
"Sugeng siang (selamat siang) Bu Narti, Ibu manggil saya?"
"Iya silahkan masuk Kaliaji."
"Injeh (iya) Bu."
"Gini Le langsung saja waktunya ndak (tidak) banyak. Ibu mau kasih kamu ini."
Bu Narti menyerahkan sebuah kotak kecil terbuat dari kayu yang terlihat sedikit tua kepada Kaliaji. Dengan raut bingung Kaliaji segera mengambilnya.
"Ini untuk saya Bu?"
"Iya Le untuk kamu, coba kamu buka dulu nanti baru Ibu jelaskan."
Kaliaji segera membuka isi kotak kayu kecil tersebut, didalamnya terdapat sebuah gelang perak dengan ukiran aksara jawa dan terdapat sebuah ukiran seekor burung di beberapa sisi yang tidak terdapat aksara jawanya. Sekilas Kaliaji tahu bahwa ini benda antik yang pastinya berharga, dia semakin bingung kenapa Ibu guru yang merupakan wali kelasnya memberikan benda ini kepadanya.
"Kamu sudah lihat isinya Le, sekarang bisakah kamu pasang gelang itu di lengan kiri mu?"
"Lengan kiri saya Bu?"
"Iya Kaliaji lakukanlah."
Segera aji menaikan lengan kemeja seragam yang dia kenakan dan memasang gelang tersebut pada lengan kiri nya. Awalnya dia merasa tidak mungkin gelang ini muat di lengannya, tapi entah apa yang terjadi saat gelang itu ditempelkan pada lengannya. Tiba-tiba saja gelang tersebut dapat menyesuaikan besar lengan kirinya seperti gelang itu menjadi elastis. Setelah gelang tersebut pas terpasang pada lengan kiri Kaliaji, masih dengan rasa bingung tiba-tiba kaliaji merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Entah darimana asalnya dia merasa tubuhnya jauh lebih ringan, ditambah lagi dia merasa badannya berkali-kali lebih kuat saat ini.
"Itu namanya pusaka Joyosukmo Le, pusaka yang hanya ada 4 di negara kita. Pusaka hadian pemberian dari Sang Pemberi Hidup untuk mereka yang akan menjadi kesatria JAWANAKARTA."
"Kesatria Bu? Maksud Ibu saya kesatria? Kesatria Sewu Langit (seribu langit)."
"Benar Le, adikmu pasti telah memberi tahu mu bukan? Adikmu adalah penjaga Alam Semesta, salah satu tiang pancang penyangga JAWANAKARTA. Sudah pasti seluruh Alam telah memberitahunya tentang takdirmu Le."
"Maaf Bu, kalau boleh saya tahu darimana Ibu tahu kalau adik saya istimewa? Saya tidak pernah bercerita tentang adik saya dan lagi saya yakin bahwa Ibu tidak pernah bertemu dengan adik saya."
"Bagus Le, kamu patut untuk curiga dalam situasi seperti ini. Itulah kenapa kamu terpilih menjadi salah satu Kesatria nantinya. Tapi tenang saja Le Ibu bukan orang jahat, pertama mari berkenalan terlebih dahulu. Kamu mungkin mengenal Ibu sebagai Bu Narti guru dan wali kelas mu saat ini. Sekarang Ibu memperkenalkan diri dengan benar kepadamu nama Ibu Sukma , Ibu adalah salah satu Dayang Welasih dari Gunung Puser. Mungkin kamu ndak (tidak) akan percaya tapi sejatinya Ibu selalu jadi gurumu sejak kamu Pertama bersekolah hingga sekarang."
"Guru saya dari saya pertama sekolah?"
"Kaliaji coba kamu perhatikan baik-baik Ibu."
Kaliaji pun memerhatikan Ibu guru yang ada di hadapannya dengan seksama. Wanita yang ada didepannya adalah Bu Narti wali kelasnya saat ini, tapi entah bagaimana secara tiba-tiba wanita didepannya telah berubah menjadi Bu Warni Guru dia waktu masih SD dulu.
"Bu Warni?"
"Bagaimana bisa?"
"Ingat kisah dongeng tentang tanah JAWANAKARTA Le? Diceritakan bahwa tanah kita, adalah tanah paling istimewa diantara seluruh NUSATAMARA. Kenapa istimewa karena ada banyak hal terjadi di tanah kita bahkan sesuatu yang jelas tidak masuk dalam nalar seorang manusia. Dan manusia hanyalah sebagian kecil dalam Alam Semesta ini itu berlaku di tanah JAWANAKARTA. Maka ada banyak hal besar yang tidak dapat dan akan dimengerti manusia ada umumnya, tapi ingatlah nasehat leluhur kita bahwa segala yang ada di Alam Semesta kita pasti memiliki alasan dan tujuan. Maka kita dapat lebih mudah memaknai keistimewaan tanah kita dengan lebih bijak."
