JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
51



"Aji pulang."


"…."


"Mamak, Adek."


"Dikamar adekmu Le."


Setelah mendengar suara Mamaknya Aji segera menuju kamar sang adik. Saat Aji masuk terlihat sang adik yang sedang meringkuk di pelukan sang Ibu.


"Dek Asih kenapa Mak?"


"Adekmu takut Ji."


"Takut apa Dek."


"Mas Aji. Akan ada orang jahat yang datang ke sini, dia juga bawa konco boroknya. Asih takut."


"Konco borok? Orang jahat? Dek dari mana kamu tahu kalau akan ada yang datang ke Dusun kita?"


"Apa benar akan ada yang datang Le? Kamu tahu dari mana?"


"Gerbang Dusun sudah banyak Prajurit Kerajaan Mak, mereka datang ditugaskan untuk menjaga dan mengamankan Dusun kita."


"Prajurit? Maksud kamu prajurit kerajaan Le?"


"Benar Ma, mereka prajurit kerajaan dan mereka buka prajurit biasa."


"Lalu?"


"Mereka Prajurit Baret Hitam Mak."


"Baret Hitam, bukankah mereka prajurit pengawal Yang Mulia Kanjeng Ratu dan Yang Mulia Kanjeng Pangeran?"


"Benar Mak."


"Jadi yang akan datang ke Dusun kita adalah Yang Mulia Kanjeng Ratu Le?"


"Injeh (iya) kalian (sama) Yang Mulia Kanjeng Pangeran."


"Mau apa mereka datang ke Dusun kita. Ini bukan pertanda baik Le. Sebentar kamu disini dulu jaga Adekmu Mamak mau keluar sebentar."


"Mamak mau kemana?"


"Ke depan Le, Mamak mau ngomong sebentar sama petugas Kesultanan Lor. Kamu jaga adekmu dulu sebentar Le."


"Injeh (iya) Mak."


Bergegas Ratna keluar mencari keberadaan petugas Kesultanan Lor. Dia ingin memberi tahu Sultan Lor tentang kedatangan Yang Mulia Kanjeng Ratu ke Dusun Undayan. Dia masih ingat bahwa pihak kerajaan tidak boleh tahu tentang keberadaan anak-anaknya, itu akan sangat berbahaya untuk kedua putra dan putrinya.


"Permisi pak bisakah kalian kembali memberi pesan kepada Sultan Lor?"


"Iya ada apa bu Kastiar."


"Di gerbang Dusun dijaga oleh prajurit kerajaan dan yang menjaga bukan prajurit kerajaan biasa melainkan Prajurit Baret Hitam. Jadi bisa dipastikan bahwa Yang Mulia Kanjeng Ratu akan datang ke Dusun kami. Bagaimana ini anak-anak saya ndak (tidak) boleh diketahui oleh beliau, kita harus segera pergi dari Dusun Undayan."


"Ibu Kastiar harap anda tenang dulu, Sultan Lor bersama kepala Dusun Undayan sedang dalam perjalan ke sini juga. Jadi ibu tenang dulu."


"Bagaimana saya bisa tenang bila anak-anak saya dalam bahaya."


"Kami akan terus berjaga di sini bu, sebaiknya untuk sekarang bu Kastiar kembali dulu ke rumah. Kami akan terus berjaga di sini hingga Sultan Lor tiba."


"Ini tidak bisa menunggu lagi, sekarang juga bisakah kalian mengantar kami ke Dusun Muncar. Kita harus segera bergegas sebelum Yang Mulia Kanjeng Ratu datang."


"Bu kastiar maaf kami tidak bisa mengantar ibu dan anak-anak meninggalkan Dusun ini. Sultan Lor berpesan kami diminta menjaga anda dan anak-anak hingga Sultan Lor datang. Maafkan saya bu."


"Tapi kapan Sultan Lor datang, aku ndak (tidak) mau anak-anakku sampai kenapa-napa. Jadi sekarang lebih baik kami mengungsi ke Dusun keluarga saya."


"Sabar bu, sekarang Sultan Lor bersama Panglima Jayadri dan kepala Dusun Undayan sedang dalam perjalanan ke sini. Serta Pak Kastiar juga dalam perjalan pulang juga, ibu sebaiknya anda tetap berada di rumah sekarang kita tunggu saja kedatangan semuanya."


"Tapi..."


Ucapan Ranta terpotong oleh bunyi terompet kerajaan tanda bahwa telah datangnya sang Ratu JAWANAKARTA.


