
"Semua minggir beri jalan Yang Mulia Ratu akan segera Datang. Semua mundur! Nanti kalian bisa mengganggu jalan Yang Mulia Kanjeng Ratu dan Yang Mulia Kanjeng Pangeran."
"Tenang semua ayo berbaris yang rapi di tepi jalan jangan maju terlalu ke depan kalian akan menghalangi jalan Yang Mulia Kanjeng Ratu dan Yang Mulia Kanjeng Pangeran. Tenang semua bisa melihat beliau asal kalian semua tertib. Jadi segera menyingkir ke tepi jalan semua."
"Apa benar Yang Mulia Kanjeng Ratu datang ke Dusun kita?"
"Salah mungkin sebenarnya Yang Mulia Kanjeng Ratu mau ke Dusun atas bukan ke sini."
"Iya bisa jadi, tapi kenapa pengawal kerajaan berjaga sangat ketat di sini seharusnya kan di Dusun Elit."
"Hei para prajurit, apa kalian ndak (tidak) salah tempat?"
"Maksud anda Pak?"
"Ya sepertinya kalian salah tempat saja, seharunya kalian berjaga di Dusun Elit itu di atas sana."
"Bukan Pak, kami memang ditugaskan mengamankan dan berjaga di Dusun Undayan."
"Jadi benar Yang Mulia Kanjeng Ratu dan Yang Mulia Kanjeng Pangeran akan datang ke Dusun Undayan?"
"Benar Pak, beliau sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
"Kenapa Yang Mulia Kanjeng Ratu datang ke Dusun kita coba?"
"Sudah Pak sebaiknya bapak-bapak segera menepi bila ingin melihat Keluarga Kerajaan cari tempat yang bagus kalian asli warga Dusun ini bukan?"
"Iya kami asli warga sini bahkan seluruh leluhurku berasal dari sini."
"Maka anda pasti tahu pak seluk beluk Dusun ini lebih baik segera mencari tempat yang nyaman untuk melihat Keluarga Kerajaan nanti."
"Tunggu tapi kenapa Yang Mulia Kanjeng Ratu datang ke Dusun Undayan?"
"Nyuwun ngapunten (mohon maaf) bapak-bapak kami tidak tahu dan juga bukan ranah kami untuk menjawab. Kami hanya di minta untuk melakukan penjagaan saja."
"Ya sudah kita ke balai Dusun saja, kita tanya saja ke Mang Juan kalau ndak (tidak) Kasep. Mereka pasti tahu ada apa sebenarnya ini."
"Iya ayo kita cari mereka."
Warga Dusun Undayan yang berada di gebang Dusun segera bergerak membubarkan diri. Sejatinya mereka tidak tertarik dengan Keluarga Kerajaan, melainkan merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan Yang Mulia Kanjeng Ratu. Semua orang tahu bahwa Keluarga Kerajaan sekarang tidaklah sama dengan Keluarga Kerajaan saat masih adanya Yang Mulia Kanjeng Maharaja Amongjagad Mendiang Raja Amongjagad adalah sosok Raja yang sangat baik, bijaksana dan adil dalam memimpin. Seluruh rakyat JAWANAKARTA sangat menghormati dan menyanjung Sang Maharaja Amongjagad. Sepeninggalan beliau kerajaan di atur sementara oleh Yang Mulia Kanjeng Ratu Sekarurip, hingga yang Mulia Kanjeng Pangeran Suryabagus naik tahta menggantikan mendiang sang ayahanda. Selama kepemimpinan di ambil oleh Yang Mulia Kanjeng Ratu Sekarurip, banyak terjadi ketimpangan dan ketidak adilan terutama pada rakyat kecil. Sang Ratu tidak segan melakukan banyak hal kejam dan kejih untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Seluruh rakyat tahu akan fakta itu, tapi tidak bisa ataupun berani melakukan protes. Seperti warga Dusun Undayan sekarang mereka tahu bahwa ada yang akan terjadi pada Dusun mereka, dan ini bukan sesuatu yang bisa mereka lawan bila Yang Mulia Kanjeng Ratu ikut andil dalam permasalah nantinya. Tidak ada seorangpun yang berniat untuk berurusan dengan keluarga kerajaan.
Di sisi lain pak Kastiar sedang berjalan dengan tergesa-gesa menuruni beberapa bukit. Jalan pintas yang dia maksudkan tadi adalah jalan di sepanjang tepi sungai kecil. Dengan tangkas pula Panglima Junedi mengikuti langkah pak Kastiar dari belakang. Dengan terus siaga dan berhati-hati Panglima Junedi ikut membuka jalan bila jalan tertutup oleh semak liar.
