JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
29



Flashback dua tahun yang lalu,


"Bagaimana bisa mereka membuat gorong-gorong tanpa berunding dengan warga Dusun Undayan, Sultan Lor. Lihatlah, pembuatan gorong-gorong Dusun Elit terlalu mengarah kepada Dusun Undayan, bila hujan deras maka Dusun kami akan terkena banjir dari air buangan dari Dusun Elit."


"Belum lagi jalan layang itu saja sudah sering membuat Dusun kami kebanjiran apa lagi dengan adanya gorong-gorong itu Sultan bisa-bisa Dusun Undayan bisa berubah menjadi danau."


"Saya mohon semua untuk tenang dan sabar bapak-bapak semuanya. Kita akan mendiskusikan ini dengan Dusun Elit, kita tunggu kedatangan mereka dulu."


"Ini bukannya sudah lewat dari jam kita sepakati untuk berunding Sultan Lor, dan lihat tidak ada satupun perwakilan Dusun Elit yang datang."


"Orang-orang dari Dusun Elit sungguh tidak memiliki sopan santu, mereka terlalu sombong dengan apa yang mereka punya dan mereka selalu merasa menjadi makhluk yang paling istimewa di alam semesta ini hanya karena mereka memiliki banyak uang."


"Trisno."


"Sendiko dawuh Sultan Lor."


"Apa masih belum ada kabar dari Dusun Elit Tris?"


"Nyuwun sewu (permisi) Sultan saya akan meminta Sari menghubungi mereka lagi."


"Baiklah, tolong segera hubungi mereka Tris, perwakilan Dusun Undayan sudah terlalu lama menunggu. Kita tidak bisa memulai diskusi ini bila salah satu pihak tidak hadir bukan?"


"Sendiko dawuh Sultan Lor, saya mohon diri menemui Sari."


"Iya Tris pergilah."


Trisno bergegas menuju meja sekertaris kantor Kesultanan Lor.


"Sari."


"Injeh (iya) Pak Trisno?"


"Apa ada kabar dari Dusun Elit tentang keterlambatan perwakilan mereka?"


"Tidak ada Pak Trisno, saya tidak menerima informasi apapun dari Dusun Elit."


"Kalau begitu bisakah kamu menghubungi perwakilan Dusun Elit, dan menanyakan perihal mereka yang belum hadir dalam diskusi ini?"


"Baik Pak Tris saya akan menghubungi mereka, mohon tunggu sebentar."


(Percakapan dalam telepon)


"Selamat siang dengan Pak Gunawan anggota perwakilan dari Dusun Elit?"


"…"


"Perkenalkan Pak Gunawan, saya Sari dari kantor Kesultanan Lor."


"…"


"Begini Pak Gunawan, saya ingin menanyakan mengenai perwakilan dalam diskusi antara Dusun Elit dengan Dusun Undayan, kenapa perwakilan dari Dusun Elit belum ada yang datang?"


"…"


"Maaf Pak Gunawan bukankah kami telah mengirimkan undangan diskusi hari ini jauh-jauh hari, dan anda sendiri yang menerima undangan tersebut."


"…"


"Saya tidak dapat memberi jawaban atas pertanyaan anda Pak Gunawan. Dalam undangan kami telah jelas waktu, tempat dan keperluan."


"…"


"Maaf Pak Gunawan saya tidak bisa memberi keputusan atas permintaan anda, saya akan sampaikan kepada Sultan Lor. Mohon tunggu informasi selanjutnya dari kami."


(sambungan telepon berakhir)


Sari meletakan gagang telepon dan bergegas menemui Trisno.


"Maaf Pak Tris, sepertinya diskusi ini tidak dapat dilanjutkan."


"Apa maksudmu Sari? Kenapa ada apa dengan perwakilan Dusun Elit?"


"Mereka tidak akan hadir dalam diskusi ini Pak Tris."


"Kenapa mereka tidak bisa datang?"


"Mereka bilang tidak memiliki waktu untuk sesuatu diskusi yang tidak penting Pak."


"Kurang ajar sekali perwakilan Dusun Elit itu, mereka benar-benar sombong dan arogan hanya karena mereka memiliki uang. Bahkan mereka sudah meremehkan Kesultanan Lor, ini tidak dapat di biarkan."


"Maaf Pak Tris, Pak Gunawan selaku perwakilan Dusun Elit mengatakan bila kita ingin melanjutkan diskusi tentang gorong-gorong Dusun Elit. Pihak Dusun Undayan dan Kesultanan Lor di minta untuk datang ke kantor pusat proyek gorong-gorong Dusun Elit yang berada di pintu kanal Utara."


