JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
DUA PULUH



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


"Adek"


"Nduk sadar, ini ibu nduk."


"Mamak adek.."


"Gardapati kamu ingat kata-kata Bapakmu tadi Le."


"Injeh (iya) Mak."


"Dengarkan Mamak Gardapati saat adekmu mulai sadar nantinya bawa pergi adekmu dari sini antar dia ketempat yang telah disebutkan oleh Bapakmu tadi. Jaga dan lindungi adekmu Le. Adekmu memiliki takdir yang besar atas tanah JAWANAKARTA. Mamak titipkan adekmu ya Le."


"Mamak ikut Gardapati sama adek juga, Gardapati bisa melindungi Mamak dan adek. Ayo Mak, Mamak ikut kami."


"Ndak (tidak) bisa Le, Takdir Mamak adalah disini menemani Bapakmu. Kalau Mamak ikut pergi bagaimana Bapakmu nanti."


"Mamak.."


"Sang Tiang Pancang Penyangga tidak mungkin itu hanyalah dongen mereka tidak ada ini tidak bisa dibiarkan. PRAJURIT BUNUH ANAK PEREMPUAN ITU JANGAN SAMPAI LOLOS."


"SENDIKO DAWUH YANG MULIA IBU SURI."


Seluruh pasukan bergerak menuju Giyanta mengepung dari segala arah. Gemuruh makin keras terdengar seolah pertanda akan suatu kemarahan. Semakin dekat para prajurit dengan Giayanta suara petir semakin keras saling bersahut-sahutan, tiba-tiba tangan Giyanta terangkat dan dibawah tangannya muncullah angin ****** beliung yang mengangkat seluruh pengawal yang berada didekatnya. Seluruh warga berlarian menyelamatkan diri keluar dari balai desa yang nyaris ambruk. Tak terkecuali Yang Mulia Ibu Suri, dan para dayang serta pengawal mereka mencari jalan keluar dari balai desa tersebut. Semakin lama semakin besar angin ****** beliung yang menerjang balai desa, tidak ada satupun prajurit yang dapat menyentuh Giyanta saat mereka mendekat seketika itu juga mereka akan terpental jauh dari Giyanta. Saat ruang balai desa nyaris ambruk Ratri berlari memeluk Giyanta sembari menyayikan lagu kesukaan Giyanti, lagu yang sering dia nyanyikan saat Giyanta sedang sedih.


"Tak lelo lelo lelo ledung


Cup menengo ojo pijer nangis


Anakku seng ayu rupane


Yen nangis ndak ilang ayune


Tak gadang iso urip mulyo


Dadio wanito utomo


Ngluruhke asmane wong tuo


Dadio pendekare bangsa


Wis cup menengo anakku"


Perlahan-lahan Giyanta mulai tenang angin ****** beliung yang besar perlahan mengecil, dan akhirnya menghilang yang tersisa hanya suara gemuruh badai dari luar yang terdengar.


"Mamak, maaf Giyanta... "


"Sudah ndak (tidak) apa-apa Nduk."


"Bapak Mamak..."


"Bapak ndak (tidak) apa-apa Nduk, sekarang kamu dengarkan Mamak ya. Kamu sama Mas Garda harus segera pergi dari sini, kamu nurut apa kata Mas mu ya Nduk. Mas mu sudah tahu kemana kalian harus pergi, ingat kamu sudah besarkan. Kamu harus nurut dan ikut kemanapun Mas Garda nantinya ngantar kamu. Ingatlah selalu Nduk semua ajaran Bapak, Mamak sama Mbah Uti ya, kamu anak yang istimewa Nduk. Terimakasih karena sudah jadi anak Mamak sama Bapak ya."


"Memang Giya mau dibawa kemana Mak, Mamak kenapa ndak (tidak) ikut juga. Ayo Mak, Mamak ikut Giya sama Mas Garda."


"Ndak (tidak) bisa Nduk, Mamak harus disini menemani Bapak, nanti kalau Mamak ikut gimana Bapakmu Nduk. Sudah sekarang kamu lekas pergi bersama Mas mu ya Nduk. Gardapati sekarang Le bawa adekmu ya jaga dia lindungi dia antar dia ketempat yang disebutkan Bapakmu tadi dan jangan lupa buku bapakmu, teruskan ya Le teruskan gantikan Bapakmu menulisnya mengerti. Mamak sayang sama kalian berdua ingat itu ya. Sudah sana pergi cepat."


"Injeh (iya) Mak, Gardapati telah berjanji kepada Bapak dan Gardapati juga akan berjanji kepada Mamak. Dan Gardapati akan sekuat tenaga untuk menepati janji ini. Kami pergi Mamak. Nyuwun restu Mamak."


"Iya Le berangkatlah, ingat Mamak dan Bapak akan selalu bersama kalian."


"Mamak..."


"Pergilah Nduk cay ayune Mamak."


Bersamaan saat mereka berpamitan para prajurit yang tersisa menyerbu untuk menangkap Giyanta begitupun dengan Yang Mulia Ibu Suri. Dia berusaha untuk mencari keberadaan Sang Tiang Pancang Penyangga.


"Tangkap gadis kecil itu jangan biarkan dia lolos."


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri."


Segera setelah menerima titah dari Yang Mulia Ibu Suri, beberapa prajurit yang tersisa mengejar Gardapati dan Giyanta. Tapi saat para prajurit berada tepat ditengah-tengah balai desa Ratri memukul satu-satunya tiang yang masih tersisa untuk menopang atap balai desa. Tepat setelah Ratri memukul tiang tersebut seketika seluruh atap balai desa ambruk menimpa para prajurit beserta dirinya. Tidak tersisa lagi bangunan tersebut semua raya dengan tanah. Semua orang yang tersisa pun tercengang tidak ada yang berani bersuara, hinga pada akhirnya geraman terdengar dari seorang Yang Mulia Ibu Suri Maharani.


