
"Bagaimana Pak Hasta semua sudah siap?"
"Tentu Yang Mulia Kanjeng Raden Pangeran Suryabagus semua sudah siap, kita tinggal mendatangi Dusun Ba.. maksud saya Dusun Undayan."
"Saya harap semua berjalan lancar Pak Hasta, ingat anak saya segera naik tahta saya mau ini proyek pertama yang berhasil saat anak saya naik tahta menjadi Raja."
"Tentu Yang Mulia Kanjeng Ratu Sekarurip, saya akan pastikan semua berjalan lancar."
"Lalu dimana warga Dusun Undayan akan dipindahkan Pak Hasta?"
"Di tanah lapang kota Kidul Raden Bastur."
"Kenapa kamu tanya-tanya Bastur, itu ndak (tidak) ada hubungannya denganmu. Lagipula kenapa juga kamu harus ikut dalam kunjungan ini?"
"Kanjeng Ibunda, saya yang mengajak Dek Bastur jadi saya mohon jangan membentaknya."
"Terserah kamu Suryabagus, Ibu sudah berkali-kali bilang untuk tidak dekat-dekat dengan anak selir itu."
"Cukup Kanjeng Ibunda, Dek Bastur adalah Adik hamba anak dari mendiang Raja JAWANAKARTA. Saya mohon Kanjeng Ibunda jangan terlalu kasar kepada Dek Bastur."
"Suryabagus kamu tahu aku hanya ingin yang terbaik untukmu, dan dengan tidak dekat-dekat dengan anak selir itu adalah hal terbaik untukmu Le."
"Kanjeng Ibunda Dek Bastur bukan orang jahat, dia tidak akan mencelakai ku aku yakin. Kanjeng Ibunda tidak perlu khawatir."
"Suryabagus... Sudahlah aku tidak ingin berdebat di hari yang baik ini. Ingat Le ini adalah proyek pertamamu jangan sampai gagal, kamu tahu bukan ada banyak orang-orang munafik yang siap mengganggumu menjadi Raja."
"Kanjeng Ibunda tidak perlu khawatir."
"Nyuwun sewu Yang Mulia Kanjeng Ratu Sekarurip semua sudah siap."
"Baik kita akan langsung berangkat Patih Durgono."
"Sendiko dawuh Yang Mulia Kanjeng Ratu Sekarurip."
"Ayo Le kita berangkat dan kamu Bastur, aku sebenarnya tetap tidak setuju dengan keikutsertaan mu ini. Jadi jaga sikapmu dengan baik, aku tidak akan segan-segan menyingkirkan mu bila kamu berulah dalam acara ini. Mengerti!"
"Kanjeng Ibunda."
"Tidak apa-apa Kangmas, Kanjeng Ratu tenang saja saya hanya akan menemani Kangmas Suryabagus."
"Bagus jaga sikapmu."
"Sendiko dawuh Kangjeng Ratu."
Segera Sang Kanjeng Ratu Sekarurip naik kedalam mobil bersama beberapa dayang. Sedangkan Kanjeng Pangerang Suryabagus dan Raden Bastur menaiki mobil yang lain. Sudah menjadi hukum tertulis bahwa setiap anggota kerajaan inti tidak boleh berada dalam satu mobil. Itu salah satu peraturan keamanan anggota kerajaan.
"Dek aku minta maaf atas nama Kanjeng Ibu kepadamu."
"Kangmas ndak (tidak) perlu minta maaf, kulo (saya) tidak pernah tersinggung dengan apa yang di lakukan oleh Kanjeng Ratu."
"Kulo (saya) tahu Kangmas, bahwa Kanjeng Ratu sangat menyayangi sampean (anda) jadi wajar saja bila beliau menganggap kulo (saya) ancaman untuk sampean Mas."
"Tapi kamu adikku Dek, sebelum Kanjeng Ayahanda meninggal beliau berpesan bahwa aku harus menjaga semua adik-adikku. Aku benar-benar ingin kamu tetap di istana Dek, setelah aku naik tahta aku bisa memberimu ijin tinggal di kedaton Lor. Jadi bisakah kamu ndak (tidak) pergi berkelana Dek Bastur."
"Nyuwun sewu Kangmas, sepertinya kulo ndak (tidak) bisa menerima itu Mas. Bila Kanjeng Ratu tahu beliau akan sangat marah kepada sampean (anda). Tenang saja bila Kangmas merindukanku kirim saja kabar aku akan dengan senang hati mengunjungi sampean (anda) nanti."