"Mereka menyuruh kita yang menemui mereka. Sungguh luar biasa orang-orang Dusun Elit atas sikap arogan dan kesombongan mereka semoga Sang Pencipta Alam Semesta tidak menegur mereka."


"Lalu bagaimana diskusi hari ini Pak Tris?"


"Kamu tunggulah dulu. Aku akan segera melaporkan ini kepada Sultan Lor."


"Baik Pak Tris."


"Aku akan menghadap Sultan Lor."


"Baik Pak Trisno."


Trisno segera menghadap Sultan Lor.


"Permisi Sultan Lor, sepertinya diskusi ini tidak dapat di lanjutkan untuk saat ini."


"Ada apa Tris, apa yang terjadi dengan perwakilan Dusun Elit?"


"Maaf Sultan, perwakilan Dusun Elit tidak akan datang dalam diskusi ini."


"Apa lihatlah Sultan Lor, mereka benar-benar arogan dan sombong. Saya tebak pasti perwakilan mereka mengatakan ini diskusi yang tidak berguna bukan?"


"Mereka benar-benar sudah keterlaluan, mereka selalu saja membuat masalah dengan Dusun Undayan, memangnya sebenarnya salah kami apa Sultan Lor? Tanah Dusun Undayan adalah tanah warisan leluhur kami, ingatkah anda seberapa indah tanah Dusun Undayan dulu. Belum lagi segalanya melimpah, tidak ada yang merasa kekurangan. Tapi semenjak orang-orang Dusun Elit menguasai sebagian tanah Dusun Undayan segalanya dihabisi oleh mereka, kami telah banyak kehilangan Sultan."


"Benar itu Sultan Lor, ditambah lagi sebagian besar warga Dusun Elit bukanlah rakyat JAWANAKARTA, mereka pendatang dari berbagai negara di utara JAWANAKARTA, dan sebagian besar adalah orang-orang tidak berwarna. Mereka benar-benar berbeda dengan kita."


"Sebelumnya saya minta maaf atas kegagalan diskusi ini, saya tahu bahwa Dusun Elit telah bertindak kurang ajar kepada Dusun Undayan. Saya selaku Sultan Lor pemimpin Kota Lor sekali lagi meminta maaf atas kejadian ini."


"Yang seharusnya minta maaf adalah Dusun Elit Sultan, bukanlah anda. Sejujurnya kami ingin berterimakasih kepada anda Sultan, karena hanya anda yang mau mendengarkan dan membantu kami warga Dusun Undayan hingga saat ini. Kami telah banyak dihina dan ditolak bahkan oleh pihak Kerajaan segala permohonan tidak pernah di dengar oleh mereka."


"Memanglah tugas saya Pak Juan untuk dapat membantu semua warga yang ada di kota Lor. Saya juga sangat menyesal karena belum bisa membantu Dusun Undayan dengan maksimal hingga saat ini. Saya merasa belum bisa menjadi pemimpi yang adil untuk kota Lor."


"Itu tidak benar Sultan Lor, anda adalah pemimpin terbaik untuk kota Lor. Bila bukan anda yang memimpin kota ini maka sudah dipastikan Dusun Undayan tidak akan bisa mempertahankan tanah warisan leluhur kami, pasti semua akan diambil alih oleh orang-orang tidak berwarna itu dan kami yang akan menjadi orang asing di tanah dan negara sendiri."


"Terimakasih Pak Kasep atas pujian anda, itu akan menjadi acuan semangat saya untuk terus memimpin kota Lor dengan lebih baik. Oya Trisno apakah Dusun Elit hanya menolak undangan diskusi ini saja atau ada yang lain?"


"Nyuwun sewu Sultan Lor saya kurang tahu. Dapatkah saya memanggil Sari untuk menjelaskan tentang masalah ketidak hadiran perwakilan Dusun Elit? Karena Sari lah yang menghubungi perwakilan Dusun Elit tersebut Sultan."


"Lakukanlah Trisno, panggil Sari kemari."


"Sendiko dawuh Sultan Lor."


Trisno meninggalkan aula pertemuan kembali ke meja sekertaris.


"Sari ikutlah denganku Sultan Lor memanggilmu."


"Injeh (iya) baik Pak Tris."


Tok tok tok (suara pintu diketuk)


"Permisi Sultan saya telah membawa Sari."


"Ajaklah kemari Tris."


"Sendiko dawuh Sultan Lor."


