
Lor (Utara)
SANG DARANI LOR
"Nyuwun sewu Yang Mulia Ibu Suri, bolehkah Giayanta memohon sesuatu?"
"Cah Ayu (anak cantik), kamu anak yang pintar dan cerdas calon generasi terbaik JAWANAKARTA tentu kau boleh meminta sesuatu cah ayu (anak cantik). Bicaralah aku mengijinkan mu."
"Matur sembah nyuwun Yang Mulia Ibu Suri, terimakasih banyak. Sebenarnya saya... "
"Bicaralah nduk cah ayu (anak cantik), tidak apa-apa."
"Bisakah Yang Mulia Ibu Suri memaafkan mereka?"
"Adek."
"Nduk."
"Nduk."
"Mamak, Giayanta tahu dan mengerti mereka jelas bersalah dan kesalahan merekapun membuat Giayanta marah, tapi bukankah mereka memiliki keluarga juga. Bagaimana nanti keluarga mereka, Giyanta kasihan kepada mereka."
"Adek, Mas tahu maksud dek Giaya. Didunia ini tidak ada yang mau kehilangan keluarga kita."
"Tapi kesalah tetaplah kesalahan Nduk, mereka terbukti bersalah jadi memang sepatutnya mereka menerima hukuman."
"Tapi bukankah mereka telah mengakui kesalahan mereka dan meminta maaf. Haruskah mereka tetap…"
"Sungguh luar biasa anak-anakmu Daryan, tidak hanya pintar dan cerdas mereka juga welas asih (penyayang). Suguh aku masih bisa melihat kemurnian dari anak-anakmu, aku yakin mereka akan menjadi generasi yang akan menopang JAWANAKARTA di masa depan. Aku benar-benar berharap banyak kepada anak-anak seperti kalian Le, Nduk."
"Sendiko dawuh lan (dan) matur sembah nuwun (terimakasih banyak) Yang Mulia Ibu Suri."
"Nduk cah ayu (anak cantik), kau menginginkan aku memaafkan mereka?"
"Injeh Yang Mulia Ibu Suri, mereka telah mengakui kesalahan mereka dan telah meminta maaf juga."
"Nduk cah ayu (anak cantik), dalam sebuah kesalahan tidak semua bisa diselesaikan dengan maaf dan mengakui kesalahan. Mari kita misalkan saat seseorang melanggar aturan karena tidak tahu akan aturan yang berlaku, di satu sisi saat seseorang melanggar aturan dimana mereka tahu dengan benar aturan yang berlaku, apakah itu bisa dikategorikan sama Nduk?"
"Ndak Yang Mulia Ibu Suri, itu ndak sama."
"Kamu memang anak yang cerdas, maka perlunya hukuman pada sebuah kesalahan untuk memberi peringatan dan memberi efek jera kepada setiap manunia, sejatinya Nduk bila manusia tidak ada yang ditakuti bisa dipastikan seluruh alam semesta tidak akan ada lagi."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri. Saya minta maaf."
"Tidak apa-apa Nduk, kamu memanglah gadis yang cerdas, pintar dan berhati lembut. Jadi mari kita selesaikan ini dengan segera karena masih ada agenda yang jauh lebih penting dari ini. Panglima Dronota bersiaplah lakukan perintahku."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."
"Pasukan bersiap untuk babatndas, formasi dibentuk jagal bersiap."
"SIAP PANGLIMA."
"Wahai 5 tahanan kerajaan, kalian telah melanggar peraturan kerajaan dimana kalian adalah bagian dari kerajaan. Kalian tahu benar itu dan kesalahan kalian tidak hanya melanggar peraturan tapi juga telah menghilangkan nyawa Rusa yang dimana merupakan hewan kebanggaan dan dilindungi di Kerajaan JAWANAKARTA. Dengan ini sesuai dengan titah dari Yang Mulia Ibu Suri Maharani, kalian berlima akan di penggal hari ini juga. Terimalah hukuman dari Kerajaan JAWANAKARTA."
"SENDIKO DAWUH PANGLIMA DRONOTA, KAMI MENERIMA HUKUMAN TERSEBUT."
"Para jagal, mulailah."
"SIAP PANGLIMA DRONOTA."
