
"Semua sudah siap?"
"Sudah pak, Bapak gimana apa Asih sudah cantik? Ini baju paling bagus punya Asih pak."
"Kamu cantik Nduk."
"Makasih Bapak."
"Biasa aja menurut Aji pak."
"Ih mas Aji mah syirik aja."
"Cantikan juga Mamak, lihat."
"Wah Mamak cantik banget, Asih juga mengakui itu hehehe."
"Sudah-sudah, ayo semua sudah siap?"
"Sudah pak."
"Ya sudah ayo kita segera berangkat lihat petugas Kesultanan Lor sudah menunggu kita. Asih dan Aji segera ke depan, ayo dek kamu juga."
"Semua sudah siap pak Kastiar?"
"Sudah pak petugas, kita bisa berangkat sekarang.
"Baik mari pak, mobil ada di depan gerbang masuk dusun kita harus berjalan terlebih dahulu. Mari ikuti saya."
"Baik pak petugas."
Setelah memastikan semua pintu telah di kunci segera mereka mengikuti petugas kesultanan menuju tempat mobil terparkir. Dalam perjalanan mereka bertemu beberapa orang yang sedang santai di balai-balai yang ada di dusun. Beberapa orang penasaran bertanya hendak kemana karena seluruh anggota keluarga Kastiar berpakaian rapi, tetapi urung karena mereka melihat 2 orang petugas rapi berseragam kantor kesultanan. Termasuk Dudung dan Jupri yang juga sedang duduk-duduk di balai-balai, karena penasaran mereka pun menghampiri Aji dan ikut berjalan bersama Aji.
"Mau kemana Ji, kamu sekeluarga? Rapi banget pula."
"Ke kantor Kesultanan Lor Pri."
"Malam-malam gini?"
"Iya."
"Memang ada apa Ji?"
"Kurang tahu Dung, mereka hanya bilang Sultan Lor mau bertemu dengan keluargaku."
"Wah kamu sekeluarga di undang oleh Sultan Lor Ji? Jangan-jangan mau di kasih hadiah atau penghargaan Ji."
"Emangnya aku dan keluargaku ngapain Dung sampai dapat penghargaan, perasaan kita ndak (tidak) ikut kejuaraan atau lomba dan lagi kita juga ndak (tidak) ngelakuin apa-apa."
"Sapa tahu Ji."
"Kayaknya bukan karena itu Dung."
"Terus karena apa?"
"Ndak (tidak) tahu hanya saja aku ngerasa kalau ini lebih dari itu."
"Maksudnya Ji?"
"Pri, kalau memang Sultan Lor ingin memberi hadiah atau penghargaan itu bisa diberikan saat pagi hari bukan. Ini terlalu malam bila sekedar memberi hadiah atau sebuah penghargaan. Ini pasti sesuatu yang jauh lebih penting."
"Oya benar juga kamu Ji, tapi bisa juga itu cuma kekhawatiran mu saja Ji. Lebih baik kamu berpikir positif saja dulu, kamu jangan terlalu suka berpikir nanti cepat tua. Iya ndak (tidak) Dung?"
"Iya benar Jupri, Ji. Kamu lebih baik nikmati saja duku, lihat kamu bakal naik mobil mewah itu yang pintunya geser sendiri kalau di buka. Wah mobilnya para artis itu, apa nama mobilnya Pri."
"Alp***d Dung."
"Iya itu, wah kamu beruntung Ji. Biasanya kita cuma lihat anak-anak dusun atas yang naik turun dengan sombongnya. Sekarang kamu juga bisa naik Ji."
"Kamu pingin naik juga Dung?"
"Pingin lah lihat mobilnya beda sama mobil yang kita naikin selama ini Pri. Aku yakin naik mobil itu adem pasti, ndak (tidak) akan gerah kita kaya naik angkot."
"Aku doakan Dung semoga nanti kamu jadi orang sukses biar bisa ndak (tidak) cuma naik, tapi punya mobil beginian. Amin."
"Amin."
"Amin."
"Injeh (iya) pak."
"Aku pergi dulu ya."
"Oke Ji, besok jangan lupa cerita ke kita-kita pengalaman naik mobil artis ibu kota."
"Iya Dung, besok tak ceritain kamu."
"Ya dah sana, ati-ati Ji."
"Iya."
Kaliaji segera naik ke mobil, di dalam mobil sudah ada Kalasih dan sang Ibu dan yang terakhir masuk pak Kastiar. Segera mereka berangkat menuju kantor Kesultanan Lor. Dalam perjalanan Asih dan Aji di buat kagum oleh mobil yang membawa mereka ke kantor Kesultanan Lor. Mereka benar-benar menikmati mobil mewah tersebut. Di tambah dalam mobil juga disediakan beberapa makanan kecil untuk mereka. Membuat mereka merasa senang dan menikmati perjalan menuju kantor Kesultanan Lor.
Di sisi lain tepatnya di kawasan lembah gunung Puser, seseorang berlarian dengan cepat menembus hutan yang berada di sekelilingnya menuju sebuah bagunan padepokan yang terletak di kereng gunung Puser. Padepokan itu berdiri gagah di tegah hutan, dengan bangunan berbentuk joglo khas bangunan rumah asli tanah JAWANAKARTA.