"Sari duduklah disini dan ceritakan tentang jawaban dari perwakilan Dusun Elit."


"Sendiko dawuh Sultan, perwakilan Dusun Elit mengatakan bahwa mereka tidak akan hadir dalam diskusi ini. Mereka bilang mereka memiliki acara tersendiri yang... "


"Yang apa Sari?"


"Maaf Sultan, mereka bilang memiliki acara yang jauh lebih penting hari ini.".


"Benarkan apa yang saya katakan mereka sungguh tidak punya sopan santun."


"Lalu apa lagi yang mereka katakan Sari?"


"Mereka bilang bahwa bila urusan ini mendesak untuk kita, kita diminta datang ke pusat kanal utara Dusun Elit Sultan."


"Kita yang harus menemui mereka, astaga mereka benar-benar..."


"Sudah-sudah, acara mereka diadakan di pusat kanal utara?"


"Benar Sultan."


"Mau apa mereka mengadakan acara di pusat kanal utara?"


"Bukannya pusat kanal utara itu berada tepat tepi laut Sultan? Itu adalah pintu masuk dan keluar air langsung ke laut. Bukankah itu berbahaya Sultan?"


"Benar apa lagi ini sedang musim pasang laut bila mereka bermain dengan pintu kanal utara hingga terbuka bisa dipastikan bahwa banjir laut akan menimpa seluruh wilayah di pesisir laut utara."


"Tapi itu tidak akan terjadi Kang Juan, masak iya mereka sebodoh itu bila kanal utara dibuka yang tengelam pertama adalah seluruh wilayah Dusun Elit barat bukan."


"Sebaiknya ada bagusnya kita datang menghampiri mereka sekarang. Kita dapat memastikan apa yang sedang di lakukan warga Dusun Elit sekalian kita dapat juga berunding tetang masalah gorong-gorong mereka. Bagaimana Pak Juan dan Pak Kasep?"


"Saya sebenarnya malas Sultan bila harus memasuki Dusun Elit, saya dan Kasep pasti akan menjadi bulan-bulanan di acara mereka nanti."


"Benar Sultan, warga Dusun Elit pasti tidak akan suka bila kami berada di wilayah mereka apalagi mereka sedang mengadakan acara. Mereka pasti akan menyerang kami dengan kata-kata pedasnya."


"Nyuwun sewu Sultan, saya juga kurang setuju dengan ide untuk datang menemui mereka saat mereka memiliki acara Sultan. Saya masih ingat dulu perlakuan mereka saat kita yang mereka tak udang ikut datang dalam acara mereka, padahal kita datang juga karena diminta untuk mendampingi Raja. Saya masih ingat sekali dengan sambutan kurang baik mereka saat itu."


"Kau ini Trisno masih saja mengingat-ingat sesuatu yang tidak baik. Sudahlah jangan di ingat lagi, lupakan. Ingat kita bekerja untuk semua warga Kota Lor berarti itu juga termasuk warga Dusun Elit. Ingat itu Trisno."


"Nyuwun ngapunten (mohon maaf) Sultan Lor, saya hanya teringat hal itu."


"Sudah tidak apa-apa sekarang mari kita kembali ke topik yang tadi, apa tidak bisa dipertimbangkan dulu Pak Juan dan Pak Kasep. Ini bisa jadi kesempatan kita untuk dapat membahas masalah ke dua Dusun."


"Apa benar yang dikatakan oleh Pak Trisno Sultan, anda juga pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga Dusun Elit."


"Itu sudah terjadi dulu sekali Pak Juan, saya sudah tidak mengingatnya lagi."


"Benar Pak Juan, dan itu bukan sekalinya mereka meremehkan dan menghina Sultan Lor."


"Trisno sudah jangan dibahas lagi. Hal yang tidak baik sebaiknya jangan pernah di ingat-ingat bukan begitu."


"Nyuwun ngapunten (mohon maaf) Sultan."


"Kalau begitu mari Sultan kita ke Dusun Elit, saya akan datang bersama anda untuk menemui mereka. Karena jujur saja saya tidak akan tega bila anda mendapat perlakuan tidak baik karena membantu Dusun kami."


"Benar Sultan, saya akan mengahadapi mereka bersama anda."


"Baiklah lebih baik sekarang kita mulai bersiap-siap, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di Dusun Elit. Tapi yang jelas mari kita menemui mereka dan menyelesaikan masalah ini dengan baik."


"Injeh (iya) baik Sultan."


"Injeh (iya) baik Sultan."


"Sendiko dawuh Sultan."


Bersambung....