Suasana yang awalnya gembira akan kedatangan Yang Mulia Ibu Suri berubah seketika saat eksekusi penggal di laksanakan. Tidak ada lagi kegembiraan dan keceriaan yang tersisa hanya rasa takut dan kengerian. Didepan seluruh warga desa Saeedah, kelima prajurit yang bersalah pasrah menerima nasib mereka. Sedangkan warga desa Saeedah semua terdiam sambil memegang dan menutup mata anak-anak mereka agar tidak melihat hal mengerikan tersebut. Tidak ada yang dapat menghentikannya, karena titah Yang Mulia Ibu Suri sama mutlaknya dengan titah Raja JAWANAKARTA. Melawan titah beliau sama dengan berkhianat. Desa yang damai dan makmur, telah kehilangan kedamaian nya.
Tepat sebelum eksekusi dijalankan terdengar gemuruh dari atas bukit, langit yang tadinya cerah berubah menjadi gelap. Awan mendung menutup hampir semua daerah desa Saeedah, seolah-olah seluruh desa telah ditutup oleh awan gelap. Suara gemuruh datang sili berganti, diikuti oleh kilatan cahaya petir. Semua orang tahu bahwa desa akan segera mengalami hujan badai yang dahsyat.
"BADAI MIRUNGGAN, SEMUA BERLINDUNG."
"Nyuwun sewu Yang Mulia Ibu Suri, sebaiknya anda masuk ke balai desa kami. Sepertinya Badai Mirunggan akan menerjang desa kami. Mari saya antar kedalam balai desa Yang Mulia Ibu Suri."
"Apa Badai Mirunggan sering menerjang desa Saeedah Pak Kepala desa?"
"Sebenarnya jarang Yang Mulia Ibu Suri, hampir tidak pernah. Di gunung Mprau memang sering terjadi Badai Mirunggan tapi hanya terjadi di atas gunung saja tidak pernah turun hingga ke desa kami."
"Lalu ini pertama kalinya kalian menghadapi Badai Mirunggan?"
"Desa kami memang belum pernah diterjang Badai Mirunggan Yang Mulia Ibu Suri, tapi sebagian besar warga desa kami tahu tentang Badai Mirunggan karena kami sering menghadapinya saat mencari rempah dan obat-obatan disekitar puncak gunung Mprau. Jadi kami tahu bagaimana tanda awal akan datangnya Badai Mirunggan."
"Berapa lama biasanya Badai Mirunggan terjadi, kau tahu kan aku belum pernah bertemu dengan Badai Mirunggan. Badai ini hanya terjadi di wilayah Pengunungan Serayu saja bukan?"
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri, kami tidak dapat memastikan berapa lama Badai Mirunggan berlangsung. Karena sekali badai itu terjadi, seperti air keran yang jebol tidak akan berhenti hingga air habis, siang seperti malam matahari tidak akan tampak, dan tidak akan ada suara yang terdengar selain suara gemuruh dan guntur. Itulah Badai Mirunggan Yang Mulia Ibu Suri."
"Baiklah pak Kepala desa, sebaiknya kita hentikan dulu pertemuan ini hingga badai ini reda, aku juga tidak ingin membuat tenggorokanku sakit karena harus berteriak untuk berbicara tolong tunjukan dimana aku bisa beristirahat."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri silahkan ke dalam sini."
"Bapak kita pulang saja yuk, Giayanta takut disini."
"Sebentar Nduk, kita ndak bisa pergi keluar terlalu berbahaya Badai Mirunggan adalah badai paling berbahaya di negara kita."
"Benar dek, tenang saja ada Bapak, Mamak, sama Mas disini."
"Kita tunggu sampai agak reda nanti kita pulang ya Nduk."
"Injeh Mamak."
"Gardapati."
"Dalem Panglima Dronota."
"Sugeng enjang Pak Daryan saya Panglima Dronota, senang bertemu dengan panjenengan (anda)."
"Sugen ejang Panglima, saya justru yang merasa terhormat dapat bertemu dengan panjenengan (anda)."
"Halo cah ayu (anak cantik)."
"…"
"Giyanta, disapa Panglima Dronota kok diam saja kamu Nduk, maaf Panglima."
"Ndak apa-apa Bu. Kamu takut ya Nduk?"
"..." (Giyanta mengangguk)
"Maaf Nduk, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Ini adalah kejadian yang tidak terduga Nduk. Seperti yang kita tahu bahwa segalanya tidak selalu seperti yang kita inginkan."
"Apakah Yang Mulia Ibu Suri selalu langsung menjatuhkan hukuman untuk orang yang bersalah Panglima?"