"BERANI-BERANINYA MEREKA MELARIKAN DIRI DARIKU, MEREKA BENAR-BENAR MEREMEHKAN KU LIHAT SAJA AKU AKAN MENANGKAP KALIAN SEMUA. KADET DARMAN SEGERA PANGGIL PASUKAN ANGKALA SEKARANG!"


"Sediko Dawuh Yang Mulia Ibu Suri."


Suara peluit terdengar dan seketika itu terdengar gemuruh datang mendekat semakin dekat suara gemuruh tersebut terlihatlah barisan prajurit dengan jumlah yang cukup banyak berlarian mendekat.


"Hornat kami Yang Mulia ibu Suri."


"Tidak ada waktu lagi, kalian pasti tahu gadis kecil yang melarikan diri itukan?"


"Injeh ngertos (iya tahu) Yang Mulia Ibu Suri."


"Tangkap dia sekarang dan bawa kehadapan ku baik dalam keadaan hidup atau mati tetep bawa kehadapan ku MENGERTI!"


"Sendiko dawuh Yang Mulia Ibu Suri. SELURUH PASUKAN BERGERAK."


"SIAP LAKSANAKAN."


Seluruh pasukan bergerak serempak untuk mengejar Gardapati dan Giyanta. Pasukan Angkala adalah pasukan khusus yang biasa bergerak rahasia milik keluarga Kerajaan. Seluruh prajurit yang tergabung dalam Pasukan Angkala bukanlah prajurit sembarangan mereka adalah prajurit yang sangat terlatih dan terampil dalam bertarung serta mereka sangat loyal. Pasukan Angkala hanya akan melaksanakan segala perintah dari keluarga kerajaan saja, sampai-sampai bila ada salah satu keluarga kerajaan yang memerintahkan mati mereka akan dengan sigap membunuh diri mereka sendiri. Karena itulah tidak ada satupun yang dapat menggunakan Pasukan Angkala selain keluarga kerajaan.


Di sisi lain Gardapati terus berlari lurus menerjang hujan, dia bahkan tidak berani menoleh kebelakang saat dentuman besar terdengar seperti sesuatu yang besar ambruk. Dia tahu bahwa Mamaknya telah mengorbankan diri demi melindungi mereka untuk dapat melarikan diri. Saat ini pikiran Gardapati sangat berkecamuk dia masih tidak tahu bagaimana bisa desanya yang tadi pagi masih baik-baik saja bisa berubah kacau dalam hitungan jam. Dia juga belum tahu harus berbuat apa dan bagaimana saat ini. Penjelasan singkat dari Bapaknya tadi masih terngiang di benaknya adeknya Giayanta adalah salah satu dari 4 Tiang Pancang Penyangga yang akan menyelamatkan seluruh Negara JAWANAKARTA. Adeknya adalah anak yang istimewa yang harus dijaga dan dilindungi, sekarang apa yang harus dia lakukan. Dari kejauhan terlihat segerombolan pasukan mengejar mereka, rasa takut panik menyerang Gardapati pikirannya buntu dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Sampai seseorang menariknya kebelakang sebuah rumah yang gelap. Gardapati siap untuk melawan saat terdengar suara perempuan yang berbicara.


"Tenang Gardapati saya tidak akan menyakitimu dan adekmu, aku disini untuk membantumu. Tenang Le."


"Siapa anda? Dan kenapa anda ingin membantu kami."


"Perkenalkan Hapsari saya Le kamu bisa memanggilku dengan Mbak Sari."


"Seragam itu... Mundur jangan mendekat atau saya akan menyakitimu."


"Gardapati tenanglah, aku memang seorang dayang kerajaan Le tapi aku benar-benar akan menolong kalian. Gardapati dengarkan aku, kalian akan pergi ke Gunung Puser bukan?"


"…"


"Tidak apa-apa bila kalian belum bisa percaya kepadaku tapi maukah kalian mendengarkan ku sebentar wahai Sang ANDARA LOR dan Sang DARANI LOR."


"Bagaimana kamu tahu nama itu?"


"Benar tidak ada yang tahu tentang ANDARA LOR maupun DARANI LOR karena mereka hanya tercatat dalam dongen neng nama 4 Sang Tiang Pancang Penyangga dan Para Panglima Sekawanurip itulah yang tertera pada kisah-kisah dongeng."


"…"


"Le Gardapati dengar kita tidak punya banyak waktu lagi, sekarang para Pasukan Angkala pasti sedang mencari kalian dan kalian tidak boleh sampai tertangkap. Jadi sebaiknya kita segera pergi dari desamu ini menuju selatan dan kita harus sudah sampai desa Maurip sebelum matahari terbit. Di sana akan ada yang menampung kita untuk berisitirahat sebelum kita melanjutkan perjalanan ke selatan


"Tapi desa Maurip itu terdapat di Dusun Barjan yang jaraknya sangat jauh dari sini."


"Maka dari itu kita harus segera bergegas, kita harus sampai desa Suratra tepat tengah malam kita akan mencari tumpangan pada kreta sayur yang akan mengarah ke pasar dan di sana kita akan menaiki kreta lain kearah selatan."


"Tapi bagaimana nanti..."


"Tenanglah Gardapati aku telah menyiapkan semua perbekalan untuk kita berempat nantinya."


"Berempat bukankah kita hanya bertiga?"


"Nanti, akan ada satu lagi yang akan membantu kalian itulah yang ditulis di takdir kalian. Maka mari segera bergegas, sebelum kalian keluar dari rumah ini ganti pakaian kalian dengan ini. Lalu kita akan segera berangkat."


Bersambung