JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
44



"Yo prend, gimana makan malam sama Sultan Lor? Mesti makanannya enak-enak dan mahal."


"Ya iya lah Dung, orang yang ngundang kan Sultan Lor langsung. Aku jamin Aji mesti dah nyobain makanan sultan yang viral-viral itu daging wagiman."


"Daging wagiman?"


"Itu lho yang 250gr aja harganya bisa juataan. Wagiman namanya?"


"Wag** Jupri."


"Tumben kamu tahu Dung?"


"Jelas semua nama makanan aku tahu Pri, walaupun belum pernah nyoba."


"Oya yang ada di kepalamu cuma makanan doang ya lupa aku."


"Ji, Kaliaji!"


"Eh ya ada apa?"


"Kamu kenapa Ji? Pagi-pagi dah ngelamun kayak lagi galau saja."


"Kepikiran Dek Tari ya, pagi ini ndak (tidak) ketemu sama mobil Dek Tari."


"Kayaknya bener tu Pri, lihat wajah Aji tidak bercahaya bagaikan kehilangan sinar mataharinya."


"Diam kalian berdua, ini ndak (tidak) ada hubungannya dengan Dek Tari. Hanya saja..."


"Hanya saja apa Ji?"


"SD Dusun kita apa bener-bener ndak (tidak) bisa di nego lagi dengan Dusun Elit?"


"Ndak (tidak) bisa Ji, kamu tahu seberapa sombong dan angkuhnya perwakilan Dusun Elit. Bila kita melakukan negosiasi bisa dipastikan mereka akan makin menghina kita."


"Apa pas makan malam bersama Sultan Lor masalah itu dibahas juga Ji?"


"Tidak Pri hanya saja aku tidak sengaja mendengar percakapan Mang Kasep dan Pak Trisno sekertaris Sultan Lor."


"Mereka membicarakan apa Ji?"


"Aku tidak begitu mengerti Pri, cuman Pak Trinos bilang kalau warga Dusun Undayan harus segera bersiap karena Dusun Elit memiliki sesuatu yang bahkan Sultan Lor tidak dapat ikut campur lagi."


"Wah kayaknya masalah ini benar-benar serius."


"Warga Dusun Elit itu kenapa ndak (tidak) pernah kapok ya cari masalah terus. Aku pikir banjir bandang yang menghancurkan Dusun Elit wetan sudah membuat mereka kapok ternyata belum. Mereka masih saja menganggu Dusun kita. Akan lebih baik bila nantinya mereka akan di sapu bersih oleh banjir pandang air laut. Biar saja tidak akan ada lagi Dusun Elit-elitan."


"Dung jaga bicaramu, kalau mereka di sapu banjir bandang air laut Dusun kita pun juga dipastikan tengelam. Ingat letak Dusun kita jauh lebih rendah dari Dusun Elit."


"Sapa tahu Pri nanti ada dewi air laut yang membantu kita, dia tahu warga Dusun Elit jahat jadi dia datang untuk menghukum mereka dan membantu Dusun kita agar tidak ikut terkena imbasnya."


"Aku tebak kamu mesti kemarin nonton kartun dr*g*n b*ll kan, jadi kepikiran dewi air segala."


"Namanya juga berharap Pri, kita sebagai manusia kan boleh berharap Pri bahkan kita juga boleh berdoa meminta harapan kita pada Sang Pencipta Alam Semesta bukan."


"Iya iya deh Dung terserah kamu yang penting kamu seneng."


"Kalian percaya ndak (tidak) kalau yang jahat itu pasti bakal di beri balasan atas kejahatan yang mereka lakukan?"


"Percaya Ji, itu kan yang selalu di ajarkan di sekolah. Ingat leluhur kita selalu berpesan bahwa lakukanlah kebaikan maka kamu akan mendapat balasan kebaikan dan sebaliknya janganlah berbuat kejahatan karena kejahatan yang kita lakukan akan kembali ke pada kita itu hukum dari Alam Semesta."


"Menurut kalian bagaimana cara menghukum warga Dusun Elit?"


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu Ji? Kamu mau menghukum mereka gitu?"


"Jawab saja Dung, aku yakin Aji sedang memikirkan cara supaya warga Dusun Elit ndak (tidak) mengambil tanah Dusun kita."


"Bukan begitu juga Pri, aku hanya penasaran kok."


"Biar Sang Pencipta Alam Semesta saja yang membalas mereka Pri. Kita hanya perlu berdoa memohon bantuan dan perlindungan dan kita tunggu serta lihat. Selama kita berada dijalan yang baik kita akan selalu bersama Sang Pencipta Alam Semesta."


