JAWANAKARTA

JAWANAKARTA
ENAM



Lor (Utara)


SANG DARANI LOR


"Jadi benar tadi ada pegawai Kerajaan ngukur tanah Desa kita Darya?"


"Injeh (iya) ibuk, tadi waktu ngukur sawahnya Karsan sempat bedebat sama Karsan."


"Kamu sudah ke rumah pak Kades Le?"


"Dereng (belum) ibuk, selepas senja sekalian sama bapak-bapak yang lain."


"Sudah ada kepastian jawaban untuk Kerajaan Le?"


"Dereng (belum) buk, semua sudah sepakat kalau pak Kades yang akan mengambil keputusan."


"Ya sudah, semoga keputusan yang terbaik untuk semua pihak."


"Semoga ibuk. Ibuk empun (sudah) siap kagem (buat) acara Numbuk Lesung besok?"


"Sudah Le, adek-adekmu tadi sudah bantu ibu kamu ndak (tidak) usah khawatir, kamu siap-siap saja buat besok ketemu pihak Kerajaan."


"Semua sudah diurus oleh pak Kades bu, besok saya cuma tinggal ikut rembukan."


"Ibu cuma mau bilang hati-hati Le. Mungkin kita sudah berusahan untuk kebaikan bersama, tapi ingat bahwa manusia tetaplah manusia saat mata tertutup oleh ketamakan sebesar apapun kebaikan itu tidak akan terlihat. Maka percayalah, saat kita melakukan kebaikan Sang Pencipta Alam Semesta selalu melihatnya."


"Injeh (iya) ibuk, saya akan selalu ingat pesan ibuk."


Pagi datang, semburat merah terlihat dari balik bukit pegunungan Mprau menyinari setiap sisi dari Desa Saeeden seakan mangabarkan bawah hari ini adalah sebuah hari yang baik. Dari rumah-rumah warga terlihat lampu yang telah menyala walau matahari belum terlihat. Dari bilik-bilik dapurnya terlihat asap mengepul dan terciumnya aroma lezat masakan yang sedang dibuat. Hari ini adalah hari baik bagi seluruh warga Desa Saeedeh, hari Numbuk Lesung bagian akhir dari serangkaian proses menanam padi, rangkaian adat warisa leluhur. Numbuk Lesung adalah proses memisahkan gabah (kulit beras) dari beras dengan cara ditumbuk didalam lesung.


Dari sebuah rumah disamping ditepian kali Dono terdengar suara riuh dari seorang anak perempuan yang sedang bersemangat bertanya banyak hal.


"Giya, kamu sudah ikat semua tampahnya nduk?"


"Mpun (suda) Mak, sudah Giya tumpuk jadi satun trus Giya ikat Mak."


"Ya sudah, sekarang bantu Mamak masukin ikannya ke rantang susun Nduk."


"Injeh (iya) Mak. Mak nanti ada anggota Kerajaan dateng ya Mak?"


"Perwakilan Kerajaan Nduk."


"Bukanya sama saja Mak, perwakilan sama anggota kerajaan sama-sama dari Kerajaan JAWANAKARTA Mak."


"Beda Nduk, kalau anggota Kerajaan itu keluarga dan keturunan kerajaan nduk seperti raja, permaisuri, anak-anak raja , ibu suri serta adek-adek raja dan keluarganya. Nah kalau perwakilan Kerajaan mereka yang bekerja untuk kerajaan Nduk."


"O.. Beda ya Mak."


"Iya mereka ndak (tida) sama nduk, jadi kamu jangan sampai keliru lagi, soalnya ada kalanya kita bisa dianggap ndak (tidak) sopan karena ketidaktahuan kita. Mengerti Nduk? "


"Injeh (iya) Mak Giya mengerti, Giya akan inget terus Mak."


"Bagus, Nduk cah (anak) ayu (cantik)."


"Mak, Bapak minta karung sama tali debok (tali dari pelepah pohon pisang) lagi."


"Iya Le, karungnya ada di almari paling bawah, kalau tali debok (talu dari pelepah pisang) ada di belakang rumah. Mamak belum sempat ambil."


"Biar Garda saja yang ambil semuanya Mak, Mamak lanjut masak saja."


"Makasih Le, anak-anak Mamak memang rajin semua, Mamak bangga sama kalian."


"Giya bakal selalu bantu Mamak, tenang saja Mak."


"Masak yang bener? Paling nanti kalau dipanggil Lastri juga langsung main."


"Enak saja, Mas Garda kali yang suka main."


"Sudah-sudah jangan bertengkar baru juga dipuji sudah berantem. Garda sudah sana bantu Bapak kamu lagi, Giya ayo sekarang bantu Mamak masukin sayurnya ke rantang biar cepet selesai."