"Dayang Welasih saya pernah dengar dongeng tentang anda."
"Tentu kamu di besarkan dalam keluarga yang masih menghargai warisan leluhur Le."
"Tapi sejujurnya saya hanya menganggap Dayang Welasih adalah dongeng, dongeng yang mengajarkan kita untuk selalu baik kepada siapapun, dan apapun itu agar Dayang Welasih selalu menjaga dan melindungi kita."
"Dengan kamu masih mengingat dan menerapkan ajaran dari sebuah dongeng itu sama artinya bahwa kamu percaya akan dongeng itu."
"Bu kalau boleh saya tahu apa yang akan terjadi sebenarnya?"
"Belum saatnya kamu tahu Le, perjalan kamu masih panjang dan tenang saja segala pertanyaan yang masih mengganjal dalam hatimu akan menemukan jawabannya dalam perjalananmu nanti. Bila kamu masih mengingat apa tugas dari Dayang Welasih maka kamu tahu bahwa Ibu tidak dapat menjawab pertanyaan mu itu bukan."
"Lalu dapatkah Ibu memberi sedikit petunjuk agar saya setidaknya dapat menyiapkan mental saya. Karena saya yakin apa yang menjadi tugas saya nantinya tidaklah mudah."
"Satu hal yang bisa Ibu katakan kepadamu Le, ingat bahwa segala yang ada di Alam Semesta kita adalah takdir yang telah di buat oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Apa yang akan terjadi sekarang, nanti atau bahkan besok semua sudah ditentukan oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Jadi kamu Le Kaliaji jadilah manusia yang tahu akan bersyukur, Ikhlas nerimo ing padum (ikhlas menerima yang diberikan) dan sabar se segoro in jagad (sabar selebar laut di dunia). Ingat Le Sang Pencipta Alam Semesta selalu bersama orang-orang yang bersyukur, ikhlas dan sabar. Jadi pesan Ibu selalu percaya pada satu hal yaitu Sang Pencipta Alam dan pasrahkan segalanya kepada beliau."
"Apa saya benar-benar bisa melindungi adik saya dan menjadi Kesatrian JAWANAKARTA Bu?"
"Tentu Le, itu adalah garis hidup yang telah di tulis oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Kaliaji sekarang mungkin kamu tidak percaya diri merasa bahwa kamu tidak memiliki kemampuan yang diharapkan sebagai Kesatria JAWANAKARTA. Seperti yang Ibu bilang seiring berjalanya waktu kamu akan tahu siapa kamu nantinya. Jadi jalani lah Le apa yang telah di takdir kan untukmu dari Sang Pencipta Alam Semesta, jangan pernah ada ragu dalam hatimu ingat itu."
"Injeh (iya) Bu Narti terimakasih."
"Bel pulang sudah berbunyi Le, kamu boleh pulang dan satu hal Le bisa jadi hari ini ada beberapa keraguan dalam pikiranmu terjawab. Pesan Ibu lakukanlah selama itu benar buang semua keraguan dan percayakan segalanya kepada Sang Pencipta Alam Semesta. Mengerti Kaliaji?"
"Injeh (iya) Bu."
"Sebaiknya kamu lekas pulang ke rumah Kaliaji, Bapak, Ibu dan Adikmu sedang menunggumu Le."
"Injeh (iya) Bu Narti dan matur suwun (terimakasih)."
Kaliaji bergegas meninggalkan ruangan BK menuju kelasnya, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang mengganjal pikirannya saat ini. Tapi seperti yang Bu Narti bilang, beliau hanyalah seorang Dayang Welasih bukan tugasnya menjawab segala pertanyaannya tugas beliau hanya menyayangi, melindungi menjaga anak-anak yang baik yang dapat melindungi Alam Semesta beserta isinya. Kaliaji kembali mengingat perkataan Bu Narti bisa jadi hari ini ada beberapa pertanyaannya yang akan terjawab. Dengan segala kemungkinan yang bisa dia pikirkan saat ini kembali ke rumah secepat mungkin adalah jawaban untuknya saat ini. Dia memiliki firasat sesuatu yang buruk akan menghampirinya.
Bersambung...