JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
SEBELAS



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


"Ada apa ini kenapa semua belum bersiap?"


"Hormat kami Panglima Dronota."


"Maaf Panglima biar saya yang urus mereka."


"Ada apa ini?"


"Tidak ada apa-apa Kadet Juan kami hanya sedang berbincang dengan anak dari desa ini."


"Berbincang! Apa ini waktu yang tepat untuk berbincang Prajurit Tona."


"Tidak Kadet Juan. Kami minta maaf."


"Dapatkah kalian sekarang untuk segera bersiap. Dan untukmu adik kecil apa ada yang masih ingin kamu dibicarakan?"


"Ada Tuan. Bisakah saya mengobati anak rusa dibelakang Tuan-Tuan Prajurit itu?"


"Anak rusa?"


"Benar anak rusa yang salah satu kakinya terluka oleh anak panah dan kalau tadi saya tidak salah dengar induknya telah menjadi santapan Tuan-Tuan Prajurit ini semalam."


"Santapan para Prajurit apa maksudmu adik kecil? Rusa adalah hewan yang dilindungi oleh kerajaan bagaimana kami bisa menyantapnya. Lagi pula kami telah memiliki perbekalan yang melimpah jadi kami tidak mungkin berburu adik kecil."


"Kalau begitu apa ada penjelasan yang lain kenapa anak panah ini tertancap di kaki rusa kecil itu Tuan kadet. Dan bukankah ini adalah anak panah kerajaan hanya Prajurit yang memiliki anak panah dengan ukiran seperti ini."


"Benar itu adalah anak panah kami. Tapi bagaimana bisa."


"Kenapa anda tidak bertanya kepada para Prajurit anda Tuan Kadet."


"Prajurit Tona apakah benar yang dikatakan anak kecil ini?"


"Begini Kadet Juan e.... Itu... "


"Bicara yang jelas Prajurit Tona. Dan apakah benar itu adalah anak panah dari salah satu Prajurit kita?"


"…."


"Dan sepertinya aku tidak perlu menunggu jawaban kalian. Sungguh aku tidak habis pikir, kalian memburu seekor rusa dan menyantapnya?"


"…."


"Kalian tahu bahwa rusa adalah hewan yang dilindungi oleh kerajaan melukai mereka saja sudah melanggar hukum apalagi menyantap mereka. Apa kalian tidak punya ot*k hah."


"Maafkan kami Kadet Juan semalam kami lapar dan kebetulan rusa itu terlihat oleh kami jadi..."


"Lapar, kita membawa banyak perbekalan bahkan bekal kita bisa hingga satu bulan ke depan. Bagaimana kalian bisa memburu rusa hanya karena lapar. Tidak dapatkah kalian berjalan untuk kembali ke perkemahan kerajaan, itu hanya berjarak 30 langkah dari sini. "


"Maafkan kami Kadet Juan."


"Siapa saja yang andil dalam kejadian ini, bahkan ikut menyantap rusa."


"Kadet Juan."


"Hormat Panglima Dronota."


"Alangkah lebih baiknya bila kita menyelamatkan anak rusa terlebih dahulu, bila benar panah itu yang melukainya pastilah lukanya akan sangat dalam. Wahai adik kecil dimana rusa kecil yang terluka itu kalau kami boleh tahu?"


"Dibalik semak-semak tepat dibelakang para Prajurit itu Tuan Panglima."


"Bisakah kamu menunjukanya adik kecil."


"Tentu Tuan Kadet."


Gardapati melewati para Prajurit dan membuka semak-semak. Terlihat rusa kecil telah diikat dengan seutas tali tambang. Betapa terkejutnya Gardapati.


"Apakah Tuan Prajurit benar-benar tidak puas hanya memangsa induknya dan masih ingin memangsa rusa kecil ini."


"Ada apa adik kecil."


"Rusa kecil telah diikat dengan tali tambang Tuan Panglima. Dan sepertinya siap untuk di jadikan hidangan selanjutnya."


"Maafkan kami Kadet Juan, kami benar-benar bersalah."