"Benar juga kamu Ji, lagian apa yang bisa di lakukan kita anak-anak yang lulus SMP saja belum hehehe.."


"Sudah ayo masuk kelas, jam pertama kelas Bu Narti kan. Jangan sampai telat kalau ndak (tidak) mau berdiri didepan kelas selama 1 jam."


Ketiga teman baik itu beriringan masuk kedalam kelas mereka dengan sesekali mereka masih saling bergurau menggoda satu sama lain. Tepatnya Dudung dan Jupri kembali menggoda Aji dengan Dek Tari. Mereka pun akhirnya saling kejar-kejaran hingga masuk kedalam kelas.


Di sebuah ruangan mewah dengan banyak buku-buku tertata rapi, duduk dengan tenang seorang laki-laki muda yang tampan. Dia fokus pada buku yang sedang dia baca, tanpa tahu ada orang yang sedang mengawasinya. Seorang gadis cantik sedang mengintip di balik beberapa rak buku, berusaha ingin mendekat tetapi diurungkan lagi karena merasa takut. Sang perempuan hanya bisa diam sembari larut dalam pikirannya, apakah dia harus maju menemui laki-laki itu ataukah harus pergi sejauh mungkin dari laki-laki itu. Saat ini sang laki-laki tidak berada di posisi yang baik, sang kakak akan segera naik tahta sebagai satu-satunya saudara laki-laki yang dimiliki sang kakak, laki-laki itu adalah ancaman terbesar bagi sang kakak yang akan naik tahta. Dia tahu berada di dekatnya akan membahayakan nyawa perempuan itu. Tapi pesan dari sang kakek tidak boleh dia abaikan, sang kakek berpesan bahwa dia harus menyerahkan gulungan itu kepada laki-laki tampan itu. Ini adalah kesempatan yang dia punya saat dia diundang untuk pesta minum teh bersama putri bungsu mendiang Raja terdahulu. Dia bisa dengan bebas memasuki istana tanpa ada yang curiga, akan tetapi dia masih takut untuk mendekati laki-laki tersebut. Takut bila ada yang melihat kedekatannya dengan sang laki-laki tersebut akan membahayakan seluruh keluarganya. Saat perempuan itu larut dalam pikirannya dia tidak menyadari bahwa laki-laki yang sedari tadi di perhatikan telah mendekat.


"Maaf apa anda bisa bergeser sebentar saya ingin mengembalikan buku ini ketempat nya."


"E.. Nyuwun ngapunten (mohon maaf) Raden."


"Tidak perlu meminta maaf, aku yang seharusnya minta maaf karena telah menganggu anda yang sedang melamun."


"Tidak Raden sayalah yang melamun tidak pada tempat yang tepat."


"Memangnya melamun itu ada tempat yang tepat ya?"


"E maksud saya.."


"Hahaha kamu lucu sekali, aku hanya bercanda. Kamu teman Dek Puspa ya?"


"Injeh (iya) Raden, saya teman minum teh Raden Ayu Puspa."


"Lalu apa acaranya sudah selesai?"


"Belum Raden."


"Lalu kenapa kamu bisa berada di perpustakaan kerajaan. Jangan bilang kamu tersesat hingga berakhir masuk ke sini."


"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada anda Raden, akan tetapi..."


"Ambil buku ini dan ikut denganku."


"Sendiko dawuh Raden."


"Siapa namamu?"


"Saya Galih Raden, putri bungsu keluarga Brotoseno."


"Brotoseno, kamu cucu tafsir mimpi Mbah Marto?"


"Benar Raden dan saya kemari karena ingin menyampaikan sesuatu dari kakek saya untuk anda."


"Apa kamu bisa bersandiwara?"


"Nyuwun sewu maksud Raden?"


"Bersandiwara lah seolah-olah kamu ingin belajar bahasa Jawi Kuno dan aku akan mengajarimu, saat waktu yang tepat masukan pesan kakek mu ke dalam buku yang sedang kamu bawa. Sejujurnya aku tidak tahu menahu ada berapa orang yang sedang mengamati ku. Dan aku juga tidak mau kamu dan keluargamu disalah pahami karena dekat-dekat denganku. Jadi kamu bisa mengerti dan bisa melakukannya?"


"Injeh (iya) saget (bisa) Raden."


"Jangan gugup di perpustakaan ini hanya 2 orang penjaga, mereka hanya berpikir kamu menyukai buku-buku dan ingin belajar. Jadi santai dan jangan terlihat gugup."


"Sendiko dawuh Raden."


"Baiklah aku akan mengajarimu membaca huruf Jawi Kuno, dengarkan baik-baik dan pahami mengerti."


"Injeh (iya) Raden Bastur."


Bersambung....