"Tidak selalu Le, biasanya saat terbukti bersalah mereka akan dimasukan ke peradilan kerajaan. Di sana nantilah hukuman akan dijatuhkan kepada sang terdakwa bila terbukti bersalah."
"Tapi kenapa mereka tidak dibawa ke peradilan kerajaan Panglima?"
"Itu juga yang menjadi pertanyaan kami Pak Daryan, Yang Mulia Ibu Suri biasanya tidak ikut campur dalam hukuman pelanggaran kerajaan, tapi entah mengapa pada kasus ini beliau bersikeras bahkan menggunakan Titah Brotonadi (titah setara dengan titah Raja) untuk menghukum para prajurit yang bersalah tersebut."
"Tidak adakah cara untuk membuat mereka tidak di... "
"Tidak bisa Nduk, Titah Brotonadi adalah titah mutlak tidak ada yang boleh menolaknya, menolak sama dengan mengkhianati kerajaan JAWANAKRTA Nduk."
"Sudah-sudah, Giyanta Nduk cah ayu (anak cantik) sini sama Mamak. Kita duduk disudut sana, ndak usah mikir yang tidak-tidak kita pasrahkan saja semua pada Sang Pencipta Alam Semesta Nduk. Bagaimana nasib mereka nantinya kita cuma bisa membantu lewat doa. Sudah yuk sama Mamak duduk di sana. Gardapati kamu juga ikut Mamak sini."
"Injeh Mak."
"Maaf Pak Daryan, anda memiliki anak-anak yang luar biasa. Saya yakin mereka sangat istimewa pastinya."
"Mereka memang istimewa untuk saya dan istri saya Panglima, saya akan berkorban jiwa raga saya demi anak-anak saya itu pasti."
"Anda tahu Pak Daryan, anak-anak terbaik lahir dari orang-orang baik. Dan saya yakin anda adalah orang baik."
"Terimakasih Panglima saya juga yakin anda orang baik."
"Terimakasih tapi sepertinya setelah ini saya masih tidak yakin apa saya termasuk orang baik Pak Daryan."
"Maaf Panglima Dronota anda adalah abdi kerajaan sudah sepatutnya menjalankan titan kerajaan. Tidak akan ada yang menyalahkan anda Panglima saya yakin itu."
"Terimakasih Pak Daryan atas penghiburan anda. Sebelumnya boleh saya bertanya Pak Daryan?"
"Silahkan Panglima selama saya bisa menjawab saya akan menjawabnya."
"Bagaimana pendapat anda tentang dongeng para Tiang Pancang, apakah anda percaya itu ataukah hanya menganggap itu hanya sebuah dongeng?"
"Panglima Dronota, saya lahir dan besar bersama Tradisi, Budaya dan Warisan leluhur. Cerita para Tiang Pancang adalah Warisan leluhur kita tentulah saya percaya akan adanya para Tiang Pancang."
"Sayapun begitu Pak Daryan orang tua saya mendidik dan membesarkan saya dengan Tradisi, Budaya, dan Warisan leluhur. Saya selalu diternakkan kan untuk percaya dan takut pada Sang Pencipta Alam Semesta, beliaulah pemilik dari seluruh Alam Semesta. Saya sangat takut bila suatu saat saya tidak melakukan sesuatu yang benar, seperti mengganjal dalam diri bahwa saya tidak boleh melakukan itu, tapi keadaan membuat saya jadi harus melakukan itu."
"Panglima tahukan anda bahwa manusia selalu dapat memilih, memilih untuk jalan hidupnya. Sang Pencipta Alam Semesta tidak pernah memaksa manusia untuk menjadi mahkluk yang sempurna tapi manusialah yang memiliki keinginan untuk menjadi sempurna pada hal jelas adanya bahwa kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta Alam Semesta. Inilah kesalahan manusia yang sebenarnya yaitu tidak tahu diri, dan merasa paling sempurna bahkan tak terkadang merasa diri lebih sempurna dari Sang Penciptanya sendiri."
"Demi Sang Pencipta dan Negara JAWANAKARTA itu sesuatu hal yang paling saya takutkan dan tidak ingin saya alami. Demi apapun itu sungguh tidak akan pernah terlintas dalam hidup saya Pak Daryan."
"Saya percaya kepada anda Panglima Dronota, anda adalah orang baik saya yakin itu. Anda masih memegang teguh prinsip hidup kita dengan baik. Itu bukti bahwa anda orang baik."
"Terimakasih Pak Daryan."
"PAK KEPALA DESA!"
Bersambung