Gardapati sudah tidak ingin mendengar para Prajurit yang bersalah itu, dia lebih memilih fokus pada rusa kecil yang terluka itu. Dengan perlahan lahan Gardapati mulai mendekati rusa kecil. Melepas satu persatu ikatan dengan lembut agar rusa kecil tidak takut. Setelah semua tali tambang terlepas Gardapati mulai mengelusnya dengan perlahan.


"Tidak apa-apa aku tidak akan menyakitimu rusa kecil. Tenanglah aku akan mengobatimu dan ini tidak akan sakit. Tunggu sebentar ya."


Rusa kecil seperti tahu bahwa Gardapati adalah penyelamatnya yang tadi, diapun tidak lagi memberontak saat didekati. Gardapati segera menumbuk daun binahong untuk mengobati luka rusa kecil. Dengan perlahan dia mengoleskan tumbukan daun binahong ke luka rusa kecil, terdengar rintihan dari rusa kecil.


"Ik ik ik... "


"Tidak apa-apa ini akan membuat kakimu sembuh, tenang ya."


Rusa kecil meringkuk dipangkuan Gardapati, seperti mencari perlindungan. Gardapati merobek bajunya untuk membuat perban agar tumbukan daun binahong tidak jatuh. Gardapati membebat luka rusa kecil dengan perlahan.


"Kamu tahu khasiat daun-daun dari rumput liar hei anak muda? Tidak banyak yang tahu bahwa rumput binahong dapat mengobati luka sobekan."


"Saya diajarkan oleh leluhur saya bahwa tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini yang tidak ada manfaatnya Tuan. Bahkan rumput liar sekalipun sejatinya mereka berguna."


"Benar sekali, siapa gerangan namamu hei anak muda? Kalau kau berkenan berkenalan dengan ku."


"Saya Gardapati Tuan, suatu kehormatan dapat berkenalan dengan anda Tuan Panglima."


"Panggil saja Panglima Dronota seperti yang lainnya tidak perlu memanggil Tuan."


"Terimakasih Panglima Dronota."


"Gardapati apakah kau anak desa Saeedah?"


"Benar Panglima, saya adalah anak asli desa Saeedah, seluruh keluarga saya berasal dari desa Saeedah. Dan tinggal secara turun temurun di desa Saeedah."


"Wah, kalau begitu pemandangan indah ini sudah kau lihat sedari kecil rupanya."


"Benar Panglima."


"Luar biasa. Apakah kau tahu Gardapati, desa Saeedah adalah desa terindah yang pernah aku lihat seumur hidupku. Aku telah berkeliling ke seluruh JAWANAKARTA dan inilah dataran tinggi terindahnya Gardapati."


"Kami dilatih dan di didik untuk merawat dan menjaga alam desa kami Panglima. Kami selalu diajarkan bahwa alam ini bukanlah milik kita, sang pencipta alam semesta senangtiasa mengijinkan kita untuk mengambil dan memanfaatkan hasil alam. Maka kita pun harus menjaga dan merawatnya dan itu termasuk bentuk rasa syukur dan terimakasih kami untuk alam dan Sang Pencipta Alam Semesta."


"Kau anak pintar Gardapati, orang tuan mu basti bangga kepadamu. Dan aku meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh para Prajuritku. Akan aku pastikan mereka menerima hukuman yang setimpal walau mereka adalah abdi kerajaan."


"Saya sebenarnya masih tidak mengerti Panglima. Kerajaan selalu meminta kami rakyatnya untuk patuh pada peraturan yang dibuat kerajaan. Tapi kenapa seorang abdi kerajaan yang bekerja dengan kerajaan yang membuat peraturan itu justru yang melanggar. Bukankah itu sebuah ironis Panglima. Bukankah seorang abdi kerajaan harusnya menjadi contoh rakyatnya?"