"Kita akan segera sampai pak Junedi, hanya tinggal menyusuri tepi sungai kecil ini."
"Baik pak Kastiar. Nyuwun Sewu pak Kastiar apa saya boleh tanya pak?"
"Silahkan pak Junedi."
"Dimana sungai ini akan bermuara?"
"Sungai ini bermuara di pintu kanal utara pak Junedi."
"Pintu kanal utara. Jadi sungai ini alasan proyek Dusun Elit terlihat menjanjikan."
"Tapi itu tidak benar pak Junedi, sedari dulu pintu kanal utara bukan hal yang dapat di atasi dengan mudah, bahkan oleh teknisi terbaik negara biru. Pintu kanal utara sangat istimewa dalam menjaga daerah pesisir utara JAWANAKARTA. Bendungan dan pintu kanal itu memang dibuat oleh manusia. Tapi sejatinya semua tetap alam yang mengendalikan, kita sebagai manusia harus tahu batasan dalam hidup di dunia ini bukan."
"Maka dari itu, beberapa warga Dusun kami tetap ingin mempertahankan Dusun Undayan agar proyek tersebut tidak dapat terlaksana. Tapi anda bisa lihat bahwa keluarga kerajaan telah ikut campur dalam proyek ini. Dan saya merasa bahwa semua sudah selesai sampai disini."
"Semua masih ada jalan bila kita berusaha pak Kastiar, ingat selama kita masih bersama Sang Pencipta Alam Semesta. Beliau selalu dapat memberi jawaban dan bantuan untuk kita."
"Anda benar walaupun bantuan itu mungkin dapat memisahkan saya dengan anak-anak saya nantinya."
"Pak Kastiar anak-anak anda istimewa mereka terlahir untuk menjadi hebat anda harus bangga untuk itu."
"Benar pak Junedi, tapi bila saya boleh memilih saya hanya ingin bersama anak-anak saya hingga mereka dewasa, menjaga dan merawat tanpa harus berpisah dengan sangat cepat."
"Dengan anda menjadi ayah bagi anak-anak istimewa anda juga istimewa pak Kastiar saya tahu anda akan dapat melewati semua ini dengan baik."
"Terimakasih pak Junedi."
"Sama-sama pak Kastiar."
"Kita hampir sampai pak Junedi setelah ini kita akan masuk dari sisi kiri Dusun Undayan."
"Anda yang memimpin pak Kastiar, silahkan."
Di sebuah mobil yang menuju Dusun Undayan.
"Kita tidak bisa masuk lewat gerbang depan Dusun Undayan Sultan Lor."
"Kenapa Panglima Jayadri?"
"Pasukan Baret Hitam telah berjaga di sana. Mereka sedang menyisir dan mengamankan daerah tersebut."
"Lalu kenapa kita tidak bisa masuk lewat gerbang Dusun Panglima?"
"Karena saya yakin Sultan Lor masuk dalam daftar orang yang tidak diijinkan masuk Dusun Undayan nantinya. Saya ingin bertanya apakah pihak kerajaan memberitahu anda soal kunjungan mereka ke Dusun Undayan Sultan Lor?"
"Tidak Panglima, pihak Kesultanan tahu justru dari anda Panglima."
"Itu karena ini buka kunjungan untuk mediasi, tapi tepatnya adalah kunjungan untuk pemaksaan. Pihak Dusun Elit pasti tahu bahwa anda akan menghalangi kunjungan ini Sultan, jadi mereka tidak akan memberitahu apalagi mengundang anda."
"Lalu bagaimana Panglima?"
"Apa tidak ada jalan lain masuk Dusun selain dari gerbang Dusun pak Juan?"
"Ada Panglima tapi tidak dapat dilalui oleh mobil itu hanya jalan setapak di tepi sungai kecil."
"Kalau begitu tunjukan dimana lokasi terdekat menuju jalan setapak itu pak Juan."
"Sendiko dawuh Panglima, kita dapar berhenti 2 km di selatan gerbang Dusun. Di sana ada jalan setapak yang biasa digunakan warga Dusun Undayan untuk memotong jalan tanpa memasuki kawasan Dusun Elit."
"Baik Lodan mengarah ke tempat yang disebutkan oleh pak Juan tadi segera."
"Sendiko dawuh Panglima Jayadri."
Bersanbung...