"Injeh (iya) Mak"


Tidak terasa matahari telah naik memperlihatkan diri, tanda bahwa hari mulai siang. Dari balai desa telah terdengar suara kentongan, tanda panggilan bagi seluruh warga Desa. Dari setiap rumah terlihat warga bersiap untuk ke balai Desa. Dengan membawa gerobak yang berisi padi hasil panen dan beberapa hidangan andalan keluarga, seluruh warga Desa Saeedah berbondong-bondong menuju balai desa tempat diadakannya Numbuk Lesung. Terlihat dihalaman balai Desa telah ditata puluhan Papan Gepyok dan Lesung.


"Sugeng enjang (selamat pagi) Buk, Karsan."


"Sugeng enjang (selamat pagi) Mas Daryan, Mbak Ranti, Garda lan (dan) si cantik Giya."


"Sugeng enjang (selamat pagi) Pak Lek Karsan. Makasih, tau aja Giyanta cantik."


"Jangan dipuji Pak Lek, nanti terbang ndak bisa turun lagi."


"Ih Mas Garda, sirik tanda tak mampu."


"Betul itu, Mbahti pokoknya Joss."


"Sudah ayo semua siap-siap acaranya sudah mau mulai. Ayo Karsan kita angkut padi kedekat Papan Gebyok kita."


"Injeh (iya) Mas Darya."


"Gardapati bantu Bapak sama Pak lekmu sana. Giyanta bantu Mamak sama Mbahti bawa makanan ke dalam Balai."


"Injeh (iya) Mak."


Dalam acara Numbuk Lesung setiap warga akan memperoleh satu Papan Gebyok dan satu Lesung. Papan Gebyok akan digunakan oleh pria untuk memisahkan Gabah dari batang Padi. Kemudian setelah Gabah lepas dari batangnya akan dimasukan kedalam Lesung. Disini tugas akan diberikan kepada para wanita untuk menumbuk lesung agar kulit gabah terkelupas. Cara menumbuknya juga tidak boleh terlalu keras karena nanti isi gabah (beras yang masih ada kulinya) akan hancur. Setelah kulit Gabah sudah mengelupas akan disaring menggunakan tampah yang ditepeni (digoyang2) supaya kulit gabah (kulit beras) berjatuhan dan didapat beras yang bersih siap dikonsumsi tugas ini biasa dilakukan oleh wanita paruh baya. Serangkaian proses ini yang dinamakan Numbuk Lesung, warisan dari Leluhur yang selalu dilakukan oleh seluruh warga Desa Saeedah sampai sekarang.


"Selamat pagi seluruh warga Desa Makmur dan Beruntung, di pagi yang cerah ini kita telah sampai pada tahap Numbuk Lesung. Tahap akhir dimana kita akan segera dapat menikmati hasil kerja keras kita selama 6 bulan terakhir. Pada kesempatan kali ini juga sebenarnya kita akan kedatangan tamu yaitu dari pihak kerajaan. Tapi bisa dilihat sampai sekarang pihak kerajaan belum terlihat. Amat sangat disayangkan kita tidak bisa mengundur acara Numbuk Lesung kita. Maka dengan ini saya Kepala Desa Saeedah akan memulai acara ini tanpa menunggu pihak kerajaan. Atas ijin Sang Pencipta Alam Semesta dengan ini saya mulai acara Numbuk Lesung Desa Saeedah. Mari mulai."


Suara riuh gamelan dan tepuk tangan mengiringi mulainya acara Numbuk Lesung. Warga mulai memukul batang padi pada Papan Gebyok agar Gabah (biji padi berisi beras) berjatuhan di selembar kain yang nantinya akan digunakan untuk menindahkan Gabah kedalam Lesung. Suara warga saling bercerita dan mengobrol menambah riuh suasana Numbuk Lesung kali ini.


"Le, Garda kainnya sudah penuh kamu bisa pindahkan ke Lesung Mamakmu biar ditumbuk."


"Injeh (iya) Bapak."


"Jangan lupa kainya nanti bawa sini lagi Le."


"Injeh Bapak, punya Pak lek juga mau Garda angkatin ndak (tidak) Pak lek?"


"Ndak (tidak) usah Le, biar Pak lek angkat sendiri bengini-bengini Pak Lek masih roso (kuat) Le."


"Ya Pak Lek roso (kuat) harus malah, orang satu rumah cuma Pak lek yang laki-laki."


"Bener banget kamu Le, punya anak perempuan semua dadi (jadi) kudu (harus) roso (kuat)."


"Sudah sana antar ke Mamak gabahnya biar bisa cepet ditumbuk trus ditapeni. Biar cepet selesai juga kita."


"Injeh (iya) Bapak."


"Ini Mak gabahnya."


"Iya Le, langsung tuang ke Lesung aja. Giya ayo bantu Mamak Numbuk Lesung."


"Injeh (iya) Mak."


"Bukanya baru tadi pagi, dipuji Mamak anak rajin e dah main aja kamu Adek."