"Apa keputusanmu sudah bulat Dek, sejujurnya aku benar-benar khawatir bila kamu berada di luar istana Dek."
"Kangmas tenang saja Paklek Junedi dan Patih Rono akan menemani dan menjaga saya Kangmas."
"Ya baiklah sepertinya aku tidak bisa lagi merayu mu untuk tetap tinggal di istana, aku percaya bahwa Panglima Junedi akan menjagamu dengan baik dan Patih Rono akan merawat mu dengan baik juga. Tapi selama aku belum menjadi Raja, kamu harus tetap berada di istana mengerti."
"Tentu Kanjeng Pangeran."
"Sudah berapa kali aku bilang jangan memanggilku dengan itu bila bukan acara formal kerajaan Dek. Kamu adikku jadi cukup panggil aku Kangmas seperti layaknya adik memanggil kakak ya."
"Injeh (iya) baiklah Kangmas."
Dua kakak beradik itupun melanjutkan obrolan mereka dengan riang. Hanya dengan sang adik Kajeng Raden Pangeran Suryabagus dapat menjadi dirinya sendiri bukan hanya seseorang yang harus berperilaku sesuai dengan segala aturan kerajaan. Selain karena Raden Bastur adalah satu-satunya saudara laki-laki yang Kanjeng Pangeran punya, jarak usia yang hanya terpaut 3 tahun menambah kedekatan mereka. Kanjeng Pangeran yang sedari kecil sudah harus didik menjadi calon Raja membuatnya tidak memiliki banyak teman, maka kehadiran adik laki-lakinya ini membuat sang Kanjeng Pangeran senang memiliki teman bermain. Belum lagi kebaikan Raden Ajeng Murni Ibu dari Raden Bastur dimana beliau selalu baik dan sayang kepadanya menambah rasa sayang Kanjeng Pangeran kepada Redan Bastur. Maka saat sang Ayah memintanya untuk berjanji menjaga seluruh adiknya terutama Raden Bastur Kanjeng Pangeran dengan senang hati melaksanakannya. Dia sangat menyayangi seluruh keluarganya, itulah ajaran yang selalu dia ingat dari mendiang Ayahanda dan akan selalu dia ingat.
Disisi lainnya disebuah ruangan di kantor Kesultanan Lor sedang berkumpul 6 orang yang sedang berdiskusi dengan serius.
"Apa sebaiknya kita segera mengevakuasi keluarga Kastiar dari Dusun Sultan?""
"Itu bukan pilihan yang bijak Pak Kasep, ingat utusan Mbah Ageng bilang kita tidak boleh ikut campur dalam takdir mereka."
"Tapi Sultan kita juga wajib melindungi mereka bila sampai pihak kerajaan tahu bahwa periode ruwatan akan kembali mereka akan segera menghilangkan para Tiang Panjang dan Kesatria."
"Itu benar Sultan akan lebih baik bila mereka diungsikan ke Dusun Tanggul saya akan menjamin keselamatan mereka ada juga tahu bahwa tanah kami dilindungi oleh pendahulu kami."
"Pak Parjan seperti cerita yang anda dengarkan dari sesepuh dusun Tanggu Sang Andara membutuhkan proses mereka sendiri untuk mencapai gelar mereka. Walaupun itu bukan sebuah proses yang baik dan indah karena dia harus kehilangan banyak hal dalam hidupnya tapi itulah prosesnya begitulah alam membentuknya."
"Lalu apa kita akan membiarkan segala terjadi begitu saja Sultan Lor ? Itu terlalu beresiko. Saya dengar Sang Ratu dan Pangeran sedang dalam perjalanan menuju ke Dusun Undayan hari ini."
"Panglima Jayatri."
"Mohon maaf Sultan atas kelancangan saya memotong diskusi anda. Tapi saya tidak punya pilihan karena Kanjeng Ratu dan Kanjeng Pangeran sedang dalam perjalanan menuju Dusun Undayan kita butuh rencana dalam situasi ini."
"Apa yang sebenarnya ingin anda maksud Panglima Jayadri? Apakah anda repot-repot datang ke kantor Kesultanan Lor hanya untuk memberi tahu saya bahwa Kanjeng Ratu akan datang ke Dusun Undayan untuk menggusur warga Dusun Undayan hari ini?"
"Tidak hanya itu Sultan Lor, saya sudah tahu semua tentang apa yang akan terjadi di tanah JAWANAKARTA."
"Memang apa yang akan terjadi dengan tanah JAWANAKARTA Panglima Jayadri?"
"RUWATAN BABADJAGAD."
Bersambung...