
Lor (Utara)
(Flashback 1000 tahun end)
"Jadi Panglima Mburu Nyowo itu mbah..?"
"Benar Le Panglima Mburu Nyowo adalah Gardapati, kakak dari Sang Andarani yaitu Sang Pancang Lor."
"Tapi bagaimana bisa, kita semua tahu tentang Panglima Mburu Nyowo semua tercatat dalam sejarah bahkan sedari Panglima tersebut kecil. Tapi kenapa tidak ada satupun dari sejarah sang Panglima menyinggung tentang Sang Pancang Lor."
"Benar sekali Pak kepala Dusun Mertos, seingat saya memang dalam sejarah diceritakan bahwa sang Panglima memiliki seorang adik perempuan, tapi sungguh tidak disangka ternyata... "
"Lalu bagaimana kelanjutanya Mbah Etos?"
"Seperti yang ada dalam sejarah Le, bersama Panglima Dronota mereka pergi ke Gunung Puser."
"Tapi dalam sejarah mereka pergi ke Gunung Puser karena melarikan diri saat mereka telah menjadi buronan kerajaan. Gunung Puser adalah satu-satunya wilayah yang tidak dapat disentuh oleh kerajaan, bahkan itu sampai saat ini bukan."
"Benar Gunung Puser adalah tanah suci para leluhur, terlarang bagi anggota kerajaan. Itu sudah aturan dari Sang Pencipta Alam Semesta bahwa seluruh tanah di JAWANAKARTA boleh dimilik kerajaan tapi tidak dengan seluruh wilayah Gunung Puser. Seluruh wilayahnya dari lemah bukit sampai lereng Gunung Puser tidak boleh didatangi oleh anggota kerajaan."
"Lalu bagaimana bisa Sang Andarani atau Sang Pancang tidak masuk dalam sejarah Panglima Mburu Nyowo Mbah?"
"Kembali pada hakekatnya Le, para Pancang Penyangga ada karena kesengsaraan, ketidak adilan, dan kesedihan seluruhnya itu bukan hal yang patut untuk dipamerkan dan diperlihatkan karena itu adalah aib bagi kerajaan. Saat di masa kerajaan itu muncul Sang Andarani atau Sang Pancang bisa dipastikan bahwa itu adalah kegagalan bagi kerajaan. Jadi tidak akan pernah ada dalam sejarah untuk berani membuka aib mereka sendiri."
"Lalu bagaimana Mbah Etos, dapatkah Mbah memberi kami petunjuk yang lain agar kami dapat segera menemuka Sang Pancang Penyangga."
"Benar Mbah Etos, Sultan Lor mengatakan bahwa waktu kami terbatas sebelum pihak istana tahu bahwa Sang Pancang Penyangga akan lahir pada periode ini."
"Benar Le, pihak istana tidak boleh tahu bahwa Sang Pancang akan lahir, apalagi sampai pihak istana mendapatkan Sang Pancang terlebih dahulu itu bisa menjadi malapetaka untuk seluruh JAWANAKARTA."
"Apa sebegitu mengerikannya bila kita tidak dapat menemukan Sang Pancang sebelum kerajaan Mbah?"
"Le, Sang Pancang adalah tombak penyangga dari seluruh kehidupan JAWANAKARTA, lantas dapatkah kita hidup bila tidak ada yang menyangga. Jawabannya jelas tidak Le, hakekatnya manusia adalah mahkluk paling lemah di seluruh alam semesta kita. Manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Selama ini Sang Pencipta Alam Semesta telah luar bias baik kepada kita bukan, segalanya telah ada untuk kita manusia. Tanah yang subur, hasil alam melimpah jangan lupa air yang bersih dan segalanya yang dapat kita nikmati sampai saat ini. Lalu bagaimana bila seluruhnya yang aku sebutkan hilang dari muka bumi ini. Apakah manusia masih bisa hidup Le?"
"Mboten (tidak) Mbah."
"Maka leluhur kita selalu mengingatkan kita akan keseimbangan dalam hidup, untuk selalu ingat bahwa bukan hanya manusia mahkluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta Alam Semesta. Dan manusia hanya satu diantaranya dan bahkan bukan mahkluk yang kuat. Tapi seiring berjalannya waktu semakin banyaknya manusia petuah dari para leluhur sudah tidak pernah diingat. Saat manusia semakin banyak, semakin berani dan merasa paling kuat dari yang lainnya. Mereka lupa siapa yang memberi mereka kenikmatan yang selama ini mereka dapatkan."
"Nyuwun sewu Mbah jadi malapetaka yang jenengan (anda) maksud adalah kita akan kehilangan semua yang ada di JAWANAKARTA?"
"Tidak hanya itu Le, bukan kehilangan tapi JAWANAKARTA juga akan hilang, seperti NUSATAMARA dulu. Semua akan kembali pada titik awal tetapi JAWANAKARTA tidak akan ada lagi."
"NUSATAMARA? maksudnya pripun (bagaimana) Mbah?"
"NUSATAMARA bukanya niku (itu) julukan untuk negara-negara yang serumpun dengan JAWANAKARTA Mbah."