"Benar Gardapati aku pun merasa malu bila mengetahui bahwa ada seorang abdi kerajaan bekerja untuk kerajaan melakukan pelanggaran peraturan. Tapi kau tahu Gardapati manusia bila diberi kekuasaan pada hakekatnya akan selalu ingin menang sendiri. Begitu pula bila seseorang menganggap dia istimewa dia akan menjadi merasa lebih dibanding dengan yang lain. Padahal semua sama dimata Sang Pencipta Alam Semesta bukan?"


"Benar kita semua sama, semua mahkluk hidup itu sama dimata Sang Pencipta Alam Semesta. Itulah kenapa kita harus menjaga dan merawat alam semesta ini."


"Dengan mengenalmu Gardapati aku percaya bahwa JAWANAKARTA tidak akan hancur, karena masih ada generasi penerus yang tahu hakekatnya dari Kepercayaan, Budaya dan Tradisi semua warisan dari leluhur kita tiang penyangga suatu negara. Aku berharap akan banyak hal darimu Gardapati."


"Terimakasih Panglima suatu kehormatan untuk saya."


"Permisi Panglima, saya telah menahan para prajurit yang melanggar peraturan dan saya juga mau melapor bahwa semua prajurit telah bersiap untuk memulai iring-iringan. Laporan selesai."


"Baiklah mari kita segera turun, aku akan menghadap Yang Mulia Ibu Suri. Kamu persiapkan semua jangan ada yang terlewat. Mengerti Kadet Juan."


"Mengerti Panglima Dronota. Siap laksanakan."


"Baiklah Gardapati apakah kamu juga akan turun ke desa sekarang, kalau iya turunlah bersama kami. Kami akan menuju desamu."


"Saya belum bisa turun Panglima, Mamak saya meminta saya membawa kayu bakar dari alas (kebun) atas jadi saya harus ke atas mengambil kayu bakar."


"Baiklah kalau begitu bergegaslah supaya nanti kita bisa berjumpa lagi di desa Saeedah. Karena jujur saja aku suka mengobrol dengan anak muda sepertimu. Dan untuk rusa kecil itu biar nanti kami pihak kerajaan yang akan mengurusnya. Karena itu kesalahan dari kami. Kamu bisa meninggalkannya dengan ku dan tidak usah khawatir kami tidak akan memakannya. Kami akan merawatnya aku berjanji, JANJI JAWANAKARTA."


"Terimakasih Panglima, saya akan percayakan rusa kecil ini kepada anda. Saya permisi kalau begitu."


"Silahkan. Dan Gardapati senang bertemu denganmu dan sampai jumpa nanti di desa mu."


"Senang bertemu dengan anda juga Panglima dan sampai jumpa nanti."


Gardapati menyerahkan rusa kecil kepada Panglima Dronota. Dan bergegas menuju alas (kebun) atas untuk mengambil kayu bakar, Gardapati ingat bahwa dia tidak boleh berlama-lama. Mamaknya berpesan bahwa dia harus sudah pulang sebelum tengah hari, dan bila dia tidak segera bergegas dia tidak bisa pulang sebelum tengah hari. Gardapati tidak ingin membuat Mamaknya khawatir. Gardapatipun segera bergegas agar dapat segera pulang.


Pertemuan dengan Panglima Dronota tadi masih membekas dalam ingatan Gardapati, dia merasa bahwa sang Panglima berbeda dengan para prajurit tadi. Panglima Dronota adalah sosok berwibawa tinggi orang akan segan bila berhadapan dengannya. Dan bila dilihat Panglima Dronita adalah sosok yang bijaksana beliau tidak segan meminta maaf bila tahu bersalah dan tidak malu mengakui kesalahan. Panglima Dronota adalah sosok yang patut untuk dihormati.


Takdir awal pertemuan yang berkesan akan membuat dampak besar untuk pertemuan kedua dan seterusnya. Takdir pertemuan tidak dapat diprediksi begitu pula dengan takdir yang akan datang. Semua takdir adalah kehendak Sang Pencipta Alam semesta. Sebagai manusia kita hanya perlu menerima dan menjalankannya karena sejatinya segala yang ada di alam semesta itu pasti memiliki alasan dan takdir yang nyata. Cukup percaya kepada Sang Pencipta Alam Semesta.