"Terompet kerajaan Dawin, Yang Mulia Kanjeng Ratu telah tiba"


"Siap Kadet."


"Ibu Kastiar sebaiknya anda tetap di dalam rumah sekarang ini dan bertindak seperti biasa saja."


"Kami akan terus berada di dekat anda dan anak-anak. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan, setidaknya keberadaan Kalasih dan Kaliaji belum di ketahui oleh pihak kerajaan. Saya tahu anda sangat khawatir dengan mereka, tapi untuk sekarang kita masih aman jadi Ibu silahkan kembali ke rumah dulu bersama anak-anak."


Walaupun dengan berat hati Ratna mengangguk dan kembali ke rumah. Masih dengan rasa khawatir yang luar biasa Ratna hanya bisa terus berdoa memohon kepada Sang Pencipta Alam agar kedua anak-anaknya tidak dalam bahaya.


Di tepi sungai kecil, terdengar pula terompet tanda bahwa Sang Ratu telah datang.


"Yang Mulia Kanjeng Ratu sampun (sudah) rawuh (datang) pak Kastiar."


"Sebaiknya kita segera bergegas pak Junedi, saya ingin segera bersama istri dan anak-anak saya."


"Baik pak Kastiar saya akan terus mengikuti anda."


Kastiar segera bergegas menuju ujung jalan setapak tepi sungai kecil. Dengan pikiran yang berkecamuk tentang apa yang akan terjadi nantinya. Dia terus melajukan kakinya ke arah rumahnya. Saat tiba di ujung jalan setapak mereka dikagetkan dengan 2 prajurit kerajaan yang berjaga di sana.


"Berhenti di sana kalian. Apa kalian warga Dusun Undayan?"


"Benar pak saya warga Dusun Undayan."


"Dari mana kalian? Kenapa mengunakan jalan ini tidak jalan gerbang utama masuk Dusun?"


"Saya bekerja di Sekolah Dusun Elit pak, saya dengar bahwa keluarga kerajaan akan datang ke Dusun Undayan jadi saya bergegas pulang dan jalan ini adalah jalan pintas terdekat pak."


"Apa kamu memiliki tanda pengenal?"


"Tentu pak, silahkan."


Kastiar segera mengambil kartu tanda pengenal didalam saku celananya dan menyerahkannya kepada salah satu prajurit yang berjaga. Segera prajurit tersebut memeriksa kartu tanda pengenal tersebut. Setelah dirasa benar prajurit tersebut segera mengembalikan kartu tanda pengenal kepada Kastiar dan beralih ke Junedi.


"Anda juga warga Dusun ini?"


"Bukan pak."


"Lalu ada perlu apa anda kemari?"


"Dia saudara saya dari Dusun Muncar pak baru mulai bekerja juga bersama saya dan kebetulan dia tinggal di rumah saya. Jadi dia belum punya kartu tanda pengenal seperti saya. Pak prajurit tahu bukan kartu tanda pengenal hanya dimiliki warga yang tinggal di kawasan utama kota Lor."


"Baiklah anda berdua boleh masuk sekarang. Ingat Yang Mulia Kanjeng Ratu telah tiba jangan membuat kegaduhan apalagi menganggu beliau. Bila ingin pulang sebaiknya kalian menghindari jalan menuju Balai Dusun mengerti."


"Mengerti pak terimakasih."


"Terimakasih."


"Ya sama-sama segeralah kalian masuk."


Kastiar dan Junedi segera masuk Dusun dan segera menuju rumah Kastiar.


Sepeninggalan mereka salah satu prajurit tampak bingung.


"Kenapa aku merasa ndak (tidak) asing dengan salah satu bapak-bapak tadi ya?


"Yang mana?"


"Yang tinggi, tegap dan gagah tadi. Seperti pernah lihat atau ketemu."


"Mungkin cuma postur tubuhnya saja Man, ingat tubuh seperti bapak yang tadi adalah postur tubuh para prajurit. Tapi sayang dia dari Dusun kecil, kalau saja dia dari Dusun yang cukup besar dan maju dia pasti telah menjadi prajurit seperti kita bukan malah menjadi office boy seperti sekarang."


"Kamu benar kesenjangan di Kota Lor itu benar-benar nyata sekarang beda dengan dulu."


"Hush jaga mulutmu Jali, jangan sampai mulutmu membunuhmu mengerti."


"Maaf Man aku keceplosan."


"Makanya hati-hati kalau berbicara, salah-salah karena bicaramu hidupmu hancur. Sudah ayo kita keliling lagi, tugas kita masih panjang."


"Siap Man."


Bersambung...