"Sebentar Mas, tadikan gabahnya belum ada jadi Giya ndak (tidak) tau mau apa, jadi Giya main bentar hehehe.. "


"Sudah semua Le, kamu balik lagi bantu Bapak sana, o ya sekalian bantu Pak Lekmu juga kasihan angkut-angkut sendiri."


"Tadi sudah mau Garda bantu Mak, tapi kata Pak Lek, Pak Lek masih roso (kuat)."


"Pak Lekmu memang bengitu Le, wis biasa karena dirumah laki-laki sendiri. Tapi Mbahti minta kamu tetep bantu-bantu Pak Lekmu ya Le. Kasihan dia."


"Injeh (iya) Mbahti."


"Jan putune (memang cucu) Mbahti seng paling bagus, sudah besar sekarang."


"Ya iyalah paling bagus. Mas kan cucu Mbahti Laki-laki sendiri."


"Sirik tanda tak mampu Adek."


"Ih Mas Garda."


"Sudah-sudah Gardapati balik bantu Bapak, Giyanta mulai numbuk gabahnya."


"Injeh (iya) Mak."


Tidak terasa waktu sudah memasuki siang hari sudah hampir separuh gabah telah berubah menjadi beras. Saatnya seluruh warga Desa berisitirahat dan makan bersama sambil bercengkrama bersama. Diatas tikar panjang didalam balai Desa, seluruh warga makan besama. Bekal yang dibawa masing-masing warga dikeluarkan dan di gelar diatas daun pisang agar lebih mudah untuk makan bersama. Tradisi seperti ini membuat kita memilik rasa berbagi ditambah bercengkraman besama juga akan menambah tali persaudaraan diatara warga Desa.


Saat sedang asik makan dan bercengkrama dikejauhan terlihat rombongan iring-iringan memasuki wilayah Desa. Suara langkah kaki kuda mulai terdengar mendekati balai Desa mengalihkan perhatian sebagian warga dari makan siang mereka. Saat suara langkah kuda dan loncen bel kereta kuda terdengar lebih keras semua warga berbondong-bondong keluar dari balai Desa. Hampir seluruh warga meninggalkan makanan mereka demi mencari sumber suara dengan rasa penasaran akan kedatangan kereta kuda tersebut.


Didepan pintu gerbang Desa terlihat para prajurit telah berbaris dan bersiap membuka jalan untuk rombongan. Dibarisan terdepan seorang Pria berpakaian prajurit berjalan membawa bendera kerajaan. Disusul oleh serombongan prajurit membawa senjata berbaris rapi, dibelakang mereka duduk diatas kuda dengan gagah seorang pria berpakaian militer dengan senjata lengkap. Dan tepat setelah prajurit berkuda masuk gerbang Desa terlihatlah sebuah kereta kencana kerajaan berwarna emas dengan ornamen tulisan dan ukiran jawa berjalan dengan indahnya memasuki Desa. Seluruh warga merasa terpesona oleh kereta kencana tersebut, ini adalah pertama kalinya Desa mereka kedatangan kereta kencana termewah dan termegah. Maklum letak Desa Saeedah yang jauh dari pusat pemerintahan jarang sekali kedantangan tamu agung. Seluruh warga telah berada diluar Balai lupa akan makanan yang seharusnya mereka santap


Suara teropet terdengan sahut menyahut. Seorang Pria paruh baya turun dari Kereta kencana.


"Yang Mulia Ibu Suri Maharani telah berkunjung, terimalah kunjungan Yang Mulia Ibu Suri. Beri hormat. YANG MULIA IBU SURI RADEN AJENG MAHARANI BRAMUTARA HARJOBUMININGRAT."


Serentak seluruh warga kaget dan langsung berlutut memberi hormat. Saat pintu kereta kencana terbuka turunlah dengan anggun seorang wanita paru baya mengenakan kebaya bermotif lambang kerajaan berbahan sutra dan mahkota yang melekat diatas sangulnya menambah kenggunannya. Menjadikan rasa sungkan bagi mereka yang melihatnya. Seolah tanpa berkata pun, bahwa orang yang baru saja turun dari kereta kencana bukanlah orang sembarangan.


"Selamat siang seluruh rakyatku, senang sekali akhirnya saya bisa berkunjung ke Desa yang makmur dan indah ini. Perkenalkan saya Raden Ajeng Maharani Bramutara Harjobuminingrat. Ibu dari Raja JAWANAKARTA."


Seluruh warga Desa kaget diam tidak bergerak larut dalam pikiran masing-masing. Adapakah gerangan ini, kenapa Yang Mulia Ibu Suri, ibu dari Raja JAWANAKARTA mau jauh-jauh datang ke Desa kecil nan jauh mereka ini. Apakah ini pertanda baik ataukah sebaliknya pertanda buruk. Mereka hanya bisa diam mematung. Tidak bisa berkata-kata.