"Benar Le, tapi apa kalian tahu asal muasal dari nama NUSATAMARA?"
"Mboten ngertos (tidak tahu) Mbah. Yang kami tahu julukan itu telah dipakai oleh leluhur kita sejak dulu."
"NUSATAMARA adalah nama sebuah negara yang sangat disegani oleh seluruh dunia. Keindahan alam, ragam suku dan budaya serta kekayaan alam yang sangat banyak dan melimpah membuat negaranya dijuluki negara ajaib. NUSATAMARA adalah negara yang besar terdiri dari 5 pulau besar dan puluhan pulau kecil lainnya. Selayaknya sebuah negara pastilah memiliki tiang penyangga, sama seperti JAWANAKARTA yang memiliki 4 Sang Pancang. NUSATAMARA memiliki 8 Sang Pancang yang menopang negara tersebut. Dan sama seperti JAWANKARTA kemunculan para Pancang adalah awal dari sebuah kerusakan, ketidak adilan dan kesengsaraan di negara NUSATAMARA. Karena keegoisan seorang pemimpin dan anak buahnya yang tidak ingin dikekang oleh tradisi dan budaya. Dengan kesombongannya mereka melakukan sesuatu yang telah terlarang di tanah NUSATAMARA. Saat para Pancang akan membetulkan tatanan yang ada mereka membunuh satu tiang pancang dan berakhir denang hancur seluruh negara NUSATAMARA."
"Nyuwun sewu Mbah Etos, kalau saya tidak salah menafsirkan NUSATAMARA adalah..."
"Benar Le NUSATAMARA adalah seluruh negara-negara serumpun dari JAWANAKARTA."
"Jadi nama NUSATAMARA bukan hanya julukan, tapi memang benar adanya yang dulunya sebuah negara."
"Maka Le sangat berbahaya bila Sang Pancang ditemukan lebih dulu oleh kerajaan. Ingatlah bahwa manusia itu tidak boleh menjadi yang paling sempurna, manusia butuh batasan dalam hidup."
"Lalu bagaimana kita dapat menemukan Sang Pancang Mbah? Kita tidak memiliki banyak waktu."
"Aku tidak dapat membantu Le. Kau lihat aku wis (sudah) tua, tapi ada yang bisa membantu kalian Le. Tunggu sebentar."
Mbah Etos berjalan menuju kamarnya. Seluruh kepala Dusun saling bertatapan dan bertanya-tanya, mereka menunggu dengan harapan bahwa apa yang sedang diambil Mbah Etos dapat membantu mereka untuk segera bertemu Sang Pancang Lor. Setelah beberapa saat Mbah Etos keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah kotak yang ditutup oleh kain batik khas tanah Lor. Mbah Etos kembali duduk dan membukanya. Terlihat sebuah buku usang dengan sampul berwarna coklat beludru dan sebuah bungkusan kain lagi.
"Mbah ndak (tidak) bisa bantu kalian, tapi buku ini mungkin bisa membantu kalian."
Terlihat dengan jelas sebuah buku bergambar Gunungan dengan ukiran seperti akar sebuah pohon. Terdapat sebuah aksara jawa MUNG BEBENER SING MENANG (hanya yang benar yang menang).
"Ini apa Mbah?"
"Ini buku cerita Le, berisi perjalanan hidup Sang Andarani awit bocahe cilik tekanne jalanke tugasse (dari kecil sampai dia menjalankan tugasnya). Ikie (ini) buku turun temurun dari keluarga ku Le. Di titipkan dari generasi ke generasi agar sampai pada orang yang membutuhkan. Jadi terimalah Le semoga ini dapat membantu."
"Matur suwun Mbah Etos, ini sangat membantu saat ini."
"Benar Mbah ini seperti sebuah berkah dari Sang Pencipta Alam Semesta, disaat kami benar-benar tidak tahu harus mencari dari mana."
"Nyuwun sewu Mbah, kulo bade tanglet (saya mau bertanya)"
"Takok opo Le (tanya apa Le)?"
"Niki (ini) bukannya warisan keluarganya Mbah Etos. Apa tidak apa-apa kalau kami mengambilnya Mbah? Keluarga Mbah pasti telah menjaganya dengan sangat baik dari generasi ke generasi."
"Ndak (tidak) apa-apa Le. Buku ini dibuat oleh leluhur kami untuk digunakan saat dibutuhkan. Kami selalu diberi pesan untuk menjaganya dengan baik dan memberikan kepada yang memerlukan. Dan Mbah rasa kalian membutuhkannya saat ini."
"Matur suwun (terimakasih) Mbah kami akan menjaga dan mengunakannya dengan sebaik-baiknya."
"Sama satu lagi Le, Mbah mau titip ini."
Mbah Etos mengeluarkan sebuah gulungan kain dari dalam kota dan menyerahkan kepada kepala Dusun Tanggul.
"Nyuwun sewu ini apa Mbah?"
"Mbah mau titip ini untuk dikembalikan ke pemiliknya."
"Pemiliknya sinten (siapa) Mbah kami tidak mengerti."