"Nyuwun sewu (permisi) mbah Ageng. Saya hendak menghadap mbah Ageng."
"Ono opo (ada apa) Dasno?"
"Kulo bade matur (saya mau bilang) mbah Ageng. Di curuk Sari Panunggal onten (ada) bunga cempaka putih sampung kuncup mbah."
"Wis wayahe (sudah saatnya) berarti."
"Injeh (iya) mbah Ageng, dados sak niki (jadi sekarang) Lor air geh (ya) mbah?"
"Iyo to. Waktunya sudah mepet, kamu hubungi Sultan Lor beri mereka petunjuk ikie (ini). Andara Lor anak yang dekat dengan air atau berada dekat dengan air."
"Sendiko dawuh mbah Ageng."
"Kita ndak (tidak) boleh ke colongan Dasno. Ikie gek (ini baru) awal masih ada 3 lagi yang harus kita lindungi. Gen (agar) ruwatan 1000 tahun sekali lancar gawe (buat) menyelamatkan JAWANAKARTA."
"Injeh (iya) mbah, saya akan segera menghubungi Sultan Lor."
"Ndak perlu Dasno."
"Mpu Dalem. Nyuwun sewu (mohon maaf) saya kurang mengerti maksud mpu Dalem."
"Iya opo (apa) maksudmu Estu?"
"Kulo nyuwu ngapunten (mohon maaf) mbah Ageng. Sultan Lor mpun (sudah) mengirim berita bahwa mereka telah menemukan Sang Andarani Lor mbah. Sekarang sang Andarani Lor sudah berada di kantor kesultanan Lor."
"Terus Darani?"
"Sang Darani geh mpun (sudah) berada di sana mbak. Seperti siklus yang lalu mereka terlahir kembali menjadi adik dan kakak."
"Maaf menyela mpu Dalem, apa sudah terbukti bahwa mereka benar Sang Andarani Lordan Sang Darani mpu?"
"Senjata Keris Banuraga peninggalan Gardapati Sang Darani yang lalu telah diserahkan kepada Sang Darani yang sekarang. Keris tersebut tidak menolak Dasno. Tapi untuk Sang Andarani Lor, kita belum dapat melihat apapun."
"Maksud mpu Dalem?"
"Kembali ke hakekat adanya Sang Andara Dasno. Tiang pancang penyangga JAWANAKARTA, mereka ada karena keserakahan, ketidak adilan, dan kesombongan dan segala kepedihan yang di rasa oleh seluruh masyarakat JAWANAKATA, karena para pemimpin JAWANAKARTA. Mereka ada untuk melindungi orang-orang dan membenarkan tatanan di negara kita menjadi adil dan makmur seperti peninggalan leluhur kita dulu. Maka mereka perlu sebuah dorongan dengan segala kepedihan untuk mengeluarkan kekuatan besar itu."
"Seperti Giyanta Sang Andarani Lor dulu kehilangan orang tua dan seluruh desanya."
"Benar, dorongan itu yang membuat manusia akan menentukan tujuan dan tujuan itulah yang nantinya akan menjadi tugas dalam hidup mereka."
"Apa ndak (tidak) bisa bila kita melatih Seluruh Andara langsung di sini mbah Ageng, tanpa harus mengalami dorongan tersebut. Itu akan jauh lebih aman bukan, kita bisa membawa para Andara tanpa diketahui oleh pihak kerajaan."
"Itu mustahil Estu, ingatlah bahwa Sang Andara adalah manusia. Manusia butuh alasan untuk mau menjadi hebat dan sebuah tekanan diperlukan untuk membuat mereka mau berusaha dengan keras untuk meraihnya."
"Lalu bagaimana ini mbah Ageng, sekarang Sang Andarani Lor dan Sang Darani Lor sudah berada di kantor Kesultanan Lor. Apa tidak sebaiknya mereka segera di bawa kemari."
"Seluruh Andara belum bisa kemari Estu, ingat. Kita memang bisa membawa mereka ke gunung Puser, tapi itu tidak ada gunanya. Semua Andara harus bisa menemukan gunung Puser sendiri Estu, itu artinya mereka telah memiliki tujuan dan mereka siap menerima tugas mereka. Saat ini membawa Sang Andarani Lor ke sini tidak akan membantunya untuk berkembang. Mereka butuh proses segala kepedihan dalam hidup mereka Estu, dengan itu mereka kokoh dan kuat dalam menghadapi tugas mereka nanti."
"Lalu bagaimana mbah Ageng, Sultan Lor menunggu perintah dari kita tentang masalah ini mbah Ageng."
"Bilang kepada Sultan Lor, untuk terus menjaga dan mengawasi Sang Andarani Lor dan Sang Darani Lor. Saat waktunya tiba bantu mereka untuk segera dapat kemari. Saat ini hanya itu yang bisa Sultan Lor lakukan, kedepannya serahkan kepada dua anak hebat itu. Mereka sendiri yang akan mengukir takdir mereka dengan bantuan Sang Pencipta Alam Semesta. Ingat tugas kita hanya mendidik, mengajari, dan membimbing mereka untuk menjadi kesatria JAWANAKARTA."
"Sendiko dawuh mbah Ageng."
Bersambung…