah putra anda."
"Putra kami? Aji, Kaliaji?"
"Benar Ibu."
"Tunggu Sultan Lor, untuk Asih saya mengakui bahwa putri kami itu memanglah istimewa sedari kecil kami telah mengetahuinya. Ada sesuatu yang berbeda dari putri kami, dan itu bukan sesuatu yang bisa di lihat menggunakan nalar. Tapi untuk Aji, dia hanya anak biasa yang pintar dan berpendirian teguh, Aji tidak memiliki keistimewaan seperti Asih. Dan lagi bagaimana itu dapat membuktikan bahwa Asih adalah Sang Andarani Lor Sultan?"
"Ada sebuah legenda yang tidak banyak di ketahui oleh orang-orang saat ini. Legenda yang benar adanya pernah terjadi, atau bisa dibilang selalu terjadi Pak Kastiar. Periode ini terus terjadi setiap 1000 tahun sekali untuk negara JAWANAKARTA, siklus ini terus berulang. Ada banyak hal yang disembunyikan dalam sejarah negara kita, sesuatu yang ditutupi untuk kepentingan tertentu. Tapi masih banyak orang di JAWANAKARTA yang masih memegang teguh ajaran leluhur, masih mewarisi segala yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Maka di sinilah kita sekarang, membuktikan segala yang dulu hanya di bilang dongeng atau legenda. Anda akan melihat sendiri Bapak dan Ibu Kastiar, anak-anak anda yang sungguh istimewa. Trisno apakah para kepala Dusun telah sampai?"
"Mereka telah sampai Sultan Lor."
"Suruh mereka masuk ke ruangan ini, dan panggil juga Kaliaji dan Kalasih."
"Sendiko dawuh Sultan. "
"Bapak Kastiar saya benar-benar berharap bahwa anak-anak andalah yang kami cari selama ini."
"Saya masih belum mengerti Sultan Lor."
"Saya akan menjelaskan semuanya kepada anda nanti, sekarang mari kita buktikan apakah benar adanya Kalasih dan Kaliaji adalah Sang Andarani Lor dan Sang Darani Lor."
Bersambung...