"Pemiliknya adalah siapa saja yang nantinya akan menjaga Sang Pancang Lor, Mbah titipkan kepada kalian serahkanlah ini kepadanya nanti saat kalian menemukannya."
"Nyuwun sewu maksud Mbah Etos Sang Darani Lor."
"Benar berikanlah ini kepadanya, maka dia akan tahu semuanya sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan baik."
"Kalau begitu kami pamit dulu Mbah, maaf kami telah menganggu istirahat Mbah Etos."
"Ndak (tidak) apa-apa Le, Mbah senang dapat membantu kalian, walaupun tidak banyak yang Mbah bantu sebenarnya."
"Boten leres niku (tidak benar itu) Mbah. Mbah sudah sangat membantu kami. Matur suwun (terimakasih)."
"Sama-sama Le."
"Kami mohon ijin pulang dulu njeh Mbah. Sekali lagi terimakasih."
"Kami permisi Mbah Etos, permisi bu Tarsiyah maaf menganggu."
"Ndak (tidak) apa-apa pak kepala Dusun. Hati-hati dijalan soalnya diluar mulai hujan."
"Terimakasih monggo."
"Monggo."
"Mpun (sudah) mulai njeh MbahKung."
"Wis nduk, siap-siap wae (saja) nduk RUWATAN mesti dibarengi karo (sama) tangis dan kesengsaraan."
"Injeh MbahKung, mugi-mugi lek enggal sae negorone (moga-moga cepat baik negaranya)."
"Amin nduk."
"MbahKung monggo (mari) istirahat dulu. Ini sudah malam, mpun (sudah) waktunya MbahKung Istirahat."
"Lha Rahmi mau endi (tadi mana) nduk?"
"Mpun (sudah) bobok MbahKung."
"O ya wis (o ya sudah) aku yo tak (aku juga mau) istirahat tugasku yo wis rampung (tugasku juga sudah selesai) nduk."
Disebuah daerah pemukiman padat penduduk di timur kota Lor terlihat ramai oleh orang-orang berlalu lalang. Daerah yang terdapat di kawasan utama dengan gedung-gedung tinggi nan cantik berbanding terbalik dengan daerah pemukiman tersebut. Seperti berada di dunia yang berbeda tetapi berdampingan satu sama lain.
"Mas, Bapak belum pulang ya?"
"Belum dek, sebentar lagi paling."
"Kenapa kok tumben ndak sabar nunggu Bapakmu nduk?"
"Ndak (tidak) apa-apa Mak hehehe."
"Paling juga adek minta sesuatu ke Bapak, Mak."
"Ih apa sih Mas Aji mau tahu aja."
"Sudah-sudah itu lihat gerobak Bapak kalian sudah terlihat."
"Asik Bapak dah pulang."
"Nduk Kalasih jangan lari-lari nanti jatuh, tunggu saja Bapak disini."
"Dek Asih ndak (tidak) bakal dengerin Mak. Lihat Mak betulkan yang Aji bilang pasti adek minta sesuatu ke Bapak."
"Kamu mau juga Le?"
"Mau apa Mak?"
"Ya kamu mau sesuatu mungkin, ndak (tidak) apa-apa minta saja Le kalau ada yang kamu mau. Nanti Bapak sama Mamak carikan."
"Ndak (tidak) usah Mak. Aji ndak (tidak) mau apa-apa kok."
"Benar Le kamu ndak (tidak) bohong kan?"
"Injeh (iya) Mak."
"Ya sudah kalau kamu mau sesuatu bilang yo Le, sudah kewajiban Bapak sama Mamak untuk mencukupi kebutuhan kamu sama adekmu. Ndak (tidak) udah mikir yang tidak-tidak. Kita memang bukan dari kalangan yang berada seperti mereka yang tinggal di gedung tinggi itu. Tapi percayalah le Sang Pencipta Alam Semesta itu selalu adil dan welas asih. Siapapun yang percaya dan berpegang teguh padanya pasti akan diberi jalan dan bantuan Le."
"Injeh (iya) Mak."
"Mas Aji ini buat Mas."
"Apa ini dek?"
"Buka saja Mas."
"Sepatu?"
"Sepatu Mas Aji udah bolong kan kemarin waktu pelajaran olahraga disekolah Asih lihat lho, terus Asih bilang sama Bapak sama Mamak."
"Pak sepatu Aji masih bisa dipakai kok pak."
"Sudah Le kamu pakai ini, sepatu itu juga sudah lama kan Bapak pikir kamu juga sudah ndak (tidak) akan muat lagi."
"Ayo dicoba Mas Aji."
"Ayo Le, Mamak juga mau lihat."
"Wah pas banget sama kakinya Mas Aji. Cocok ya Mak."
"Iya cocok sekali, gantenge anak Mamak."
"Anak Bapak juga Mak."
"Hahahaha..."
Tawa bahagia terdengar di rumah 3 petak ditepi kali Tambak di daerah pemukiman padat penduduk. Keluarga kecil yang bahagia dengan keadaan yang sederhana. Membuktikan bahwa tidak semua kebahagiaan dapat dimilik oleh kekayaan.
Bersambung...